
Memiliki masing-masing kendaraan dan tidak mempunyai waktu berangkat serta pulang bersamaan menjadikan Dea dan Ben hampir tidak pernah pulang bersama sejak pernikahan. Ketika Ben berniat menunggu kepulangan Dea yang selalu lebih lambat darinya, perempuan itu selalu menolak.
“Pulang aja duluan. Saya sibuk. Kamu juga ending-nya naik motor sendiri, ngapain tunggu saya?” Begitu salah satu kalimat penolakan yang Dea keluarkan. “Saya juga nggak perlu kamu sama sekali, jadi pulang aja.”
“Saya bisa nungguin Dea, kok, dan nggak masalah misalnya Dea mau pulang telat dan kita nggak bareng. Saya di rumah juga nggak ngapa-ngapain, De.”
“Saya yang nggak mau kamu tungguin?” balas Dea dengan suara dingin dan tegas. Ia menatap nyalang pada Ben, tanpa minat untuk meluluhkan ekspresinya sama sekali. “Pergi sekarang, atau ....”
Dea memberikan ancaman, dan bukannya memberikan kesan takut pada pemuda itu, Ben malah tampak semakin penasaran.
“Atau apa, De?” tanya Ben penasaran.
Pada akhirnya, Dea hanya bisa mengibaskan tangan dengan malas. Enggan memperpanjang urusan lagi dengan Ben.
“Kamu pulang sekarang! Karena saya muak liat muka kamu!” kata Dea tegas, sembari melirik fokus pada laptopnya. “Saya perlu ketenangan, dan kalau sama kamu, kepala sara berasa panas! Jadi, kamu pergi sekarang sebelum saya beneran marah, Ben!”
Pemuda itu tampaknya mengerti situasi, jadi ia segera berdiri dari kursi tamu di ruang kerja Dea. Ia mengenakan jaketnya, sembari terus melirik pada Dea.
“Kalau begitu, saya pulang duluan ya, De.” Ben berpamitan, kemudian undur diri dari hadapan Dea.
Ben berjalan sembari mengenakan jaket kulitnya, serta masker hitam. Namun, baru saja melewati pintu restoran, ia berpapasan dan dilewati oleh sesosok manusia. Radar curiga Ben meningkat pesat sehingga pria itu bukan hanya sekadar mengerem langkah, bahkan mundur untuk menyamakan langkah dengan si tamu tadi.
“Mau ke mana?” tanya Ben curiga, pada pria di sampingnya—Elvan—sembari mengubah posisi menjadi membelakangi pintu. “Ketemu Dea?”
Sama sekali tidak menjawab, Elvan hanya sekadar menjentikkan jari lalu menunjuk Ben untuk membenarkan.
“Masih ada urusan apa? Biar saya yang wakilin Dea buat bicara,” kata Ben, dengan nada tegas yang tidak dibuat-buat.
“Orang seperti kamu nggak bakalan ngerti.” Elvan membalas semena-mena. “Ini jam pulang karyawan di sini. Kamu pulang.”
“O-hoho. Malah status saya sebagai suaminya Dea makin kuat kalau bukan di jam kerja.” Ben menjawab bangga. “Saya sudah nggak terikat lagi dengan aturan atasan-bawahan, jadi sekarang ... saya yang atur dan perintah Dea sesuka saya.”
__ADS_1
Elvan langsung menghentikan langkahnya, demi menatap Ben dengan sebelah alis yang terangkat, seolah memberikan sebuah tantangan.
“Seorang pelayan berani mengatur bosnya?” balas Elvan. “Oke, buktikan.”
Pria itu tetap meneruskan langkahnya, ketika Ben berdiam sejenak hanya demi merotasi bola mata karena jenuh. Ia segera mempercepat langkah, tetapi sedikit terlambat dari Elvan yang sudah memutar kenop pintu.
Saat itu juga, Dea mengangkat pandangannya demi melihat si tamu. Ia tertegun sesaat ketika melihat si tamu yang mendadak datang, dan tidak sengaja menangkap sosok lain yang hanya beberapa detik terlihat di ambang pintu di belakang si tamu itu.
“Ya? Ada yang bisa dibantu? Dapur di luar, bukan di sini— kalau kamu nggak tahu denah restoran.” Dea mengatakan itu sembari menurunkan sedikit kacamatanya untuk mengirimkan sinyal intimidasi tegas untuk Elvan.
Ben masih berada di belakang punggung si pria sombong itu diam-diam tersenyum. Niatnya ingin mengintip ke dalam ruangan, diurungkan.
“Saya mau ajak kamu bicara serius, De. Masalah kerjaan, jadi nggak butuh dapur.” Elvan menjawab gesit.
“Kita pernah buat janji sebelumnya? Tanggal berapa? Saya nggak punya janji temu apa pun malam ini. Dua menit lagi saya mau pulang,” jawab Dea.
“Serius, De? Kita cuman nggak ketemu beberapa tahun aja, kamu langsung bersikap kayak gini padahal kita udah kenal lebih dari delapan tahun?”
“De?” Elvan terdengar memelas, tetapi setelah mendengar suara dehaman di luar, ia langsung memperbaiki sikap. “Oke, kapan kita bisa ketemuan bareng buat ngobrol?”
“Datang besok, jam kerja.” Dea merapikan kertas-kertas di atas mejanya, dan menutup laptop. “Saya mau pulang.” Dea memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas, sebelum disampirkan di pundak.
Dea maju, hendak keluar. Secara spontan membuat Elvan langsung mundur untuk memberikan perempuan itu ruang. Dea sempat mengerem langkahnya ketika melihat sosok Ben di depan ruangannya. Ia memicingkan mata.
“Belum pulang?”
“Belum. Ayo pulang bareng!” ajak Ben, lalu tanpa segan menarik tangan Dea setengah posesif tetapi tetap lembut untuk keluar dari area restoran. Meninggalkan Elvan yang masih bergeming di tempat.
“Saya suka Dea yang tegas kayak gini, biar mantan Dea itu nggak perlu ngejar-ngejar terus!” kata Ben dengan suara tegas dan puas saat mereka sudah tiba di parkiran, tepat di samping mobil Dea. “Kalau kamu udah setegas ini, saya jadi nggak perlu khawatir lagi.”
“Oke,” balas Dea. “Pulang duluan sana! Jang ngarep mau numpang sama saya!”
__ADS_1
“Iya, De, iya!” jawab Ben. Ia masih memamerkan senyum puasnya ketika menyentuh puncak kepala Dea sebentar. “Hati-hati di jalan, oke?”
Dea tidak menimpali. Tetap berdiri di tempatnya, memandangi Ben dari naik motor, mengenakan helm, kemudian meninggalkan area parkiran. Saat itulah, ponsel Dea mendadak berbunyi.
Perempuan itu segera mengecek ponsel sembari melarikan pandangan ke arah lain dan menemukan bahwa pengirim pesan sudah berdiri di ambang pintu restoran.
Elvan :
Mau makan di luar?
Dea mempertimbangkan semuanya sebentar. Sejujurnya tidak mau membahas apa pun lagi dengan Elvan, walau usaha tegas yang ia tunjukkan beberapa menit lalu hanya demi mencegah kecerewetan suaminya. Namun, jemarinya malah menekan dua huruf di keyboard.
^^^Ya.
^^^
Dea sempat melihat bahwa Elvan sedang berjalan ke arahnya ketika ia hendak mengirimkan pesan lain, tetapi bukan untuk Elvan, melainkan suaminya yang masih dalam perjalanan sekarang ini.
^^^Saya pulang telat. Bilangin ke keluarga yang lain kalau mereka nanya aneh-aneh, saya lagi ke rumah temen saya.
^^^
“Ayo! Mau naik mobil saya atau mobil kamu?” tanya Elvan, dengan senyum tipisnya yang sederhana—hanya karena hal itu Dea sempat tertegun sejenak sebelum menjawab.
“Mobil kamu.”
“Ayo.” Elvan kembali mengajak, kali ini sembari menautkan jemarinya di celah jari-jari Dea untuk dituntun ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.
“Banyak hal yang perlu kita bahas dan tuntaskan dari hubungan kita yang dulu. Sekarang, saya pikir ini yang pas buat bahas semuanya.” Elvan berbicara sembari melirik sekilas pada Dea. “Ke apartemen saya ya?”
__ADS_1