
Mobil SUV milik Dion sama sekali tidak terbentuk saat Dea melihat fotonya melalui kiriman dari sang papa. Setelah mengetahui informasi tersebut, Dea langsung meninggalkan semua pekerjaannya demi bisa kembali ke rumah untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang sang kakak. Ben sendiri langsung ikut walau ia harus meninggalkan pekerjaannya dan bisa saja dicap buruk hanya karena dirinya suami bos. Namun mempertimbangkan bahwa Dea bisa saja merasa sangat terguncang yang bisa menyebabkan dirinya kenapa-napa, maka Ben mengabaikan pekerjaannya.
Keadaan buruk sudah ditunjukkan oleh Dea sejak turun dari mobil. Perempuan itu sempat oleng dan nyaris jatuh. Beruntung karena jatuh ke mobil, sehingga ia tidak terluka. Ben langsung menyusul dan menuntun sang istri untuk memasuki rumah.
Di ruang tengah, sudah ada Diana yang lemas tak bertenaga. Ia dihibur oleh Dika. Dea langsung mendekat untuk memeluk sang ibu demi mengeluarkan kesedihan di antara mereka, sementara Dika dan Ben saling memandang tanpa ekspresi.
Ben memberi isyarat pemanggilan pada Dika untuk mendapatkan informasi lengkap tanpa harus didengarkan oleh dua wanita yang sedang terguncang itu.
"Kenapa bisa kecelakaan? Dion ... gimana kabarnya?" tanya Ben berbisik.
Dika menggeleng lemah dengan bibir membengkok ke bawah, menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak berharap banyak untuk kondisi Dion.
"Mama sama Mbak Dea cuman tahu kalau mobilnya hancur parah, tapi ...." Dika lebih dulu melirik ibu dan kakaknya sebelum mengutarakan kebenaran yang ada. "Dion sebenarnya sudah ditemukan nggak bernyawa di dalam mobil dalam kondisi ... hancur parah karena tabrakan plus hangus karena kebakaran. Jasadnya beneran nggak bisa dikenali lagi."
Ben sempat melotot sebentar karena terkejut mendengar pernyataan tersebut. Ia bahkan meneguk ludah dengan kasar.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un." Ben bergumam lirih, dan Dika hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan.
Keduanya menghela napas panjang, hampir bersamaan.
"Ini aku harus tenangin mama sebelum bicara yang sejujurnya. Kamu juga tenangin Mbak Dea. Setelah masalah minuman dan kecelakaan di kafe kemarin, kondisi kehamilannya udah mulai lemah. Apalagi kalau tahu fakta tentang Mas Dion. Jadi, kamu pinter-pinter lah, ulur fakta dulu. Jangan sampai Mbak Dea tahu sebelum dia siap."
Ini tugas yang sangat sulit bagi Ben. Membatasi seseorang mengetahui kondisi orang terkasih, hampir mustahil. Namun, Ben tetap memberikan anggukan kecil sebagai bentuk pengiyaan.
"Aku bakalan berusaha sebaik mungkin buat jaga rahasia ini," kata Ben dengan yakin.
Keduanya lalu meninggalkan tempat berdiskusi untuk bergabung lagi dengan para wanita yang masih terguncang itu. Ben mengambil istrinya untuk ditenangkan dalam pelukan, dan Dika memijit pundak ibunya agar lebih membaik.
"Ben," panggil Dea dengan suara lirih. Matanya memejam, tetapi air mata masih terus mengalir jatuh dari sela kelopak matanya. "Plis ... bilang kalau ... Mas Dion baik ... baik aja." Dea berbicara tersendat akibat isakannya yang sulit mereda.
Namun, Ben sama sekali tidak menuruti perintah itu. Sebaliknya, Ben malah semakin mengusap lembut pundak sang istri dan menciumi Dea beberapa kali untuk menenangkan. Sayangnya, Dea malah semakin terisak dalam pelukan pria itu.
"Semuanya bakalan baik-baik aja," kata Ben yang diangguki kaku oleh Dika.
Ya, menurut dua pria itu, semua akan baik-baik saja. Keluarga akan dengan cepat beradaptasi dengan fakta bahwa keluarga ini kehilangan anak sulung mereka.
__ADS_1
...*...
"Kenapa belum ada informasi tentang Mas Dion, Ben?" tanya Dea.
Sepanjang malam, perempuan itu tidak bisa tidur sama sekali. Hanya bisa memaksa untuk memejam, tanpa membuahkan hasil sama sekali. Pada akhirnya, Dea hanya bisa mengubah posisi berulang kali tanpa membuahkan hasil.
Ben sendiri ikut begadang karena ia selalu menenangkan sang istri. Pria itu hampir tidak pernah memberikan jeda dalam memberikan usapan lembut di beberapa bagian tubuh Dea secara bergantian untuk menenangkan: rambut, pundak, atau lengannya.
"Kamu dapat informasi tentang Mas Dion, Ben?" tanya Dea dengan suara berbisik.
Karena Dea membelakangi suaminya, Ben jadi bebas berekspresi apa pun. Pria itu terlihat kebingungan dalam memberikan jawaban, sebab cemas jika kandungan istrinya bermasalah karena guncangan perasaan lagi. Ben benar-benar cemas.
Namun, diam juga bukan solusi. Karena lambat laun, Dea juga pasti akan mengetahui kebenaran. Bisa saja, istrinya akan semakin terluka jika tahu hal ini setelah lukanya benar-benar sembuh.
Maka, menurut Ben, sekalian saja. Ia harus siap siaga, sembari menarik napas panjang untuk menenangkan diri sendiri sebelum mengatakan semuanya.
"Dea ingat kalau Dea lagi hamil, kan?" tanya Ben lirih. Ia mengusap perut perempuan itu yang dilapisi kemeja biru. Dea ikut menyentuh tangan Ben, lalu mengangguk kecil. "Setelah dapat dua masalah kemarin, kondisi bayi kita juga melemah karena ikut kamu, De."
Isakan Dea yang sudah terjeda beberapa menit lalu, kini kembali muncul. Tubuhnya berguncang, seolah tahu apa yang akan Ben sampaikan. Bersamaan dengan itu, cengkeraman Dea di tangan Ben ikut bertambah kuat.
Perempuan itu semakin meringkuk seperti bayi. Ben menopang kepala dengan sebelah tangan, kemudian mengecup pelipis Dea dengan penuh kasih sayang. Usapannya semakin intens di perut Dea sebagai bentuk pemberitahuan bahwa Dea harus bisa mengendalikan diri sendiri.
"Ya ...." Ben menghela napas panjang tepat di samping telinga Dea. Ia mengecup pelipis perempuan itu, sebelum berbisik di telinganya. "Dion tidak memiliki peluang untuk selamat."
Tangisan Dea semakin mengeras, membuat Ben merasa bersalah sudah mengatakan hal ini. Ia semakin meningkatkan ritme usapannya, dan semakin memperbanyak ciuman dalam di beberapa bagian kepala Dea untuk menularkan ketenangan.
"Dan ... jenazahnya sudah ditemukan."
...*...
Mau tidak mau, kebenaran sudah harus terungkap. Ketika tubuh Dion diantar keesokan harinya ke rumah. Diana sama sekali tidak terlihat, sementara Dea tetap berdiri mematung di dekat pintu dalam wajah pucatnya tanpa make up. Memandang kegiatan pemasukan jenazah ke dalam rumah oleh pihak ambulance.
Kahar menjadi salah satu yang mengangkat jenazah Dion, memberikan isyarat pada Ben agar tidak meninggalkan Dea walau sebentar pun. Ben menerima sinyal itu, dan langsung mengangguk. Usapannya di bahu Dea kini berubah menjadi genggaman lembut yang meyakinkan untuk menenangkan sang istri.
Dea memang memenuhi janjinya semalam. Ia bisa mengendalikan tangisnya sehingga isakan kali ini tidak separah semalam, walau masih ada tetesan air mata yang hampir tidak pernah memiliki jeda turun dari kelopak matanya.
__ADS_1
Dea sudah agak lebih tenang, kelihatannya. Sembari mengusap perut sendiri yang masih rata, Dea berjalan meninggalkan tempatnya berdiri. Dengan mengetahui keberadaan manusia dalam tubuhnya, Dea berhasil mengendalikan tangisan dan kesedihannya.
Berulang kali, Ben menyarankan agar Dea masuk saja ke kamar bersama Diana untuk menenangkan diri. Kesedihan yang Dea rasakan saat ini mungkin terlihat lebih baik daripada kemarin, tetapi siapa yang bisa menebak isi hati wanita tersebut. Ben sendiri merasa sangat cemas tak terhitung karena istrinya sejak kemarin malam belum menyantap makanan apa pun. Hal ini bisa saja memperburuk keadaannya dan juga mereka.
Namun berulang kali juga Dea menolak setiap tawaran dari Ben. Perempuan itu tetap kukuh pendirian untuk melihat setiap prosesi pemakaman dari kakak sulungnya. Namun keteguhan hati Dea langsung hancur ketika melihat bagaimana kondisi dari mayat Dion. Perempuan itu terguncang bahkan hampir jatuh terduduk, andai Ben tidak menangkap tubuh Perempuan itu dalam pelukannya.
Seluruh tubuh Dea langsung gemetar melihat bagaimana kondisi sang kakak. Jemarinya yang bergetar hebat langsung membekap mulut sendiri demi mencegah teriakan ketakutan menggema. Matanya menatap nanar dengan lintangan air mata yang terus berjatuhan.
Usaha Dea untuk menenangkan diri gatal total. Perempuan itu bukan hanya sekadar menangis, atau sekedar berteriak lirih, tetapi juga kehilangan kendali diri sendiri. Dalam hitungan detik setelah jenazah ditunjukkan, Dea tidak mampu mempertahankan kesadarannya. Ia langsung jatuh tak berdaya ke belakang yang langsung ditopang oleh Ben dan di bawah menuju kamar untuk kemudian dipanggil dokter demi memeriksa kondisinya.
...*...
Bayi yang diguncang berbagai macam masalah dalam satu minggu kemarin ini masih dikatakan baik-baik saja walau dokter ragu dengan perkembangannya ke depan. Namun dokter tetap memberikan sikap optimisme kepada Ben agar tetap berusaha untuk menjaga dan merawat anak tersebut.
Dea masih belum sadarkan diri, dan menurut Ben ini jauh lebih baik ketimbang perempuan itu kembali terpuruk karena melihat prosesi pemakaman Dion. Dalam kondisi tersebut Ben memilih untuk membawa Dea sekalian ke rumah sakit saja. Fakta bahwa istrinya itu belum memakan apa pun sejak tadi malam, dan hanya menggigit beberapa potongan buah kemarin sore membuat Ben berharap bahwa kebutuhan cairan Dea bisa terpenuhi di rumah sakit melalui infus.
Sehingga Ben meninggalkan acara pemakaman ini dan keluar bersama sang istri. Tentunya dengan seizin dari Kahar yang juga kasihan melihat kondisi putrinya tersebut.
Kondisi lemah Dea mulai membaik setelah beberapa menit berada di rumah sakit. Namun hal ini sampai sekali tidak membuat Ben langsung lega. Setelah mendapatkan peringatan dari berbagai dokter berbeda tentang kondisi kehamilan Dea, Ben semakin cemas dengan niatannya untuk pergi dari kehidupan perempuan itu selamanya.
Antara Dea benar-benar memiliki perasaan untuknya atau tidak, tetap saja perempuan ini bisa terguncang jika Ben pergi nanti. Maka untuk mencegah hal ini terulang lagi di masa depan, Ben harus menguatkan tekad untuk mengubah perasaan yang sudah terlanjur ada di antara mereka agar bisa dihapus tanpa sisa. Sehingga, keduanya bisa saling meninggalkan dengan tenang.
Namun ketidakrelaan Ben ditunjukkan dari cara pria itu menggenggam tangan sang istri dengan lembut. Berulang kali pria itu menghela napas panjang menunjukkan betapa gelisahnya ia memikirkan masa depan. Bahkan beberapa kali, dan tertunduk lemas karena tidak berdaya dengan ancaman ketakutannya tentang masa yang akan datang.
Terutama tentang bagaimana dia setelah kepergiannya nanti, Ben benar-benar tidak tahu. Ia benar-benar lesu karena memikirkan hal ini.
Ben tidak tahu pasti, tetapi keyakinannya sangat mantap bahwa dirinya sudah termasuk ke dalam salah satu orang paling penting dalam hidup dia. Mungkin tidak setinggi Dion tetapi Ben yakin bahwa posisinya sendiri cukup besar dalam diri Dea.
Sehingga sangat sulit untuk langsung memisahkan diri. Setelah beberapa cara digunakan Ben dan berakhir gagal maka ia hendak mencoba cara yang lain. Cara yang lebih berisiko, sudah pasti membuat Ben terluka karena cara ini.
Yaitu... Mencarikan penggantinya untuk Dea secepat mungkin. Sebelum Ben meninggalkan perempuan itu untuk selamanya. Setidaknya, saat Ben pergi Nanti, posisi Ben akan ada yang mengisi, atau paling minimal Dea akan mendapatkan sosok teman yang menjadi penenang hatinya saat mereka berpisah nanti.
...****************...
__ADS_1