Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
78. Kabar Buruk


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi tentang kepindahan sang kakak, Dea tidak bisa menahan diri untuk tidak melayangkan protes. Namun, hal itu ia lakukan secara pribadi di ruang kerja sang ayah demi menghindari pandangan kecewa dari Ben.


“Kenapa Papa harus pindahin Mas Dion? Dia udah cocok di perusahaan, dan jadi paling utama dalam pengembangan perusahaan. Kenapa Papa malah mutasi dia ke luar negeri?” tanya Dea dengan nada meninggi tepat setelah ia menutup pintu ruang kerja Kahar. “Ah, nggak. Mutasi mah pindah kerja doang, tapi di bawah perusahaan yang sama. Sementara Papa? Papa ... kayak ngusir Mas Dion dari perusahaan dan rumah. Papa beneran niat kayak gitu?”


Kahar tetap tenang di tempat, sama sekali tidak terlalu memusingkan setiap protes yang dilayangkan oleh putrinya ini.


“Nggak, De. Papa cuman mau promosikan Dion supaya kariernya lebih berkembang. Kalau cuman urus perusahaan Papa, Papa kasihan kalau kemampuan hebatnya itu nggak berkembang dengan baik.”


“Aish, kan bisa berkembang seiring waktu, Pa! Kalau perusahaan juga berkembang, ya otomatis Mas Dion juga berkembang. Kenapa malah Papa pindahin ke tempat lain?” Dea semakin menuntut tegas. “Apa masalah kemarin? Pas di kafe itu? Papa pikir kami berantem terus Papa usir Mas Dion?”


Kahar sama sekali tidak mengangguk atau menggeleng, sebab, memang benar tebakan Dea tersebut.


“Pa, apa yang terjadi di kafe itu kesalahpahaman, Pa. Aku sama Mas Dion sama sekali nggak terlibat masalah apa pun. Kami baik-baik aja. Kami saling membutuhkan, Pa, please ... jangan Mas Dion dari keluarga ini, Pa.”


Dea berpindah, dari hadapan Kahar ke samping sang ayah demi bisa berlutut memohon padanya.


“Plis, Pa ... plis ... jangan pindahin Mas Dion. Plis ... aku nggak mau dibatasi pertemuan sama Mas Dion,” kata Dea dengan penuh permohonan.


Namun, Kahar tetap mempertahankan sisi dingin dalam dirinya, sebab keputusan ini bukan diambil hanya karena satu pertimbangan saja. Ada banyak pertimbangan, sehingga Kahar tidak lagi bisa luluh hanya karena permohonan dari putrinya.


“Keputusan Papa sudah bulat. Dion harus bekerja di perusahaan teman papa ini. Kamu atau siapapun, tidak bisa ganggu-gugat keputusan ini.”


Tidak tahan dengan permohonan putrinya, Kahar segera menyingkir dari ruangan tersebut. Meninggalkan Dea yang lemas di tempat akibat sikap dari sang papa yang sangat mengecewakan.


Dea mengusap wajah dengan kasar, kemudian menjambak rambut demi melampiaskan kemarahan. Namun, sama sekali tidak bisa melegakan dirinya sendiri.


Perempuan itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya, kemudian menghubungi nomor Dion untuk dikirimi pesan penyesalan dan permintaan maaf.

__ADS_1


*


Radea Dasha :


Maaf, Mas. Aku nggak bisa bujuk Papa.


Dion sama sekali tidak terkejut dengan hak itu, bahkan sudah menebaknya dari awal. Ia tidak lagi memberikan balasan atas pesan tersebut, dan memilih mengantongi ponsel.


Di kamarnya yang tertutup sempurna, Dion menghabiskan malam terakhir di rumah mewah ini dengan duduk bersandar di kursi santai menghadap kasur yang sudah diisi oleh beberapa koper besar yang menyimpan semua barang-barangnya.


Pria itu menyalakan api untuk menghidupkan rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah. Setelah menyala, ia menghirup banyak asap manis dari sana, kemudian mengembuskannya secara perlahan.


Berbagai perasaan marah berkecamuk dalam diri dan jiwa Dion. Usahanya selama bertahun-tahun, hancur begitu saja hanya karena gangguan seorang pria kampungan bernama Ben. Setelah laki-laki sialan itu datang, hidup Dion tidak lagi pernah merasakan ketenangan.


Puncaknya adalah hari ini. Dion sangat yakin bahwa alasan mengapa dirinya diusir dari rumah ini adalah karena laporan Ben. Karena sebelumnya, Dion tidak pernah mendapatkan protes apa pun dari setiap tindakannya, sampai Ben masuk ke rumah ini.


Dion menarik asap panjang dari rokoknya sampai pipinya mengempis sempurna. Ia lalu mengembuskannya dengan tatap tajam mengarah ke depan.


Ia ingin memberitahukan melalui tindakan nyata pada keluarga ini, bahwa ketidakhadiran Dion di sini akan membuat keluarga ini kacau. Dion menjanjikan hal itu dalam hati.


*


Di jam istirahat, Ben memiliki tugas tambahan di restoran. Yaitu menghibur ibu bos yang sedang bersedih ditinggal pergi oleh sang kakak angkat.


Ben memasuki ruangan Dea dengan membawa sebuah nampan besar yang bisa menampung makanan utama, air putih, buah-buahan serta camilan rasa cokelat yang katanya bisa meredakan kesedihan seseorang.


Berbeda dari biasanya di mana Ben akan mengetuk pintu sebagai bentuk kesopanan, kali ini Ben tidak melakukannya. Demi bisa melihat secara langsung bukti kegalauan Dea di atas meja kerja.

__ADS_1


Perempuan itu hanya bisa menopang wajah dengan telapak tangan. Terlihat sangat lesu, dan hanya memainkan pulpen di antara jemarinya sebagai pelipur lara.


Ben mendekat, bahkan tidak disadari oleh Dea sama sekali. Perempuan itu baru sadar saat Ben menarik kursi untuk duduk di depan Dea. Perempuan itu langsung terkejut, dan semakin heran karena keberadaan makanan di atas mejanya.


“Isi perut dulu, De,” kata Ben. Di saat Dea hendak melayangkan protes yang diawali dengan gelengan kecil, Ben mendahului perempuan itu untuk berbicara. “Kalau mau ngerasa penuh, kamu bisa makan buah dulu, De. Biar asupan bayi kita terpenuhi.”


Namun, Dea sekali lagi menolak. Ia menggeleng, kemudian membuka mulut hendak berbicara lagi.


“Kalau kamu nggak nafsu makan, kamu bisa makan camilan cokelat ini, De. Katanya bisa perbaiki mood. Coba deh,” kata Ben. Ia mengambil satu bungkusan cokelat, kemudian dibuka dan diberikan pada sang istri.


Namun, Dea menerimanya malas-malasan, bahkan memakannya tanpa minat. Perempuan itu memasang wajah datar, dengan mulut terus mengunyah tanpa merasakan kenikmatan sama sekali.


“Sedih banget ya, ditinggal Dion?” tanya Ben. Dea langsung mengangguk lemas.


“Jelas, Ben. Dion itu udah kayak papa kedua buat aku. Dia yang selalu jaga aku dari bayi, dan selalu jadi guru utama aku dalam berbagai hal. Aku nggak benci apalagi abai sama Mas Dion.”


“Tapi dia bukan kakak kandung kamu, De,” kata Ben menyadarkan. “Dia bahkan berani-beraninya cium kamu sembarangan. Aku beneran nggak bisa maafkan dia gitu aja.”


“Itu tuh dorongan emosi dia aja, Ben, yang kesel karena kamu terlalu nyebelin sebagai suami. Dia itu cuman terlalu mendalami peran buat—“ Dea langsung menghentikan ucapannya dengan mata melotot lebar karena panik.


Sialan, Dea hampir saja kelepasan mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya. Bahwa Dion hanya kesal pada sikap Ben yang cuek. Maka, ia serius pada rencana membuatnya cemburu buta, dan bablas ke ciuman yang berhasil memanaskan jiwa Ben. Hal itulah yang diinginkan oleh Dea: kemarahan natural Ben yang menunjukkan seberapa dalam cintanya pada Dea.


Namun, bukannya mendapatkan terima kasih, Dion malah diusir dari rumah.


Perempuan itu menghela napas panjang. Di saat ia hendak melanjutkan makan camilan, ponselnya mendadak berdering. Nama sang mama tercetak di layar membuat Dea langsung mengangkat telepon.


“Halo, Pa,” sapa Dea dengan malas.

__ADS_1


“Dion, De. Dion kecelakaan.”


*


__ADS_2