Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
69. Tawaran Dea


__ADS_3

Beberapa pandangan menuntut jawaban diterima oleh Ben setelah pengakuan Dion mengenai kepergian Dea malam ini. Namun, Ben malah mengabaikan semua hal itu, karena matanya sibuk terfokus pada sang istri yang masih memejam dengan gerakan gelisah.


 


Ben menyingkirkan Dion dari samping tempat tidur, sehingga ia bisa menempati posisi sang kakak ipar tadi. Ia menggenggam lembut tangan Dea sembari memberikan beberapa usapan di sana demi menenangkan sang istri.


 


“Ben,” panggil Kahar yang berhasil mengambil alih perhatian Ben terhadap dirinya. Sekilas, ada raut tidak suka di wajahnya, yang susah payah pria dewasa itu sembunyikan. “Besok kita bicara. Sekarang, urus istri kamu dulu.”


 


Ben langsung mengangguki pemintaan tersebut. Ah, bahkan walau Kabar tidak meminta, Ben sudah memiliki inisiatif sendiri untuk mengurus sang istri.


 


“Setelah kamu bersihkan badan dia,” kata Diana menambahkan, “Bilang sama saya. Saya bakalan panggil dokter ke sini, supaya periksa kondisi kehamilan Dea. Semoga saja tidak ada ham buruk yang terjadi. Apalagi, kehamilan Dea masih muda.”


 


Ben menanggapi permohonan sang mertua dengan anggukan antusias. Dalam hati yang paling serius, Ben mendoakan hal sama. Bahwa bayi mereka akan baik-baik saja. Di sisi lain, Ben begitu keras memaki dirinya dalam hati karena—ia yakin—sudah menjadi penyebab istrinya jadi seperti ini.


 


“Ayo, Ma, Dion, keluar.” Kahar memberikan arahan sembari menggiring anak angkat dan istrinya keluar dari ruangan.


 


Awalnya, Dion tampak enggan meninggalkan ruangan dengan mata memandang sinis pada Ben yang sama sekali tidak memedulikan dirinya. Sampai dirinya harus didorong pelan oleh Kahar, dan diberikan gertakan samar agar segera meninggalkan ruangan. Barulah pria itu beranjak dari tempatnya berdiri.


 


Pintu tertutup, menyisakan ruang hening antara Ben dan Dea. Selama beberapa menit, Ben tidak beranjak dari posisi karena sibuk mengusap kening Dea yang basah dalam ruangan ber-AC ini. Berulang kali, ucapan maaf diutarakan dengan suara paling lirih untuk menunjukkan betapa dalam penyesalan Ben saat ini terhadap apa yang menimpa sang istri.


 


Setelah itu, barulah Ben berdiri untuk mengambil air dari kamar mandi menggunakan wadah, serta handuk. Ia membawanya, dan meletakkan benda-benda itu di atas nakas, sebelum fokus untuk melepaskan pakaian Dea yang terasa lengket.


 


Pergerakan itu memicu reaksi senyum oleh Dea. Ben sempat berhenti sejenak, dan ekspresi barusan langsung menghilang. Ia melanjutkan kegiatan dengan tenang, sampai ....


 


“Huek ....”


 


Ben sempat kaget dengan semprotan hangat ke tubuhnya. Ia hampir menjatuhkan Dea yang setengah duduk demi melepaskan kemeja dari tubuhnya. Ben hanya melirik sebentar, lalu melanjutkan kegiatannya. Tidak lupa, pakaian Dea tadi digunakan mengelap sisa muntahan di tubuh sang istri, lalu dimasukkan ke kamar mandi. Ben juga melepaskan bajunya yang sudah kotor, lalu mengelap cepat diri sendiri agar bisa mengurus istrinya lagi.


 

__ADS_1


Sebagai bentuk antisipasi, Ben menyediakan wadah lain jika istrinya masih muntah. Pengalaman beberapa malam kemarin, Dea sering mual di tengah tidurnya karena pengaruh hamil, apalagi sekarang ada tambahan minuman keras.


 


Tebakan Ben benar saja. Dea sulit dilap bersih karena ia hampir tidak pernah berhenti muntah. Dalam kondisi setengah sadar dan lemas, Ben memperhatikan lamat-lamat bagaimana wajah istrinya saat ini.


 


Kantung mata Dea terlihat jelas akibat make up yang mulai luntur. Wajahnya pucat, sama sekali tidak bisa tertutupi oleh dandanan naturalnya. Serta fakta bahwa cincin pernikahan mereka mulai longgar di jari manis Dea, Ben semakin cemas.


 


Kondisi istrinya benar-benar memburuk beberapa hari terakhir, dan bodohnya, Ben tidak menyadari hal itu lebih awal.


 


Efek hamil saja sudah bisa membuat keseharian dan fisik Dea acak-acakan, apalagi dengan fakta bohong yang Ben ucapkan kemarin—diyakini Ben—ikut serta menyakiti mental sang istri.


 


Ben menarik napas panjang penuh penyesalan.


 


Pria itu membiarkan Dea bersandar padanya, sembari mengelapi tubuh sang istri dengan sangat lembut. Ben sempat mendengar gumaman acak dan tidak jelas dari sang istri, yang terasa sangat marah. Apalagi dengan kerutan di keningnya, semakin memperjelas bahwa Dea sangat tidak nyaman sekarang ini.


 


 


Pada awalnya, Ben sama sekali tidak menanggapi setiap racauan yang diucapkan oleh Dea. Ia tetap fokus pada kegiatan utamanya, mengabaikan sentuhan acak Dea di tulang selangka, leher, dan bibirnya.


 


“Ya ... Ben ... ya?” Dea mengguncang lemah bahu Ben untuk mendapatkan perhatian pria itu. “Aku ... jangan cerai ... sama kamu ... ya? Kamu pakai ... bisa pakai aku ... selama-lamanya ....”


 


Ben tetap diam.


 


“Aku ... bisa bayar ... kamu berapa pun .... Apa ada ... masih ada pelac*r yang malah ... membayar lelaki ... suaminya?” Dea semakin acak berbicara, dan ketika ia tidak mendapatkan respons sama sekali, ia menahan kedua wajah Ben agar fokus pada dirinya saja. “Ben ....” Ia merengek manja.


 


Namun, suaminya tetap berusaha untuk fokus pada tugas utama.


 


Sehingga Dea harus menggunakan pemaksaan yang lemah. Menarik wajah suaminya untuk memberikan kecupan salah tempat—di antara hidung dan bibir Ben.

__ADS_1


 


“Ayo, Ben .... Pelac*r ... ini sudah siap.” Dea menjatuhkan dirinya ke belakang sampai terbaring lemah di tempat tidur.


 


Ben yang tidak sempat menebak tindakan Dea tersebut, tidak dapat menahan sang istri. Ia memilih diam, memperhatikan perempuan dengan mata setengah terbuka itu bertindak semaunya: membalik tubuh untuk tengkurap, lalu menopangnya dengan tangan dan kaki.


 


“Ayo ... Dog*y ... style,” ajak Dea.


 


Sayangnya, kekuatan Dea goyah sehingga ia menjatuhkan diri di kasur empuk. Tidak ada lagi usaha untuk menopang tubuh, karena matanya sudah terpejam rapat.


 


“Dog*y style?” Ben mengulang tema ajakan Dea dengan nada meremehkan. Ia merangkak naik ke tempat tidur. “Ini lebih mirip cicak terkapar style.”


 


Pria itu berdiri dengan kedua lututnya, mulai melepaskan kaitan rok Dea, serta menurunkan retsletingnya sebelum menarik kain berbahan tebal itu sampai terlepas dari dua kaki Dea.


 


Setelah lepas, Ben membawa tangannya ke pinggiran segitiga penutup tubuh Dea yang terakhir. Hampir menarik turun, tetapi kemudian ia teringat tugas utamanya.


 


Ben mendengkus geli sembari membatalkan niat. Ia melanjutkan tugas dengan pikiran berkecamuk.


 


Efek mabuk Dea ternyata menular. Ia berhasil dibuat hampir hilang akal.


 


Ben menyelesaikan tugas dengan baik. Sebelum melaporkannya pada Diana, Ben menempatkan diri berbaring di samping Dea, sembari mengusap lembut rambut perempuan itu yang menutupi sebagian wajahnya.


 


“Maaf bikin kamu terluka, De,” bisik Ben dengan suara lirih. “Nggak seharusnya aku kayak gini, di saat kamu mulai nyaman sama aku. Maaf ... bikin kamu sekacau ini.”


 


Ben mencium kening Dea dengan lembut. “Nggak ada pilihan lain, tapi aku bakalan coba buat lepasin hubungan kita secara perlahan.”


 


...****************...

__ADS_1


 


__ADS_2