
Memang ucapan Ben menyakitkan bagi perempuan yang memiliki harapan besar untuk sebuah pernikahan. Namun meski demikian, Dea mencoba untuk beradaptasi dengan sikap baru suaminya.
Sama seperti bagaimana Dea menyesuaikan diri dengan sifat menyebalkan Ben di awal-awal pernikahan sampai nyaman dengan karakter pengganggu si suami berondong, Dea yakin bisa menyukai sisi suaminya ini.
Di ruangannya, Dea mengabaikan laptop yang setengah tertutup hanya demi menyambung-nyambungkan beberapa titik poin tentang keanehan suaminya.
Sejak pertama menikah, Dea sudah sepatutnya curiga.
Perempuan itu bahkan sampai harus memicingkan mata demi mengorek semua ingatan di masa lalu.
Tentang alasan Ben menerima pernikahan bukan demi uang, melainkan durasi pernikahan yang hanya berlangsung selama setahun.
Tentang sifat asli suaminya saat masih bekerja, Dea ingat betul bahwa Ben sekarang ini menyerupai Ben karyawan dulu—bukan Ben yang pengganggu saat pertama kali menikah.
Hal ini semakin membuat Dea meningkatkan kecurigaan.
Ada apa? Dea bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Ben? Dea benar-benar tidak paham dengan cara berpikir suaminya.
Di saat banyak pria mengejar Dea hanya karena dirinya berasal dari keluarga kaya, Ben malah mau berpisah hanya karena durasi pernikahan mereka satu tahun. Bahkan, pria itu tidak terlihat matre jika diingat tentang caranya menghabiskan gaji pertama hanya untuk membuat dinner romantis.
Mendadak saja, Dea tertegun karena satu hal. Mata perempuan itu berbinar sempurna, dan ia langsung menutup laptop rapat sebelum mengambil ponsel untuk merencanakan sesuatu.
...*
...
Pulang dari restoran, Dea mengambil tas pundaknya lalu keluar dari ruang kerja. Perempuan itu melempar-lempar kunci mobil di telapak tangan kanan dengan santai, sampai akhirnya menemukan sosok suaminya.
Dea memicingkan mata dengan sudut bibir terangkat. Dea akan mengikuti arah permainan suaminya. Lihat saja. Dea begitu optimis pada rencananya ini.
“Ben!” panggil Dea, sembari melemparkan kunci pada suaminya. Pria itu dengan sigap menangkap kunci mobil, dan hal itu dimanfaatkan oleh sang istri untuk menghampiri suaminya demi menyejajarkan langkah.
Dea sama sekali tidak mengatakan apa pun. Ia hendak membalas semua sifat dingin yang diberikan suaminya pada dirinya seharian ini, sehingga Dea juga menunjukkan ekspresi serupa.
Keduanya meninggalkan restoran dengan lancar. Perjalanan yang mereka lalui, terasa sangat dingin dan sunyi, akibat tidak ada satu pun yang hendak memulai obrolan. Dea juga tidak mau kalah dari suaminya. Ia bahkan melipat tangan di depan dada sementara pandangannya beralih ke jalanan yang ramai. Demi memperkuat aura dingin dan tidak acuh dalam dirinya.
Sampai kemudian, ketika mereka baru saja melewati sebuah minimarket, Dea berseru dingin.
“Stop mobilnya di sini!” pinta Dea dengan tegas. Langsung dituruti oleh Ben tanpa bertanya. “Aku lagi ngidam buah mangga. Beliin di dalam, sana!” Dea diam-diam tersenyum dalam hati karena sangat puas dengan sikap otoriter yang ia berikan sekarang.
Ben tidak akan memandangnya sebelah mata jika bersikap seperti ini. Dea benar-benar muak karena merasa dipermainkan setelah dibuat memohon sepanjang pagi tadi.
Dea baru saja ingin memberikan uang pada Ben, tetapi suaminya sudah meninggalkan mobil tanpa berbicara. Membuat Dea langsung meremas uang sampai berbentuk bola, kemudian dimasukkan ke dalam tas lagi. Perempuan itu membandung punggung sendiri di sandaran kursi karena marah.
Tidak lama kemudian, Ben sudah kembali dengan membawa sebuah kantongan putih bermerek minimarket tersebut. Ia awalnya menyodorkan pada Dea, tetapi tidak diterima sama sekali oleh sang istri. Sehingga Ben meletakkan kantongan tersebut semena-mena di atas pangkuan istrinya.
Dea menghela napas kasar, kemudian membuka isi kantongan. Ia mengambil satu buah, untuk disodorkan kepada sang suami.
“Bukain!” pinta Dea sembari menjulurkan buah tersebut pada Ben.
Ben tidak langsung menjawab, tetapi mengambil jeda beberapa detik. “Nanti, di rumah.”
Akhirnya pria itu berbicara juga. Dea merasa sangat senang, sampai harus melipat bibir ke dalam demi menyamarkan senyuman.
“Mau sekarang!” Dea memberikan ultimatum tegas sementara suaminya tampak tidak acuh. “Gigit!” Perempuan itu menambahkan perintah lain yang lebih tajam lagi.
“Bu Dea ....” Ben sekarang bersuara dengan nada rendah penuh penekanan, seolah kesabarannya begitu tipis dan Dea malah mencoba bermain-main.
“Ya, Ben?” balas Dea santai. Khas dirinya yang dulu saat masih murni sebagai bos Ben. “Ada masalah atas perintah saya barusan?”
“Mau makan makanan dari mulut aku?” tanya Ben, meremehkan.
Dea mengangkat kedua bahu tidak acuh. “Kenapa enggak? Kalau aku bisa makan bibir kamu secara langsung, apa masalahnya kalau makanan?”
Ben mengusal wajah secara kasar menggunakan sebelah tangan. Dirinya benar-benar kehabisan kesabaran.
Bukannya merasa bersalah, Dea malah semakin bersemangat untuk mengganggu suaminya. “Gigit!”
__ADS_1
Lagi pula, pria ini sama sekali tidak peduli dengan kegelisahan dan kecemasan Dea seharian ini, dan tetap fokus bersikap dingin yang aneh. Jadi, jangan salahkan Dea jika ia juga membalas hal serupa.
Buah tersebut diambil alih oleh Ben. Ia menggigitnya sesuai permintaan perempuan itu agar terpotong menjadi bagian-bagian kecil. Lalu memberikan potongan tersebut pada Dea dengan ekspresi bergidik.
“Pelanin mobilnya. Aku lagi nggak suka kalau cepet-cepetan,” pinta Dea, lagi.
Langsung dituruti oleh Ben, tetapi Dea belum puas.
“Kurangi lagi kecepatannya.”
Dikabulkan. Namun, belum cukup.
“Lagi.”
Ben menghela napas kasar, kemudian menuruti ucapan istrinya. “Sekarang, kita bisa jalan kaki lebih cepet daripada kecepatan mobil.”
“Bodo amat,” balas Dea tidak acuh. “Lagi.”
“Mau selambat apalagi, De?” protes Ben.
“Buahnya, lagi.” Dea memperjelas perintahnya.
Ben sekali lagi mengembuskan napas pendek yang terdengar kasar. Ia memenuhi permintaan tersebut. Menggigit buah mangga, dan hendak mengeluarkannya di tangan. Namun, sebuah tangan mencengkeram dagunya dengan kuat, dan secara tiba-tiba memaksa Ben untuk menoleh. Hal terakhir yang bisa Ben lihat adalah Dea yang memiringkan kepala sebelum menciumnya dengan dalih mengambil langsung buah yang masih digigit Ben.
Perempuan itu menjauhkan diri, dengan senyum menyeringai samar di bibirnya. Sangat puas dengan ketegangan yang suaminya tunjukkan selama beberapa detik. Ben baru sadar atas tindakan istrinya setelah mengerjap dua kali, lalu fokus ke jalanan.
Sebagai bentuk protes atas kejutan itu, Ben mengembalikan buah ke pangkuan Dea.
“Sekarang bukan jam kerja aku, jadi kamu bukan bos di sini.”
Tidak masalah. Dea lanjut menggigiti buah mangga dan membuang kulitnya di kantongan plastik.
Keinginan Dea untuk memberi pelajaran manis pada suaminya, sudah berhasil.
...*
...
Hening. Sepi. Seolah rumah ini tidak berpenghuni.
Ben melayangkan tatapan curiga pada Dea yang terlihat santai membawa kantongan plastik. Namun, istrinya itu memasang wajah polos seolah tidak mengerti apa-apa.
Pria itu kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar. Berpikir bahwa semua orang mungkin sedang berada di ruangan berbeda, sehingga tidak ada di sekitar mereka.
Ben memutar kenop pintu, dan menemukan kamar yang gelap. Ia mencari sakelar di dinding untuk ditekan, dan ... terlihatlah seluruh isi ruangan.
Ben seketika diam di tempat menyadari bahwa kamarnya bersama Dea tidak lagi didominasi oleh warna putih dan krem, melainkan campuran kain merah. Sofa panjang untuk bersantai sudah hilang, tergantikan oleh sebuah meja bundar yang diapit oleh sepasang kursi kayu.
Tempat tidur ditutupi seprai merah dengan taburan bunga di atasnya. Sementara jendela ditutupi gorden berwarna putih.
Ben menoleh pada Dea, yang langsung maju dengan wajah berbinar.
“B-Ben ....” Dea memanggil dengan suara takjub yang terbata. “Kamu ... siapin ini?” tanya Dea lagi.
“Bukan,” jawab Ben lugas. Ia berkacak pinggang, dengan tampang malas. Menandakan bahwa ia tidak akan masuk ke permainan istrinya.
Namun, Dea tidak memedulikan jawaban tersebut sama sekali. Ia langsung menarik Ben ke meja bundar tersebut, dan menendang pintu agar tertutup rapat.
“Dea .... De!” Ben memberikan rontaan ringan agar dilepaskan oleh sang istri, tetapi Dea sama sekali tidak peduli.
Di samping kursi, Dea menarik kursi untuk digunakan Ben duduk secara paksa. Sementara ia langsung bergegas ke kursi seberangnya lagi, dan duduk dengan nyaman di sana.
Sebuah gelas berisi minuman diangkat oleh Dea. “Perayaan atas kembalinya sikap lama kamu yang aku suka ....” Dea tersenyum lebar. Ia ingin bersulang, tetapi Ben sama sekali enggan mengambil gelas.
Bahkan, pria itu membuang pandangan ke lantai.
Dea tidak mau menyerah. Ia mengambil tangan Ben, memaksanya menerima gelas minuman, kemudian dipaksa bersulang dengannya.
__ADS_1
Setelah suara ketukan di kedua gelas terdengar, Dea langsung meminum isi gelasnya beberapa teguk. Ia terus memperhatikan suaminya secara diam-diam, dengan sudut bibir yang tertarik membentuk senyuman tipis.
Namun kemudian, Ben mengkhawatirkan sesuatu setelah sempat menghirup aroma minuman di gelasnya. Ia panik, dan mengambil gelas milik Dea untuk dicium aromanya.
Beruntung, milik Dea bukan wine seperti miliknya.
“Aku nggak suka ingkar janji, btw.” Dea menyindir sang suami, lalu mengambil lagi gelasnya itu.
Ben mendengkus meremehkan, lalu meletakkan gelasnya sendiri di atas meja tanpa berniat menyesapnya satu teguk. Ia memilih balas menatap Dea yang tersenyum tipis padanya, seolah meremehkan sikap dan tindakan Ben saat ini.
“Thanks, sudah balik ke Ben lama—karyawan yang aku kenal dulu. Kamu tahu sendiri, gimana aku nggak suka sama sifat kamu setelah pernikahan ini,” ucap Dea sembari mengetukkan jemari di atas meja, mengintimidasi. Ia semakin tersenyum puas setelah menemukan pandangan melotot dari suaminya. “Harusnya kamu nggak pake berubah sikap segala ke sosok yang aku benci banget: pengganggu, berisik, dan suka menang sendiri. Kalau kamu pertahanin sikap kamu ini selama pernikahan kita—aku pastikan pernikahan yang kamu mau, bakalan terjadi di antara kita.”
Ben memicingkan mata mendengar satu hal dari istrinya. “Pernikahan ... yang aku inginkan?”
Sedikit kecemasan mengganggu Ben. Ia khawatir bahwa rahasianya sudah terbongkar.
Dea berdiri, sama sekali tidak memiliki niatan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Malah, ia tersenyum penuh arti pada sang suami.
“Kamu tahu jawabannya,” balas Dea, sembari mengedipkan sebelah matanya sebelum meninggalkan meja makan yang mereka gunakan untuk dinner.
Perempuan itu melangkah menuju kamar mandi. Sembari melepaskan tas pundaknya, diletakkan di atas nakas. Kemudian blazer hitam yang melapisi dress ********** yang bertali pundak spageti, dan memamerkan punggung yang terekspos sempurna.
Setelah masuk, Dea tidak langsung menutup pintunya. Ia membiarkan setengah wajahnya tetap mengintip di celah pintu, memperhatikan Ben yang masih memandang lurus padanya sembari menyesap minuman secara teratur sampai habis.
Setelah itu, Ben langsung meletakkan gelas dengan kasar di atas meja. Ia menegakkan tubuh secara sempurna, kemudian melepaskan jaket denimnya untuk diletakkan di sandaran kursi. Ia berjalan dengan langkah penuh perhitungan, ke arah Dea yang memang secara sengaja mengundangnya untuk datang.
Walau belum tahu tujuan asli Ben, tetapi Dea yakin bahwa ketegangan suaminya akan menimbulkan sedikit kelengahan yang bisa dimanfaatkan Dea.
Entah tujuan pernikahan yang pernah diucapkan Ben benar atau tidak, Dea hanya ingin mencoba mengambil keuntungan dari hal itu. Bahwa suaminya hanya menginginkan tubuh Dea, maka ia akan memberikannya.
Sebagai gantinya, Dea juga akan mencari keuntungan sendiri dari hal itu.
Ben memasuki kamar mandi. Membiarkan dirinya didorong oleh Dea ke pintu sampai ditutup. Ia membawa tangannya ke pinggang sang istri untuk direngkuh kuat dan rapat. Pria itu membungkuk untuk mengambil ciuman dari sang istri.
...*...
Dea susah payah menahan diri agar tidak menampilkan senyum puas melihat suaminya yang kembali ke mode Ben-awal pernikahan. Rasanya menggelikan, ketika pria itu sudah menanggalkan sikap dinginnya dalam semalam, dan kembali lengket pada Dea.
Dibanding percaya pada pelet tubuh sendiri, Dea lebih yakin bahwa alasan perubahan sang suami karena pancingan obrolan semalam. Hal ini semakin menguatkan Dea bahwa suaminya memiliki tujuan lain, agar di pernikahan ini, mereka seharusnya tidak memiliki rasa berlebihan.
Tidak sepenuhnya berdasar pada kebutuhan biologis—karena jika iya, Ben tentu tidak akan pernah bersikap dingin padanya karena Dea memiliki peluang untuk balas bersikap hal sama, dan tetap bertahan demi tidak melayani suaminya.
Dalam hal ini juga, Dea semakin yakin, bahwa tujuan tersembunyi Ben dari sikap plin-plannya selama ini hanya agar Dea tidak jatuh cinta padanya.
Perempuan itu tersenyum miring mengetahui hal itu. Ia sedikit menunduk demi menemukan kepala Ben di dadanya, memeluk dengan sangat erat. Jemari Dea terangkat untuk bertengger di rambut sang suami, kemudian memberikan beberapa usapan lembut di sana.
Berhasil memicu gangguan yang membuat Ben langsung mendongak. Pria itu menggeliat ringan, dan menjauhkan diri dari istrinya.
“Sorry, nggak sengaja,” kata Ben. Ia menarik selimut untuk menutupi pinggang sampai dada istrinya.
“Nggak masalah,” balas Dea sembari menarik sudut bibirnya.
Setelah ditinggal berjarak oleh Ben, Dea mengubah posisi menyamping, demi mempertemukan pandangannya dengan sang suami. Ia tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya, berhasil membuat Ben menoleh heran padanya.
“Kenapa?” tanya Ben, penasaran.
Dea mengangkat kedua bahunya tidak acuh. Ia menggeser posisi untuk mengikis jarak di antara mereka, kemudian membawa tangannya ke wajah Ben.
“Dengan sikap dingin kamu kemarin ....” Dea mengubah sentuhannya dengan hanya jari telunjuk saja, menyusuri rahang Ben, turun ke leher, dan berhenti sejenak di tulang selangka pria itu. “Kamu termasuk ke kriteria laki-laki yang aku sukai.”
Dea merasakan suaminya meneguk ludah secara kasar, entah karena gugup, atau terkejut mendengar hal itu.
Dea menurunkan jemarinya ke pertengahan dada Ben, sampai ke pusar pria itu.
“Tapi sifat Ben yang pengganggu ini ... terlalu manis untuk ditolak,” lanjut Dea. “Aku sudah nyaman sama semua sifat kamu, apa pun itu. Kayaknya ....”
Dea semakin mengikis jarak, dan mempertemukan kulit dada mereka di bawah selimut yang sama.
__ADS_1
“.... Aku beneran sudah jatuh cinta sama kamu, Ben.”
...****************...