
Dion mendengarkan dengan saksama isi rekaman dari ponsel Ben melalui hp-nya. Ia terlihat sangat tegang, terlihat dari caranya mengetukkan sepatu di lantai dengan begitu cepat. Sembari itu, Dion sesekali mengusap wajah begitu kasar kemudian diteruskan menyisiri rambut dengan jemarinya.
“Kondisi kamu sudah lebih parah dari yang kemarin-kemarin. Tapi saya akan tetap berusaha untuk memberikan pengobatan terbaik untuk kamu.“ Begitu kata salah seorang pria asing kepada Ben.
“Lagian, Kenapa kamu baru mau berobat sekarang? Kemarin pas kamu sudah mulai agak mendingan, kenapa malah absen berobat lagi tanda tanya ini bikin kondisi kamu semakin memburuk?“ Suara perempuan yang lain terdengar melalui speaker.
Ben tidak langsung menjawab, membuat Dion menjadi penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh adik iparnya itu.
“Kemarin-kemarin Saya belum punya alasan untuk tetap bertahan hidup. Sekarang saya sudah punya alasannya.“ Sekarang itu adalah suara yang Ben kemukakan terhadap dua penanya tadi.
“Kenapa harus cari alasan lain? Sementara kamu sendiri punya hak untuk melanjutkan hidup seperti orang normal lainnya, Ben. Itu sudah cukup untuk menjadi alasan kenapa kamu harus bertahan hidup lebih lama seperti kebanyakan manusia.“ Suara wanita tadi kembali terdengar menanggapi ucapan Ben.
Ben tidak lagi menjawab. Hening, yang berlangsung selama beberapa menit.
Dion masih ingin mendengarkan obrolan mereka, tetapi suara klakson dari depan rumah membuatnya langsung mematikan rekaman tersebut. Ia buru-buru mengamankan ponsel ke dalam satu celana, sebelum berdiri menyambut kedatangan terburu-buru seorang perempuan ke arahnya. Perempuan itu adalah adiknya sendiri, Dea.
Meski dengan napas yang tersengal, Dea tetap mengulurkan tangannya ke arah Dion kemudian meminta apa yang ia perintahkan tadi. “Mana hasil rekamannya, Mas?”
Dian tidak langsung menjawab,. Ia malah menengguk ludah secara kasar selama mempertimbangkan jawaban yang akan ia sampaikan kepada Dea. Ia semakin gugup, terlihat jelas dari caranya mengepalkan tangan dengan kuat di samping tubuh.
Dea sama sekali tidak memiliki kesabaran ekstra untuk menunggu kakaknya berpikir lebih panjang. Ia menarik-narik lengan pakaian kakaknya sebagai bentuk tuntutan tegas.
“Mas!” panggil Dea dengan suara meninggi. “Mana rekamannya! Siniin rekamannya, aku mau dengar apa yang Ben dan perempuan itu bicarakan di sana.“
Dion masih terlihat bimbang. Ia memegang ponsel yang berada di sakunya, sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang dia minta barusan. Iya hanya bisa melirik wajah Dea dan tangan perempuan itu secara bergantian.
__ADS_1
“Mas!“ Kali ini, Dea sama sekali tidak segan untuk menaikkan intonasi suaranya karena didorong oleh rasa jengkel, ketidaksabaran, cemburu dan rasa lelah yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
“Ben ....” Dion mulai bersuara dengan ragu.
Dea terlihat semakin tidak sabaran. Pandangannya bercampur ketegasan sempurna. Ia mencengkeram erat lengan baju Dion sebagai bentuk penekanan terhadap jawaban yang sedang ia tunggu saat ini.
Mempertimbangkan bahwa Dea hanya tahu akan satu hal, yaitu kedekatan Ben dengan perempuan di rumah mewah tersebut, Dion mendadak berpikirkan satu hal. Ia terlebih dahulu meneguk ludah secara kasar dan melancarkan tenggorokannya sebelum memberikan jawaban bohong kepada sang adik.
“Ben ... selingkuh.“
Dea secara spontan yang menjatuhkan tangannya dari pegangan di lengan baju Dion. Ia mundur selangkah dengan kaki lemasnya, serta pandangan nanar ke depan. Lalu bibirnya gemetar ketika matanya mulai memanas akibat rasa perih di sudut hatinya. Berikutnya, setetes cairan bening tumpah ruah dari pelupuk mata Dea.
...*...
Ben sudah merasa bahwa ia membuka pintu kamar dengan gerakan yang sangat hati-hati tetapi tetap berhasil memicu lirikan tajam dari sosok perempuan yang tengah duduk di pinggir tempat tidur. Pria itu tidak lagi mengendap-endap, sekarang beralih tersenyum hangat kepada Dea sembari menutup pintu ruangan tersebut.
“Kamu sendiri, kenapa baru pulang sekarang? Kamu punya kerjaan apa di luar sana sampai pulang selarut ini?” tanya Dea dengan nada tegas menuntut.
Ben seketika menghentikan langkahnya di pertengahan perjalanan, dan melirik bingung ke arah sang istri. Ia dengan jelas merasakan keanehan pada sikap Dea saat ini, Jadi ia memilih untuk berbelok berjalan menghampiri tempat tidur lebih dulu demi melunakkan perasaan sang istri.
Ben berniat untuk memaklumi segala sikap dingin dan perubahan emosi mendadak istrinya itu, karena mendengar informasi bahwa perasaan perempuan hamil mudah berubah.
Walau sekarang, dia terlihat jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
“Kenapa, De? Kangen lagi, hm?” tanya Ben membujuk, sembari merangkak naik ke tempat tidur setelah melepaskan sepatunya.
__ADS_1
“Aku lagi capek banget, jadi jangan ganggu!” Dea segera membaringkan tubuhnya sebelum Ben sempat mendekati perempuan itu. Ia juga menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, sehingga memberikan kesan tertutup yang enggan diganggu gugat oleh sang suami.
Ben mundur perlahan. Merasa ada yang aneh di sini. Namun, ia tidak bertanya lebih lanjut demi menghargai ketenangan sang istri.
...*
...
Paginya, Ben bangun tepat waktu seperti biasanya. Namun, ia tidak lagi menemukan sang istri di sampingnya, atau kamar mandi. Ia gegas bangun, demi mempersiapkan diri untuk berangkat bersama.
Namun, setelah bersiap, Ben menyadari bahwa dirinya sudah ditinggal berangkat.
“Tadi tumben-tumbenan bawa bekal,” kata Kahar saat mereka berkumpul untuk sarapan.
Ben kehilangan selera makannya, sehingga ia menjadi yang paling akhir menyelesaikan sarapan. Pikirannya juga dipenuhi oleh berbagai pertanyaan mengenai perubahan sikap dadakan Dea, dan hal berjasil membuatnya kehilangan fokus pada sekitar.
Setelah selesai sarapan dan mendatangi garasi untuk mengeluarkan motor, dirinya berhasil disusul oleh Dion. Keinginan Ben untuk berangkat dengan tenang, menjadi batal.
“Kamu sakit-sakitan?” tanya Dion yang menjadi alasan mengapa Ben menghentikan pergerakannya mengendarai motor. “Nggak menular, ‘kan? Saya beneran akan bunuh kamu lebih cepat dari perkiraan dokter kalau sampai kamu tulari Dea.”
Ben enggan menjawab, karena ia sangat pasti bahwa penyakitnya sama sekali tidak menular. Demi menghindari sakit kepala karena berurusan dengan Dion, Ben hendak mengabaikan pria itu. Namun sekali lagi, Ben dihentikan oleh ucapan Dion selanjutnya.
“Jangan bebani Dea sama penyakit kamu itu. Sudah cukup kamu membuat hidup Dea nggak karuan setelah kalian menikah. Seenggaknya, jangan bikin dia kerepotan ngurus kamu dan anak kalian, plus, jangan bikin dia kehilangan semua kekayaan yang sudah dia kumpulkan dengan susah payah. Kamu orang miskin, nggak bakalan paham gimana kerja kerasnya Dea buat dapat banyak penghasilan. Karena kamu nggak paham, jadi paling minimal ... jangan jadi beban. Sadar diri aja, nikah kudang setahun, tapi sudah mau habisin harta istri. Gila!”
Ben hendak membalas, mengatakan dengan keras bahwa dirinya bukan pria seprtyi itu. Namun, semua niatan tersebut berhasil tertelan bersama saliva yang mengaliri tenggorokannya. Ia hanya mengangguk kecil, lalu meninggalkan area garasi.
__ADS_1
Sementara Dion tersenyum senang. Karena kesempatannya untuk memiliki Dea semakin terbuka lebar.