Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
23. Sakit Sana-Sini


__ADS_3

Bangun di pagi hari di waktu yang hampir bersamaan, tetapi Dea yang lebih cepat bangkit dari posisi berbaring. Segera membelakangi Ben untuk mengambil kimono tidurnya untuk dikenakan. Namun, keinginannya berdiri dibatalkan sesaat setelah menumpukan kaki pada lantai dingin.


Hal itu disadari oleh Ben. Ia juga gegas bangun, demi mengecek keadaan istrinya.


“Dea nggak papa?” tanya Ben, khawatir, tetapi jawaban yang ia terima adalah sebuah bantal melayang di wajahnya.


“Jangan banyak nanya kamu!” kata Dea dengan suara tegas yang tidak dibuat-buat. Perempuan itu sungguhan marah.


Sehingga Ben tidak sempat untuk membalas dengan kemarahan yang sama, karena sikap Dea bercampur antara kesal dan kesakitan. Ia menahan Dea secara paksa ketika istrinya itu berniat pergi.


“Masih sakit?” tanya Ben, sekadar basa-basi. Sebetulnya tahu jawaban tanpa perlu menanyakannya. Wajah Dea terlalu payah untuk berbohong. “Sorry, aku juga nggak punya pengalaman di bidang ini. Cuman modal Google buat praktik. Mau ke rumah sakit kalau sakit banget?”


Dea jelas menggeleng sebagai jawaban. Ia terlalu malas untuk mengeluarkan sepatah kata lagi, jadi segera bangun usai memaksa melepaskan tangan Ben dari dirinya menggunakan pukulan bantal.


Susah payah, Dea berjalan menuju kamar mandi. Namun baru saja beberapa langkah, ia segera dihentikan oleh ucapan Ben yang terdengar mengejek.


“Uluh-uluh ....”


Dea segera menoleh dengan mata memicing tajam.


“Lucu banget, De, kayak pinguin jalan.”


Ah sial .... Dea mengatakan itu secara frustrasi di dalam hati. Tidak afdal jika dibiarkan begitu saja. Maka Dea mengabaikan sakit di inti tubuhnya demi mempercepat langkah ke arah Ben, mengambil sebuah bantal dan memukul pria itu dengan keras. Bukan hanya sekali, dua kali. Namun berulang kali sampai tawa Ben terdengar. Dea segera menghentikan perbuatannya karena merasa bahwa pria gila ini malah menyukainya.


“Diem, nggak! Diem!” kata Dea dengan suara tegas, enggan bercanda saat ini. Pada akhirnya, perempuan itu hanya bisa mengeram dengan sangat kuat, dan melempar bantal sembarangan.


Dea berjalan ke kamar mandi dengan buru-buru. Ia bahkan membanting pintu dengan sangat keras, sengaja menunjukkan kemarahannya pada Ben. Di dalam sana, Dea tidak langsung membersihkan tubuh. Memilih duduk di atas kloset, pandangan kosong ke ubin putih. Memikirkan arti perasaannya saat ini.


Kacau. Benar-benar buruk, ditambah perih di inti tubuh.


Menyadari fakta bahwa ia baru saja memberikan dirinya untuk pria yang tidak pernah Dea cintai, perempuan itu merasakan sesuatu yang salah.


Seolah dirinya baru saja dilecehkan. Apalagi dengan sedikit pemaksaan Ben yang seolah turut dikendalikan oleh amarah.


Dea merasa sangat menyesal dengan pilihannya ini.


...*...


Sejak keluar dari kamar mandi tadi, sampai jam pulang kerja, Dea sama sekali tidak pernah mengajak Ben berbicara. Alasan lainnya karena perempuan itu tidak pernah meninggalkan ruangan seharian penuh, tetapi Ben masih berusaha untuk menemuinya ketika mengantarkan kopi dan makanan. Penyebab pastinya, perempuan itu masih marah.


“Dea.” Ben memanggil dengan suara lirih, tetapi Dea sama sekali tidak menganggap ada kehadiran pria itu saat ini. Sibuk mengecek laptop, dan ponselnya sesekali.


Dea mendapati beberapa pesan dari Elvan, tetapi tidak berani ia jawab sekarang. Hanya membaca setiap chat di bar notifikasi sehingga Ben tidak curiga. Barulah setelah pemuda itu pergi, Dea buru-buru mengeceknya karena penasaran.


Elvan Dexter


De, kenapa jarang banget ya baca pesan saya?


Malam ini mau ketemu nggak? Terserah jam berapa pun yang kamu bisa


Saya mau ngobrol sebentar. Masalah bisnis biasa kok. Saya mau ngajakin kamu kerja sama.


Mau?


Dea butuh waktu beberapa menit membiarkan jemarinya hanya sekadar mengambang di atas layar. Tidak menjauh atau mendekat untuk mengetikkan balasan, selama ia memikirkan semuanya dengan baik. Hingga pada akhirnya memutuskan satu hal. Persetan dengan Ben beserta segala aturannya.


Dea segera memberikan balasan.

__ADS_1


^^^Iya. Jam 7 malem, di apartemen.^^^


Setelah menekan tombol kirim, jemari gadis itu mendadak ragu. Ia menekan lama pesan yang baru saja terkirim, berniat menghapus untuk dirinya dan si lawan obrolan, tetapi sudah terlanjur muncul balasan.


Elvan Dexter


Oke, De, saya tunggu ya. Kabarin aja kapan kamu mau dijemput biar suami kamu nggak curiga.


Dea tidak lagi membalasnya. Segera mematikan ponsel, dan melemparnya ke tengah-tengah meja dengan perasaan gelisah beberapa kali lipat dari tadi pagi.


Ia mau mengobrol dengan Elvan untuk mengurangi kejengkelannya pada Ben. Namun, malah muncul perasaan bersalah yang membuatnya cemas tanpa alasan. Sehingga memperkuat keinginan Dea untuk tidak bertegur sapa dengan Ben hari ini. Full.


...*...


“Udah mau pulang, De? Ini baru jam berapa? Nggak pulang sama saya?” kata Ben ketika ia mengikuti Dea keluar dari restoran.


Namun, Dea tetap meneruskan perjalanannya menuju parkiran, dan masuk mobil mengabaikan Ben yang hanya berakhir berdiri di pinggiran teras restoran. Melihat mobil Dea yang semakin menjauh.


Dea berpikir bahwa ia bisa aman setelah menghindari Ben. Selama perjalanan, tidak henti-hentinya ia meremas kening karena pusing. Benar-benar kacau hari ini: kesal pada Ben, benci pada suaminya itu, sekaligus merasa bersalah karena ia pergi dan melanggar janjinya pada pria itu.


Namun, Dea sangat berharap bahwa Elvan bisa membantunya mengatasi perasaan pertama dan kedua tadi: kesal dan benci. Ia butuh teman curhat, dan tidak ada yang bisa mengerti dirinya sebaik Elvan.


Tiba di apartemen, Dea mengonfirmasinya melalui telepon. Baru melewati pintu utama, ia sudah disambut oleh Elvan yang membuat gestur hendak merangkul, dan Dea sama sekali tidak keberatan.


“Kenapa? Suntuk banget kayaknya?” tanya Elvan ketika ia menuntun Dea menuju lift. “Tempat saya atau tempat kamu?”


“Tempat kamu, yang paling deket,” jawab Dea malas. “Sekalian pesenin makanan. Aku laper,” kata Dea lagi. 


Elvan segera menurutinya. Memesan makanan ketika hendak masuk ke lift, lalu fokus pada Dea. Tangannya sibuk mengusap lengan mantan kekasihnya itu dengan niat menenangkan.


Bahwa Dea kesal karena tidur dengan suaminya sendiri. Hal itu malah membuat Elvan mengejeknya, jadi, Dea tidak memiliki niatan untuk menjawab jujur.


“Cuman lagi kesel aja, dikit, sama dia,” kata Dea, setelah memilah beberapa kata yang cocok.


Elvan membawa kepala Dea untuk bersandar padanya. Karena gadis ini terlihat sangat lelah dan putus asa. Usapannya tidak berhenti, sampai lift terbuka. Keduanya berjalan keluar, menyusuri lorong, sampai tiba di depan pintu di mana unit Elvan berada.


Di saat pria itu sedang membuka pintu, Dea juga masih memijit pelipisnya. Mereka tinggal melangkahkan kaki untuk masuk saja, ketika sebuah seruan nyaring terdengar.


“Oh, ternyata bener ya, Van, kamu di sini!”


Keduanya sontak menoleh ke arah perempuan yang datang bersama seorang pria—Dea melotot melihatnya. Ben mengikuti Dea ke sini! Namun, anehnya sekarang datang bersama perempuan asing.


“Mbak, kenapa bisa—“ Elvan berbicara gugup, tetapi segera dipotong oleh perempuan tersebut.


“Nggak usah tanya kenapa saya bisa di sini! Karena gampang dapetin berita kalau kalian masih sering ketemuan di sini!” balas si wanita dengan urat-urat leher menegang. “Kamu ....” Ia menunjuk Elvan ketika tinggal berjarak satu meter dari si lawan bicara. “Istri kamu lagi mempertaruhkan nyawa buat lahirin anak kalian, kamu malah sibuk sama mantan pacar?! Kamu waras, Van? Waras kamu? Istri kamu lagi kritis, Van! Dia lagi kondisi drop karena kamu tinggalin setiap hari tanpa peduli kalau dia sama kehamilannya itu lemah! Gampang buat adik saya mati cuman buat pertahanin anak kalian! Sementara kamu apa? Malah sibuk berduaan ....”


Arah pandangan melotot perempuan asing itu kini berpindah pada Dea. Sontak, membuat Dea bergerak mundur untuk menghindar.


Mereka sama sekali tidak melakukan apa-apa, bahkan baru sampai. Inginnya Dea menjawab seperti itu, tetapi dalam gerakan kilat, kulit Dea seolah ditarik saat sebuah plester warna kulit ditarik dari lehernya.


Dea, Elvan, dan Ben merasakan bahaya di sini. Segera, Ben berjalan cepat—yang semula berhenti di depan lift karena sibuk menonton—ke arah pertengkaran terjadi.


Namun, terlambat. Sebuah tamparan keras dengan suara menggema sudah mendarat di wajah Dea. Ben tidak berhenti, terus berlari kecil sampai bisa menarik Dea untuk bersembunyi di belakang punggungnya.


“Wah, kalian asik-asikan banget ya di atas penderitaan adik saya! Wah-wah .... Dasar perempuan nggak tau malu! Kalau mau goda laki-laki, minimal lihat pake cincin atau enggak! Punya otak dipake! Jangan cuman modal cantik terus godain laki—“


“Dia istri saya! Jaga bicara Anda!” Ben segera memotong, tidak lupa menunjukkan tatap tajam pada si wanita.

__ADS_1


Perempuan itu sempat tertegun keheranan, lalu tersenyum mengejek.


“Jagain tuh, istri Anda! Jangan malah sibuk godain mantannya lagi yang udah beristri! Bahagiain tu istri, biar nggak nyari kepuasan di laki-laki lain.”


Ben memejam kuat, dengan helaan napas berat. Benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarahnya, hingga tanpa sadar menjadikan genggaman tangannya di lengan Dea sebagai pelampiasan berupa remasan erat.


“Sudah, Mbak. Sudah!” Elvan baru bersuara setelah blank sesaat. “Iya, saya pulang! Saya pulang! Saya lagi ada kerjaan di sini, dan udah bilang ke dia sanggup saya tinggal atau enggak. Dan dia bilang iya.” Elvan membalik tubuh si kakak ipar dan mendorongnya untuk meninggalkan tempat ini.


Sementara Ben berbalik, menghadap Dea. Ia sempat mengembuskan napasnya dengan panjang, sebelum menarik perempuan itu dalam pelukannya. Membiarkan tangisan tersembunyi Dea berubah menjadi isakan kecil. Pakaian Ben terasa basah sampai menembus kulit, tetapi ia sama sekali tidak keberatan. Malah mempererat pelukan, sambil sesekali mengusap kepala dan punggung Dea. 


Selama beberapa menit, Ben enggan melepaskan pelukan sampai perempuan itu mulai tenang. Saat Dea mulai meninggalkan sandarannya yang nyaman di dada Ben, pria itu baru mundur selangkah untuk mengambil jarak.


“Mau ke apartemen Dea dulu bentar?” tanya Ben, sembari menggunakan jempolnya untuk mengusap bawah mata Dea demi menghapus jejak basah di sana.


Dea mengangguk kecil, dan pasrah ketika Ben menuntunnya masuk ke lift menuju apartemennya.


Setelah tiba di sana, Ben turut memberikan perhatian kecil dengan membantu Dea duduk di pinggir tempat tidur. Ia mengecek kulkas, dan menemukan beberapa botol minuman yang belum expired di sana. Ia membukakan botol itu sebelum memberikannya pada Dea.


Selama perempuan itu sibuk menyesap minumannya dengan tangan gemetar, Ben memilih bantu menepikan rambut Dea ke sisi bahu yang lain, sehingga bekas tamparan tadi bisa terbebas dari gangguan. Ia menilai kulit Dea di bagian itu, menghela napas panjang ketika menyadari bahwa ada warna lebih merah di sepanjang pipi sang istri.


Ben tidak mengatakan apa pun selama beberapa saat. Setelah ia mengambil alih minuman untuk diletakkan di lantai, dan Dea mulai agak tenang, barulah Ben bersuara.


“Dea beneran marah masalah kemarin malam ya?” Ben bertanya, tetapi sepenuhnya tidak butuh jawaban karena sudah tahu. “Sorry. Aku ... masih susah kendalikan amarah, De. Bukan gampang buat nahan diri tetap di mobil malam Sabtu kemarin, sementara Dea dipegang sembarangan sama mantan pacar, dan aku juga nggak tau Dea diapain aja sama dia. Dea mungkin bisa jaga diri, tapi nggak nutup kemungkinan kalau dia nggak berniat buruk sama Dea. Aku cuman takutin kalau Dea yang polos ini, diapa-apain sama orang nggak jelas kayak dia.”


“Alesan,” balas Dea dengan suara bergetar karena masih memulihkan diri dari tangis terkejut. “Biasanya juga langsung nerobos kayak tadi buat larang aku deket sama Elvan. Kenapa kemarin sok nahan diri?”


“Biar Dea nggak malu,” jawab Ben tenang, “Didatengin suami yang tampilannya nggak jelas.”


Dea tertegun sebentar. “Aku suka sifat kamu yang gini, Ben, apa adanya kayak pas masih jadi pekerja biasa. Beda setelah menikah, kamu kayak sok bahagia, paling ceria, terus pengganggu banget. Padahal aku yakin, kamu nggak sebahagia itu punya istri kayak aku.”


Ben mendengkus geli. “Kok pembahasannya lari ke sana sih, De?” Ia memamerkan senyumnya ketika menyentuh rahang Dea agar bisa fokus melihat tampilan sang istri. “Aku kompres bentar ya.”


Ben meninggalkan tempat tidur sebentar, lalu kembali lagi beberapa menit kemudian dengan sebuah mangkuk di tangannya. Ia menggunakan handuk yang telah direndam air panas untuk ditempelkan di pipi perempuan itu.


“Aku baru sadar ini,” kata Dea, sembari memberikan akses pada Ben untuk mengelapi wajahnya. “Kamu nggak kelihatan ngejar uang, punya istri yang keras kepala, dan kamu juga nggak minta buat naikin jabatan. Apa tujuan kamu nikah sama aku sebenarnya?”


“Aku cinta Dea.”


Jawaban lugas Ben sempat membuat Dea tercengang sebentar. Ia menggeleng, menolak jawaban itu, bahkan menahan tangan Ben agar tidak bergerak lebih lanjut.


“Kalau cinta, kamu harusnya tahu kalau aku nggak suka tipe pengganggu kayak yang kamu tunjukkin itu. Aku suka sosok kamu dulu, yang tenang dan nggak suka ikut campur urusan orang, plus nggak suka sok-sokan ceria padahal enggak.” Dea mengutarakan opininya dengan kening berkerut dalam. “Dibandingkan uang, kamu malah seneng sama durasi pernikahan yang cuman setahun. Kenapa?”


“Ya jawaban aku itu, De. Aku cinta Dea, oke. Itu alesannya.”


Dea tampak tidak percaya. Ia mengambil handuk yang Ben pegang, beserta mangkuknya untuk diletakkan di dekat kaki tempat tidur. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di masing-masing wajah Ben agar mereka saling menatap dengan serius.


“Kalau kamu beneran cinta sama aku, balik lagi ke Ben zaman dulu yang apa adanya. Bisa?” tanya Dea dengan nada memerintah. Ia menghela napas sebentar, ketika Ben tidak memberikan tanggapan apa pun. Ia menurunkan tangan, lalu meletakkan keningnya di bahu Ben tanpa izin. “Gimana aku bisa bales cinta kamu kalau kamu aja nyebelin banget? Aku—jujur aja—kayak pengen cekek kamu saking jengkelinnya.”


Ben mendengkus geli mendengarnya. Ia balas merangkul tubuh Dea, dan memberikan jeda sejenak sebelum menjawab.


“Aku tahu.”


Namun, Ben sama sekali tidak berniat untuk mengubah sifat yang dibenci Dea tersebut.


Karena dia tahu—di dalam hati—bahwa pernikahan setahun ini tidak seharusnya menyisakan apa pun termasuk perasaan.


__ADS_1


__ADS_2