
Bangun esok paginya dalam kondisi yang seolah remuk. Dea hampir tidak pernah mengubah posisi semalaman penuh, usai melindungi membalut dirinya dengan selimut. Ia meringkuk di pinggir tempat tidur, sementara Ben leluasa buka kaki dan tangan dalam posisi tengkurap menguasai sebagian besar kasur yang mereka tempati.
Dea susah payah menggeliat, tetapi tidak bisa membantunya melonggarkan belitan selimut. Hanya ada dua pilihan, menjatuhkan dirinya ke depan agar lebih leluasa untuk melepas selimut, atau berguling ke arah Ben. Sempat melihat pria itu terbaring tengkurap rata, Dea memilih opsi kedua karena terlalu ngeri jika harus jatuh ke depan tanpa perlindungan untuk bagian kepala.
Perempuan itu berguling untuk melepaskan belitan selimutnya, dan berakhir terlepas saat dirinya tepat berada di atas tubuh Ben.
"Dea?" Ben terbangun karena kaget. Ia mencoba menoleh mengecek ke belakang, tetapi Dea terlalu sibuk melepaskan selimut dari tubuhnya kemudian turun dari tempat tidur.
"Dea ngapain barusan?" tanya Ben yang dengan cepat mengubah posisinya jadi telentang. "Kalau mau perkosa, minimal bilang-bilang, De. Ayo sini, saya udah siap diperkosa Dea."
Di saat Ben menjulurkan tangannya agar perempuan itu datang memeluk, Dea malah bergegas pergi dengan tatap jijik. Ia menguatkan tali kimono tidurnya, sebelum ke kamar mandi. Sementara Ben masih bermalas-malasan di kasur, tetapi tetap bangun untuk bantu merapikan tempat tidur selama menunggu Dea untuk membersihkan dirinya.
Ben juga mengambil kertas-kertas yang sempat ia amankan ke lantai, untuk ditempel menggunakan selotip di dinding dekat kepala ranjang. Dengan begini, Dea tidak punya alasan untuk melupakan aturan yang sudah mereka sepakati sebelumnya—walau dari pihak Dea sedikit terpaksa.
Ketika Dea sudah dari kamar mandi, gadis itu tidak langsung melanjutkan langkahnya. Ia sedikit menelengkan kepala ketika menemukan sesuatu yang ganjal di dinding kamar—merusak keindahan ruangan ini.
"Ngapain kamu tempel itu di sana?" tanya Dea ketika ia melanjutkan perjalanannya untuk mengecek isi kertas. Ia seketika bergidik ngeri melihat tulisan rapi Ben yang tertera di kertas, dan sialnya itu tentang aturan nyeleneh yang pria itu buat semalam.
"Biar Dea nggak lupa," jawab Ben.
"Kamu tahu? Manusia lebih mudah mengingat hal-hal yang mereka benci daripada hal-hal yang mereka sukai. Dan peraturan kamu ini sudah saya hafal luar kepala. Jadi, lepas! Jangan bikin sampah di sini."
"Ya malah beneran jadi sampah kalau dilepas, De. Kalau ditempel di dinding, jadinya rapi—"
"Ngerusak pemandangan. Gimana kalau keluarga saya tahu?"
"Nggak bakalan, De. Makanya sebelum kerja, kita harus bersih-bersih biar pembantu nggak perlu masuk."
__ADS_1
"Saya kerja biar nggak perlu pegang-pegang sapu lagi."
"Biar saya yang lakuin."
"Kerjaan kamu? Kamu mau tuker peran? Saya yang kerja, kamu yang jadi bapak rumah tangga?"
"Jadi bapak kalau udah ada anak, De." Ben tersenyum sangat lebar. "Ya udah, terserah Dea. Mau taruh di mana, yang penting nggak rusak sama nggak lupa aja. Saya mau mandi."
Gantian Ben yang memasuki kamar mandi ketika Dea mulai mencopoti kertas itu, dan diamankan di laci.
Ia bergegas ganti pakaian, dan berdandan tipis di depan cermin. Awalnya mau santai menikmati waktu pagi, karena ia bebas berangkat kapan saja. Namun, ketika Ben sudah keluar dari berdiri di belakangnya, perasaan Dea seketika memburuk. Ia memicingkan mata, waspada pada pria yang terus ia tatap melalui bayangan di cermin itu.
Namun, Ben tidak mengeluarkan kalimat apa pun. Pria juga berpakaian, dan bersiap keluar dari kamar.
Dea menyusul hampir setengah jam kemudian. Ia membawa serta tas selempang berwarna hitam ketika keluar dari kamar menuju ruang makan. Sebelumnya, gadis itu sudah sangat yakin bahwa Ben sudah berangkat, tetapi pria itu malah berada di ruang makan, berkumpul bersama anggota keluarga lain yang hampir selesai sarapan.
"Kok akhir-akhir ini telat banget berangkatnya, De?" tanya Kahar saat ia yang pertama kali menyadari kehadiran putrinya.
Kahar berdecak beberapa kali, menyayangkan sikap sang putri. "Sini, duduk."
Dea sempat melirik sinis pada Ben yang malah tersenyum padanya, menebak bahwa pria itu sudah melaporkan hal yang iya-iya pada sang ayah. Dea sedikit ragu berjalan ke arah kursi untuk mengikuti arahan Kahar.
"Daripada kamu pulang lembur terlambat tiap malam, kenapa nggak jadwalnya diubah aja jadi berangkat lebih pagi, De? Biar samaan Ben berangkatnya. Dia bantu supirin kamu, jadi kamu bisa agak luang ngecekin email atau habisin waktu bareng. Papa yakin banget—ngelihat gimana gigihnya kerja kalian—nggak ada waktu berdua kalau udah masuk jam kerja. Jadi, manfaatin jam pulang-berangkat, biar hubungan kalian makin dekat."
Dea tidak mengangguk. Hanya diam, tanpa memberikan bantahan apa pun walau tidak membenarkannya.
"Bisa, De?" tanya Kahar, memastikan.
__ADS_1
Karena Dea hampir mustahil menolak setiap keinginan sang ayah, maka gadis itu hanya bisa mengiyakan dengan anggukan malas. Ia mengambil piring, untuk memulai sarapannya.
"Iya, Pa." Dea menjawab lesu, lalu fokus pada kegiatan makannya tanpa peduli pada obrolan tema bisnis yang dilakukan oleh Kahar dan Dion, padahal topik tersebut adalah kesukaannya.
Ben lebih dahulu menyelesaikan makannya, dan dengan sabar menunggu Dea selesai sarapan. Padahal, perempuan itu ingin memperlama kegiatannya ini agar Ben kesal dan akhirnya berangkat lebih dahulu, tetapi siapa sangka bahwa kesabarannya sangat banyak walau ia beberapa kali mengecek jam tangan.
Dea tidak punya pilihan lain kecuali berangkat bersama pria itu. Ia dengan malas memberikan kunci mobilnya pada Ben untuk dikendarai, sementara gadis itu sendiri fokus pada tas setelah memasuki kendaraan.
Mobil baru saja bergerak, ketika Dea meletakkan sebuah amplop di paha Ben. Pria itu sempat melirik sekilas, dan menatap Dea kebingungan.
"Bayaran kamu," jawab Dea dengan dagu sedikit terangkat sambil mengalihkan pandangan ke jendela sampingnya, menunjukkan keangkuhan. "Sebagai suami kontrak saya."
"Alhamdulillah," ucap Ben, sembari mengamankan amplop ke dalam tasnya. "Padahal saya nggak minta, De. Dikasih, okelah. Nggak juga nggak masalah."
"Saya sudah bayar kamu. Kamu bisa kurangi kecerewetan kamu itu, Ben?"
"Eh, emang ada tertulis di kontrak, De?"
"Enggak, karena saya nggak tau kamu secerewet ini."
"Begitulah, De, kalau sebelum menikah belum kenal banget. Abis nikah baru kelihatan semuanya," jawab Ben. "Saya kirainnya bakalan dibayar di tiap akhir bulan. Hm ... kayaknya saya bakalan pulang telat malam ini, De."
"Buat?" Dea memicingkan mata. "Saya sekarang nggak bisa pulang-pergi tanpa kamu ya, Ben!"
"Dea bisa pulang sendiri duluan," kata Ben, "Saya mau ngajakin pacar saya kencan."
Dea tertegun. Dirinya boleh pulang sendiri sementara pria ini ... kencan?
__ADS_1
"SAMA SIAPA?!"