
Kahar dan Ben duduk berjarak dua kursi tunggu di depan sebuah ruangan yang sepi. Ia memandang kosong ke depan, seolah mengingat-ingat masa lalu.
“Dion saya besarkan sendiri, jadi saya tahu dengan baik bagaimana karakter dia,” kata Kahar dengan suara lirih. “Dia tipe optimis, tapi tingkat over di mana dia sangat ambisius terhadap sesuatu. Seharusnya bagus, tapi di beberapa hal, dia bisa melakukan segala hal demi mendapatkan apa yang dia inginkan.”
Ben mendengarkan dengan saksama setiap penjelasan mertuanya dalam diam.
“Saat Dea lahir, dia yang paling bahagia menyambut adiknya. Sampai mereka mulai tumbuh dewasa, dan Dea mulai suka bisnis. Dion mulai menunjukkan ketidaksukaan saat Dea mencoba masuk ke perusahaan. Dea tidak sadar hal ini, tapi saya tahu semuanya. Dion terus menghasut Dea agar tidak masuk ke perusahaan saya, sehingga posisinya bisa aman. Bahkan, beberapa kali berencana mencelakakan Dea walau tidak yang begitu berbahaya. Hanya membuat Dea kapok datang ke kantor. Takut Dea kenapa-napa, saya akhirnya berikan bagian tersendiri untuk Dea agar aman dari Dion.”
Ben benar-benar terkejut mendengar fakta itu. Ia hendak melayangkan protes terhadap sifat asli Dion, tetapi ia mencegah demi mendapatkan penjelasan yang jernih.
“Tapi semakin ke sini, saya semakin waswas melihat sifat Dion. Semakin didiamkan, dia semakin kelewatan. Hanya karena Diana menyayanginya seperti anak kandung, makanya saya tetap diam tentang hal ini. Tapi, saya juga tidak bisa membiarkan dia semakin semaunya. Makanya, saya mau tawarkan perusahaan ke kamu, Ben.”
Kali ini, Kahar mengarahkan pandangan penuh kepercayaan pada Ben. Si lawan bicara hendak mengajukan pertanyaan atas penjelasan tersebut, tetapi Kahar kembali melanjutkan.
“Saya juga tahu, bahwa Dea dihasut supaya Dea membuat kamu batal masuk ke perusahaan, dan berhasil. Makanya saya sama sekali tidak tersinggung dengan penolakan kamu, Ben,” lanjut Kahar yang secara spontan memberikan perasaan bersalah untuk Ben. “Saya pikir sudah selesai. Rencananya, saya akan mencari cara supaya Dion keluar dari perusahaan. Tapi saya melihat dengan jelas, dia berusaha mendekati Dea melewati batas kewajaran saudara. Kamu paham maksud saya, ‘kan?”
Ben langsung mengangguk. Takjub bahwa mertuanya memiliki informasi sebanyak itu. Padahal, ia pikir sudah pintar menyembunyikan semua fakta yang ada.
“Saat Dea minum, tidak ada yang tahu bahwa Dion sebenarnya yang membawa Dea ke kelab. Dia mengajak Dea ke sana, dan membujuk Dea untuk minum. Semua itu saya tahu dari orang yang sudah saya suruh untuk mengikuti Dion. Di situ, saya benar-benar sulit menahan diri terhadap sikap Dion, jadi mau menunggu sebentar lagi untuk mencari saat yang tepat untuk memindahkan Dion ke tempat jauh dari keluarga saya. Tapi ternyata, Dion lebih nekat dari perkiraan saya. Sedikit beruntung, dia tidak melakukan hal yang lebih nekat terhadap Dea. Dari sini, saya sudah bulatkan tekad, setelah Dion sadar, dia harus saya mutasikan ke luar negeri.”
“Beruntung? Bukannya ini sudah terlalu parah, Pak?” tanya Ben, keberatan dengan ucapan mertuanya yang itu. “Anda berpikir bahwa ... Dion bisa saja melakukan hal lebih parah dari ini?”
Kahar mengangguk. “Tidak menutup kemungkinan, kalau dilihat dari ambisi Dion.”
“Seperti apa, Pak, tingkat parahnya?” tanya Ben hati-hati.
“Saya sendiri, nggak bisa tebak apa itu, Ben, karena Dion ternyata semakin berbahaya. Bisa lebih parah dari tebakan saya,” balas Dion. “Makanya, saya cerita ini ke kamu, supaya kamu jaga Dea dan di samping istrimu selama saya melakukan rencana ini. Walau tidak bisa tebak tindakan Dion selanjutnya, tapi saya yakin satu hal: dia tidak akan mudah saya pindahkan ke tempat lain. Jadi, bisa saja ... ada hal tak terduga yang akan dia lakukan.”
Ben menegang di tempat. Lalu diam-diam mengangguk, menyetujui permintaan sang mertua.
*
Ben berada duduk di kursi samping ranjang pasien tempat Dea berbaring tidak sadarkan diri. Meski dokter sudah mengatakan bahwa istrinya masih dalam kondisi baik walau sedikit terguncang, Ben tetap tidak bisa menanggalkan kekhawatirannya. Sebab, sikapnya yang buruk sudah mengangguk kenyamanan hati Dea, apalagi setelah kejadian tadi. Ben tidak tahu, seberapa buruk perasaan Dea saat ini.
__ADS_1
Malam semakin larut, tetapi Ben sama sekali tidak mau beranjak dari kursinya setelah datang ke ruangan ini. Ja terus menggenggam tangan Dea sebagai bentuk penguatan, sesekali memberikan usapan lembut di sana atau di rambut sang istri.
“Nggak ada peluang buat sembuh, De,” ucap Ben dengan suara begitu lirih, nyaris menyerupai bisikan rendah. “Aku takut, kamu berkorban untuk hal yang sia-sia. Aku terlalu takut banyak hal. Aku takut ... nggak bisa bayar semua kebaikan dan perasaan kamu. Aku takut ....”
Ben memberikan ciuman dalam di jemari sang istri.
“Ya, kamu benar,” lanjut Ben. “Aku terlalu mencintai kamu, sampai nggak mau, kamu terbebani sedikit pun sama laki-laki yang nggak berguna kayak aku.”
Ben menenggak ludah dengan kasar, saat sadar bahwa tindakan semena-menanya malah memberikan tekanan tersendiri bagi Dea.
“Seharusnya kamu nggak cinta sama laki-laki pengecut kayak suamimu ini. Seharusnya nggak ... aku berusaha pakai sifat yang paling kamu benci, cuman supaya kamu nggak bakalan bisa punya perasaan suka. Tapi kenapa? Kenapa kamu malah ... cinta sama orang ini?”
Ben membawa tangan hangat Dea ke wajahnya, kemudian memejam pelan.
“Kamu harus hapus perasaan kamu itu, supaya nggak ada beban dalam diri kamu, De. Mau nggak mau, kamu harus hapus perasaan itu. Aku bakalan paksa kamu buat hilangin perasaan itu.”
Tapi sebelum itu, biarkan Ben menikmati malam ini dengan kejujuran. Bahwa ia benar-benar membutuhkan Dea, menginginkan kebersamaan ini selamanya. Ben membaringkan kepalanya di samping Dea, ketika salah satu tangannya yang bebas bergerak ke atas perut sang istri. Mengusap lembut di sana.
“Kamu jaga ibu kamu dengan baik nanti, ya?”
Tidak lama setelah terlelap, Ben mendengarkan sebuah permintaan yang tidak bisa ia tolak.
“Naik, tidur di samping aku, Ben.”
*
“Ben, bangun!” Guncangan keras terasa di tubuh Ben, menjadi penyebab pria itu tersadar dari tidurnya.
Ben mengerjap dan menggeliat perlahan. Ia mulai menyesuaikan cahaya pandangnya, dan menemukan sosok Dea berdiri di sampingnya.
“Bangun. Bentar lagi ruangannya mau dipakai,” kata Dea lagi.
Kamar mereka mau dipakai untuk apa? Ben bertanya dalam hati, kemudian menggeliat untuk meyakinkan diri sendiri sebelum bangun. Namun, ia tidak melihat kondisi dan langsung jatuh dari ranjang pasien yang sempit.
__ADS_1
“Ben!” pekik Dea dengan suara nyaring. Ia langsung mendatangi suaminya demi membantu pria itu untuk duduk. “Kamu apa-apaan sih?” tanya Dea ketika ia memeriksa luka di wajah suaminya.
Dea kemudian menemukan ada keanehan di wajah sang suami. Lebam-lebam memenuhi hampir seluruh wajah pria itu.
“Kemarin kayaknya nggak separah ini lebamnya, Ben.” Dea mencoba mengingat luka suaminya semalam. “Jatuh ... cuman telapak tangan sama lutut yang sakit. Kok bisa separah ini?”
Demi mengurangi rasa khawatir dari Dea, Ben segera menarik istrinya keluar dari ruangan tersebut. Hendak menuju ke ruang tunggu untuk saling mengobrol.
Namun, Dea menghentikan langkah secara paksa dan menyeret suaminya untuk duduk di kursi tunggu.
“Tunggu di sini, aku cariin obat,” kata Dea, kemudian beranjak dari samping suaminya.
Tidak lama setelah kepergiannya, Dea datang lagi dengan baskom berisi air dan juga lap di tangannya. Ia mengompres luka Ben dengan sangat hati-hati, dan hal itu membuat Ben tersenyum geli melihat kekhawatiran istrinya.
“Nggak takut lagi sama kondisi Dion?” tanya Ben, memancing.
Dea sempat berhenti bergerak sejenak. “Nggak takut lagi, soalnya Papa sudah bilang kalau kondisinya nggak terlalu parah, tapi rasa bersalah, iya. Masih. Gimana pun, aku bikin Mas Dion luka parah sampai belum sadar sekarang ini.”
“Itu bukan kesalahan kamu. Aku malah mau puji atas tindakan kamu itu. Memang seharusnya, kalau ada laki-laki yang bersikap buruk ke kamu, kamu harus lawan semaksimal mungkin. Apalagi dalam kondisi terancam, memang sangat wajar kamu ambil tindakan kayak kemarin.”
Dea tidak menimpali nasehat Ben, sebab kekhawatirannya masih sulit ditanggalkan.
“De,” panggil Ben setelah hening beberapa menit di antara mereka. “Aku mau tawarin satu hal ke kamu, yang mungkin bisa membuat hubungan kita jadi lebih baik.
Dea langsung menghentikan pergerakannya dengan mata berbinar penuh harap. “Apa?”
Senyumnya bahkan mengembang. Karena hal ini, ia sedikit bersyukur atas kejadian kemarin malam, karena merasa bahwa Ben mulai menyadari perasaannya sendiri.
“Kita cukup jadi temen, partner—dalam pernikahan ini,” kata Ben. “Aku cuman akan perlakukan kamu sebagai teman, nggak bisa lebih. Dan aku minta, kamu juga nggak berharap lebih apalagi sampai naruh perasaan ke aku, karena aku nggak bakalan pernah ngerasain hal yang sama.”
Dea secara spontan menjatuhkan lap di baskom. Ketika Dea menurunkan pandangannya, satu tetes air mata jatuh meluncur begitu saja.
“Nanti, aku coba uninstall perasaan ini. Bisa apa enggak.”
__ADS_1
...****************...