
Mendapati sang adik sudah lebih awal berada si kursi makan, Dea mempercepat langkahnya masuk ke sana. Ia meletakkan tas secara kasar di atas meja, lalu memegang sisi sandaran kursi, sehingga Dika langsung meliriknya karena merasa diintimidasi.
“Ngapain, Mbak?” tanya Dika, penasaran.
“Jawab ya atau enggak, secara cepet!” kata Dea. Matanya dibuat menyipit, sebelum interogasi dilanjutkan. “Ben nyampe duluan di rumah daripada aku semalam?”
“Ya.”
“Ben disuruh Papa lagi beli barang di luar setelah nyampe rumah?”
“Iya.”
“Kamu ngajakin Ben Mabar sampe tengah malam?”
“Iya, seru main sama Ben, Mbak, samp—“
“Kamu ciumin Ben sampe ninggalin bekas?”
“Iy—eh, enggak lah, Mbak! Nggak! Najis lah, Mbak! Aku cowok, normal! Normal kuadrat! Udah punya cewek!” Dika langsung menaikkan intonasi suaranya karena bercampur syok atas pertanyaan barusan. “Enak aja main nuduh! Emang Mbak ngitungin berapa kali Mbak cipokin laki Mbak it—“
Hanya sisa satu kata lagi yang belum sempurna diucapkan Dika, tetapi kepalanya sudah lebih dulu ditoyor oleh sang kakak sehingga ia terpaksa harus kembali duduk.
“Ben!” Dika berseru, ketika topik obrolan mereka sudah muncul, memasuki ruang makan dalam kondisi bingung. “Tuh, Mbak, tanyain langsung lah! Orang aku cuman ngajakin main ML doang.”
“ML?” Dea semakin memperkuat aura intimidasinya, bahkan membungkuk ke arah sang adik. “Making Love?”
“MBAK!!” Dika memekik geram. “Mobile Legend, Mbak ...!” Ia lalu beralih pada seseorang yang datang dari dapur, meminta pertolongan. “Ma, ini anak Mama rukiah dikit! Beneran korselet otaknya, Ma!”
“De, udah, De.” Ben merasakan sinyal bahaya di sini. Ia menarik tangan istrinya, tetapi tangannya malah diempaskan.
Tidak langsung menyerah, Ben kembali menggunakan cara lain untuk menarik perempuan itu. Menahan pinggang Dea, lalu memaksa duduk di pangkuannya.
“Ben!” Dea hendak menolak, bahkan berusaha berdiri secara paksa, tetapi penahanan Ben di pinggang jauh lebih kuat.
“Sst!” Ben mendesis lirih terlebih dahulu. “Nanti saya jelasin di mobil, oke? Jangan gini, De, Aku malu. Ntar aku dikira udah nyuci otak kamu.”
Dea perlahan mulai melunak atas tawaran yang Ben maksud, jadi ia mengangguk mengiyakan. Perempuan itu tidak mengatakan apa pun, turun dari pangkuan Ben setelah diizinkan, berpindah ke kursinya sendiri.
Selama kegiatan sarapan pagi ini, Dea hampir tidak pernah melirik ke tempat lain kecuali memandang tajam ke arah Ben.
...*
...
“Jadi, jelasin yang sebener-benernya apa yang kamu lakuin semalam sampai badan kamu banyak lebamnya!”
__ADS_1
Ben baru saja mendudukkan dirinya di kursi kemudi ketika perintah bernada enggan dibantah itu dikeluarkan Dea. Perempuan itu tidak lebih awal di mobil hanya demi menanyakan hal ini.
“Aku kecelakaan dikit di jalan, De, waktu beli barang.”
“Kenapa bukan kepala kamu yang benjol atau memar? Kenapa harus badan kamu? Bahu lagi, tuh! Atau jalan juga tahu bagian seksi mana di tubuh kamu buat mereka ciumin?”
“Serius, De? Kamu juga cemburu sama jalanan?”
Dea tidak menjawab, tetapi tatapannya yang tajam masih terus mengintimidasi Ben.
“Kan kepala dilindungi helm, De.”
Perempuan itu langsung kalap setelah mendengar jawaban logis barusan. Namun, tidak langsung membenarkan, Dea malah menggerakkan bola matanya ke kanan-kiri seolah mencari alasan lain.
“Motor kamu juga rusak?” tanya Dea, dan Ben langsung mengangguk mengiyakannya.
“Iya, udah masuk bengkel.”
Dea masih belum puas dengan jawaban tersebut. Ketenangan Ben dalam menjawab belum cukup menenangkan perempuan itu dari pikiran-pikiran buruk.
“Kamu—“
“Btw.” Keduanya hampir bersamaan bersuara, tetapi Ben yang memilih melanjutkan ucapannya. “Dea kenapa mendadak peduli sama aku secara berlebihan kayak gini?”
“Dea ....” Ben sampai memijit pelipis karena arah pembicaraan perempuan ini semakin aneh. “Kamu beneran curiga aku sama Dika ngapa-ngapain? Serius? Sumpah, De?”
“Siapa tahu?”
“Nggak lah, De. Kecuali kalau aku nggak nafsu sama Dea, baru kamu bisa curiga. Lah ini? Aku on terus kalau sama kamu, gimana bisa aku tertarik sama Dika?” Ben menjeda sejenak, tetapi tidak membiarkan Dea menyela. Ia melanjutkan. “Kan ending pernikahan kita, aku harus ketahuan selingkuh, De. Kenapa sekarang kamu kalap banget cuman perkara aku pulang cepet?”
Dea kehabisan kata-kata, dan itu semakin membuat Ben merasa gemas. Pria itu tersenyum geli, lalu membawa sebelah tangannya yang bebas untuk mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut.
“Kamu ....” Dea berujar dengan lirih, bergetar. Tatapnya mengarah kosong pada Ben. “Beneran mulai selingkuh?”
“Dea ....” Ben mendesis kesal. “Aku kecelakaan, De. Kok nggak percayaan banget?”
Perempuan itu menunduk dalam kebingungan. Ia sendiri tidak paham dengan apa yang ia pikirkan saat ini. Dea sulit percaya dengan jawaban lain yang suaminya ini katakan, karena di kepalanya hanya terlintas satu bayangan.
Ben, dengan kesempurnaan fisiknya ini, bisa saja mendapatkan perempuan yang lebih cantik dan penurut dari Dea.
Sialnya, hanya sekadar membayangkan itu, Dea merasa ... tidak suka.
...*
...
__ADS_1
Dibandingkan menatap laptop untuk mengecek perkembangan restoran, Dea malah sibuk dengan ponselnya yang menampilkan kejadian secara real-time di dapur, melalui CCTV.
Perempuan itu harus menemukan bahwa Ben sedang menelepon mesra di kegiatan memasak, atau tersenyum spesial pada perempuan entah itu karyawan atau tamu.
Namun, tidak ada.
Dea merasa tidak puas dengan penemuannya ini. Matanya mulai lelah, tetapi tidak mendapati sesuatu yang tidak mencurigakan. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, dengan bersandar di gelas, lalu lanjut bekerja.
Sesekali, tetap melirik ke ponsel untuk memastikan bahwa semuanya normal, dan memang begitu adanya.
Sampai, ketika Dea menoleh lagi, ia menemukan sesuatu yang aneh.
Ben seharusnya hanya bertugas mengantar makanan dan melayani pelanggan, tetapi kenapa sekarang malah bertukar posisi dengan salah satu perempuan yang bertugas di bagian cuci piring?
Dea sudah membulatkan tekad. Matanya berubah tajam saat melihat perempuan yang menurutnya sedang berhubungan istimewa dengan Ben.
...*
...
Adam Bentala :
[Bentar, De, jangan ganggu dulu. Lagi seru.]
Jawaban pesan itu membuat Dea menggeram kesal. Memang malam ini Ben pulang bersamanya demi membuat Dea tidak banyak bertanya, tetapi kebersamaan dadakan antara Dika dan Ben membuat perempuan itu tidak bisa tenang.
Siapa yang bisa jamin bahwa mereka tidak bersekongkol menyembunyikan rahasia masing-masing? Mengingat umur mereka sebaya, Ben bisa-bisa tertular jiwa player sang adik.
Maka, hal ini tidak bisa dibiarkan.
Dea gegas berdiri dari tempat tidur. Ia berjalan dengan sangat buru-buru keluar dari pintu, tetapi urung keluar. Ia berhenti sejenak ketika akan melewati lemari.
Dea tersenyum, ketika ia malah berbelok ke lemari tersebut. Ia membuka salah satu pintu, memilih sederetan pakaian di hanger, kemudian menarik salah satu.
Sebuah gaun satin berwarna merah dengan renda di dada dan pinggang menjadi pilihannya. Hadiah pernikahan, yang niatnya ingin dibuang sejak pertama kali Dea lihat, tetapi hari ini ia kenakan.
Membalut pas lekuk tubuhnya, dengan tali pundak spageti, serta ujung bawah hanya sampai setengah paha. Dea merasa terlalu terekspos, tetapi enggan mundur. Rambutnya diurai, diacak, lalu kembali ke ponsel untuk memotret diri sendiri sebagai undangan agar lelaki itu datang.
Benar saja, kurang dari satu menit setelah centang dua berubah biru, pintu kamar Dea sudah dibuka.
Dea tersenyum seduktif, sehingga pria itu langsung mendekat usai menutup pintu. Saat itulah, mata Dea beralih ke ponsel yang Ben letakkan secara asal di atas nakas.
Ia mau mencari tahu semua hal tentang Ben melalui benda pintar itu.
__ADS_1