Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
10. Intimidasi Dion


__ADS_3

Dea begitu nyaman memeluk gulingnya. Sesekali memperbaiki posisi agar semakin nyaman, tetapi ada sebuah masalah di sini. Ada sesuatu yang menghalangi wajahnya agar semakin ke depan, dan ketika perempuan itu berniat membalik tubuh, gulingnya tidak bisa diajak gerak bersama.


Merasa terganggu, Dea secara perlahan membuka matanya. Untuk awal, ia masih harus menyesuaikan dengan cahaya terang di sekitarnya. Pandangan buramnya perlahan fokus, dan ketika ia sudah bisa melihat jelas, perempuan itu malah mendorong guling berbulunya sejauh mungkin.


Dea merasa ingin muntah. Sejak kapan ia memeluk kaki Ben seerat itu?


Perempuan itu masih loading. Ia harus meremas kening sendiri agar bisa mencerna apa yang ada di sekitarnya sekarang ini.


Tempat tidur berantakan dengan salah satu kakinya jatuh, dan Ben meletakkan kepalanya di sisi rendah tempat tidur. Sementara Dea sebaliknya, meletakkan kepala di sisi tertinggi sehingga mereka tertidur dalam posisi seperti itu.


Dea termenung sesaat, mengumpulkan sisa-sisa nyawanya. Sembari itu ia mencoba merangkak ke sisi tinggi tempat tidur agar tidak terlalu mepet ke arah Ben, tetapi hanya karena lututnya terlalu lemas hingga salah berpijak, ia malah tergelincir dan jatuh menabrak Ben.


Posisi kepala mereka sejajar, sehingga Dea merasa malas untuk memperbaiki posisi. Matanya menatap kosong ke depan, ketika ingatan semalam mulai berputar di kepalanya.


Berulang kali Dea mencoba menghapus ingatan itu, ia masih belum bisa melakukannya. Bahkan dengan gelengan, memejam, atau memukul kepala sendiri. Bayangan ketika ia memejam dan meresapi ciuman Ben terus membayang di pelupuk matanya.


Dea meringis dalam hati. Bisa-bisanya ia melakukan itu: berciuman dengan pemuda aneh yang selalu suka membuat masalah. Bisa-bisanya ... bibir perawan Dea malah jatuh pada sosok Ben yang sangat jauh dari kriterianya.


Minimal seperti Elvan—Dea menggeleng kasar. Ia tidak boleh membandingkan keduanya. Karena tidak akan pernah sepadan. Dari berbagai sisi—Dea menoleh ke arah Ben untuk memperhatikan wajah pulas suaminya—Ben jauh dari sang mantan kekasih.


Pria ini hanya pelayan restoran biasa yang secara beruntung menjadi orang kaya hanya dengan menikahi Dea. Hobinya cari masalah, dan hampir tidak pernah serius dalam berbagai keadaan. Selalu mengancam, dan hampir tidak pernah membuktikan ucapannya sendiri.


Salah satunya ... percobaan pembuatan pesanan Kahar—


"Bego!" Dea secara spontan memukul kepala sendiri ketika ia malah kepikiran hal itu.


Otak Dea sedang tidak ingin membahas kegagalan malam pertama mereka karena tangan Ben tremor tidak karuan, dan Dea sendiri tidak mau melakukannya dengan orang yang tidak ia cintai. Keduanya sepakat berhenti setelah ciuman panas yang berhasil melumpuhkan setiap sendi tubuh itu.


Kembali ke topik utama—Dea masih sibuk membandingkan suami dan mantan kekasihnya—Elvan malah kebalikannya Ben. Sang mantan seorang pengusaha hebat, pantang menyerah, ramah, tegas, dan selalu memegang ucapannya sendiri.


Sangat dewasa, idaman setiap wanita di dunia.


Pada akhirnya, Dea hanya bisa menghela napas panjang secara kasar.


Perempuan itu mencoba untuk bangkit dari posisi berbaringnya. Mungkin sekarang masih pukul setengah enam pagi, Dea sebenarnya berkesempatan untuk malas-malasan demi membayar semua kebutuhan tubuhnya setelah dituntut bekerja terlalu keras. Namun, karena di sampingnya adalah sosok Ben, Dea ingin menyingkir sesegera mungkin.

__ADS_1


Namun, pinggangnya ditahan erat oleh tangan yang tidak ia sadari berada di bawah tubuhnya sedari tadi. Ketika Dea coba berontak, ia malah dipaksa untuk telentang. Ben begitu sigap membuat dirinya berada di atas—setengah menindih Dea.


"Apa?" Dea bertanya sinis. "Nggak usah ngadi-ngadi! Jauh-jauh sana! Kamu belum sikat gigi, bau!"


Ben mendengkus geli. Senyum tipisnya tercetak jelas. Tidak langsung mengikuti arahan Dea, Ben menunduk kilat untuk mengecup singkat bibir istrinya.


Hanya sekadar untuk membuat Dea semakin melek di pagi hari—melotot selebar mungkin.


"Ben!" Dea memanggil dengan suara tinggi, tetapi ia dengan cepat ditinggalkan oleh suaminya turun dari tempat tidur.


"Mau mandi bareng, De?" ajak Ben ketika berdiri di ambang pintu.


"Mandi bareng ndasmu! Urus tuh tangan, baru pegang cewek dikit langsung tremor! Dasar amatir!" hardik Dea, yang malah membuat kekehan Ben keluar.


Setelah mendapat semprotan seperti itu, Ben segera keluar dari kamar. Sementara Dea masih merasa malas untuk bangun. Apalagi alasannya untuk bangun lebih awal sudah pergi.


Perempuan itu berbaring malas. Tidak mau peduli dengan kondisi ranjang yang tidak seimbang, Dea tetap nyaman berbaring. Sesekali napasnya ditarik panjang, ketika ia mendapati aroma manis campuran dari parfumnya yang mahal dengan wangi maskulin Ben di bekas tempat tidurnya.


Iseng, Dea meraba sekitar tempat tidur untuk mencari sesuatu. Ia menemukan ponsel Ben, dan tidak segan sama sekali untuk membukanya. Tanpa pengaman sama sekali, sehingga Dea bebas menjelajah seisi ponselnya tanpa takut sama sekali.


Fokus pertama Dea adalah kontak Dion. Ada empat pesan baru setelah chat yang sempat Dea baca kemarin.


Ben! Kamu jangan ajarin yang enggak-enggak ke Dea!


Anak kampung! Jangan biarin Dea jadi murahan gini, kampret!


Weh! Read doang! Kamu mau mainin saya, hah?!


Ben! Saya tunggu kamu di rumah!


Dea diam-diam tersenyum walau ia sedikit berdebar dengan respons kakaknya saat pulang nanti. Perhatian Dion sangat besar baginya, posesif. Hingga membatasi Dea dekat dengan banyak pria, sehingga perempuan itu berakhir sendiri sampai dicarikan jodoh oleh orang tuanya.


Jemari Dea secara perlahan mengetik di ponsel, membalas pesan Dion demi menenangkan sang kakak. Namun di sisi lain, Dea sedikit merasa lucu dengan sikap berlebihan sang kakak.


Dea bahkan mengenakan pakaian lengkap bahkan kancing baju hingga leher, tetapi hanya karena pose, Dion sampai semarah ini. Dea terkikik geli.

__ADS_1


Awalnya, Dea ingin mengirimkan pesan bahwa ia dan Ben sama sekali tidak seperti yang dipikirkan Dion, tetapi karena pertimbangan bahwa ponsel ini bukan miliknya, maka Dea memilih untuk video call untuk meyakinkan sang kakak.


Panggilan video Dea diangkat tidak lama kemudian. Perempuan itu memamerkan senyum terbaiknya pada sosok Dion yang terlihat baru saja mandi—sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk.


"Dea?" Dion terdengar tidak percaya. "Kamu pakai hapenya Ben?"


"Hape aku di ... meja. Males ambil." Dea berujar dengan suara manja. Padahal jarak meja kurang dua meter darinya. "Aku tuh telpon cuman mau klarifikasi ya sama Mas, kalau aku tuh nggak ngapa-ngapain sama si Ben. Masalah foto kemarin, itu tuh karena ... aku mau ngerjain Ben, tapi nggak tau kalau malah dikirim ke Mas."


"Kerjain sejenis apa? Goda gitu? Kamu Radea Dasha beneran kan?"


Dea sekarang kebingungan. Ia sedikit gugup dalam menjawab.


"Itu, Mas ... balas dendam. Dia itu mainin aku semalam, jadi ya ... aku juga pengen mainin dia biar impas. Mas harusnya lihat, gimana gemetarnya dia kemarin." Dea terkikik geli, ketika Dion sama sekali bergeming menanggapinya. "Sumpah, lucu banget, Mas. Dia sok-sokan ngancem masalah cucu buat papa, tapi baru megang aja dia udah tremor. Dasar bocah."


Dea menceritakan kejadian lucunya kemarin, tetapi tidak seperti biasa bahwa Dion akan balas tersenyum sebagai tanggapan, kakaknya sekarang hanya diam dengan ekspresi dingin tak terbaca.


"Mas?" Dea memanggil kebingungan. "Aku sama dia seriusan nggak ngapa-ngapain."


Dea merasa tidak bersemangat di tempat tidur, jadi ia mendekat ke arah jendela untuk membuka gorden. Sehingga begini, tampilannya jadi lebih segar di depan kamera.


"Mas nggak usah pikirin masalah kemarin ya? Jangan bahas itu, apalagi di depan keluarga besar. Terutama sama Dika! Jangan pernah bahas!"


"Oke, saya nggak bakalan bahas itu di depan keluarga," kata Dion tanpa minat. "Tapi, mari kita bahas tentang perbedaan kamu hari ini. Bibir kamu lebih bengkak pagi ini, kenapa? Tempat tidur di belakang kamu, itu kenapa? Ini saya nggak salah lihat ... ambruk, De?"


Perempuan itu buru-buru menoleh, dan dengan cepat mengalihkan pandangan latar belakangnya. Dea membelakangi jendela.


"Itu ... ada masalah kecil, Mas. Aku sama Ben biasa, sering berantem."


"Oke." Dion dengan jelas tidak menerima jawaban itu, hanya pura-pura mengiyakan. "Terus, bekas merah di leher kamu itu apa?"


Dea sekarang menampilkan kebingungan kentara. Ia menurunkan kamera, dan mendekatkannya ke leher. Hanya beberapa detik, perempuan itu langsung membekap mulutnya dengan erat karena syok mendapati ada noda asing di kulit putih bersihnya.


Sama sekali tidak ada kegiatan saling hisap di bagian leher semalam, maka itu artinya setelah Dea terlelap ....


Mengabaikan kondisi ponsel sedang terhubung telepon dengan si sulung, Dea langsung mengarahkan tubuhnya ke arah pintu kamar. Menarik napas panjang, lalu menggunakan urat leher untuk mengeluarkan suara semaksimal mungkin.

__ADS_1


"BEEEEEENNNNNN!"



__ADS_2