Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
46. Kepergian Ben


__ADS_3

Namun, Dea sama sekali tidak memegang ucapannya sendiri. Tidak ada diskusi seperti yang perempuan itu sampaikan. Bahkan meski mereka beberapa kali berpapasan di kamar, Dea tetap mengabaikan Ben begitu saja. Bahkan, meski sang suami sudah beberapa kali memanggilnya, Dea tetap meninggalkan kamar tanpa mengeluarkan sepatah kata kalimat.


Ben mendengkus kecil. Ia terduduk malas di pinggir ranjang. Awalnya, enggan melakukan apa pun karena masih terpikirkan oleh perubahan sikap yang Dea tunjukkan. Namun, sebuah dering ponsel berhasil mengalihkan perhatiannya. Ben merogoh saku, dan menemukan notifikasi pesan dari adik iparnya, Dika.


Dika :


Mau mintol, Ben. Besok, beliin bunga mawar ya. Bawa ke restoran aja, aku ambil di sana.


Kening Ben sempat berkerut sejenak, walau ia sejujurnya tidak terlalu penasaran dengan tujuan Dika kali ini.


^^^Buat apa?


^^^


Ben balas bertanya melalui pesan, sekadar basa-basi kepada sang adik ipar.


Dika :


Besok 14 Februari. Biasalah, cewek. Maunya diromantisin.


Balasan itu sudah cukup membuat Ben memudarkan kerutan di kening, dan menjawab penasarannya yang tidak seberapa. Ia baru akan mematikan ponsel, ketika pesan lainnya kembali masuk.


Dika :


Udah siapin buat Mbak Dea belum? Siapin gih:P sebelum kena semprot Mbak Dea, karena dia bisa ngerasa nggak dipeduliin:P


Binar semangat kembali terbit di mata Ben. Pria itu segera berdiri, dan balas pesan Dika dengan penuh antusias.


^^^Thanks sarannya, Dik.


^^^


Ponsel kemudian diamankan ke dalam saku celana, lalu Ben keluar kamar. Berniat keluar untuk mencari inspirasi mengenai apa yang bisa ia hadiahkan pada sang istri. Namun, baru saja menutup pintu, sebuah seruan mengalihkan fokusnya.

__ADS_1


“Ben, bisa ikut saya sebentar?”


Karena orang yang memanggilnya adalah Kahar, maka Ben tidak bisa menolak. Pria itu memberikan sebuah anggukan hormat, lalu mengikuti sang mertua menuju ruang kerjanya.


“Kamu sudah bulat dan yakin sama keputusan kamu, ‘kan?” tanya Kahar, sebelum mendudukkan dirinya di kursi putar miliknya.


Sementara Ben yang baru saja menutup pintu ruangan, tertegun sejenak atas pertanyaan ambigu sang mertua. Namun, ia teringat pada penerimaannya atas tawaran Kahar tempo hari. Jadi, Ben menjawab dengan anggukan yakin lebih dulu.


“Iya, Pak. Saya siap belajar supaya tidak mengecewakan Bapak,” kata Ben penuh keyakinan.


Dan Kahar tampak puas dengan semangat menantunya. Ia memberikan dua buah anggukan kecil, beserta senyuman samar.


“Kamu bisa mulai datang ke kantor besok, sebagai staf biasa selama proses belajar. Kamu cari saja Dion, buat konsultasi dan belajar langsung sama dia. Dia sudah saya minta buat bantu kamu di kantor besok,” kata Kahar. “Masalah ini, apa kamu sudah beritahu Dea?”


“Belum, Pak,” jawab Ben jujur.


“Nanti beritahu dia, supaya nggak kaget karyawan istimewanya nggak masuk kerja,” kata Kahar, diselipi senyuman geli.


Ben tidak memberikan tanggapan apa pun pada awalnya, sebab mendadak terpikirkan mengenai kondisi hubungannya dengan sang istri.


“Ada beberapa alasan dan pertimbangan, Ben, makanya kami memilih orang luar buat jadi suaminya Dea,” kata Kahar. Pandangannya mendadak kosong, diarahkan ke depan setelah mengatakan hal itu. “Alasan-alasan itu tidak perlu saya beritahukan ke luar. Cukup jadi pertimbangan saya dan istri saya.”


Ben mendadak saja penasaran dengan alasan yang Kahar maksud. Sekaligus, sebuah perasaan tidak nyaman mulai muncul setelah penuturan sang mertua.


“Alasan itu membuat saya sangat yakin, Dion tidak akan pernah bisa jadi pendampingnya Dea,” kata Kahar lagi.


Ben semakin kebingungan.


...*


...


Sebagai seorang pria dengan kehidupan datar yang sama sekali tidak pernah merayakan hari valentin, Ben sama sekali tidak tahu harus melakukan apa untuk bersikap romantis pada Dea.

__ADS_1


Sehingga, pria itu hanya bisa meniru semua hal yang Dion pesan dari dirinya. Bunga, cokelat, dan boneka. Bahkan, semua jenisnya sama. Menunjukkan betapa tidak kreatifnya Ben dalam urusan sejenis ini.


Ben dan Dika sepakat untuk datang ke restoran lebih awal dari Dea. Sehingga, keduanya melewatkan sarapan demi tujuan ini. Meski keduanya berangkat dengan kendaraan yang berbeda, mereka beruntungnya tiba di sana hampir bersamaan.


"Menurut kamu, ini udah sesuai belum sama kesukaannya Dea?" tanya Ben, sembari memandangi bunga mawar yang ia beli. Agak sedikit ragu, mengingat bahwa sang istri lebih menyerupai monster dengan hobi marah ketimbang sebagai gadis manis.


"Pasti suka, Ben. Walaupun Mbak Dea garang gitu, dia tetep perempuan yang suka banget diromantisin. Kalian udah pernah dinner berdua kan?"


Ben mengangguk. "Iya. Sesuai saran kamu."


"Nah. Mbak Dea suka, 'kan?"


Sekali lagi, Ben mengangguk sebagai bentuk pembenaran atas tebakan Dika. Sang adik ipar langsung menjentikkan jari setelah itu.


"Nah, kan! Tenang aja! Mbak Dea bakalan suka!" kata Dika meyakinkan. Tidak lupa, menepuk bahu kakak iparnya itu dua kali sebagai bentuk dukungan.


"Ya udah, aku berangkat dulu. Banyakin doa aja, Ben. Biar mode Mak lampirnya nggak kambuh hari ini," kata Dika, diselipi tawa kecil.


Ben hanya menanggapi dengan sebuah senyum tipis, disertai sebuah anggukan. Ia tetap di tempat, sampai Dika keluar dari restoran. Barulah ia berjalan membawa semua hadiah-hadiahnya ke ruangan Dea.


Pria itu menarik napas panjang setelah menyusun semuanya di atas meja kerja Dea. Ia sangat berharap, bahwa ini akan memperbaiki interaksi antara mereka. Ben benar-benar merasa terancam setelah didiamkan oleh Dea sejak kemarin.


Pria itu mengentakkan jas kerjanya. Ia berniat menunggu Dea datang, dan menyambutnya di sini. Sayang, jarak restoran dan kantor Kahar cukup jauh, ia harus berangkat sekarang. Apalagi setelah diberitahu bahwa Dion adalah sosok tegas dalam hal kedisiplinan. Sang kakak ipar bisa saja langsung membatalkan proses belajar mereka hanya karena Ben terlambat.


Maka, Ben lebih dahulu membuat sebuah catatan kecil, diletakkan di paha boneka beruang cokelat. Lalu keluar dari ruangan ini.


Ben lebih dahulu menyempatkan pamitannya pada semua karyawan yang lain, memohon doa, dan saling menyemangati satu sama lain. Sampai akhirnya waktu untuk pergi tiba, Ben berpesan agar mereka mengawasi Dea, dan jangan segan memberitahu jika Dea dekat dengan pria lain. Termasuk Dion.


Ben meninggalkan restoran, menuju halaman kehidupan baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Demi Dea, demi kriteria pria yang disukai Dea—Ben melakukan ini. Padahal, ia juga berat meninggalkan restoran karena teman-temannya, dan juga ancaman godaan untuk Dea dari pria mana pun.


Ben sangat khawatir. Membuatnya kembali ragu untuk melangkah.


......*

__ADS_1


......


__ADS_2