
Posisi tengkurap dengan sebuah buku catatan di depannya adalah pose terbaik yang Dea lakukan malam ini untuk mengurangi sedikit pusing dalam pikirannya. Perempuan itu membuat lingkaran di sebuah harus kertas, lalu mengisi keterangan, kemudikan berpikir. Hanya jika keterangan yang ia tambahkan itu benar, ia akan memberikan sebuah ceklis di sampingnya.
Keterangan yang ia tulis antara lain :
Ben sesuai dengan standar pria yang diinginkan Dea?
Perempuan itu memberikan tanda silang di lingkaran.
Apa Ben bisa memberikan kebahagiaan untuk Dea?
Ini tergantung. Dea menjauhkan ujung pena untuk sejenak saat dihadapkan pada pertanyaan ini. Sebab, Ben memang kadang membantu Dea menyelesaikan masalah, sesekali menghiburnya, dan sangat sering menenangkannya. Bahkan, pelukan pria itu seolah memiliki pengisi daya ketenangan bagi Dea.
Namun, Ben juga sangat-sangat sering menjengkelkan bagi Dea. Pria itu sering membuat masalah, dan sangat jarang mendengarkan setiap arahan yang Dea utarakan. Sehingga ... Dea merasa sangat ingin ... ingin ... menyiksa pria itu, kadang-kadang.
Dea kebingungan, sehingga ia sekarang mengubah posisinya menjadi telentang, dan membiarkan langit-langit ruangan yang polos menjadi objek pandangannya untuk merealisasikan bayangan dalam benaknya.
Sejak ucapan Dion sore tadi, Dea hampir tidak bisa tenang karena memikirkan hal ini: bahwa kontraknya terancam gagal akibat perubahan pikiran dan sesuatu dalam diri Dea.
Ketika menutup mata, Dea hanya menemukan perasaan nyaman ketika melihat Ben, merasa tenang dengan pelukan suaminya, dan berdebar pada setiap tatap yang Ben arahkan padanya.
Dea merasa aneh dengan semua sinyal itu, sesuatu yang belum pernah ia rasakan pada siapapun. Termasuk mantan kekasihnya sekalipun.
Perempuan itu menghirup udara sebanyak mungkin, ketika secara tiba-tiba, sebuah aroma familier menyapa hidungnya. Parfum Ben, terasa sangat nyata, padahal Dea hanya membayangkan pria itu ada di sampingnya. Dea menjadi rakus mendapatkan oksigen, hanya demi menikmati aroma maskulin khas yang selalu dipakai pria itu.
Sampai, Dea merasakan pergerakan di tempat tidur, tepat di sisi kanan-kirinya. Ia membuka mata, dan terkejut menemukan sosok Ben sudah ada tepat di depan wajahnya. Pria itu sibuk memosisikan tubuh dan kakinya agar berada tepat di atas sang istri tanpa membebani perempuan itu sedikit pun.
“K—kamu ada di sini, Ben?” tanya Dea basa-basi karena campuran terkejut. Ia terlihat sangat gugup karena debaran kuat dalam dadanya, dan ketakutan bahwa Ben mengetahui bahwa ia baru saja memikirkan pria itu terlalu lama.
__ADS_1
“Ya. Aku masih bisa dilihat mata biasa, ‘kan? Bukan sejenis hantu yang nggak bisa dilihat keberadaannya,” jawab Ben, dengan niatan bercanda. “Pikirin apa, De?”
Ben menggunakan salah satu tangannya yang tertekuk sebagai penopang tubuh, sementara tangan lainnya bergerak menyentuh wajah Dea dan menyisiri anakan rambut perempuan itu dengan lembut. Hanya sekadar mencari alasan agar bisa mengagumi keindahan dan kesempurnaan wajah Dea, tanpa dimarahi pemiliknya.
“Nggak ada posisi yang lebih nyusahin dari ini, Ben?” sindir Dea, sinis, ketika ia dibuat sulit bergerak oleh keberadaan Ben di atasnya. Padahal, perempuan itu butuh ruang luas untuk menenangkan diri sendiri, debaran keras dalam dadanya, dan pikiran yang mulai semrawut.
“Ada,” jawab Ben.
Dalam sekejap, pria itu berpindah posisi ke samping Dea, lalu memaksa sang istri agar menghadap langsung padanya. Ia menggunakan salah satu tangannya sebagai pelukan erat untuk Dea, sementara salah satu kakinya membelit dua kaki Dea sehingga perempuan itu semakin kesulitan bergerak.
“Ben!” protes Dea, tetapi hal itu malah memicu tawa kecil dikeluarkan oleh Ben.
“Cuman bentar aja, De,” kata Ben dengan suara lirih. “Sampai aku tidur aja. Bentar kan itu?”
“Bentar ndasmu!” hardik Dea, tetapi selanjutnya, ia berhenti melakukan protes. Dea malah mendongak untuk bisa mempertemukan pandangannya dengan Ben. “Kalau udah cerai nanti, kamu bakalan ngapain, Ben?”
“Ya gimana, De? Palingan kerja kayak biasanya. Aku balik ke kontrakan, ke kehidupan lama. Nggak ada yang beda dari pas masa lajang sama pas duda nanti.”
Dea tampak tidak puas dengan jawaban Ben. Ia memberikan alternatif lain untuk mengembangkan kehidupan pria itu. “Tiap aku gaji kamu entah dari pernikahan kontrak ini atau dari gaji sebagai karyawan, kamu tabung aja semuanya buat cicil rumah atau modal usaha, Ben. Nggak usah sok-sok romantis kayak kemarin bikinin aku kejutan segala macam yang langsung bikin uang ludes. Kamu harus punya sesuatu setelah kita pisah nanti.”
Ben mencoba tersenyum, tetapi gagal memberikan yang terbaik. Senyuman yang bisa Ben usahakan hanyalah sebuah tarikan di sudut bibirnya, agar Dea tahu bahwa dirinya baik-baik saja. Setidaknya, itu yang coba Ben lakukan.
“Kamu nggak mau terima aku jadi pelayan kamu setelah kita pisah nanti?” tanya Ben.
“Bukan gitu, Ben,” balas Dea, mengelak dari tuduhan itu. “Aku mau kamu memiliki sesuatu, buat masa depan kamu. Aku nggak mau kamu seumur hidup jadi pelayan doang. Aku mau kamu berkembang, dan aku bakalan dukung kamu selama pernikahan kita sekarang ini.”
“Nggak perlu, De. Aku udah cukup dengan apa yang aku punya sekarang ini.”
__ADS_1
“Nggak!” Dea menolak tegas. Ia bahkan menunjukkan gurat marah saat mengatakan itu. “Kamu harus ... berkembang. Paham? Kamu harus berhenti jadi pelayan di restoran aku, dan mulai bangun usaha kamu sendiri. Aku yakin, ketelatenan kamu bisa bawa kamu menjadi bos yang baik.”
“Tapi nggak bakalan bisa kayak Dea.”
“Nggak perlu kayak aku,” balas Dea. “Seenggaknya, status hidup kamu naik. Pernikahan kita bakalan merugikan kamu di akhir, dan aku nggak mau kamu beneran nol setelah kita pisah. Seenggaknya kamu untung dalam masalah keuangan, setelah perceraian nanti.”
Ben tidak lagi menjawab, dan Dea merasa takut ketika ia merasai bahwa pelukan Ben tidak lagi seberat sebelumnya, dan kaki pria itu sudah beranjak dari kakinya.
Dea merasa kehilangan, padahal Ben masih ada di depannya.
“Dea,” panggil Ben dengan suara lemah, seolah ingin mengganti topik obrolan mereka. Dan Dea menunggu ucapan lanjutan dari sang suami.
Namun, tidak ada lanjutan dari ucapan Ben. Pria itu bahkan hanya sekadar memperbaiki posisi kepalanya dengan menambahkan bantal tambahan berupa lengannya yang terlipat.
“Ben?” tuntut Dea.
“Nggak jadi,” balas Ben, yang membuat Dea berubah masam. Perempuan itu memukul kecil bahu Ben, yang menyebabkan dirinya kehilangan pelukan.
Ben mengubah posisinya menjadi telentang, dan entah mengapa, Dea merasa ada sebuah tembok tak kasat mata menghalangi mereka saat ini.
Perempuan itu pada akhirnya hanya bisa memandang dalam diam sosok Ben dari arah samping. Diam-diam menarik sudut bibir dengan jantung yang berdebar-debar lebih kuat dari biasanya.
Ingin sekali, Dea menawarkan satu hal pada Ben.
Bahwa ... ia ingin membatalkan kontrak, dan meneruskan pernikahan ini selamanya.
Karena—mungkin—Dea sudah jatuh cinta pada pria ini.
__ADS_1