Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
9. Kasur Ambruk


__ADS_3

Intuisi Dea memerintahkan agar perempuan itu memejam, ketika Ben semakin memperkecil jarak antara mereka. Setidaknya untuk masalah berciuman, ia pernah menontonnya dalam film atau drama, jadi, Dea sedikit bisa praktik walau mungkin akan berakhir kaku.


Napas Dea semakin memberat ketika penahanan di tengkuknya mulai berpindah dan menjadi usapan lembut di area dagu. Dea beberapa kali meneguk ludah secara kasar, menunjukkan betapa besar gugupnya saat ini.


"Buka mulutmu, De." Perintah Ben yang terdengar begitu berat bercampur sedikit serak sekali lagi membuat Dea menelan saliva.


Dea mengikuti arahan tersebut, membuka sedikit mulutnya untuk memberikan celah. Kulit Dea semakin sensitif dalam kondisi terpejam dan suasana yang sunyi. Ia bahkan merasakan sensasi bergidik yang tidak karuan saat jemari Ben membuat bibir Dea semakin terbuka.


Perempuan itu semakin menanti, dan kian berdebar ketika suara grasah-grusuh terdengar di sekitarnya. Ia penasaran, tetapi terlalu takut untuk membuka mata. Apalagi sebelah tangan Ben masih berada di wajahnya.


Dea masih menunggu, dan ketika usapan lembut menghampiri bibirnya, ia secara otomatis semakin membuka mulutnya dan memiringkan sedikit kepala.


Bersiap ... melepaskan ciuman pertamanya ....


Namun, bukan benda kenyal hangat yang menyentuh bibirnya. Melainkan benda padat dingin, dan memaksa untuk membuka mulut Dea semakin lebar hingga semuanya masuk, lalu keluar usai meletakkan makanan di sana.


Dea hampir tersedak, ketika ia membuka mata dan menemukan wajah tidak bersalah Ben di depannya. Pria itu bahkan tersenyum hangat, ketika Dea sedang melotot lebar semaksimal mungkin, karena merasa dipermainkan.


"Makan dulu, De, saya suapin. Papa kamu bisa marah kalau anaknya bukannya buncit abis bulan madu, malah kurus kering tinggal tulang dan dosa."


Ben memberitahu, sangat santai, berbanding terbalik dengan Dea yang mulai menegangkan tangan siap untuk melayangkan sebuah tamparan pada suaminya ini.


"A, De." Ben memberikan arahan agar sang istri membuka mulut ketika ia mulai menyodorkan sendokan makanan lagi ke depan. "Ayo makan yang banyak."


Dea berniat untuk menolak bahkan memukul tangan Ben yang sedang mengangkat sendok, tetapi saat matanya menangkap satu hal aneh dari sang suami, Dea langsung menyipitkan mata dan menanggalkan ekspresi tegasnya.


Ben tampak gemetar, dan Dea seperti tahu alasannya.


Maka, giliran Dea untuk bermain.


Perempuan itu memasang senyum manis, memicu ekspresi kebingungan Ben untuk muncul. Ketika ia mencoba mencerna isi di balik kepala sang istri, Dea mendadak saja menggenggam tangannya dengan dua tangan.


Sialnya, hanya sebuah genggaman dari kulit halus dan lembut sang istri, Ben langsung membeku di tempat. Tambahan senyuman manis dari Dea ketika perempuan itu menuntun tangan Ben agar membawa makanan ke mulutnya—pria itu langsung meneguk ludah secara kasar. Jantungnya berdebar begitu kuat, berpacu oleh aliran pikiran liar dalam kepalanya.


Padahal ini hanya tentang menyuapi.

__ADS_1


Namun, ternyata tidak sekadar itu. Dea memang sengaja menguji Ben. Terbukti dari kesengajaan perempuan itu membiarkan caranya makan menjadi berantakan, kemudian menjilat bibir sendiri secara sensual.


Ben sekali lagi meneguk ludah secara kasar, bersamaan dengan tangannya di wajah Dea berubah kaku sulit bergerak. Pria itu membatu di kala pikirannya sedang menerawang terlalu jauh ke sesuatu yang lebih liar.


"Dea, kamu ... ngapain?" Ben bertanya dengan suara pelan dan sedikit tersendat. Gugup.


Sebelum pikiran dan rasa penasarannya semakin menggunung hingga sulit dikendalikan, Ben segera meletakkan sendok di atas wadah makanan, dan memindahkannya ke pangkuan Dea secara semena-mena.


"Saya? Saya lagi makan," jawab Dea santai. Kali ini malah menambah sensual cara makannya, dan begitu sengaja menggigiti sendok setiap selesai makan sembari menatap Ben penuh minat. Senyumnya juga sangat mengundang.


Ben tidak mengatakan apa pun. Segera mengambil ponselnya dari saku, menyalakan kamera di sana. Ia hendak mengambil foto Dea, dan perempuan itu tampak tidak keberatan, dan malah memasang pose yang semakin menggodanya.


Hal itu menyebabkan Ben sulit mengambil foto secara stabil, tangannya tidak bisa berhenti gemetar. Sementara Dea tersenyum sangat puas dengan hasil kerjanya sendiri. Setelah suara foto diambil terdengar, Dea mendekat pada Ben untuk ikut mengintip. Sengaja mendekatkan tubuh, agar Ben semakin tergoda, dan pembalasan dendam Dea bisa sukses.


Namun, ada hal yang salah di sini.


"Fotonya mau kamu kirim ke ...." Dea hendak menarik ponsel Ben tetapi suaminya lebih cepat menghindar dan mengirim foto tersebut.


"Aish, Ben!" pekik Dea dengan kesal. Ia berusaha mengambil ponsel Ben untuk menghapus foto yang baru saja dikirim ke Dion itu, tetapi sebanyak apa pun ia berusaha, suaminya jauh lebih tinggi, hebat, dan lincah dalam menghindar. "Ngapain kamu kirimin foto gituan ke Dion?!"


"Tadi mas-mu itu takut kamu nggak saya kasih makan dengan baik, makanya minta saya beliin kamu makanan itu sama bukti kamu makan. Jadi ya, saya kirim."


"Kenapa nggak bilang dari awal ... kampret!" Dea menggeram kuat ketika Ben mulai berdiri demi menghindari Dea.


Tidak mau kalah, Dea mencengkeram pakaian Ben agar bisa memanjat hingga berdiri sempurna untuk mengambil ponsel. Mata perempuan itu menatap takut, cemas jika fotonya sudah dilihat oleh Dion dan dilaporkan ke seluruh anggota keluarga.


"Kalau saya bilang, Dea nanti nggak mau. Ini aja langsung marah setelah saya foto," balas Ben.


"Nggak bakal."


"Yakin?"


"Iya ...."


"Nggak percaya."

__ADS_1


Dea menggeram usai mendengar jawaban Ben barusan. Amarahnya terkumpul sempurna, hingga semangatnya semakin membara untuk mendapatkan ponsel barusan.


Jadi, Dea melompat.


Sekali, tidak masalah. Dua-tiga kali, berhasil membuat Ben kesulitan mengendalikan diri. Pada ancang-ancang lompatan keempat, Dea memicingkan mata untuk memusatkan fokus pada ponsel.


Perempuan itu bersiap ... melompat ... dan dapat ponsel Ben.


Senyum lega Dea baru saja mengembang sempurna. Namun, ketika ia mendaratkan kaki usai melompat, tiba-tiba suara ambruk terdengar keras. Membuatnya kehilangan keseimbangan, limbung ke arah Ben dan menjadikan pria itu sebagai bantalan saat tubuh mereka jatuh bersamaan ke atas tempat tidur dalam posisi yang kacau.


Bagian kaki jauh lebih tinggi, sementara bagian kepala sudah jatuh ke bawah akibat ambruknya salah satu kaki tempat tidur.


Dea meringis kesakitan ketika kecelakaan itu menyebabkan keningnya menabrak rahang Ben. Sama seperti dirinya, Ben juga merasakan kesakitan di punggung dan rahang.


"Dea!" Ben memanggil dengan nada kesal, tetapi perempuan itu tidak terlalu peduli.


Dea berniat menyingkir dari atas Ben sembari memegang ponsel. Sayangnya pergerakan perempuan itu kalah cepat dari dua tangan sang suami yang menahan pinggangnya begitu erat.


Dea awalnya tidak mau peduli. Ia melotot sempurna saat mengetahui bahwa foto tersebut sudah centang biru. Dea segera menghapusnya, tetapi balasan sang kakak sudah muncul.


Dion :


Baru dua hari, Ben! Kamu apakan adik saya?!


Dea bersiap untuk balas mengetik, tetapi ponsel itu tiba-tiba menghilang dari hadapannya karena ditarik oleh tangan Ben. Ketika perempuan itu merengek ingin mendapatkan benda pintar itu lagi, dagunya sudah dicekal oleh Ben. Memaksa Dea untuk menghadap lurus pada sang suami, yang menghapus jarak antara wajah mereka.


Dan begitu saja. Berbeda dari rencana praktik sebelumnya untuk memejam, Dea malah melotot sempurna ketika benda kenyal sudah menyatu sempurna di bibirnya.


Mengacaukan isi pikiran Dea, dan menciptakan getaran aneh dalam dadanya ketika bibir Ben mulai bergerak **********.


"Tutup mata, De," kata Ben ketika ia melepas sesaat.


Ketika itu, pikiran Dea baru saja bekerja setelah blank selama beberapa saat. Namun, baru saja ia membuka mulut untuk menghardik Ben, pria itu lebih dulu memotong.


"Kalau nggak mau juling," lanjut Ben kemudian melanjutkan ciuman lebih intens dari sebelumnya.

__ADS_1



__ADS_2