
Reno berpacu dengan waktu untuk segera sampai di rumah sakit. Kabar yang disampaikan Nuri melalui Azam membuat Reno menyesali keputusannya meninggalkan Nadya dirumah sakit. Harusnya dia mengajak Nadya dan selalu berada disisi istrinya itu.
"Zam kamu yang parkiran mobilnya." ucap Reno begitu tiba di depan lobby rumah sakit.
Azam hanya bisa mengerutu didalam hati. Bukan hanya Reno yang khawatir dengan keadaan Nadya, dia pun sama ingin tahu keadaan kakak satu-satunya. Ya, satu-satunya. Bagi Azam Marisa bukan kakaknya meskipun dia anak kandung dari ayahnya.
Tidak ingin waktunya tersita lebih lama lagi, Azam pun mau tidak mau mengambil alih kemudi. Kapan lagi dia bisa mengendarai mobil mewah berharga miliaran ini.
Reno segera keruang tindakan seperti yang Nuri katakan pada Azam, dimana Nadya saat ini berada. Disana, Reno bisa melihat perawat Rosa sedang duduk dibagku tunggu.
"Apa yang terjadi?" tanya Reno.
"Saya belum tahu Pak. Tadi mbak Nadya mengeluh pusing lalu saya sarankan dia untuk istirahat. Mbak Nadya mengikuti saran saya, dia membaringkan tubuhnya disofa sambil memejamkan matanya. Lalu dia minta saya membelikan bubur kacang hijau. Katanya dia ingin makan bubur kacang ijo karena sudah lama tidak memakannya."
"Kamu tinggalkan istri saya sendirian?" tanya Reno yang langsung mendapat gelengan dari Nuri.
"Tidak Pak, buburnya saya pesankan lewat aplikasi." jawab Nuri menjelaskan.
"Lalu kenapa dia bisa pingsan? Apa dia keracunan juga?" tanya Reno.
"Bubur nya belum sempat dimakan Pak. Saat kurir datang saya keluar untuk mengambilnya didepan pintu. Dan saat saya berbalik, Mbak Nadya jatuh di lantai tidak sadarkan diri." jelas Nuri.
Reno mengusap wajahnya dengan kasar. Harusnya dia terbang bulan madu setelah pesta pernikahan tapi lihat sekarang? Rosa di racun dan Nadya tidak sadarkan diri.
"Pak saya pamit keruangan nenek." ucap Nuri.
"Ya." jawab Reno.
Tidak lama dari kepergian Nuri, pintu ruang tindakan terbuka dan Reno segera berdiri lalu menghampiri dokter yang menangani Nadya.
"Zul." panggil Reno pada dokter yang ternyata teman Reno.
"Istri gue kenapa?" tanya Reno begitu dia sudah berhadapan denga Zul
"Pantasan gue nggak asing lihat wajah pasien gue, ternyata istri Reno Bagaskara." jawab Zul terkekeh.
"Istri gue kenapa?" ulang Reno lagi. Biasanya dia akan melayani ucapan Zul yang suka memancing emosi, tapi kali ini dia butuh jawaban pasti tentang kondisi istrinya.
"Istri Lo nggak kenapa-napa, dia hanya kelelahan dan sepertinya banyak pikiran." jawab Zul.
"Ya Lo pasti udah dengar tentang berita gue akhir-akhir ini, ditambah masalah baru setelah resepsi semalam." balas Reno.
"Sorry gue nggak bisa hadir. Kemaren ada pasien yang nggak bisa gue tinggal."
__ADS_1
"It's okay. Gue ngerti kesibukan Lo." balas Reno.
"Setelah resepsi ada masalah apa?" tanya Zul.
"Nenek istri gue ada yang ngeracunin."
"What? Sampai sejauh itu? Kok tega baget sih pelakunya."
"Entahlah, gue juga pusing. Gue tadi sedang menemui pelaku terus dapat kabar dari perawat nenek kalau istri gue pingsan." keluh Reno seraya memijat pelipisnya.
"Udah nggak usah pusing, gue punya berita baik buat Lo." ujar Zul.
"Berita baik apa?" tanya Reno penasaran.
"Selamat jadi calon bapak" ucap Zul sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Reno.
"Lo nggak asal bicara, kan?" tanya Reno tidak percaya tapi tak ayal tangannya ikut mengulur membalas uluran tangan Zul.
"Lo nggak percaya sama hasil pemeriksaan gue?" tanya Zul pura-pura tersinggung. Padahal dia sangat suka melihat wajah Reno yang terlihat binggung seperti ini. Buka Reno yang seorang ceo dingin dan pelit bicara.
"Maaf Pak, istri bapak akan dipindahkan ke kamar rawat inap. Bapak bisa urus dulu administrasinya." sela seorang perawat.
"Selamat ya Bro, selamat jadi calon bapak. Untuk tahu usia kehamilannya nanti ada dokter Obgyn yang akan periksa istri Lo." ucap Zul memberikan saran.
"Ok Bro, thanks." balas Reno.
Reno segera mengurus administrasi lalu kembali lagi keruangan dimana Nadya mendapat tindakan. Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, Reno segera masuk keruangan tindakan dan dia menemukan istrinya yang berbaring di ranjang rumah sakit.
Nadya yang melihat kehadiran Reno langsung memberikan senyum lebar.
"Mas sudah kembali?" pertanyaan itu yang terlontar dari mulut Nadya. Padahal dia sangat ingin memberi tahu Reno tentang kehamilannya.
"Iya, Nuri tadi menghubungi Azam. Jadi mas langsung balik ke rumah sakit." jawab Reno.
"Maaf buat Mas Reno khawatir, tapi Dya nggak kenapa-napa. Tadi hanya pusing."
"Pusing sampai tidak sadarkan diri kamu bilang tidak apa-apa?"
"Maaf."
Reno mengusap kepala Nadya, lalu merapikan hijab istrinya yang terlihat berantakan. Reno segera mengecup kening Nadya dan sebuah kata yang sejak tadi ingin dia katakan terucap.
"Terima kasih sayang, terima kasih mau jadi ibu dari anak Mas." ucap Reno lalu kembali mengecup kening Nadya. Kali ini cukup lama dan Nadya membiarkannya saja. Anak adalah hal yang sangat dinantikan Reno dan keluarganya.
__ADS_1
"Bukankah sejak awal Mas Reno nikahi Dya memang untuk melahirkan anak?" ucap Nadya setelah Reno melepas ciumannya di kening Nadya.
"Jangan ungkit lagi hal itu. Mas nikahi kamu karena Mas mencintai kamu, menginginkan kamu jadi istri, pendamping Mas selamanya. Menjadi ibu dari anak-anak Mas itu bonus yang Mas dapatkan."
"Anak-anak? Satu saja belum lahir." sahut Nadya.
Reno terkekeh dan gemas melihat wajah istrinya yang merona merah.
"Pak kamar rawat bu Nadya sudah siap." ucap seorang perawat menyela kebahagiaan sepasang suami istri itu.
Reno menempatkan Nadya di kamar terbaik yang ada dirumah sakit ini, sengaja bersebelahan dengan Rosa untuk memudahkan yang jaga.
"Mas, apa harus dirawat?" tanya Nadya begitu mereka sudah tinggal berdua di ruang rawat inap.
"Hemm kamu harus istirahat. Nanti akan ada dokter Obgyn yang memeriksa." jawab Reno.
"Nenek bagaimana? Mas sudah bertemu pelakunya? Siapa Mas?" tanya Nadya beruntun.
"Bukan siapa-siapa. Sudah jangan pikirkan masalah itu dulu untuk saat ini." jawab Reno.
"Selain butuh istirahat, kamu juga tidak boleh banyak pikiran. Ini untuk kebaikan anak kita." ucap Reno, tangannya mengelus perut Nadya yang masih rata. Membuat Nadya tersenyum melihat Reno yang mencoba berinteraksi dengan bayi mereka.
"Mas sudah kasih kabar ke mama tentang kamu yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Tapi mama belum tahu tentang kehamilan kamu, sayang. Sengaja, Mas ingin melihat wajah bahagia mama mendengar dia akan menjadi oma."
"Mas, Mbak." panggil Azam dengan kepalanya yang menyembul di balik pintu.
"Parkir mobil saja kok lama?" tanya Reno begitu tahu yang memanggil mereka adalah adik iparnya.
"Azam bertemu teman tadi, terus langsung lihat kondisi nenek dulu." jawab Azam.
"Zam sini, ada yang mau Mbak bicarakan sama kalian berdua." panggil Nadya agar Azam mendekat.
"Ada apa Mbak?" tanya Azam.
Reno mengira Nadya akan memberi tahu tentang kehamilannya pada Azam, tapi ternyata Reno salah. Nadya memberitahu Azam dan Reno tentang apa yang tadi dia bicarakan dengan Nuri tanpa melewatkan apapun.
"Kenapa nenek nggak mau kita tahu?" tanya Azam.
Nadya mengangkat bahunya, tidak ada bayangan siapa pria itu. Dan mereka tidak bisa bertindak sembarangan sebelum mengetahui jenis obat apa yang akam diberikan pada neneknya.
...🌿🌿🌿...
...Menikah Jadi Istri Kedua ...
__ADS_1