Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
21. Dinner Suami-Istri


__ADS_3

Hanya loading beberapa menit, akhirnya Dea sadar dari syok dan keterkejutan berlebihan yang Ben perbuat pada dirinya akibat ciuman barusan. Gadis itu buru-buru mendorong dada Ben sekuat tenaga, dan walau yakin kekuatan pria itu lebih besar darinya, Ben tetap melepaskan ciuman.


"Kamu ngapain?" tanya Dea, syok.


"Cium Dea," jawab Ben. "Ah enggak ciuman cium aja, tapi sekalian *****. Beneran jelly tapi ini lembut dan halus banget bibi—ugh."


Ben segera memegang rusuk kirinya yang baru saja menjadi sasaran pukulan sang istri. Meski sempat mengaduh kesakitan, ia tetap menampilkan senyum tipis.


"Dasar! Nggak sabaran amat pengen jadi janda, De," kata Ben menyindir, yang membuat perempuan itu semakin melotot memperingatkan.


"Ngapain kamu bikin beginian segala?! Nambahin kerjaan karyawan lain! Emang kamu bayar mereka, hah? Mana ruangan dibikin gini, kalau barang ada yang rusak, gimana?" Dea masih ingin melayangkan protes pada sang suami, tetapi Ben buru-buru menyentuh kedua wajahnya dan memaksa perempuan itu untuk fokus pada suaminya saja. Dea mau memprotes lagi, tetapi baru saja membuka mulut, suaranya sudah disumpal lagi oleh bibir Ben. Gadis itu mendesis kesal, sementara Ben terkikik geli.


"De," panggil Ben ketika ia merasa bahwa Dea mau berhenti sebentar memberinya waktu untuk bicara. "Ini di luar jam kerja," katanya memberitahu sembari membawa rambut-rambut Dea yang menjuntai ke depan, ke belakang telinga agar tidak menghalangi wajah gadis situ.


"Kita lupakan status kerjaan dulu, dan fokus ke status hubungan kita saat ini," lanjut Ben, sembari menggunakan salah satu tangannya untuk menuntun salah satu tangan Dea agar berada di pinggangnya. Ia merapatkan tubuh, sehingga suasana di antara mereka semakin intens. "Kamu suka tempat ini, Sayang?"


Dea secara spontan mengepalkan tangan lemah di pinggang Ben, sehingga meremas jas yang entah kapan dipakai pria itu tadi. Gadis itu syok dengan panggilan Ben, bercampur bingung dan tidak percaya. Pernah memang Ben menyebut kata yang sama, tetapi karena kali ini sang suami memanggil dengan suara rendah dan senyum tipis manis—bukan untuk mengejek—Dea merasa ... spesial.


Pernah Elvan mengatakan kata yang sama, tetapi entah mengapa, getaran nada serius dari Ben membuat jantung gadis itu berdetak lebih keras dari biasanya, memicu naiknya produksi saliva di mulut sehingga Dea berulang kali menelan ludah sebab gugup.


Ben melerai tubuh mereka, dan kini hanya menggenggam lembut tangan Dea menuju meja di tengah ruangan. Begitu manis, mengantarkan Dea lebih dahulu ke tempatnya, bahkan menarik kursi untuk gadis itu sebelum berpindah ke tempat duduk di seberang meja milik Dea.


"Kenapa pucat, Sayang?" tanya Ben, ketika ia mengulurkan tangan ke arah Dea untuk mengusap pipi gadis itu. "Kamu baik-baik aja, 'kan?"


Dea hanya mengangguk kecil, secara cepat—demi mengurangi keberhasilan Ben menangkap sikap anehnya. Gadis itu memilih menyesap minuman untuk mengurangi kadar gugupnya.


"Kok kamu aneh ya, De?" Ben kembali bersuara, dan kali ini sangat sukses membuat Dea—untuk ke sekian kalinya—melotot lebar.


Gadis itu sempat berpikir bahwa Ben menangkap sikap gugupnya.

__ADS_1


"Bahkan walaupun kamu masih pakai pakaian kerja, belum cuci muka, bahkan belum mandi, kamu tetep aja cantik."


Dea bernapas lega, karena Ben membahas hal lain. Namun, ada masalah lain muncul mengenai keanehan tubuh Dea yang lain. Ia merasa ... istimewa dengan setiap sikap dan kalimat yang Ben tujukan untuknya.


Pujian cantik sejenis Ben, banyak yang mengatakannya. Bukan hanya sekali, dua kali. Namun, entah mengapa, ketika pria ini yang mengatakannya, Dea merasa disanjung setinggi langit.


Atau mungkin karena tatap Ben juga mendukung? Pria itu memandang Dea sangat teduh—penuh kekaguman yang tidak dibuat-buat—hampir tidak berkedip. Bahkan, walaupun pria ini tidak mengatakannya, Dea tetap akan merasa disanjung hanya dari sikap pria ini.


"Kepikiran," Dea bersuara tetapi tersendat karena gugup, jadi perlu menelan ludah demi melancarkan tenggorokan sebelum melanjutkan, "buat ginian, dari mana? Saya beneran kaget tadi."


"Kepikiran dari mana, ya?" Ben mengulang pertanyaan itu, dan semakin memperlebar senyum manisnya. Berhasil membuat Dea merasa tersesat dalam kekagumannya pada kadar manis senyum milik suaminya. "Dari kamu. Kamu kasih aku sesuatu, jadi aku juga mau kasih kamu sesuatu, yang semoga aja nggak bakalan kamu lupa selamanya."


Dea semakin tertegun, karena sekarang Ben juga mengubah cara bicaranya dari 'saya-kamu' menjadi 'aku-kamu'. Mereka terdengar sangat dekat, hanya karena perubahan sederhana ini.


Sekali lagi, Dea menyesap minumannya demi mengurangi debar kuat—yang ia yakini hanya sekadar kegugupan—di dalam jantungnya.


"Kenapa kamu manggil saya 'Sayang' terus. Saya ... risi, Ben!" Dea melakukan protes, tetapi kali ini tanpa perlu menegangkan urat leher seperti biasanya. Gadis itu sudah tahu caranya mengatur suara, atau mungkin karena tertular sifat tenang Ben.


"Kan kita suami-istri, Sayang." Ben seolah tidak menyadari bahwa Dea susah payah menahan ledakan-ledakan perasaan dalam dirinya yang diperbuat oleh Ben sendiri, malah meletakkan tangannya di puncak kepala Dea sebentar untuk mengusapnya sayang. "Kamu manis kalau jadi gadis baik kayak gini, De."


Kalimat itu seharusnya terdengar menggelikan, mengingat usia mereka. Namun, perasaan Dea malah berkhianat, dan malah bahagia karena ucapan Ben. Sehingga untuk menyembunyikan senyum yang memaksa terbit di bibirnya, Dea buru-buru menunduk dalam, seolah hendak memotong-motong steik.


"Gimana kerjaan kamu, Sayang? Semuanya baik-baik aja?" tanya Ben, lalu mulai menyesap minumannya.


Dea tidak langsung menjawab, memilih tertegun sebentar karena merasa bahwa Ben benar-benar menempatkan dirinya sebagai pasangan, dan sulit bagi gadis itu menahan diri untuk tidak bercerita. Karena merasa, Ben—si pemuda yang bahkan lebih muda darinya—agak bisa dipercaya.


"Bagus, tapi nggak terlalu mulus," ucap Dea, memulai sesi terbukanya pada sang suami. Memikirkan status Ben saat ini, untuk pertama kalinya, Dea benar-benar meresapi kata 'suami'. Entahlah, kemarin ia hanya berpikir bahwa Ben hanya sekadar bocah biasa yang selalu suka mengganggu ketenangan hidupnya. "Peningkatannya nggak sesuai ekspektasi aku."


Maka, Dea juga mulai mengubah cara bicaranya juga mengikuti Ben.

__ADS_1


Pria itu mengangguk-angguk kecil, mendengarkan Dea seolah memahami arah pembicaraan istrinya. Meski mengetahui fakta itu, Dea juga tidak mau berhenti berbicara, mengeluhkan beberapa hal tentang pekerjaan, dan melampiaskan protesnya. Hanya karena ia merasa Ben sangat serius mendengarkan, Dea menceritakan semua yang ia pendam seorang diri. Bahkan, keluarganya sendiri tidak ada yang tahu setiap detail yang Dea ceritakan ini.


"Kamu sudah lakukan yang terbaik," kata Ben sembari menggenggam tangan Dea dengan lembut, bahkan mengusapnya secara teratur. "Tapi, kita masih manusia, Sayang. Masih punya batas kapasitas buat atur manusia lainnya. Lagian, dengan hasil kerja yang nggak mencapai target, kamu bisa lebih santai kerjanya biar nggak terlalu gila-gilaan cuman buat sebuah target."


Dea awalnya tidak suka dengan jawaban itu, karena berbanding terbalik dengan prinsipnya. Namun, kecepatan Ben dalam melanjutkan ucapan membuat Dea merenung.


"Kalau ikutin target manusia yang nggak ada habisnya, malah semakin bertambah setiap waktu, kapan kamu punya waktu buat diri sendiri, Sayang? Nggak perlu berhenti atau mundur, sekadar kerja santai aja, cukup. Dibanding target kerja yang nggak ada habisnya, kenapa nggak coba habisin waktu berharga kamu sama keluarga?"


"Semuanya juga sibuk, Ben," jawab Dea.


"Kalau gitu, kenapa nggak coba fokus nikmatin setahun kita? Setelah kamu puas dengan kebahagiaan setelah menikah, kamu bisa lanjutkan lagi kehidupan yang kamu pengenin—fokus kerja lagi misalnya," balas Ben. "Kita masih manusia, Sayang. Kita tidak punya kapasitas dalam mengatur masa depan. Hanya bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin, supaya nggak ada penyesalan pas waktu itu sudah habis."


"Aku nggak paham," kata Dea, kebingungan dengan maksud Ben mengatakan itu semua. "Ucapan kamu aneh banget. Kamu belum mau mati, 'kan?'


Ben tertawa—menyanggah tebakan tersebut, sehingga Dea bisa menghela napas lega. Mereka terlalu fokus bekerja sampai hanyut dalam perasaan nyaman.


"De?" panggil Ben dengan suara lirih, di saat mereka sedang menjeda obrolan. "Dea udah terima aku sebagai suami, 'kan?"


"Dari awal kamu memang suami aku, btw," jawab Dea.


"Tapi dari kemarin, Dea nggak perlakukan aku kayak suami," balas Ben dengan suara lembutnya. "Sekarang, gimana, De?"


Gadis itu berpikir sejenak. Ia mengawalinya dengan sebuah helaan napas panjang, lalu mengangguk.


"Iya, kamu suami aku sekarang. Aku sebagai istri, bakalan tunduk sama apa pun yang suami aku bilang."


Ben tersenyum puas.


__ADS_1


__ADS_2