
Bulu mata Dea bergerak perlahan, ketika kelopaknya mulai terangkat menampilkan sepasang bola mata cokelat karamel. Pikirannya masih mengambang antara alam nyata dan mimpi, ketika ia menarik napas panjang, dan mendapati aroma maskulin menenangkan di sekitarnya. Namun, pandangan Dea hanya menemukan kain warna hitam.
Perempuan itu mendongak dengan gerakan yang sangat pelan dan teratur. Menemukan sebuah leher setelah kain hitam itu habis, lalu rahang berbentuk V, sepasang bibir berisi yang terasa kenyal ketika melum—Dea segera memejam erat demi meralat pikirannya barusan.
Skip bibir, pindah ke hidung Ben yang berdiri mancung. Mengundang jemari Dea yang semula bertengger di pinggang lelaki itu, perlahan naik dan menyentuh puncaknya. Hal biasa ini malah memancing senyum Dea, entah karena apa. Namun, satu hal yang pasti, Dea mulai betah berlama-lama melihat paketan wajah sempurna tanpa cacat di depannya ini.
Diam-diam, pikirannya membisikkan sebuah kebenaran. Bahwa pemuda ini ... 'lumayan' menarik. Namun, hanya sekadar memikirkan, Dea segera menggeleng kasar seolah pantang baginya—walau dalam hati—untuk memuji pria ini.
Efek dari gerakan itu, bantal sedikit berguncang, tangannya juga tanpa sengaja menyenggol bahu Ben, sehingga pria yang ia perhatikan pagi ini mulai membuka mata. Langsung menatap lurus pada Dea untuk membekukan gerak sang istri.
Dea mematung sebentar, syok karena merasa terpergok memperhatikan Ben. Ia bergerak panik menolak dada Ben, dan berniat untuk menjauh. Namun, gerak refleks pria itu dalam mengunci pelukan di tubuh Dea jauh lebih cepat dari pergerakan Dea.
"Biasanya juga berangkat terlambat, De. Hari ini aku siap berangkat telat sama Dea, supaya bisa tetap kayak gini lebih lama," kata Ben dengan suara serak nan rendah, efek bangun tidur.
"Ya itu situ, silakan, kalau emang suka miskin. Aku sih enggak! Makanya, mau berangkat kerja pagi-pagi!" ucap Dea dengan tegas. Kali ini, ia berhasil memisahkan diri dari Ben ketika mendorong pria itu menjauh.
Namun, baru saja mengubah posisi menjadi duduk, tubuh Dea mendadak oleng dan jatuh ketika tangannya ditarik ke arah sang suami. Sebelum sempat melakukan protes atas tindakan semena-mena itu, rambutnya yang menghalangi wajah, sudah disibak oleh Ben sehingga pria itu bisa menilainya kondisi wajah Dea saat ini.
"Untung udah mulai hilang lebamnya, De." Ben memberitahu sembari mengusap lembut di sana, sekadar memberikan obat terakhir untuk luka sang istri: perhatian. "Aku bisa-bisa dikira KDRT sama keluarga kalau Dea pulang lebam di muka. Tapi kalau leher, nggak papa."
"Nggak papa ndasmu! Lupa sama kemarahannya Dion kemarin?"
"Itu pengecualian, karena nggak anggap aku keluarga," jawab Ben sembari cengengesan. "Btw, aku duluan yang mandi ya. Soalnya mau tenangin dulu si adik yang udah bangun dari tadi."
Dea mengerutkan kening, tidak mengerti arah pembicaraan ambigu Ben. Sehingga ia butuh waktu demi mencerna kalimat pria itu, sementara Ben sudah bangkit dari ranjang. Entah efek bangun tidur sehingga pikirannya loading lama, atau dirinya memang bodoh.
"Adik? Kamu punya adik, Ben? Kok ... nggak pernah lihat?" Dea bertanya kebingungan, sembari memeras otak untuk mencari tahu sosok yang dekat dengan Ben.
"Pernah kok, sekali," jawab Ben, hampir teredam oleh suara shower. "Yang kemarin kurang ajar muntah sembarangan di perutnya Dea."
Muntah? Dea semakin memeras otak, memicingkan mata agar lebih fokus mengingat kejadian tentang 'muntah' dan tidak menemukan siapapun yang—perempuan itu tertegun dengan mata melotot sempurna ketika koneksi otaknya mulai menerima sinyal arti dari ucapan Ben barusan.
__ADS_1
"BEN!" pekik Dea dengan keras. "Jijik, Ben! Aku jijik sama otak kotor kamu itu!" Ia menggeram kuat, dan berusaha menekan suaranya yang dipenuhi amarah agar tidak berteriak lebih keras dari saat memanggil tadi. "Mandi yang lama, sekalian bersihin itu otak kotor kamu itu!"
Arrgh! Sialan! Kenapa otak lelaki itu tidak pernah terlepas dari sesuatu yang mesum?
...*
...
Dea sudah berada di dalam mobil hampir lebih dari dua puluh menit, tetapi pemuda yang ia tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya dari restoran. Dea ingin langsung tancap gas sebenarnya dari sini, tetapi karena mengingat kebaikan pria itu kemarin malam, ia mengurungkan niat. Hendak menunggu lagi dua menit. Hanya dua menit, dan jika pria itu tidak muncul juga, maka ....
Namun, benar-benar tidak ada kemunculan Ben setelah timer yang Dea atur berbunyi. Ia memukul setir dengan kuat, disusul makian sial karena dibuat menunggu. Mau turun, tetapi terlalu malas, jadilah, Dea mencoba menelepon Ben untuk mengkonfirmasi mau ditinggal atau segera keluar.
Sayangnya, hingga dua panggilan Dea lakukan, tetap tidak ada yang menjawab. Perempuan itu tentu tidak bisa bersikap biasa saja, sebab Ben hampir tidak pernah mengabaikan telepon seperti ini, apalagi tidak memedulikan Dea.
Maka, arah panggilan diubah Dea. Ia menelepon salah satu karyawannya di dalam yang juga teman baik Ben. Ketika suara bariton sudah terdengar di ponselnya, Dea enggan basa-basi, dan langsung to the point.
"Ben kenapa nggak jawab telepon saya?" tanyanya.
Pu-lang?
Dea tidak bisa menahan syok mendengar hal itu. Ia di sini menunggu sampai puluhan menit, dan ternyata pria itu ... pulang?
"Pulang?!" Dea memekik ke lawan bicara di sambungan telepon. "Kenapa bisa pulang? Dia nggak kabarin saya duluan?!'
"Saya nggak tahu masalah itu, Bu, tapi Ben emang udah pulang dari tadi. Nggak tau kalau ternyata nggak ngasih tahu Bu Dea."
Dea benar-benar marah sekarang. Ia mendesis dalam hati, sembari terus memaki pada Ben. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ponsel segera dimatikan, lalu ditaruh di atas dashboard sebelum mesin dinyalakan. Dea membawa mobilnya dengan tatap nyalang lurus ke jalanan.
Padahal, Dea dengan baik hati mau balas budi pada pria itu. Jarang-jarang Dea bisa membuang waktunya menunggu seseorang, tetapi sialan! Ben seolah malah mempermainkannya.
Tiba di rumah dan turun dari mobil, Dea memasuki bangunan mewah berlantai dua itu dengan mendorong pintu sangat kasar. Sehingga beberapa pelayan yang kebetulan lewat tersentak kaget.
__ADS_1
"Ben mana?" tanya Dea tanpa basa-basi, dan tidak menunjukkan keramahan sedikit pun.
Dua pelayan itu sempat saling tukar pandang, lalu menggeleng kecil. "Belum pulang, Bu, kayaknya."
Detik itu juga, amarah Dea langsung menguap tergantikan dengan ekspresi bingung.
Ben ... belum ... pulang?
Dea mencerna tiga kata itu keheranan, lalu melanjutkan perjalanan ke kamar. Memastikan bahwa ucapan si pelayan benar adanya.
Dan memang, di kamar benar-benar sepi. Bahkan lampu belum menyala, menandakan belum ada yang masuk ke sini sejak sore tadi. Dea diam membatu kebingungan di dekat sakelar lampu. Mencoba menerjemahkan sendiri maksud sikap Ben hari ini yang sangat aneh.
Selain rumah ini dan tempat kerja, Ben tidak memiliki tujuan tempat lain lagi. Jadi, pria itu ke mana?
Dea berjalan ke tempat tidur dengan pandangan bertanya-tanya mengarah ke lantai.
Lalu, saat baru saja menjatuhkan diri di pinggir ranjang, ia teringat satu tempat.
Kontrakan Ben.
Pria itu pasti ke sana! Dea sangat yakin! Perempuan itu bahkan berbinar karena menemukan jawaban tersebut.
Namun, ada pertanyaan lain di benar Dea saat ini. Buat apa? Pria itu tidak memiliki kepentingan apa pun lagi di sana, bahkan seharusnya sudah diusir oleh pemilik kos.
Kenapa Ben masih ke sana ....
Mata menyipit kebingungan ala Dea seketika berubah melotot saat pikirannya memberikan satu jawaban yang sangat masuk akal.
Ben selingkuh!
__ADS_1