
Selama beberapa hari sejak mendapatkan informasi dari Dion, Dea hampir tidak tahu arti sebuah ketenangan. Setiap saat, tugas utamanya adalah memperhatikan setiap tindakan yang Ben lakukan, hanya demi mencari gerak-gerik mencurigakan.
Namun, Dea belum juga menemukan tanda-tanda bahwa suaminya akan pergi lagi tanpa sepengetahuan dirinya.
Imbas dari pikiran semrawut tersebut membuat Dea semakin sering mengalami mual pagi dan malam ketika hendak tidur. Nafsu makannya turut menurun, dengan wajah yang selalu pucat.
“Mau aku bawa ke dokter buat periksa, De?” tanya Ben menawarkan, tetapi langsung mendapatkan penolakan berupa gelengan kepala lemah dari sang istri.
“Nggak perlu.” Karena Dea sangat takut jika kesempatan tersebut digunakan Ben untuk menemui kekasihnya. Bahkan, Dea semakin menguatkan pegangannya di lengan pakaian sang suami sebagai bentuk pencegahan kepergian Ben.
“Aku beliin obat atau vitamin, gimana? Tapi aku konsultasi dulu sama dok—“
“Nggak usah!” Sekali lagi, Dea menolak. Bahkan suaranya jauh lebih tegas sekarang dibanding sebelumnya. “Nggak perlu ke mana-mana. Aku masih baik-baik aja.”
Namun, Ben tahu bahwa istrinya tidak sebaik-baik itu.
“Ayo berangkat!” Dea berusaha sekuat tenaga agar bisa berdiri meninggalkan posisi duduknya dari kursi rias. Butuh topangan dari Ben agar ia bisa berdiri sempurna.
“Kalau lagi sakit, nggak perlu paksain masuk kerja, De. Kamu kan bebas pantau dari rumah juga,” usul Ben yang seketika mendapatkan balasan berupa tatap tajam dari sang istri.
“Nggak. Aku bisa ke restoran,” jawab Dea teguh pendirian. Ia menarik napas panjang untuk diembuskan secara kasar demi meyakinkan diri, tetapi pandangannya mendadak berputar menyebabkan ia hampir kehilangan keseimbangan.
“De!” Ben dengan cepat menahan pinggang istrinya untuk mencegah Dea terjatuh. Ekspresi wajahnya bercampur kaget dan khawatir, sehingga ia mempertegas usulannya. “De, aku beneran nggak saranin kamu ke restoran sekarang! Kamu lemah banget sekarang, De. Kamu ke sana pun, mau ngapain? Tiduran juga nggak bisa. Duduk bikin kamu pegel kalau lama-lama. Jalan juga udah sering oleng. Apa yang bakalan kamu lakuin di sana? Mending nggak usah pergi, De.”
Seketika, tatap lemah Dea berubah tajam saat diarahkan ke Ben.
“Kenapa dari tadi kamu selalu nyoba nyari celah supaya jauh dari pemantauan aku?” tanya Dea dengan nada sinis. “Kamu sengaja mau jauh dari aku supaya kamu bebas ketemuan sama perempuan lain di luaran sana, gitu?”
Ben secara otomatis mengerutkan kening tidak paham. Ia terdiam sejenak untuk menebak-nebak kesalahan apa yang sudah Ben lakukan. Namun, ia tidak menemukan sesuatu yang salah dalam dirinya, apalagi itu tentang perempuan lain.
“Kamu bahas apa sih, De?” Jadi, Ben bertanya untuk mengetahui kejelasan dari kemarahan sang istri.
Tidak menyangka, bahwa balasannya adalah berupa kemarahan tambahan yang ditandai dengan berpalingnya pandangan Dea dari sang suami.
__ADS_1
Ben mengembuskan napas kasar. Ia tidak tahu harus memberikan solusi apa, sebab belum memahami permasalahan yang ada. Jadi, ia mengubah posisi tangannya dari pinggang Dea ke pundak perempuan itu untuk memberikan usapan lembut yang menenangkan.
“Ya udah, maunya gimana? Aku ikut kata kamu aja,” kata Ben, pasrah.
“Ke restoran,” jawab Dea dengan nada datar.
Ben tidak menolak atau memberikan nasehat lagi. Memilih untuk mengikuti apa pun yang diinginkan sang istri, karena menurutnya, sebagai perempuan dewasa berusia 31 tahun, Dea seharusnya paham apa yang baik dan tidak untuk diri sendiri.
...*
...
Dion melacak tempat yang Ben kunjungi saat ia mengetahui pertama kali bahwa adik iparnya itu menderita penyakit.
Mengorbankan keberangkatan paginya ke kantor, Dion sudah tiba di depan sepasang pintu kayu berwarna cokelat. Ia mengetuknya beberapa kali, sampai seorang perempuan dengan perut buncit yang membukakan pintu.
“Ya, cari siapa?” tanya perempuan itu kebingungan.
Dion hampir sulit mengalihkan pandangannya dari perut si wanita, kemudian menarik sudut bibir kanannya secara samar.
Perempuan itu mendengarkan dengan saksama.
“Saya boleh ... tanya-tanya tentang kondisi teman saya? Mungkin saja ... saya bisa berikan sebuah dukungan untuk Ben supaya lebih bersemangat untuk melanjutkan hidupnya.”
Ekspresi curiga dari si wanita secara perlahan meredup, tergantikan senyum tipis yang terlihat sangat tulus.
“Tentu,” jawab si wanita. Ia hendak keluar untuk mempersilakan Dion duduk di teras, tetapi sebuah seruan dari dalam membuatnya membatalkan niat.
“Siapa, Yang?”
“Temennya Ben,” jawab si wanita.
“Suruh masuk, Yang. Kamu nggak sopan banget sama tamu.” Suara tersebut kembali memberikan arahan.
__ADS_1
Sehingga Dion diberikan kesempatan untuk memasuki rumah. Ia sempat bertemu dengan pria dewasa yang ia yakini sebagai suami dari perempuan di depannya ini, tetapi hanya sekilas. Setelah memberikan anggukan hormat, pria tersebut sudah menghilang dari pandangan.
Hening sejenak, yang Dion manfaatkan waktu diam itu untuk berpikir cepat tentang langkah selanjutnya.
“Jadi, Anda mau tahu apa tentang Ben?” tanya si wanita.
Dion tersenyum tipis. Memulai rencana untuk membangun kebencian Dea pada Ben.
...*
...
“Di ruangan itu sempit, pengap. Aku kayak nggak bisa napas. Jadi, aku suka ada di sini.” Itu alasan yang Dea kemukakan saat memilih duduk di dekat pintu dapur yang bisa membuatnya melihat kegiatan Ben bersama karyawan lain serta para pelanggan.
Ben awalnya merasa tidak nyaman, apalagi rekannya yang lain ikut tegang atas tindakan tersebut. Namun, karena kesepakatan tadi pagi, Ben mengurungkan niat untuk melakukan protes.
Semua berjalan normal pada awalnya. Ben masih tetap mengantar pesanan makanan ke setiap pelanggan yang datang ke restoran. Di beberapa saat tertentu di mana dirinya bisa beristirahat, Ben akan duduk berjongkok di samping Dea untuk membujuk istrinya agar bisa mengetahui permasalahan sebenarnya.
“Kamu belum mau cerita tentang apa yang ganggu kamu sekarang?” tanya Ben.
Dea mempertimbangkan hal itu sebentar. Ia sejujurnya ingin menanyakan lebih lanjut tentang sosok perempuan yang ia lihat di rumah mewah kemarin. Namun mempertimbangkan bahwa suaminya belum tentu menjawab jujur, membuat Dea agak pesimis.
“De?” Ben menuntut lagi.
Obrolan mereka tidak bisa berlangsung lama karena kedatangan pelanggan baru, yang membuat Ben sigap bergerak untuk melayani mereka.
Namun, baru juga beberapa langkah, Ben mendapatkan pesan di ponselnya. Setelah membaca, ekspresi tenang yang ia tunjukkan, seketika menghilang. Ben bergegas menghampiri Dea untuk meminta izin.
“De, aku boleh keluar bentar? Ada urusan penting. Anggap aja aku pake jam istirahat nanti buat sekarang.”
Dea baru membuka mulutnya untuk mencari tahu kepergian suaminya, tetapi Ben sudah berbalik dan meninggalkan restoran begitu buru-buru.
...*
__ADS_1
...