Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
28. Ajakan yang Sulit Ditolak


__ADS_3

Dea tidak sempat menanyakan lebih lanjut mengenai keadaan Ben semalam karena pria itu langsung berbaring di sampingnya dan menarik selimut seolah ingin memberikan batasan antara mereka. Dea sendiri agak sadar diri, bahwa ia mungkin sudah berlebihan terhadap Ben, jadi ia memberikan waktu sejenak untuk pria itu menyendiri. Sementara dirinya menghabiskan hampir dua jam dalam pikiran semrawut penuh pertanyaan.


Sampai keesokan harinya, Dea bisa terbangun lebih awal daripada Ben. Entah inisiatif dari mana, gadis itu menopang tubuhnya dengan kedua lengan yang tertekuk, kemudian memeriksa secara saksama kondisi Ben. Mulai dari keningnya, serta napas pria itu.


Keningnya lebam, pun pipinya. Dea tampak sangat gemetar ketika menyusuri kulit Ben terdapat bekas kebiruannya itu.


Iseng, Dea duduk untuk mengangkat hati-hati ujung kaus Ben sampai terpampang tubuh pria itu yang semakin banyak jumlah lebamnya. Walau hanya samar, Dea tetap tidak bisa abai dari perasaan bersalah karena ia yakin sekali, lebam ini disebabkan kejatuhan Ben kemarin dan bekas dudukan perempuan itu semalam.


"Ben." Dea memanggil lirih. Ia kembali rebah di samping Ben. Menyentuh wajah pria itu dengan lembut, penuh rasa bersalah. "Ben, kamu belum mau mati, kan?"


"Nggak sabaran amat jadi janda, De." Jawaban tiba-tuba itu membuat Dea tersentak kaget, sebab pria di hadapannya ini belum membuka mata sama sekali.


Ben mencegah Dea menjauh, dengan menahan tangan perempuan itu agar tetap berada di wajahnya. Sembari itu, Ben juga mengubah posisi berbaring jadi menyamping menghadap sang istri.


"Sakit banget?" tanya Dea hati-hati ketika menyentuh beberapa lebam di wajah Ben. "Punya badan kok lemah banget! Jatuh dikit langsung mimisan! Aku sering jatuh, mentok cuman benjol doang dua menitan!" Kali ini, suara Dea terdengar tegas penuh hardikan.


Ben mendengkus geli sebagai jawaban. Ia memeluk sang istri agar jarak mereka lebih dekat sekarang. Pria itu tampak enggan mengeluarkan sedikit pun suara, dan hanya tersenyum geli melihat bagaimana khawatirnya Dea saat ini.


"Ben ...." Dea memanggil lirih, mengharapkan jawaban. "Kamu beneran sakit parah? Tremor kemarin, juga termasuk?"


"Dea tahu nggak sih, kalau mimisan itu disebabkan karena dua hal?"


"Apa aja?" tanya Dea penasaran, sembari memperbaiki posisi untuk mendengarkan lebih saksama penuturan pria itu.


"Sakit parah yang mau meninggal." Ben baru menjelaskan satu hal, dan tiba-tiba cengkeraman tangan Dea di kerah kaus Ben langsung menguat. Pria itu tersenyum, kemudian melanjutkan, "Atau ... karena mupeng lihat tubuh seksi. Coba tebak, aku mimisan kenapa semalam?"


Untuk mengetahui jawaban itu, Dea perlahan menundukkan kepalanya demi melihat tampilan sendiri. Kimono tidak sempat ia kenakan untuk menjadi tambahan luaran pakaian, sehingga perempuan itu hanya mengenakan lingerie super terbuka semalaman penuh.

__ADS_1


Satu tamparan kecil dilayangkan Dea di dada Ben. Bibir gadis itu menipis kuat, menunjukkan kemarahan yang dibuat-buat.


"Kamu udah mau mati, masih mikir yang mesum-mesum!"


"Susah ngatur cara kerja otak, De, apalagi kalau udah berurusan sama tubuh perempuan."


"Seriusan, kamu yang kayak gini tuh beneran bikin males tau nggak, Ben?!" Dea melepaskan tangannya dari dada suaminya, dan menolak tangan pria itu dari tubuhnya.


"Sorry," balas Ben tidak acuh. Sepenuhnya tidak pernah merasa bersalah atas apa yang ia katakan tadi—terkhusus untuk Dea saja.


Namun, sikap santai pria itu langsung sirna tergantikan ekspresi syok ketika Dea mulai bangun. Andai perempuan itu hanya akan pergi dari ranjang begitu saja, Ben mungkin tidak akan peduli. Namun, Dea tidak beranjak sama sekali dari posisi duduknya, malah membawa kedua tangannya ke belakang leher, untuk melepaskan deretan kaitan di belakang punggungnya.


"De?" Ben melongo takjub ketika perempuan itu yang secara sukarela melepas satu-persatu kain tipis itu dari tubuhnya.


Ben bahkan belum sempat berpikir, ketika kerah kausnya ditarik paksa sehingga ia harus duduk secara mendadak. Sementara Dea, seiring bangunnya tubuh Ben, ia turut merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Pelan-pelan tapi, ya. Aku yang berasa mau mati kalau kamu langsung ngegas tanpa ngasih waktu istirahat."


...*...


Datang terlambat ke restoran bukanlah hal yang paling mengejutkan bagi Ben dan Dea, melainkan kehadiran seorang tamu di salah satu kursi pengunjung. Ben yang lebih lambat turun dari mobil, segera menghampiri Dea ketika istrinya akan didatangi oleh pengunjung tersebut: Elvan. Berniat memberikan perlindungan, tetapi tepat saat Elvan tepat di depan mereka, Dea malah menarik lembut lengan Ben.


Ketika dilirik, Dea memberikan gelengan kecil.


"Biar aku yang selesaiin," bisik Dea, meyakinkan.


Ben awalnya ragu, berniat melawan argumen Dea tetapi istrinya sudah lebih dahulu maju untuk menghadang Elvan.

__ADS_1


"Kamu ke tempat kerja kamu sana. Karyawan lain bisa-bisa pada iri kalau kamu bebas terlambat masuk," lanjut Dea yang tidak lagi mampu ditolak oleh Ben.


Sebelum meninggalkan tempat tersebut, Ben terus menatap tajam penuh peringatan pada Elvan. Bahkan, ia baru berhenti ketika Ben sudah masuk di kawasan dapur.


"Dea, saya mau bicara sebentar sama kamu. Secara pribadi." Elvan datang mendekat, memperkecil jarak untuk membuat suasana di antara mereka semakin intens.


Ben muncul lagi tidak lama kemudian. Sudah mengantar makanan ke meja di sekitar sembari matanya terus mengarah tajam pada Elvan. Dea merasa tidak nyaman dengan hal itu.


"Di sana masih sepi." Dea menunjuk salah satu kursi yang masih kosong. "Bicara di sana."


Ketika perempuan itu akan melangkah ke sana, Elvan buru-buru menahan lengannya.


"Di ruang kerja kamu aja kalau gitu. Biar kita punya privasi."


"Kayaknya kita nggak lagi bahas rahasia perusahaan, jadi nggak perlu ada yang perlu diprivasiin sampai segitunya," balas Dea. "Di sana, atau aku lanjut kerjaan aku?"


"Oke, oke." Elvan langsung menyetujui, diikuti oleh embusan napas kasarnya yang sangat enggan. "Ke sana."


Dea mengangguk kecil, dan mendahului Elvan menuju kursi di bagian paling sudut. Mereka duduk saling berseberangan, agar bisa fokus pada obrolan. Namun, sulit bagi Dea. Karena Ben lebih sering muncul, entah mengantar makanan, melayani pesanan, atau mengepel. Pria itu sangat sibuk pagi ini.


"Dea!" panggil Elvan dengan suara tegas, membuat Dea sempat terkejut dan menoleh paksa padanya. "Kamu nggak dengerin saya?"


"A—apa tadi, Van?" tanya Dea, gugup. Benar-benar tidak menangkap apa pun karena dirinya terlalu sibuk pada Ben.


"Saya siap ceraikan istri saya demi kembali sama kamu, De."


Segera, setelah Elvan mengatakan hal itu, Dea langsung melotot sempurna. Keningnya juga mengerut, seiring dengan tegaknya punggung perempuan itu karena tegang.

__ADS_1


"Saya udah muak penuhi kebahagiaan orang tua saya, De. Sekarang, saya mau kejar kebahagiaan saya sendiri," Elvan langsung mengambil tangan Dea untuk digenggam lembut, "Yaitu kamu."



__ADS_2