
Hampir pukul sembilan malam, Ben baru memarkirkan motornya di garasi. Ia mengamankan motor lebih dahulu, sebelum menuju ke rumah.
Suasana sudah sepi ketika baru saja melewati pintu utama. Ben menebak, bahwa keluarga besar mungkin sedang menonton di ruang keluarga. Ia sempat berpikir untuk menemui sang istri, sekadar memberitahu bahwa dirinya sudah pulang. Ben sedikit berharap bahwa dirinya akan disambut dengan sangat baik, tetapi ....
Istrinya adalah Radea Dasha. Ia tidak bisa berharap lebih.
Ben memperbaiki pegangannya di tas laptop, lalu meneruskan perjalanan menuju kamar. Sesekali merenggangkan otot leher dan pundaknya yang kaku.
Di pertengahan tangga, kegiatan tersebut terhenti begitu saja. Bersamaan dengan terpakunya langkah Ben. Pria itu tertegun melihat keberadaan Dea di tangga paling atas, dengan setelah lengkap: jaket tebal dan celana jeans. Seolah siap untuk pergi.
"Mau ke mana, De?" tanya Ben penasaran. Ia harus merasakan hal itu, sebab keluar malam tanpa tujuan bukanlah kepribadian Dea. Jadi, ia sedikit cemas bahwa perempuan ini akan menemui seseorang—yang Ben curigai adalah Dion atau Elvan.
"Baru pulang?" Dea mengurangi kadar keterkejutan di wajahnya. Ia memandang Ben naik-turun, seolah menilai tampilan pria itu. Sementara tangan Dea terlipat di depan dada untuk memberikan kesan mengintimidasi. "Bukan urusan kamu."
Setelah mengatakan tiga kata dengan nada sinis tersebut, Dea berbalik seratus delapan puluh derajat, dan lanjut berjalan ke kamar. Ben mengikuti dengan ekspresi serta langkah yang ragu.
Setelah masuk ke kamar, Ben kebagian tugas menutup pintu. Sementara Dea sibuk mencepol rambutnya serta melepaskan jaket. Ia juga berganti celana menjadi lebih longgar di kamar mandi.
"Nggak jadi pergi, De?" tanya Ben, yang sedikit tersenyum karena dugaannya ternyata salah.
Ben tetap diam di dekat pintu sampai Dea duduk di meja riasnya untuk mengenakan sederet ritual skincare rutin. Pria itu berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. Saat keluar, Dea sedang mengenakan sheetmask sembari membaca sesuatu di ponselnya.
Entah mengapa, ketakutan Ben kembali muncul. Kesenangan bahwa Dea tidak jadi keluar, kini berubah menjadi kekhawatiran. Bagaimana jika Dea bermain sembunyi-sembunyi di belakangnya entah bersama pria siapa itu? Elvan masih belum selesai mengancam, sekarang ada Dion. Bahkan, Ben yakin bahwa di luaran sana, sangat banyak yang mengincar perempuan spek sempurna seperti istrinya.
Ben yang hanya menyerupai remahan roti di antara para konglomerat kaya, hanya bisa menciptakan bayangan-bayangan yang menyakiti diri sendiri.
__ADS_1
"Nggak ada masalah apa-apa, De?" tanya Ben ketika berjalan ke arah lemari untuk memilih pakaian. "Kayak nggak enak badan atau apa gitu? Orang hamil katanya sering mual sama ngidam. Kamu nggak mau sesuatu, De?"
Dea mengabaikan ponselnya sejenak, dengan ekspresi seolah sedang sibuk berpikir. Pandangan kosong di arahkan ke cermin, pada bayangan Ben yang tengah membelakanginya.
"Nggak. Nggak ada." Dea menjawab dingin, dengan sedikit lesu.
Perempuan itu langsung menunduk setelah mengatakan itu, sementara Ben menoleh karena sudah menemukan beberapa pakaian pilihannya.
"Tadi mau ke mana? Aku bisa antar kalau kamu mau pergi, De." Ben menawarkan diri. Tetap menghadap Dea, dan mempertemukan pandangan mereka melalui bayangan di cermin, Ben mengenakan kausnya dengan mudah.
"Nggak. Udah nggak ada perlu lagi."
Ben semakin merasa tidak nyaman dengan jawaban tersebut. Ia tidak bisa menghalau rasa curiga untuk berkembang semakin pesat.
"Karena tujuan aku mau keluar, udah ada di sini," lanjut Dea sembari menatap lurus pada Ben melalui cermin.
Dea tidak memberikan jawaban apa pun, dan kebungkamannya sudah cukup pengganti kata 'ya.'
"K—kenapa mau keluar demi aku?" Ben menggigit pipi bagian dalamnya setelah menanyakan hal tersebut, demi mencegah senyumnya untuk muncul.
Sialan. Dea dengan mudah membuatnya merasa khawatir, takut, insecure, lalu terbang di waktu yang bersamaan. Hanya perempuan ini yang mampu melakukan itu semua terhadap dirinya.
"Ngurus kontrakan sampai selama itu?" tanya Dea dengan nada sinis. Ia mendengkus, tidak percaya. "Ada hal lain yang kamu kerjain di luar sana? Sama siapa? Kamu sok-sok an posesif sama aku biar nggak deket sama Elvan atau Mas Dion. Tapi aku bahkan nggak tahu kamu ketemu sama siapa di luaran sana."
Ben sudah tidak sanggup menahannya lagi. Ia menerbitkan senyum lebar, sampai matanya menyipit. Tidak menyangka, bahwa ada secuil perhatian yang tercipta dalam pikiran Dea tentang dirinya.
__ADS_1
Mengikuti keinginan diri sendiri, Ben mendekat ke arah Dea usai menyampirkan celananya di pundak. Ia berdiri di belakang perempuan itu, kemudian sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajah mereka, lalu menempelkan dagu di pundak perempuan itu.
"Sorry, selama itu," ucap Ben dengan suara lembut. Ia secara perlahan berhasil melunakkan ekspresi jengkel Dea dengan senyumnya. Walau terhalang sheetmask berwarna putih, Ben tahu bahwa Dea mulai senyum sekarang ini. "Aku harus tungguin calon penghuninya cukup lama, jadi ya ... gitu. Sorry, bikin kamu nunggu."
"Aku nggak nungguin kamu, btw." Dea berkilah. Ia menunduk sebagai usaha menghindari Ben, tetapi pria itu tidak mengizinkan.
Mengabaikan fakta bahwa sheetmask masih terpasang di wajah Dea, Ben membawa perempuan itu menoleh padanya. Sedikit menaikkan dagu Dea dengan bantuan jari telunjuknya.
Ben tidak perlu meminta, atau sekadar bersuara untuk mengatakan keinginannya. Sebab, bibir terbuka Dea sudah menjadi undangan tersendiri. Memancingnya untuk mengikis jarak, dan mempertemukan bibir mereka. Namun, singgungan antara wajah Ben dan masker basah Dea membuat pria itu langsung menarik diri.
"Aku lepas, ya?" tanya Ben, meminta izin.
Namun, Dea mencegah dengan menahan sheetmask-nya. "Baru aku pasang, Ben. Sisa empat belas menit lagi," kata Dea. "Sayang kalau buang sekarang."
"Empat belas menit lagi ya?" Ben mengubah posisinya berdiri ke samping Dea. Ia meletakkan tangannya di masing-masing bawah punggung dan bawah lutut perempuan itu untuk membawanya dalam sebuah gendongan mesra. "Ya udah, ayo. Kayaknya seru liatin kamu engap-engap di balik masker."
"Ben ...." Dea menegur dengan nada manja, sepenuhnya tertarik dengan saran dari Ben.
Dea melingkarkan tangannya di leher suaminya, dan kini mengambil alih untuk memulai ciumannya.
"Kata kamu, kalau kangen, bisa remes bonekanya sampai puas," bisik Dea dengan suara rendah tepat di depan wajah Ben ketika pria itu mulai membaringkannya secara hati-hati di atas tempat tidur. "Aku coba sampai bonekanya rusak, tetep nggak sama kayak pegang kamu secara langsung."
Ben tersenyum tipis, mengecup bibir Dea sekali sebelum memberikan saran lain, "Nanti aku beliin boneka yang lebih besar dan nggak gampang rusak."
"Oke," jawab Dea. "Tapi besok. Sekarang, tuntasin kangen aku sekarang. Dua hari ini, aku susah adaptasi nggak lihat kamu di restoran."
__ADS_1