
Sedari tadi, Dea hampir tidak pernah berhenti mengeluh. Dari masalah bentukan rumah, kamar, sekarang cuaca yang sedang terik-teriknya sementara kontrakan sama sekali tidak memiliki pendingin apa pun.
"Panas banget, Ben!" keluh Dea sembari berjalan keluar menyusul Ben yang lebih dulu duduk di teras. "Kenapa nggak pasang AC? Emang bisa tahan kalau cuacanya sepanas ini? Astaga, bisa-bisa kepanggang, Ben."
Menghadapi racauan Dea, Ben malah tersenyum geli. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana terlebih dahulu. Ketika menoleh, ia mendapati Dea sedang menarik-narik kerah kaus tipis milik Ben yang ia kenakan agar bisa memberikan udara ke dalam pakaiannya. Sweter sebelumnya sudah diganti, karena tidak cocok untuk cuaca sekarang.
"Di sini lumayan sejuk, De." Ben mengarahkan agar Dea duduk di kursi sampingnya. "Sambilin lihat pemandangan yang ... biasa aja."
Dea menyetujui ide tersebut walau tanpa bicara sama sekali. Ia duduk di samping Ben, dan mendapati ini adalah solusi yang lebih baik. Angin alami memberikannya kesan segar, sehingga Dea tidak perlu mengipasi diri sendiri.
"Sorry, De. Saya kan tiap pagi sampai sore itu di luar, tempat kerja. Jadinya ya, saya nggak pernah tinggal di kontrakan pas siang, dan nggak ngerasain panas. Jadi nggak pernah kepikiran buat beli kipas angin. Kalau Dea mau tinggal di sini lebih lama, mungkin saya bisa pikir-pikir buat beli—"
"Nggak usah!" tolak Dea dengan tegas. "Cuman lima hari, secara terpaksa. Lumayan juga, trial lima hari di neraka dunia."
Ben tertawa geli mendengarkan jawaban barusan. Ia mengangguk kecil sebagai tanggapan atas ucapan Dea tadi.
"Bener, De."
Dea sekarang sudah bisa bersantai. Ia mengeluarkan ponselnya demi mengecek info terbaru di sosial media dan ponselnya. Baru pertama kali buka pesan, ia salah fokus pada pesan dari dua saudara lelakinya.
Dion :
Kalau suamimu itu macam-macam, De, langsung laporan ke Mas.
Ide buat bulan madu secepat mungkin padahal kalian baru kenalan, itu ide paling buruk yang pernah Papa bilang. Susah percaya sama orang kayak Ben itu.
Apalagi kemarin, ada berita kalau seorang suami membun*h dan memut!lasi istrinya cuman demi dapat uang dari si istri.
Mas beneran khawatir sama kamu, De. Jaga jarak dari si miskin itu!
Dea hanya bisa menghela napas panjang setelah membaca pesan kakaknya.
'Terlambat, Mas, udah telat. Sekarang aku dikurung di rumahnya yang terkutuk ini.' Dea membatin, sembari berpindah ke pesan adiknya.
Dika :
Anjir pengantin baru, sampai lupa kabarin pas nyampe. Foto-foto juga nggak ada.
Sibuk amat ya Mbak, bikin anaknya
Abis sampai di sini, langsung kasih kabar kehamilan ya.
Eh tapi, emang pabriknya Mbak masih bisa produksi bayi nggak sih? Atau udah kadaluarsa?
"Anak anjing!" maki Dea tanpa sadar, memicu kepala Ben menoleh cepat padanya.
"Siapa?" tanya Ben, syok.
Dea hendak berbagi kekesalan, jadi menunjukkan layar ponselnya pada Ben.
__ADS_1
"Ini, si Dika. Beneran, sumpah! Makin tua tuh anak, makin ... makin pengen aku sembelih! Kampret!" Dea terus memaki dan merutuk dengan gigi-gigi saling menekan saking marahnya.
Sementara Ben yang awalnya mengerutkan kening selama membaca pesan, kini berubah tersenyum geli ketika tiba di chat yang jadi masalah utamanya.
"Kamu ketawa?" Dea tersinggung, bertanya dengan intonasi tinggi.
"Enggak, De." Ben segera mengerem senyumnya secepat mungkin. "Dika emang beneran ... suka ngomong sembarangan! Padahal nggak bener!"
"Nah, kan!" Dea menurunkan nada bicaranya, kemudian mengambil ponselnya lagi. Hendak mengirimkan stiker pada sang adik, tetapi urung.
Blokiran yang ke sekian kalinya diberikan untuk Dika, agar pria itu tidak lagi mengganggu ketenangan jiwa Dea.
"Kayaknya kita perlu buktiin kalau tuduhannya Dika itu nggak bener, De." Ben berceletuk.
Dea menoleh dengan mata memicing penuh kecurigaan. Ia memperbaiki duduknya agar mepet ke sudut kursi, merasakan hawa-hawa tidak mengenakkan di sini.
Ben memunculkan senyum yang terlihat begitu mengerikan di mata Dea. Pria itu secara perlahan mencondongkan tubuh ke arah Dea, memicu si perempuan itu bergerak mundur secara perlahan ke belakang.
"Kissing aja, nggak pernah, De?" tanya Ben, menebak. Sembari mengubah posisinya menjadi tegak kembali.
"Bukan urusan kamu!" balas Dea tegas. Ia menunduk, fokus pada ponsel walau hanya sekadar scroll sosial media tanpa tujuan sama sekali.
"Nggak papa," ucap Ben sembari menepuk pelan puncak kepala Dea. "Nanti malam saya ajarin, oke?"
"Malam? Nanti?" Dea terbelalak.
...*...
Rambutnya dicepol asal, tampak berantakan. Namun, wajah segarnya menjadi penyelamat hingga gadis itu masih tampak segar dan ... manis.
"Nggak ada pakaian yang lebih ribet dibuka daripada itu, De?" tanya Ben, menyindir. Ia tidak melirik Dea saat mengatakan itu, tetapi sangat yakin jika sang istri sedang melotot mendengar ucapannya ini.
Ben sangat yakin, bahwa Dea memakai pakaian itu karena ancamannya tadi siang.
"Apaan?" Dea mengelak dengan suara sinis. "Saya pakai sesuatu karena suka, bukan karena hal lain!"
Dea menyusul Ben duduk di kursi ruang tamu. Ia duduk di pojok kursi lain, yang berbeda dengan sang suami. Sangat kentara sedang menjaga jarak.
Dea mengambil makanan yang disodorkan oleh Ben untuknya, dan cukup terkejut ketika melihat bahwa di dalam sana adalah salad yang biasa ia beli di tempat langganannya, sementara Ben sendiri hanya nasi goreng biasa dengan harga hingga lima kali lipat di bawah pesanan Dea.
"Kamu kayaknya tahu banyak tentang saya," kata Dea berceletuk, sembari mulai menyantap makan malamnya. "Kamu suka menguntit saya ya?"
"Kenapa harus menguntit sementara saya bisa dapat info unlimited dari secara gampang, De?" balas Ben santai.
"Info?" Dea tercenung sejenak. Pikirannya langsung tertuju pada dua orang yang paling mencurigakan: Dika atau papanya sendiri. "Siapa yang nyebar info sembarangan?"
"Hm ...." Ben tampak berpikir panjang ketika Dea mulai memicingkan mata menunggu jawaban. "Kenapa kita harus bahas orang lain, De? Kenapa nggak bahas ... Dea suka gaya apa nanti?"
"Ga ... ya?" Dea tersendat mencerna satu kata itu, bahkan hampir saja tersedak makanan sendiri. Pikirannya sudah mengarah pada satu hal, tetapi ia mencoba mengelak dari hal tersebut. Bahwa Ben sedang membahas ....
__ADS_1
"Gaya buat bikin pesanan cucu buat papa kamu lah." Ben menjawab sangat santai, bahkan sambil menyantap makanannya seolah obrolan mereka hanya tentang cuaca malam ini.
Dea mendadak kehilangan nafsu makannya. Salad beserta tempatnya diletakkan di atas meja begitu saja.
"Dea nggak makan? Buat nambah tenaga, De!" ucap Ben memberitahu, yang malah semakin menambahkan tingkat kejengkelan Dea.
Suara entakan sepatu perempuan itu terdengar begitu nyaring, disusul suara bantingan pintu yang teramat keras.
Ben hanya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum saat menutup makanan tersebut, kemudian lanjut menyantap makanannya tanpa beban.
Pria itu begitu cepat menghabiskan makanannya. Ia membersihkan meja, dan membuang sampah-sampah kotor. Lalu ke kamar mandi untuk bersih-bersih: cuci wajah, kaki, dan juga sikat gigi.
Saat berniat untuk langsung masuk ke kamar, Ben melirik ke meja di mana makanan Dea masih tergeletak di sana.
Ben membawa serta makanan itu untuk masuk ke kamar bersamanya. Di sana, Dea sudah berbaring di pinggir tempat tidur dan menyisakan banyak ruang untuk Ben—suatu usaha agar mereka tidak terlalu berdempetan tidur.
Meski dalam posisi membelakangi pintu, Ben masih tahu jelas bahwa perempuan itu belum tertidur. Bahunya masih sesekali bergerak.
Ben meletakkan makanan di lantai, dekat tempat tidur. Begitu perlahan, ia naik ke tempat tidur. Ben susah payah menggigit bibir dalamnya menahan senyum geli, ketika melihat bahu Dea bergerak maju ke depan untuk menghindar.
Semakin tergugah untuk mengganggu, Ben mulai mengangkat tangannya yang gemetar untuk melingkar di perut Dea secara hati-hati.
"De ...." Ben memanggil lirih. "Mau nyoba nggak, De? Saya kasih garansi jaminan Dea bakalan langsung enak pas percobaan pertama. Kalau nggak ...."
"Kalau enggak apa?" tuntut Dea, yang sudah tidak lagi pura-pura tidur.
Ketika Ben menyanggah kepalanya menggunakan telapak tangan, perempuan itu terlihat memicingkan mata ke arahnya.
"Garansinya kalau nggak enak, ya ... kita coba terus sampai enak."
"Keenakan di kamu."
"Ya namanya juga usaha buat bikin Dea juga enak."
"Tapi kamu ambil enaknya kebanyakan nanti—" Dea tiba-tiba mengerem ucapannya.
Mereka ini bahas apa sebenarnya?
"Tau ah. Saya mau tidur." Dea menarik selimut motif Tato milik Ben hingga menutupi separuh wajahnya.
Sementara Ben berdecak beberapa kali.
"Wah ... wah ... melawan suami. Butuh dipaksa ini." Ben bergumam sendiri, terdengar bercanda sehingga Dea tidak mau ambil pusing.
Namun selanjutnya, tubuh perempuan itu sangat mudah ditarik oleh Ben hingga dalam sekali gerak, Dea sudah terduduk syok menghadap sang suami.
Belum cukup mengejutkan, kini Dea bahkan harus menahan napas ketika mengetahui jaraknya dari Ben hanya beberapa senti lagi. Dea melotot lebar, tetapi kesempatannya untuk melarikan diri ditutup oleh Ben yang menahan tengkuk perempuan itu agar tidak bergeser sesenti pun.
Cekalan tangan Dea menguap di selimut, menahan gejolak aneh dalam dirinya ketika Ben mulai mempersempit jarak.
__ADS_1
Inikah saatnya membuka segel 31 tahun ini?