
Belum ada obrolan sama sekali setelah pertengkaran sengit antara Ben dan Dea malam kemarin. Keduanya sepakat untuk saling mendiamkan, dengan alasan yang menurut mereka sama-sama benar demi mempertahankan gengsi antara mereka.
Suasana semakin terasa kosong ketika di ruang makan untuk melaksanakan sarapan, semua sibuk dengan obrolan basa-basi mengenai pekerjaan sesama anggota keluarga. Namun, Ben dan Dea tidak saling menimpali satu sama lain, seolah berada dalam ruang dan waktu yang berbeda.
“Aku sama Mas Dion rencana buat jalin kerja sama, Pa. Aku udah bicara kemarin, dan rencana, hari ini kita bakalan kelarin semua pembahasan sebelum mulai,” kata Dea, yang langsung disetujui dengan anggukan oleh Dion.
Kahar juga mengangguk-angguk beberapa kali setelah mendengar hal itu, menyetujui dan mendukung setiap gagasan yang ingin dilakukan oleh anaknya, walau tidak terlalu mewajibkan mereka terlalu serius dengan usaha di luar perusahaan utama.
“Kan saya sudah bilang, di sana emang tempat kencan paling sempurna, Dika. Kalian sama-sama pecinta seni, jelas, di sana surga dunianya kalian berdua.” Sementara Ben dan Dika seolah berada dalam ruangan yang berbeda dari anggota keluarga yang lain dengan pembahasan yang berbeda dari yang lainnya.
“Setuju sih, Ben. Dia langsung ....” Dika yang duduk berseberangan dengan Ben, langsung berdiri dan mencondongkan tubuh ke kakak ipar untuk membisikkan sebuah rahasia di antara mereka.
Memicu pandangan tajam penasaran dari Dea.
Ben tersenyum sangat lebar seolah sangat puas dengan apa yang disampaikan oleh Dika. Ia memberikan dua jempolnya pada Dika untuk menghargai segala usaha yang sudah sang adik ipar lakukan.
“Keren, Dik!”
Sementara itu, Dion hendak mengalihkan fokus sang adik lagi pada obrolan utama mereka.
“De, kenapa nggak balas pesan saya semalam?” tanya Dion.
Sekarang, Dea sedikit tenang akibat pengalihan yang sang kakak lakukan. Dea memasang wajah masam bercampur lesu sembari memainkan sendok di atas piring makannya. Seolah tidak memiliki selera untuk melanjutkan sarapan.
“Hape aku rusak, Mas,” jawab Dea dengan lesu. “Kayaknya mau ganti baru sekalian, soalnya mau diservis biasa juga kayaknya susah. Soalnya rusak parah.”
__ADS_1
“Nggak ada data penting kan, di sana?” tanya Dion, cemas. “Kok bisa sampai rusak?”
Pertanyaan Dion barusan sontak membuat Dea dan Ben saling berpandangan tanpa sengaja. Keduanya langsung mengalihkan pandangan ke arah lain setelah sadar bahwa mereka saling memandang.
“Jatuh dari kasur, Mas,” jawab Dea santai. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. “Data pentung sih, banyak, mas. Soalnya kontak temen kerja, kebanyakan ada di sana. Tapi nggak papa. Semoga aja nomor-nomor mereka masih ada, karena seingetku, aku nyimpen di akun google, kok.”
Dion segera menimpali dengan anggukan mantap. “Bagus kalau gitu, De.”
Ketika Dea tidak lagi berselera makan, dan membiarkan sebelah tangannya berada di atas meja begitu saja, Dion mulai membawa tangannya untuk menggenggam lembut punggung tangan Dea.
“Nggak papa, De. Nanti saya temenin kamu beli hape baru, terus bantu kumpulin data-data yang mungkin hilang dari hape kamu,” kata Dion, terdengar sangat bijaksana bagi kebanyakan orang kecuali Ben. “Nanti ketemuan ya, di jam istirahat. Jangan bawa orang asing lagi kayak kemarin. Kebanyakan dari mereka cuman jadi tukang ricuh doang.”
Ben berniat menyela, enggan jika usahanya melindungi sang istri malah disebut sebagai tukang ricuh. Namun, Dea seolah tidak memberikan izin bagi dirinya untuk bersuara, karena perempuan itu langsung angkat suara sebelum Ben.
“Iya, Mas. Aku nggak bakalan bawa orang lain.”
Mengabaikan peringatan Dea bahwa orang ‘asing’ tidak boleh ikut serta dengan obrolannya bersama Dion, Ben tetap datang untuk menguping pembicaraan mereka dengan cara mengikuti kepergian Dea di jam istirahat.
Ben memilih duduk di sebuah kursi yang paling dekat dengan keberadaan Dea dan Dion, tidak lupa membelakangi kakak-adik itu agar tidak ada yang mengenali dirinya. Ben juga berhasil diselamatkan oleh selembar masker yang membuat dirinya sama sekali tidak diperhatikan oleh Dea atau Dion.
Obrolan awal kakak-adik itu hanya sekadar usaha mereka yang berniat untuk disatukan. Bisnis restoran Dea dan bisnis Entertainment Dion cukup sulit dipertemukan karena bergerak di dua bidang berbeda, tetapi keduanya berdiskusi cukup lama mengenai hak itu, sampai dibuatlah keputusan untuk tetap menyatukan dua bidang bisnis berbeda dengan penyesuaian seperlunya.
Setelah deal, keduanya sempat diam demi menyantap makan siang. Ben sama sekali tidak menyentuh minuman dan makanan di mejanya, karena sibuk mendengarkan obrolan kakak-adik tersebut.
“Kamu sama Elvan apa kabar?” tanya Dion, yang langsung menajamkan indera pendengaran Ben.
__ADS_1
“Aku? Sama Elvan? Maksudnya, Mas?” Dea balas bertanya.
“Hubungan kalian,” Dion memberikan kejelasan lanjutan mengenai pertanyaannya. “Kalian beneran udah stop hubungan kalian?”
“Ya iyalah, Mas. Kenapa juga aku masih harus lanjut hubungan sama Elvan. Kecuali kalau mau pecahin perang keluarga, iya.”
“Saya sekarang mikir, De, kalau kayaknya, Elvan jauh lebih pantas buat kamu daripada Ben. Dari segi apa pun, Elvan jauh lebih unggul dan pas sesuai kebutuhan kamu dan menantu keluarga kita.”
“Tapi sayangnya bukan jodoh, mau diapa, Mas?” balas Dea santai. “Nggak perlu bahas itulah, Mas. Aku udah males. Masih banyak masalah karena kedeketan aku sama Elvan akhir-akhir ini. Aku mau kelarin itu.”
Dea tiba-tiba diam sejenak sembari memainkan sedotan di gelas minuman saat memikirkan sesuatu.
“Mas,” panggil Dea dengan nada serius. Ia menatap intens pada Dion, untuk membaca secara jelas ekspresi sang kakak. “Jujur sama aku, Mas. Mas ngapain ada di hotel pas aku sama Ben berniat bersihin nama baik aku?”
Dion seketika terlihat gugup saat mendapatkan pertanyaan tersebut. Ia meninggalkan sandaran kursinya yang nyaman, dan mencondongkan tubuh ke depan.
“Saya nggak pernah ke hotel, De,” jawab Dion.
“Ben udah foto Mas, yang juga lagi fotoin aku yang lagi berduaan sama Elvan,” kata Dea dengan nada serius. Ia meletakkan gelasnya di atas meja secara kasar, demi mengubah suasana obrolan mereka menjadi lebih tegang. “Mas punya niatan buruk sama hubungan aku dan Ben?”
Dion menenggak ludah secara kasar demi melancarkan tenggorokan. Otaknya bekerja cepat dan keras selama memikirkan jawaban untuk masalah ini. Dion bahkan harus mengalihkan pandangan agar tidak merasa terdesak dan diintimidasi oleh sang adik sendiri.
“Aku denger keluhan Ben tentang sikap Mas Dion yang kalau dipikir-pikir, emang berlebihan banget. Mas terlalu posesif sama aku dan Ben, padahal aku sama dia sudah nikah. Aku sendiri nggak masalah sama sikap Mas, tapi Ben? Dia susah adaptasi, Mas. Tolong ... terima fakta bahwa aku bukan lagi milik Mas sepenuhnya kayak dulu. Aku sudah menikah.”
“Susah terima fakta itu, De,” keluh Dion dengan nada frustrasi. “Susah ... saya susah terima fakta itu, karena ... saya cinta sama kamu, De.”
__ADS_1
...*
...