MENIKAH JADI ISTRI KEDUA

MENIKAH JADI ISTRI KEDUA
Bab 59. Memutuskan Ikatan Pertunangan


__ADS_3

Tidak ada sedikitpun keingina dari Anjas untuk menemui Naira di kantor polisi, apa lagi selama ini dia merasa telah dibohongi oleh wanita itu. Anjas kira Naira memang benar-benar mencintainya, hingga selalu posesif kepadanya. Kenyataanya? Semua hanya sandiwara wanita itu untuk membalas dendam yang tak beralasan pada Nadya.


Meski dia tidak mencintai Naira, namun dipermainkan seperti ini, tentu saja Anjas pantas untuk marah. Karena Naira dia tidak bisa bersama Nadya, dan bodohnya Anjas tidak tahu jika itulah tujuan Naira sebenarnya menerima pertunangan mereka.


Sungguh Anjas membenci tunangan yang sebentar lagi akan dia jadikan mantan tunangannya itu. Hari ini, ditemani kedua orang tuanya, Anjas mendatangi kediaman orang tua Naira. Tujuannya apa lagi jika bukan untuk segera memutuskan ikatan pertunangan dengan wanita itu.


Ini yang Anjas inginkan sejak dulu. Berpisah dengan Naira lalu menjalin hubungan dengan Nadya lebih dari sekedar sahabat. Sayangnya, kini Nadya sudah bahagia bersama cintanya yang baru.


Tetap fokus dengan jalanan, Anjas menyadari jika dia dan Nadya memang tidak berjodoh. Takdir mereka dipertemukan memang hanya sebatas sebagai sahabat. Tidak masalah, Anjas sudah lama mengikhlaskan Nadya bersama Reno, meski kenangan bersama dimasa lalu terkadang mengganggu ingatannya karena terlalu sulit untuk dilupakan.


"Terlalu manis... untuk dilupakan... kenangan yang indah... bersamamu... tinggalah mimpi."


Anjas ikut mengalunkan lagu lawas milik Slank yang kini sedang dia dengarkan lewat radio yang ada di kendaraan miliknya. Radio itu seolah tahu apa yang Anjas rasakan saat ini. Anjas merindukan Nadya dan kenangan mereka dimasa lalu.


"Anjas, maafkan Mama." suara lirih Kinanti mengusik kenagan Anjas bersama Nadya.


"Sudahlah Ma, Anjas kan sudah katakan, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang biarkan kita selesaikan hubungan Anjas dan Naira. Setelah itu bebaskan dia memilih jalan kebahagiaannya." sahut Jaya.


"Iya Mama tahu!" seru Kinanti, "Hanya saja Mama merasa bersalah begitu Anjas menyanyikan lagu ini." ucap Kinanti yang juga ikut menyimak dan memperhatikan Anjas.


"Mama salah menilai Nadya karena hasutan Naira." sesal Kinanti.


"Ma, sudah. Anjas dan Nadya memang tidak berjodoh. Mau dipaksakan bagaimanapun tidak bisa bersama. Begitu juga Anjas dengan wanita pilihan Mama itu, mau Mama paksakan kami juga tidak berjodoh. Buktinya, keburukan dia diperlihatkan yang diatas pada kita." balas Anjas.


"Setelah urusan kita selesai dengan Naira dan keluarganya, antarkan Mama untuk meminta maaf pada Nadya." ucap Kinanti.


"Tidak sekarang ya Ma. Setahu Anjas, Nadya dan suaminya akan berlibur. Mereka merayakan babymoon." jawab Anjas.


"Nadya pasti sangat bahagia sekarang. Maafkan Mama ya, An."


"Mau berapa kali lagi Mama minta maaf?" tanya Anjas yang mulai bosan dengan permintaan maaf Kinanti.

__ADS_1


Awalnya, Kinanti tidak percaya dengan apa yang Anjas ceritakan tentang Naira, dia mengira putranya hanya mencari alasan saja untuk memutuskan pertunangan dengan wanita itu. Bukti rekaman yang Anjas perlihatkan serta video saat penagkapan Naira, membuat Kinanti tidak lagi membantah. Naira bukan gadis baik-baik seperti yang selama ini dia banggakan. Kinanti menyesal memilih Naira menjadi calon menantunya, sungguh dia buta, hingga tidak bisa membedakan mana yang tulus dan tidak tulus mencintai putranya. Detik itu juga Kinanti menagis dan terus meminta maaf pada Anjas.


"Sampai kapan pun, permintaan maaf mama tidak bisa termaafkan, An." balas Kinanti.


"Bisa Ma, asalkan Mama izinkan Anjas mencari kebahagian Anjas sendiri." sahut Anjas.


Setelah hubungannya dengan Naira berakhir, Anjas berencana akan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri seperti permintaan omanya dulu.


Jika dulu dia tertahan karena tidak ingin jauh dari Nadya, maka mulai sekarang, Anjas akan memulai hidup baru dan juga membuka usaha baru. Usaha miliknya sendiri, tanpa embel-embel nama besar keluarganya.


Tiba dikediaman Naira, Anjas dan kedua orang tuanya disambut oleh orang tua Naira. Kehadiran mereka cukup mengejutkan kedua orang tua Naira.


"Ada apa ini? Kenapa tidak memberi kabar seperti biasanya kalau mau datang?" tanya Lingga ibu Naira.


"Naira sedang tidak dirumah, An. Terakhir dia memberi kabar katanya mau keluar negeri, tante tanya berapa lama? Dia malah bilang belum tahu. Apa kamu tahu dia kemana?" tanya Lingga setelah dia menjelaskan.


"Tidak apa-apa Jeng. Kami hanya ingin bertemu Jeng Lingga dan Pak Ridho." jawab Kinanti.


Kinanti menatap pada Anjas dan Jaya, meminta batuan mereka untuk bicara. Anjas yang tahu maksud sang mama mengambil alih untuk bicara.


"Begini Tante, Om, apa kalian benar tidak tahu dimana Naira berada saat ini?" tanya Anjas ingin tahu. Jika benar, itu berarti Naira menutupi kasus yang dialaminya dari dua orang paruh baya dihadapannya ini.


"Dia hanya pamit ingin keluar negeri nanti sore. Tapi dari kemarin sore ditunggu belum juga pulang untuk berkemas." jawab Lingga.


"Naira tidak akan pulang untuk waktu yang cukup lama, Tante, Om." ucap Anjas.


"Jadi kamu tahu dia ada dimana?" tanya Ridho.


"Kami tahu!" seru Jaya. "Karena itu salah satu alasan mengapa kami ada disini."


"Maksud Pak Jaya apa?" Lingga yang bertanya.

__ADS_1


Pembicaraan mereka mulai kearah yang serius. Sebagai kepala keluarga, Jaya kini mengambil alih pembicaraan.


"Begini Pak Ridho, maksud kedatangan kami bukan untuk membahas lamaran seperti yang Bu Lingga tanyakan sebelumnya." ucap Jaya.


"Apa ada masalah lain Pak Jaya?" tanya pak Ridho.


"Betul sekali Pak Ridho. Karena kita memulai hubungan kedua anak kita dengan baik-baik, maka kami juga ingin mengakhirinya baik-baik. Maaf jika ini terkesan tidak sopan, tapi Anjas tidak mungkin menunggu Naira menyelesaikan masa hukumannya yang mungkin saja bisa seumur hidup." ucap Jaya.


"Maksudnya kalian ingin memutuskan pertunangan antara nak Anjas dengan putri kami?" tanya Lingga.


"Apa maksud Pak Jaya dengan hukuman yang akan di terima putri kami? Ada masalah apa dengan Naira?" tanya Ridho.


"Begini, kami mendapat berita jika putri Pak Ridho dan Bu Lingga sekarang berada dikantor polisi, dia ditahan karena terlibat percobaan pembunuhan pada ibu Rosa, nenek dari Nadya." ucap Jaya menjelaskan.


"Jeng Lingga kenal Nadya kan?" tanya Kinanti.


"Dia sahabat Anjas yang selalu ikut setiap Naira dan Anjas kencan." jawab Lingga.


"Bukan Nadya yang selalu ikut setiap Anjas dan Naira keluar untuk kencan, Jeng. Tapi, Naira yang selalu memaksa Nadya harus ikut." sahut Kinanti membela Nadya, setidaknya bisa sedikit menebus kesalahannya pada istri Reno itu.


"Tetap saja dia jadi pengganggu hubungan antara Naira dan Anjas. Naira itu selalu saja mengeluh pada saya setiap pulang kencan dengan Anjas." balas Lingga.


"Hem." Jaya terpaksa menghentikan perdebatan tersebut. Tujuan mereka untuk mengakhiri hubungan antara Anjas dan Naira, bukan membahas masalah kencan yang sudah berlalu.


"Maaf, sebaiknya kita kembali ke topik pembicaraan. Seperti yang sebelumnya saya katakan, tujuan kami untuk memutuskan hubungan pertunangan antara Anjas putra kami dengan Naira putri Pak Ridho." ucap Jaya.


"Tidak semudah itu, jangan menuduh Naira sembaragan. Kamu pasti mendapatkan laporan ini dari Nadya, kan?" ucap Lingga tidak percaya.


"Silakan cari informasi langsung ke kantor polisi. Kami permisi." ucap Kinanti.


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Menikah Jadi Istri Kedua ...


__ADS_2