Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
56. Dea Bahagia, Dion Murka


__ADS_3

Dea masih setengah sadar ketika dokter dan orang tuanya mengobrol lebih lanjut mengenai kondisi kehamilannya. Perempuan itu sibuk dengan pemikiran sendiri, sampai sulit bereaksi terhadap dunia sekitar.


Hal berbanding terbalik ditunjukkan oleh Dion yang syok bercampur bingung mendengar hal tersebut. Pria itu berniat berbicara banyak dengan Dea dan si dokter, tetapi tidak ada kesempatan karena orang tua mereka yang sangat lega atas hal ini, terlalu lama mengobrol.


Dion tetap menunggu dengan tidak sabaran, terbukti dari ketukan sepatunya yang terdengar cepat. Jemarinya ikut bermain ketukan di atas meja. Sesekali mengusap wajah secara kasar, demi mewaraskan diri. Namun, tidak bisa.


Sampai akhirnya, apa yang Dion tunggu terjadi juga. Dua orang tua mereka hendak berpamitan, tetapi Dion mencegah lebih dahulu.


“Dea masih lemah, Pa. Biar saya yang bantu bawa dia. Mama sama Papa duluan aja,” kata Dion dengan senyum hangat sekadarnya.


Kahar dan Diana sama sekali tidak menunjukkan gelagat curiga. Bahkan menyetujui hal itu dengan antusias. Kahar memberikan tepukan ringan di bahu putranya sebagai bentuk pemberian tanggung jawab.


“Jaga adik kamu dengan baik,” pinta Kahar dengan suara serius. “Omong-omong, Ben udah dikasih tahu masalah ini? Kenapa nggak datang, padahal istrinya kecelakaan?”


“Tadi harusnya sudah tahu, Pa, karena saya bawa Dea tepat di depan dia,” kata Dion, disusul dengkusan geli. “Dia lebih mentingin kerjaan—“


“Karena aku yang paksa dia tetap di restoran buat gantiin aku sementara waktu, Pa.” Dea buru-buru memotong ucapan sang kakak, demi menjaga nama baik Ben di depan sang ayah dan juga ibunya. “Palingan, dia juga khawatir banget sekarang. Aku harus hubungin dia. Mama sama Papa duluan aja.”


Kahar tampak tidak puas dengan jawaban itu, tetapi tetap meninggalkan ruangan tersebut bersama istrinya. Setelah pintu ditutup rapat, Dion langsung menarik lengan Dea agar berhadapan dengannya.


“Bukan kayak gini rencananya, De. Harusnya kamu minta dokter buat bilang kalau kamu keguguran!” kata Dion dengan nada geram. Bahkan terlihat jelas amarah pria itu dari caranya menggenggam erat lengan Dea.


Merasakan kesakitan, Dea buru-buru melepaskan cekalan Dion secara kasar. Ia mengentak tangan pria itu, sampai terlepas, lalu mundur dua langkah demi menjaga dirinya dari serangan serupa.


“Dokter.” Dea malah beralih pada dokter Tia yang masih duduk di tempatnya menyimak obrolan mereka. “Saya beneran ... hamil, Dok?”

__ADS_1


Dokter Tia mengangguk kecil. Ekspresi ramah yang dibuat-buat di depan Kahar dan Diana, kini meredup. Ia terlihat begitu serius menghadapi dua bersaudara di depannya ini.


“Iya, Bu Radea.” Dokter Tia menjawab dengan nada penuh penekanan untuk memberikan keseriusan dalam jawabannya. “Anda sedang hamil kurang lebih satu bulanan.”


“T—tapi saya sempat periksa testpack, tapi nggak ada sama sekali, Dok. Saya juga nggak ngerasain tanda-tanda kayak mual, ngidam, atau lainnya.” Dea menuntut jawaban lagi, agar rasa ragunya bisa terpuaskan.


“Testpack tidak selalu akurat, Bu, apalagi usia kandungan Anda masih sangat muda. Hampir sulit terdeteksi. Untuk tanda-tanda, ada beberapa yang terlambat, atau tidak sama sekali. Anda mungkin jadi salah satu yang tidak memiliki tanda kehamilan yang terlalu kentara, jadi tidak menyadari kehamilan Anda. Atau mungkin, belum. Seperti yang saya bilang tadi, kehamilan Anda masih terlalu muda, jadi belum memiliki tanda.”


Dea langsung membekap mulutnya sendiri dengan mata berbinar cerah. Ia beralih pada Dion yang tercengang, dan menggenggam dua tangan kakaknya untuk berbagi kebahagiaan. Dea mengabaikan fakta bahwa dirinya sedang mengenakan sepatu hak tinggi ketika ia melompat kecil sebagai bentuk luapan kebahagiaan.


“Aku hamil, Mas. Beneran hamil. Aku hamil ....” Dea berujar girang, berharap bisa menulari kebahagiaan itu untuk sang kakak. Namun, Dion tetap bergeming dengan pandangan kosong.


Dea berhenti melompat, kemudian menunduk untuk mengusap perutnya yang masih rata.


“Sekarang, aku nggak bohong sama sekali ke Ben,” bisik Dea dengan suara bergetar haru. Ia mendongak untuk melirik pada sang dokter lagi. “Saya ... bisa minta bukti, Dok? Saya harus kasih tahu suami saya. Kayak sejenis ... USG? Bisa?”


Sementara perempuan itu mengikuti dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut, Dion masih membeku di tempat. Ia nyaris tidak bergerak sama sekali, dan ketika rasa pegal menjalari kakinya, pria itu langsung jatuh terduduk di kursi yang ditempati Dea duduk sebelumnya.


Tangan Dion tergeletak lemas di atas meja, lalu secara bertahap, mulai mengepal dengan kuat. Menunjukkan gejolak amarah dalam dirinya.


...*...


Sejak dari rumah sakit, Dion sama sekali tidak pernah menanggapi celoteh bahagia Dea tentang kehamilannya. Bahkan hampir tidak pernah melirik sang adik sama sekali, sampai akhirnya ia merasa muak dengan rasa sakit di kepala yang mendadak menyerang akibat kebahagiaan adiknya ini.


“Saya kan udah bilang, De, jangan pernah berhubungan sama laki-laki itu! Kenapa kamu malah ... hamil?” tanya Dion dengan suara penuh penekanan. Ia meremas kening sendiri, saat sakitnya semakin parah di kepala.

__ADS_1


Dea langsung melirik sang kakak, tanpa memindahkan posisi tangannya sama sekali dari perut.


“Ya ... gimana, Mas.” Dea kebingungan menjawab, dan sama sekali tidak mengerti maksud dari sikap frustrasi yang sang kakak tunjukkan, sehingga Dea malah tersenyum menyengir memamerkan deretan giginya yang rapi. “Godaan Ben lebih hebat dari godaan setan, sulit ditolak.”


“Bego!” hardik Dion dengan kasar, berhasil meredupkan senyum sang adik. Ia melirik sinis pada Dea selama beberapa detik, lalu kembali fokus pada jalanan. “Sumpah, buat kali ini, kamu bego banget, De! Kamu harusnya ngasih batasan antara kamu dan Ben! Dia cuman anak kampung yang saya yakin gila harta! Kalau dia sampai tahu kamu hamil beneran, saya yakin banget, dia bakalan minta harta gono-gini yang gede pas kalian mau pisah nanti. Belum lagi minta uang lain dengan alasan anak. Apalagi, bagian anak kalian, bisa aja dia ambil dengan cara licik. Kita nggak pernah tahu jalan pikiran orang miskin kayak Ben itu gimana!”


“Tap—“ Dea hendak membela, tetapi Dion langsung mengangkat sebelah tangannya sebagai bentuk penolakan.


“Kamu sebelumnya nggak pernah berurusan sama orang miskin, jadi nggak paham masalah ini!” kata Dion dengan tegas. “Mereka berbahaya, De. Sebelumnya, Ben ngotot mau ambil alih perusahaan Papa. Setelah kita gagalin, dia sekarang pasti manfaatin anak itu buat dapat bagian dari kekayaan Papa. Jelas, siapa yang nggak mau harta kekayaan yang banyak tanpa kerja? Nggak ada! Ben pasti bakalan ngadain pesta buat rayain kehamilan kamu, sebagai tanda kalau dia nggak perlu kerja lagi buat memenuhi kebutuhan! Sampah kayak dia memang seharusnya nggak perlu dipungut—“


“Mas!” Dea tidak lagi segan meninggikan suara demi menghentikan kakaknya. “Itu pemikiran Ben, atau pemikiran Mas sendiri? Jangankan bicara atau mikir kayak yang Mas bilang tadi, Ben bahkan ngasih sebagian gaji dia yang notabenenya dari aku sendiri, buat ngasih nafkah. Gimana ceritanya dia sok-sokan mikirin rencana selicik itu buat ambil semua harta Papa? Kalaupun iya, dia nggak bakalan langsung luluh buat keluar dari perusahaan dengan alasan aku hamil bohongan, Mas!”


“De’, kamu sekarang berani bentak Mas? Kamu sekarang berani setelah kenal orang miskin itu!”


“Jangankan ngebentak, Mas! Dia bahkan nggak pernah bicara kasar sama aku. Kecuali kemarin, pas dia tahu aku hamil bohongan. Itu pun, alasan dia, karena khawatirin mama-papa yang bakalan dikecewain. Yang sering ngebentak di sini siapa? Mas Dion. Aku belajar ngebentak, ya dari Mas.”


“Dea ....” Sekarang, Dion menggeram rendah. Ia meremas setir mobil dengan sangat kuat sembari menekan-nekan giginya.


Dea sama sekali tidak peduli. Ia gegas mengeluarkan ponsel dari tasnya, mencari kontak Ben untuk ditelepon.


Namun, percobaan pertama gagal. Pun percobaan kedua, usaha ketiga, bahkan chat-nya yang centang dua tidak kunjung berubah biru.


Dea menelepon lagi, sembari menggigit bibir bawah gelisah. Ia hendak meminta suaminya datang menjemput agar dijauhkan dari Dion, tetapi ....


Ben sama sekali tidak pernah mengangkat teleponnya.

__ADS_1



__ADS_2