
Kurang beberapa menit sebelum jam istirahat, suara seorang perempuan datang menghampiri Ben. Menyampaikan pesan pada pria itu.
“Bu Dea panggil kamu, Ben, ke ruangannya.”
Ben mengangguki dan berterima kasih pada si perempuan, lalu fokus menghabiskan meja terakhir yang perlu ia lap. Setelahnya, bisa meninggalkan pekerjaan, menuju ruangan sang istri berada saat ini.
Sesekali, Ben mengusap wajah secara kasar ketika sebuah ketakutan terus menghinggapi dirinya sejak semalam. Ia tidak bisa mengabaikan ancaman status Dion terhadap pernikahannya. Ben baru menyadari kuatnya ancaman pengaruh sang ipar terhadap kelangsungan hubungan mereka, apalagi setelah fakta status antara Dion dan Dea, Ben benar-benar gelisah setengah harian ini.
Bahwa Dion memiliki kesempatan sama besarnya dengan Elvan untuk mendapatkan dan mendekati Dea. Sialnya, Dion sulit dibatasi. Tidak seperti Elvan yang secara terang-terangan dapat dihentikan oleh Ben.
Pria itu terus sibuk pada pemikirannya sampai tiba di depan ruangan Dea. Ia mengetuk dua kali sebagai bentuk izin masuk, kemudian memutar gagang pintu sampai terbuka.
“Panggil saya, Bu?” tanya Ben setelah menyeruakkan kepalanya masuk ke dalam ruangan.
“Serius, Ben?” Dea balas bertanya dengan ekspresi malas. Ia bahkan menghentikan kegiatan mengetiknya demi bisa menatap lurus pada sang suami. “Aku mau bicara. Tutup pintunya.”
Ben menuruti permintaan Dea: masuk ke ruangan, tanpa lupa menutup pintu dengan rapat. Ben menarik salah satu kursi di depan Dea, dan menanti apa yang akan istrinya itu sampaikan.
“Kamu kebanyakan diam sejak pagi, Ben.” Dea mengomentari kegelisahan tanpa suara yang Ben alami setengah hari ini. “Kenapa?”
“Nggak penting, De.” Ben menjawab, mengelak.
“Aku tahu kamu bakalan jawab gini.” Dea menurunkan laptop, dan membiarkannya setengah terlipat, lalu menggeser ke pinggir agar tidak ada lagi penghalang antara dirinya dan Ben. “Aku udah tanya Dika, dan menurut dia ... kamu tersinggung sama ucapan aku?”
“Nggak lah, De. Aku nggak pernah kepikiran buat kerja di perusahaan Papa kamu, dan bener apa yang kamu bilang. Aku cuman nggak tahu cara nolaknya, dan beruntung, kamu bantuin aku nolak Pak Kahar,” jawab Ben, lugas.
Namun, Dea masih tidak menunjukkan kepuasan atau kelegaan sama sekali.
“Ben,” kata Dea dengan suara lemah. Ia memajukan tubuh, condong ke arah sang suami agar memperjelas keseriusan dalam dirinya. “Aku sama sekali nggak bermaksud merendahkan kamu. Aku cuman ... supaya kita ... berpikir logis, Ben. Ini bukan sinetron yang asal dikasih jabatan, langsung sukses bla ... bla. Ini realita. Ini sama kayak ngasih pisau ke anak kecil, bisa bahayain sekitar dan juga bebanin diri kamu sendiri. Kamu paham maksud aku, ‘kan?”
Ben mengangguk kecil lebih dulu, sembari menunjukkan senyum tipisnya.
__ADS_1
“Iya, Dea. Paham kok. Aku beneran setuju sama pendapat kamu.” Ben menggenggam tangan Dea dengan lembut untuk semakin meyakinkan istrinya. “Lagian, kalau tetap kerja di sini, saya jadi bisa pantengin kamu tiap hari.”
Dea tersenyum puas mendengarnya. Ia mengangguk, menyetujui gagasan Ben.
“Aku seneng kalau kamu ngertiin aku,” kata Dea, tetapi ia masih belum puas dengan akhir obrolan mereka saat ini. “Kamu masih ... aneh. Apa yang kamu pikirin, Ben? Kamu nggak mau cerita?”
“Nggak.” Ben menolak pada awalnya, tetapi kemudian ia berubah pikiran. “Aku bisa minta tolong satu hal sama kamu, De?”
Perempuan itu merasa terhipnotis oleh ucapan serius Ben, sehingga ia secara spontan memberikan dua buah anggukan patuh.
“Jangan pernah berinteraksi sama Dion, tanpa ngasih tau aku. Paham?”
Ben merasa khawatir, dan tidak bisa mengabaikan kecemasannya ini.
Pria itu ketakutan dengan sebuah alasan kuat.
Takut jika ia kehilangan Dea tepat di depannya secara langsung.
...*
...
“Kamu nggak ngerasa kalau Ben yang minta jabatan di perusahaan Papa, De?” tanya Dion, memancing.
“Nggak, Mas. Ben nggak punya niatan sama sekali buat kerja di perusahaan Papa.” Dea menjawab dengan sangat yakin.
“Yakin amat kamu. Emang udah kenal Ben berapa lama?”
Dea bergeming sejenak, sembari memikirkan jawaban untuk Dion, tetapi sungguh, ia sendiri tahu bahwa Dea belum mengenal dengan baik suaminya.
“Sebelum kalian ke hotel, saya sudah dikasih tahu Papa tentang ini,” kata Dion, yang membuat Dea menghentikan gerakannya memasukkan laptop ke dalam tas demi mendengarkan secara saksama penjelasan sang kakak. “Papa bilang, Papa sudah siap pensiun, dan jadikan Ben sebagai penggantinya.”
__ADS_1
Dea membeku sejenak, tidak pernah berpikir bahwa Kahar akan berencana memberikan jabatan paling tinggi untuk suaminya. Sejauh ini, Dea hanya mengira bahwa Ben sekadar diperkerjakan sebagai staf biasa. Itu pun, suaminya belum tentu mampu. Apalagi ... rencana gila Kahar ini.
“Mas jangan ngarang deh,” balas Dea disusul dengkusan geli. Ia kembali melanjutkan kegiatan merapikannya lagi.
“Kamu lebih nggak percaya Mas daripada Ben sekarang, De?”
Balasan pertanyaan dari Dion semakin membuat suasana telepon menjadi tegang. Dea masih tidak bisa percaya bahwa Ben akan melakukan hal seperti yang diucapkan oleh Dion, tetapi kakaknya bukan seorang pembohong.
“Saya nggak bermaksud batasi suami kamu, De. Kalau mau kerja di perusahaan Papa, nggak masalah. Asal sesuai kemampuan. Saya juga ngerasa aneh sama Papa, yang secara sembarangan ngasih jabatan tinggi buat orang yang bahkan nggak punya pendidikan sedikit pun di bidang bisnis. Saya takut ... Ben terlalu gencar pengaruhi Papa supaya kerja—“
“Ben nggak kayak gitu, Mas.” Dea sekali lagi membela suaminya.
“Kamu kenal Ben berapa lama, De? Kamu juga kenal saya berapa lama, Dea?”
“Mas, aku ....” Dea kebingungan menjawab, sehingga ia harus meremas kening dengan cukup kuat. “Feeling, Mas.”
“Oh serius? Kamu cuman andelin feeling sekarang, De? Pas kamu makan di restoran berduaan sama Elvan, apa kamu pernah feeling kalau itu bakalan menciptakan hal buruk buat nama baik kamu? Memang, apa kamu yakin 100% kalau feeling kamu—yang seorang perempuan—selalu tepat?”
Jawabannya adalah tidak, walau Dea tidak menyampaikannya. Perempuan itu memilih menundukkan kepalanya frustrasi bercampur kebingungan.
“Saya mau kamu awasi Ben, Dea.” Dion memberikan perintah bernada dingin. “Setelah kalian menikah, kerasa banget kalau kamu makin beda, De. Pengaruh buruk Ben udah mulai ubah kamu.”
“Mas, enggak lah.”
“Serius? Kalau gitu, lihat tampilan kamu di cermin, dan inget-inget setiap sikap kamu akhir-akhir ini. Seriusan nggak berubah, atau udah berubah 70%.” Dion memberikan saran yang membuat Dea langsung gelisah. “Saya bahkan nggak kenali adik saya sendiri, De, saking berubahnya kamu sekarang ini.”
Benarkah? Dea bertanya-tanya dalam hati. Ia tidak lagi bisa menjawab setiap ucapan sang kakak, dan memilih membuka tas untuk mengeluarkan sebuah cermin yang menyatu dengan bedak padatnya.
Diam-diam, Dea memperhatikan diri sendiri secara intens. Lalu, diam-diam, ia mengakui perubahan dalam dirinya ini.
Tangan Dea mengepal kuat, saat alarm peringatan berbunyi di kepalanya.
__ADS_1
Bahwa kontrak pernikahan mereka ... terancam gagal.
...****************...