Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
54. Asumsi Menyebalkan


__ADS_3

Dua perasaan berbeda, dengan pemikiran dan dugaan yang juga berbeda menjadi alasan mengapa Ben dan Dea sudah tidak pernah mengobrol sejak di tengah perjalanan pulang kemarin malam, sampai sarapan pagi ini.


Bagi Ben, ini adalah pilihan terbaik. Sebab dirinya memang masih sedang dalam usaha mengontrol kekecewaan. Jika Dea sedikit saja menyinggung pria itu lagi, kekecewaan itu tidak mustahil untuk dikeluarkan Ben dalam bentuk protes kemarahan. Pria itu enggan melakukannya, sebagai bentuk usaha untuk menciptakan kenangan ‘baik’ dengan sang istri.


Sementara Dea, kebungkaman Ben membuatnya gelisah sepanjang malam. Ia sendiri tidak lagi memiliki minat untuk memulai obrolan lebih dahulu, sebab jengkel dengan keanehan sikap pria itu. Namun, semakin ia didiamkan, semakin terasa tidak nyaman. Sarapan pagi terasa hambar, sehingga kegiatan Dea di ruangan tersebut hanya sekadar memainkan sendok dan garpu di atas piring.


“Kenapa nggak makan, De?” tanya Dion, yang menjadi orang tercepat dalam menyadari perubahan Dea.


“Makanannya nggak enak ya, De?” tanya Diana yang sangat tepat sasaran, sehingga Dea memberikan anggukan manja.


Berharap, bahwa Ben yang mendengarkan obrolan ini bisa memiliki sedikit simpati dan menunjukkan kepedulian. Sedikit saja, yang diinginkan Dea. Namun, pria di sampingnya ini malah sibuk makan seperti sedang berada di dunianya sendiri.


Dea mengentakkan kakinya di bawah meja sebagai bentuk protes marah, tetapi meski semua orang sudah terkejut, Ben tetap tidak bergeming sama sekali.


“Biasa itu, De, selama hamil,” kata Diana. “Untungnya, kamu nggak sering mual. Nanti, jangan lupa singgah beli vitamin sama makanan atau minuman sehat yang bisa bikin kamu kenyang. Nurutin nafsu makan, cuman bikin bayi kamu kekurangan gizi nantinya.”


Barulah setelah mendengarkan pernyataan dari Diana, Ben menghentikan pergerakan sendoknya yang hampir masuk mulut. Pria itu memandang kosong ke depan selama beberapa detik, kemudian mengerjap untuk membasahi mata yang terasa kering, sebelum akhirnya melanjutkan sarapan.


“Selama hamil, kamu nggak usah kerja dulu, De. Walaupun masih sehat, tapi ini kehamilan pertama kamu. Papa nggak mau calon cucu papa kenapa-napa.”


Tambahan komentar dari Kahar semakin membuat Ben sulit mengunyah, sehingga makanan di mulutnya hanya bisa langsung ditelan. Sempat membuat Ben merasakan nyeri di kerongkongan, tetapi tetap ia paksakan untuk menghabiskan semua sisa makanan. Bersama dengan deretan nasehat kepedulian orang tua Dea untuk ‘kehamilan’ sang istri.


Ben hanya bisa mengatur napas dengan sebaik mungkin agar tetap mempertahankan kebungkamannya. Padahal, ingin sekali ia menghentikan kepedulian semua orang karena ... Dea bahkan sedang mempermainkan mereka dengan alasan bayi. Bayi ... yang bahkan hanya sekadar bayangan dan harapan dari keluarga besar saja, tanpa ada kehadirannya sama sekali.


Ben menyerah. Ia tidak lagi mampu menghabiskan sisa makanannya sehingga memilih minum air putih sampai tidak bersusah dalam sekali angkat gelas. Pria itu baru menurunkan alat minumnya setelah isinya habis.


“Ayo berangkat, De. Kamu juga nggak mau sarapan,” kata Ben sembari berdiri dari kursinya.


“Ben?” Dea memanggil khawatir. Ia tidak pernah melihat sosok ini dalam diri sang suami sebelumnya.


Sehingga, hal pertama yang terbesit dalam pikiran Dea adalah: ketidaksabaran Ben berangkat bekerja hanya demi melihat pujaan hatinya di restoran.

__ADS_1


Dea semakin merasa malas bergerak, tetapi ancaman dari suaminya membuat perempuan itu membatalkan malasnya.


“Ya sudah kalau mau di rumah. Aku berangkat dulu.” Ben melirik tidak peduli pada Dea, yang kemudian berubah ramah saat memandangi satu-persatu keluarga lainnya untuk berpamitan.


Dea dengan cepat berdiri dan menyusul kepergian suaminya. Ia susah payah menyesuaikan langkah lebar Ben, hanya agar posisi berjalan mereka sejajar.


“Semangat banget ya, ke restoran sekarang.” Begitu komentar Dea sesaat setelah Ben masuk ke bagian kemudi, sementara dirinya sudah tiba lebih dahulu.


“Ya,” ucap Ben dengan datar. “Demi uang.”


Dea mendengkus geli mendengarnya. Ia sempat e


Memalingkan pandangan ke arah jendela saat mobil mulai bergerak.


“Atau demi hal lain?” tebak Dea, sembari melirik sinis pada Ben.


Pria itu juga merasa sudah mulai muak. Ia tidak lagi berbicara bohong seperti sebelumnya. “Iya.”


Perempuan itu menenggak saliva sendiri dengan kasar. Ia menormalkan sikap, lalu menarik napas panjang, mencoba untuk bersikap biasa saja ketika ada sesuatu dalam dirinya merasa sakit akibat jawaban dingin Ben tadi.


“Seseorang?” tanya Dea.


Ben mengangguk. Sebab, ‘hal lain’ yang membuatnya ingin ke restoran lebih cepat adalah Dea sendiri.


Sementara pikiran sang istri sudah berkelana jauh memikirkan seberapa dekat suaminya dengan karyawati lain.


“Perempuan?” Dea sekali lagi memastikan, dan semakin merasakan sakit ketika Ben dengan tidak acuh mengiyakan pertanyaan tersebut.


“Afifah?” sebut Dea, sembari mengepalkan tangan dengan kuat di atas pahanya.


Sementara Ben yang mendengar nama lain disebut dalam obrolan mereka, langsung menoleh dengan kerutan di keningnya.

__ADS_1


“Afifah?” Ben balas menyebut satu nama itu karena keheranan. “Kenapa bawa-bawa dia?”


“Kamu nggak pernah berangkat ke restoran seburu-buru ini. Aku yakin, kamu ... mau lebih cepet ketemu pujaan hati kamu itu, ‘kan?”


Ben semakin bingung dengan arah pembicaraan yang bercabang ini. Ia semakin bertanya-tanya tentang hubungan antara kebohongan Ben dan salah satu karyawati tersebut.


“Pujaan hati apa, De?”


“Kamu ... suka sama Afifah, ‘kan?” tebak Dea.


“S—suka? Suka gimana maksudnya, De? Aku ... suka alias cinta gitu ke Afifah?”


Dea memberikan anggukan lemahnya, karena merasa sangat benci situasi ini.


“Kenapa bisa kepikiran sampe segitunya?” Ben bahkan syok atas tuduhan tidak berdasar itu. “Gimana bisa? Kamu lihatnya gimana, sampe bilang aku suka sama Afifah? Gimana ceritanya?”


Maka, dengan suara berat dan malas, Dea mulai menjelaskan tentang asumsinya. “Kamu bicara dingin banget sama aku sejak kemarin, tapi pas sama Afidah, kamu lembut banget, bahkan sampe senyum-senyum segala. Kamu kelihatan banget, suka sama dia.”


“Kalau aku senyum sama papa kamu, artinya aku suka papa kamu juga, gitu?” balas Ben, memberikan perumpamaan.


“Senyum kamu ke Afifah beda!”


“Beda apanya? Aku cuman narik bibir doang, kayak biasa. Sewajarnya aja. Gimana bisa, senyum doang udah dibilangin suka?” Ben sampai harus memijit pelipis sendiri, semakin sakit kepala atas pemikiran ajaib istrinya ini. “Intinya, nggak ada urusannya Afifah dalam masalah ini! Kamu nggak usah bawa-bawa orang lain dalam masalah!”


“Tuh, cara bicara kamu aneh banget sama aku dari kemarin! Sementara sama Afifah, nggak ada tuh kamu jutek-jutek gitu!” balas Dea. “Kamu seriusan nggak ada peduli-pedulinya sama sekali sama anak sendiri. Parah—“


Ben sudah berada di ujung kesabarannya. Ia mengetatkan rahang ketika memutar setir sampai mobil berbelok dengan tajam, lalu berhenti begitu saja di pinggir jalan.


Tubuh Dea bahkan terdorong maju ke depan akibat tindakan pria itu. Ia baru saja akan melayangkan protes, ketika mengetahui bahwa amarah yang ditunjukkan Ben jauh lebih buruk dari perasaannya saat ini.


Sementara Ben, tidak lagi menahan dirinya untuk memberikan pelajaran bagi istrinya ini.

__ADS_1



__ADS_2