Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
37. Calon Penerus Usaha


__ADS_3

Dea sudah tiba di rumah bersama Ben. Keduanya hampir tidak pernah saling berinteraksi setelah turun dari mobil. Bahkan, masing-masing sibuk membawa keperluan sendiri tanpa memedulikan yang lainnya.


Ketika Diana membukakan pintu untuk anak dan menantunya, ia cukup terkejut dengan atmosfer berbeda di antara mereka.


“Misi, Ma.” Dea meminta izin untuk masuk, dan ketika diberikan ruang oleh sang ibu, ia langsung menyampingkan tubuhnya demi memasuki rumah.


Ben menyusul, tetapi dengan sebuah senyum tipis dan ramah di bibirnya.


“Permisi, Ma.” Ben juga meminta izin, lalu memasuki rumah dengan membawa kopernya.


Keduanya berpapasan dengan Dion dan Kahar yang bersiap berangkat bekerja. Diikuti oleh Dika yang juga akan keluar dari rumah.


“Kalian udah pulang?” tanya Kahar dengan ramah ketika ia berhadapan langsung pada putrinya. “Gimana misi kalian? Sukses?” Ia secara bergantian memandang Dea dan Ben untuk meminta jawaban.


“Aku capek, Pa. Permisi.” Dea memasang wajah masam untuk memperjelas ekspresi tidak nyaman dari wajahnya. Lalu menyingkir dari sana, hendak menaiki lantai dua.


Ben menyusul, tetapi sempat berhenti di tempat di mana Dea singgah tadi. Ia melirik sekilas pada Dion, lalu fokus pada Kahar dengan senyum jenakanya.


“Maklumin, Pa. Kurang tidur dua malam, jadi ya, capek banget,” kata Ben, yang langsung mendapatkan sambutan tawa kecil dari Kahar.


Ben undur diri dengan penuh hormat pada sang mertua, lalu tanpa bicara, ia memandang lurus pada Dion ketika melewatinya. Lalu kembali tersenyum pada Dika, sebelum akhirnya menaiki anakan tangga menuju lantai dua.


Setelah memasuki kamar, Ben langsung menutup pintu dengan rapat, tidak lupa menguncinya. Ia membiarkan koper di dekat pintu tanpa minat untuk membawanya ke depan lemari.


Pria itu segera menghampiri sang istri yang sedang melepas beberapa aksesoris dari tubuhnya dengan kondisi membelakangi Ben. Sehingga Ben bisa segera memeluk perempuan itu dari belakang tanpa peduli dengan segala protesnya. Ben menarik Dea secara paksa, membuat dirinya berbaring di atas tempat tidur, berguling bersama Dea, lalu berhenti di tengah-tengah ranjang.


“Ben!” pekik Dea dengan suara tertahan setelah sadar atas tindakan tanpa aba-aba dari suaminya. Ia memukul keras tangan Ben yang berada tepat di depan perutnya.


“Sst! Jangan keras-keras, De.” Ben memberikan peringatan dalam suaranya yang bernada rendah. “Nanti ada yang denger dan nyadar kalau kita cuman pura-pura marahannya.”


Dea akhirnya diam, menyetujui segala ide Ben, setelah kemarin dirinya juga dituruti oleh sang suami.


“Hari ini kita masih libur?” tanya Ben, sembari menelengkan kepalanya demi melihat secara sempurna wajah Dea di sampingnya.


“Hu’um.” Dea menjawab malas.

__ADS_1


“Kalau gitu, selama libur, kita harus selesaiin dua misi utama di rumah ini, De.”


Sekarang, Dea ikut melirik Ben dengan ekspresi penasaran. Keningnya sedikit berkerut, ketika ia memandang suaminya.


“Pertama, kita harus tahu alasan kenapa Dion selalu bersemangat bikin kita pisah padahal dia sudah tahu kalau saya beneran bertanggung jawab sama kamu,” ucap Ben, menjelaskan. Hal ini langsung diangguki oleh Dea.


“Terus yang kedua?” tanya Dea.


“Lakuin apa yang seharusnya kita lakuin di hotel.”


Dea melotot, waspada. Namun, tidak menghindar ketika Ben mengulurkan tangan ke arah tengkuknya, dan menahan pergerakan kepala perempuan itu.


Ben tersenyum tipis, yang terlihat misterius.


“Ayo bikin anak, De!”


...*


...


“Tunggu sebentar, Ben,” kata Kahar, lalu lanjut meminum air dari gelasnya. “Kita perlu bicara di ruangan saya.”


Ben merasa waspada atas panggilan dadakan ini. Mengingat bahwa misi utama di hotel masih belum sukses sempurna, Ben merasa cemas jika kasus nama baik Dea masih terus berlanjut.


“Dion, kamu masih lama makannya?” tanya Kahar sembari berdiri dari kursi makannya. “Saya tunggu kamu di ruangan saya, Dion.


Dion sama sekali tidak menjawab ucapan papanya, bahkan hanya bergeming di tempat dengan pandangan kosong ke piring. Bahkan, garpu dan sendok dalam genggamannya, tidak digerakkan sama sekali. Ben juga menyadari bahwa urat-urat tangan Dion menonjol, dengan rahang yang menegas sempurna.


Iparnya terlihat sangat marah, padahal di sini, seharusnya Ben yang memberikan respons seperti itu.


“Ayo, Ben.” Suara Kahar menghentikan pandangan Ben terhadap iparnya.


Ben mengangguk, lalu membiarkan Kahar berjalan lebih dahulu.


“Pak Jian Li sudah menelepon saya tadi pagi, katanya sangat senang dengan kedatangan kamu sama Dea ke hotelnya,” kata Kahar dalam perjalanan. “Saya mendadak kepikiran sesuatu, Ben.”

__ADS_1


“Apa itu, Pak?” tanya Ben penasaran, dengan perasaan was-was yang sama sekali tidak berkurang.


Namun, Kahar tidak langsung menjawab. Malah tersenyum tanpa bisa memperlihatkannya pada lawan bicara.


Kahar memasuki ruang kerja lebih dahulu, disusul oleh Ben yang mendapat tugas tanpa perintah untuk menutup pintu.


“Saya kepikiran,” kata Kahar sembari menuju tempatnya duduk. Ia baru melanjutkan setelah menempatkan dirinya di atas kursi putar, “Untuk memperkerjakan kamu di perusahaan saya, Ben. Bagaimana?”


Ben yang berniat untuk duduk, hanya bisa bergeming sembari memegang sandaran kursi. Terkejut atas tawaran dadakan itu.


“Saya mau, kamu punya status yang bagus dalam masalah pekerjaan, dan bisa setara dengan Dea. Dengan begitu ... kamu nggak perlu pasrah lagi kalau Dea bertindak semena-mena sama kamu,” jelas Kahar, yang sama sekali tidak bisa mengubah mimik datar Ben menjadi tertarik.


Ben masih belum memberikan jawaban ketika pintu ruangan dibuka, dan muncullah Dion dari sana.


“Dion bakalan ajari kamu, Ben, kalau yang kamu takutkan tentang masalah pendidikan dan pengetahuan bisnis,” kata Kahar.


Ben masih dalam kondisi kebingungan ketika memberikan tanggapan, “Saya ... ragu, Pak. Saya sama sekali tidak punya keahlian bahkan mimpi sekalipun untuk bekerja di perusahaan Anda.”


“Saya cuman lihat kemauan kamu, Ben. Kamu selalu hebat kalau sudah punya kemauan. Asalkan kamu mau, kamu pasti bisa diajari Dion, dan bisa menggantikan saya suatu hari nanti.”


“S—saya?” Ben semakin terkejut dengan satu fakta ini. “G—gantikan Pak Kahar?” Sungguh, bagi Ben, status menjadi suami Dea saja sudah sangat tinggi. Apalagi menggantikan mertuanya sekalian.


Ben merasa sangat tidak pantas, sehingga ia melirik Dion yang juga balas memandangnya.


“Kenapa bukan Di—“ Ben hendak menawarkan Dion, tetapi Kahar dengan cepat menyela.


“Dika tidak bisa saya percaya, Ben.”


Ben menggeleng, bukan bermaksud menyebut si bungsu. Di saat itulah, Dion juga angkat suara.


“Saya mau bangun bisnis sendiri, Ben,” kata Dion. Ekspresinya biasa saja, tetapi Ben masih bisa menangkap gurat tidak suka dari matanya. “Harus keluarga asli yang memiliki hubungan langsung dengan Papa yang bisa meneruskan usaha Papa.”


Ben tidak mengerti, jadi, ia memasang ekspresi menuntut jawaban. Sementara Dion segera mengubah tatapnya selama beberapa detik menjadi penuh amarah pada Ben.


“Saya tidak bisa dapat hak itu, karena saya bukan anak kandung Papa,” lanjut Dion.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2