
Tidak mau membuang waktu terlalu banyak hanya sekadar untuk mematikan mesin motor, Ben langsung menghampiri pintu rumah mewah yang ia kunjungi. Ketukannya begitu terburu-buru, senada dengan ekspresi yang ia tunjukkan sekarang. Berbanding terbalik dengan wajah kebingungan yang ditampilkan oleh perempuan yang membukakan pintu untuknya.
“Eh, Ben? Kok datang ke sini? Temen kamu baru ... aja pulang.”
“Dia kenapa datang ke sini, Mbak?” tanya Ben, menuntut. “Dia bukan temen saya.” Ben hampir melanjutkan ucapannya untuk memberitahukan bahwa ia memiliki hubungan yang tidak bagus dengan sang kakak ipar.
“Kamu langsung datang ke sini setelah aku foto diam-diam teman kamu itu, Ben?” tanya si wanita dengan nada ragu. “Pasti penting banget, ya? Emang kenapa? Mana tau saya lakukan kesalahan.”
“Nggak ada kok, Mbak. Itu ipar saya,” jawab Ben setengah jujur. Si wanita langsung berubah malas setelah mengetahuinya.
“Kamu takut kalau saya cerita tentang kondisi kamu yang sebenarnya ke dia?” tanya wanita itu. Ia tidak mendapatkan respons apa pun dari Ben, tetapi sudah tahu jawabannya. “Dia udah tahu, Ben. Katanya dia rekam apa gimana gitu, melalui hape kamu. Makanya dia bahkan tahu alamat rumah ini.”
Ben langsung menegang sempurna setelah mendengar pernyataan wanita di depannya ini. Serasa belum cukup, perempuan hamil itu juga menambahkan kalimat lain.
“Kamu harusnya terbuka, Ben. Punya ipar sebaik dia, saya beneran bingung sama alasan kamu nggak mau jujur ke keluarga istri kamu tentang penyakit kamu.”
Ben meneguk saliva secara kasar, dengan pandangan kosong ke depan.
...*
...
Dahulu sekali, saat Ben baru saja mengambil napas pertamanya di dunia, ia kehilangan ibunya yang sukses berjuang melahirkan dirinya ke dunia. Ben merasa berutang nyawa saat itu, padahal kelahiran dan pertaruhan nyawa itu memang kehendak sang ibu.
Namun, melihat bagaimana sang ayah terus terpuruk dalam kesepiannya setelah ditinggal istri, Ben merasa sangat bersalah. Apalagi fakta bahwa hidup kekurangan di keluarga mereka menyebabkan dirinya kesulitan mendapatkan ibu tiri baru yang sebaik ibu kandung Ben.
Pernah berencana untuk memperbaiki hidup, dan memiliki mimpi indah tentang masa depan, karier, serta keluarga—khayalan tersebut diempaskan saat Ben berada di bangku terakhir SMA. Menjadi alasan lain mengapa ia meninggalkan kekasihnya saat itu, sebab demi menemani dan mendukung dirinya, kekasihnya harus mengorbankan banyak hal: waktu belajar, kesenangan, dan nyaris juga cita-citanya.
__ADS_1
Sehingga Ben memilih menjauh.
Ia terpaksa menghadapi realitas pahit kehidupan bersama sang ayah: senior kehidupan sulit. Ia diajari bahwa pikiran manusia hanya bisa dirancang untuk bermimpi. Namun pada dasarnya, pikiran itu hanya di dalam kepala. Jangankan membantu manusia keluar dari jerat kemiskinan dan kesulitan, pikiran dalam otak itu bahkan tidak bisa melepaskan diri sendiri dari kurungan tulang dan jeratan kulit.
Apalagi manusia itu sendiri.
Ben hampir merasa putus asa saat itu, tetapi ayahnya terus menyemangati.
“Kamu berjuang bukan cuman buat nyawa kamu saja, tapi juga nyawa ibumu. Jadi, berusahalah sekuat tenaga supaya kamu mati hanya karena bosan hidup di dunia, bukan karena jeratan penyakit atau tekanan orang lain.”
Hanya kalimat itu yang membuat Ben terus berdiri di atas kaki rapuhnya sendiri.
Namun pada akhirnya, sang ayah bahkan tidak bisa mewujudkan apa yang sudah ia sendiri katakan: mati karena bosan hidup di dunia. Pria berusia senja itu menutup usia demi mengejar pundi rupiah ketika mengarahkan mobil mewah untuk parkir. Keangkuhan manusia berhasil membutakan hati, dan sama sekali tidak peduli jika ayah Ben adalah makhluk bernyawa dengan jenis manusia. Belum ahli mengendarai mobil sport, tetapi keras kepala memamerkan kendaraan. Hingga ayah Ben kecelakaan saat mobil pendek dua pintu terus mundur tanpa terkendali.
Ben langsung terpuruk karena dua hal saat itu: satu-satu keluarganya meninggal, dan alasannya meninggal adalah mengumpulkan uang demi pengobatan dirinya.
Ia membangun dinding tak kasat mata antara dirinya dan orang lain. Melarang membentuk hubungan dalam bentuk apa pun, untuk mencegah siapapun menjadi seperti ibu Ben, ayah Ben, atau bahkan sekadar seperti mantan kekasih Ben.
Pria itu sudah berusaha dengan sangat baik, sampai akhirnya ... bos tempatnya bekerja menawarkan sebuah perjanjian pernikahan selama satu tahun. Berpikir bahwa tidak akan ada yang terjadi dalam 365 hari itu, sehingga ia menerima tawaran dengan mudah. Berharap, bahwa selama itu, ia bisa memberikan sedikit bantuan kepada orang lain sebelum bosan pada hidupnya.
Namun, keberadaan perempuan berumur dewasa dengan sikap gadis remaja membuat Ben merasakan naik rollercoaster selama berurusan dengan sang istri. Kecemburuan yang tidak terkendali Ben hanya karena tahu Dea berada satu apartemen dengan mantan kekasihnya, sikap berlebihan kakak iparnya, bahkan sampai kriteria pria idaman sang istri—Ben merasa bertanggung jawab pada semua itu.
Sehingga sempat lupa tujuan awalnya, dan tanpa sengaja mendirikan sebuah harapan rapuh dalam dirinya.
Lupa, bahwa ia seharusnya tidak membangun hubungan sejauh ini—sampai membentuk perasaan spesial dalam dirinya untuk sang istri. Karena perpisahannya akan jauh lebih sulit dari rencana awal.
Namun, Ben sudah terlanjur masuk. Dan sebisa mungkin, untuk segera keluar sebelum waktunya tiba.
__ADS_1
Entah waktu perceraian, atau waktunya bosan pada kehidupan.
...*
...
Dea marah. Ben sangat tahu jelas, karena setelah ia kembali ke restoran, perempuan itu sudah berdiri di depan pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
“Kamu pikir ini restoran nenek moyang kamu yang bisa bikin kamu bebas ambil jam kerja atau istirahat seenak jidat?” tanya Dea dengan dagu terangkat menantang.
“Sorry, Bu, ada hal penting yang super dadakan. Saya siap deh, terima hukuman apa pun dari Bu Dea,” balas Ben dengan senyum lebarnya.
Namun, Dea tidak peduli. Ia menunjukkan amarahnya dalam bentuk kepergian tanpa sepatah kata. Langkahnya begitu lambat ketika memasuki restoran, menunggu satu harapan terjadi.
Bahwa Ben akan memanggilnya, dan berkata jujur tentang apa pun itu. Bahkan meski jika dia ingin menjelaskan tentang perselingkuhan—Dea siap mendengarnya. Ia juga akan menanyakan tentang kelebihan si wanita dibanding dirinya, sehingga Dea bis menyesuaikan diri sesuai kriteria wanita kesukaan Ben.
Namun, tidak ada. Jangankan suara. Ben bahkan tidak melangkah sama sekali dari tempatnya berdiri di depan pintu restoran. Hanya memandang punggung Dea dalam diam, dengan mata mengerjap beberapa kali.
Ben sedang sibuk mempertimbangkan setiap langkahnya ke depan. Antara membiarkan pikirannya mengambil alih dirinya, atau tetap pasrah pada realitas hidup seperti sebelum-sebelumnya.
Ben mengambil langkah pertama, memasuki area restoran. Disusul langkah berikutnya yang lebih cepat, membawa Ben semakin dekat ke punggung wanita yang dibalut blazer krem.
Namun, tanpa sapaan, ucapan, atau apa pun—Ben mendadak belok menuju dapur.
Tahu bahwa istrinya marah—Ben memperkuat aura tidak acuhnya dan memilih sibuk dengan pekerjaan di dapur sebagai seorang pelayan.
Memang seharusnya seperti ini.
__ADS_1
...****************...