
“Cuman kamu yang bisa bantu Mas.”
Ucapan Dion kemarin berhasil membuat Ben tidak bisa tenang hampir seharian ini. Apalagi Dion secara sengaja menciptakan sebuah kerahasiaan antara dirinya dan Dea, dengan tidak mengatakan bantuan apa yang bisa istrinya Ben itu lakukan untuk sang ipar.
“Emang Dion mau minta tolong apa sih, sampai segitunya nggak mau aku denger?” tanya Ben, saat mereka sudah pulang dari restoran.
Pertanyaan sejenis sudah diajukan Ben berulang kali pada Dea, tetapi tidak semua mendapatkan jawaban yang memuaskan. Bahkan, kali ini juga tidak.
“Nggak penting, Ben. Kamu nggak perlu pikirin,” jawab Dea sembari terus memainkan ponsel di tangannya. “Mas Dion cuman butuh bantuan aku. Kamu nggak perlu pusing atau merasa khawatir.”
Jelas, Ben tidak bisa. Tidak mampu.
“Jangan terlalu dekat sama Dion.” Ben sekali lagi memberikan peringatan bernada tegas untuk sang istri. “Aku nggak suka kalau kamu deket sama laki-laki lain.”
Dea sontak menurunkan ponselnya ke paha usai mendengar itu. Kerutan tidak suka muncul di keningnya, dan tatap tidak nyaman ia arahkan untuk sang suami.
“Serius, Ben? Sama kakak aku sendiri pun, kamu juga cemburu?” ejek Dea. Ia merotasi bola mata dengan malas, dan mengalihkan pandangan ke depan. “Gila!” lanjut Dea, menghardik secara kasar.
“Kamu nggak ngerasa aneh, De, kalau sikap posesifnya Dion ke kamu udah terlalu berlebihan? Bahkan, pas kamu tinggal di kontrakan aku, dia kayak orang gila langsung nyeret kamu pulang. Padahal, status kita udah suami-istri, tapi kayak abis digerebek selingkuh. Aku nggak nyaman asli sama sikap dia yang berlebihan,” kata Ben menjelaskan, sedikit memberikan kode agar tidak perlu dirinya secara langsung yang mengatakan status Dion bagi Dea.
Namun, sang istri malah mengambil napas panjang seolah memperbanyak stok sabar dalam menghadapi sang suami. Dea sama sekali tidak tertarik untuk memandang Ben, dan malah sibuk dengan ponsel sendiri. Seolah apa yang sang suami sampaikan, hanyalah sebuah omong kosong belaka.
“Aku paham kalau kamu cemburu sama Elvan, dan aku mulai maklumi walau masih nggak nyaman sama kecemburuan berlebihan kamu ke Elvan. Tapi Ben, kamu perlu ingat, kalau saudara aku nggak perlu dan nggak seharusnya kamu cemburui. Wajar kalau aku deket, peluk, bahkan cium sewajarnya Mas Dion atau Dika, karena mereka kakak-adik aku. Kecemburuan satu ini, nggak masuk akal banget. Jadi, aku anggap, kamu cuman ngelantur gaje. Jangan lanjutin, atau kamu bakalan bikin aku muak banget sama sikap kamu ini.”
Ben diam sesaat, sibuk dengan jalanan, sekaligus memikirkan jawaban untuk Dea agar perempuan ini mau mendengarkannya sedikit.
“Kamu aja cemburu aku deket sama Dika, masa aku nggak bisa cemburu kamu deket sama lawan jenis, De?” balas Ben, setengah bercanda agar obrolan kali ini tidak akan berdampak buruk untuk kelanjutan hubungan mereka.
__ADS_1
Namun, sekali lagi, Dea mengalihkan pandangan malasnya pada Ben.
“Serius?” tanya Dea, meremehkan. “Kamu sama Dika berkesempatan buat belok. Sementara aku sama Mas Dion? Asal kamu tahu aja, ya, Ben, aku bahkan udah pernah tidur bareng, peluk, bahkan cium Mas Dion, pas aku masih umur di bawah lima tahun! Jangan ngadi-ngadi seriusan. Aku paling nggak suka sama pembahasan nggak masuk akal kali ini.”
Dea mematikan ponselnya, lalu memasukkan ke dalam tas. Ia turut melipat tangan depan dada, sembari mengarahkan pandangan ke depan untuk memperjelas kemarahan dalam dirinya.
Sementara Ben hanya bisa memejam perlahan ketika jalanan kosong dan kecepatan memelan demi menenangkan diri agar mendapatkan ide yang lebih baik nantinya dalam rangka memisahkan kakak-adik itu.
...*
...
Ben terpaksa melanggar batas privasi antara dirinya dan Dea di tengah malam, karena sangat penasaran dengan isi pesan antara sang istri dan Dion selama dalam mobil.
Ia diam-diam meninggalkan pelukan nyaman yang Dea berikan, lalu berpindah duduk di pinggir tempat tidur. Ben mengambil ponsel Dea, dan secara perlahan menggunakan sidik jari perempuan itu demi membuka kunci layar.
Ben mengecek pesan-pesan di sana yang masuk hari ini. Ia hanya mendapati beberapa lelucon khas dan sapaan basa-basi antara saudara. Tidak menemukan keanehan pada awalnya. Dea hanya sedikit menceritakan sikap posesif Ben pada dirinya, sehingga mendapat tanggapan ‘gila’ dari Dion. Serta hasutan sang ipar agar Dea tidak terlalu mengikuti setiap arahan yang Ben berikan.
Namun, bukan itu hal yang paling membuat Ben gelisah. Salah satu pesan Dion terasa mencurigakan baginya.
Mas Dion :
Oke, nanti kita ketemuan di tempat biasa ya. Nggak usah bilangin suamimu, nanti mencak-mencak lagi kayak anak ditinggal ibunya:v
Sialnya, Dea malah memberikan balasan santai :
^^^Siap, Mas. Jam istirahat ya.
__ADS_1
^^^
Ben semakin terancam di sini.
Ia harus bertindak demi memisahkan keduanya secepat mungkin, dan menjelaskan status Dion pada Dea tanpa perlu berbicara secara langsung agar hubungan mereka tetap berlangsung damai.
Namun, bagaimana caranya?
Ketika Ben sedang sibuk memikirkan solusi dari pertanyaan tersebut, benda pipih dari tangannya sudah berpindah tempat. Ketika Ben hendak menarik lagi, Dea sudah memeriksa layar dengan kening berkerut dalam. Mencoba membaca dengan susah payah isi pesan tersebut.
“Oke, nanti kita ketemuan di tempat biasa ya. Nggak usah bilangin suamimu, nanti mencak-mencak lagi kayak anak ditinggal ibunya.”
Dea langsung menatap tajam ke arah Ben. Ia melempar ponsel ke lantai secara asal, lalu menarik kerah baju Ben demi mempertemukan tatap sayu bercampur marah miliknya, dan pandangan ketakutan sang suami.
“Mau ketemu sama siapa, hah?” tanya Dea dengan nada melengking tinggi sembari mengentak kasar kaus yang Ben kenakan. “Kamu mau ketemu siapa? Jawab!”
Bagaimana menjelaskannya? Ben kebingungan mencari solusi, karena jujur atau bohong, semuanya memiliki konsekuensi memperburuk suasana hubungan mereka yang tidak terlalu dekat.
Lebih buruknya, kebencian tanpa akhir dari sang istri, dan Ben terlalu takut walau sekadar membayangkannya.
“De ....” Ben memanggil lirih agar penjelasannya masuk ke akal lemah Dea saat ini, efek baru bangun tidur secara mendadak. Ia melirik ke lantai di mana ponsel Dea berceceran akibat menabrak tembok dan terpental di lantai. “Itu ... hape kamu.”
Dea terdiam, membeku sejenak. Bola matanya bergerak ke kanan-kiri dengan sesekali mengerjap seolah sibuk mengembalikan seluruh kesadarannya agar bisa memproses ucapan Ben dengan baik.
Seketika, ketika Dea sudah bisa berpikir jernih, perempuan itu langsung bangun secara kasar, dan melirik melotot dengan mulut terbuka lebar pada kondisi ponselnya saat ini.
“BENNNN!”
__ADS_1
...*****************...