
“Gimana rasa menu spesialnya, Sayang?” tanya Ben setelah memberikan jarak usai ciuman barusan.
Sementara Dea melotot dengan mulut sedikit terbuka, menampilkan makanan yang baru saja ditransfer oleh Ben secara langsung.
“Ben ....” Dea memekik tertahan, dan memukul lengan suaminya dengan keras.
Namun, bukannya meringis kesakitan, Ben malah semakin memamerkan senyum puasnya.
“Dea.” Elvan sekali lagi memanggil, usai terkejut atas pemandangan barusan. Ia mengepalkan tangan di samping tubuh, menyayangkan bagaimana Dea dengan sangat mudah diciumi oleh pria lain, sedangkan Elvan sendiri belum pernah mencicipi bibir pink segar itu.
Dea melirik lagi pada Elvan. Efek malas dan terkejut atas tindakan Ben, kini Dea bisa menatap tanpa minat pada si mantan kekasih. Dukungan berupa genggaman tangan lembut yang Ben berikan padanya juga sedikit membantu.
“Aku kemarin udah perjelas semuanya kan, Van?” kata Dea sebagai pembuka, dan Ben langsung melengkungkan senyumnya secara sempurna.
Mantra yang Ben berikan melalui bibirnya, berhasil. Ia lega terhadap jawaban yang sang istri berikan.
“Sorry, tapi aku lagi sibuk sama ....” Dea melirik Ben sekilas, berniat menyebut langsung nama pria di depannya itu, tetapi urung, “.... suami aku. Jadi, please ... cari tempat lain ya. Pelayan lain bisa layani kamu.”
“Dea, kamu nggak mau bahas masalah foto dan video kita?” tanya Elvan, dan ini membuat Dea sempat terkejut.
Ternyata, si mantan tahu masalah ini.
“Nggak,” jawab Dea tidak acuh. “Nggak mau tahu, dan nggak mau peduli, karena kita emang nggak ngapa-ngapain. Ngapain aku harus bahas masalah nggak penting kayak hal itu?”
Ben semakin puas mendengarnya, sekarang ia bisa memamerkan tampang angkuh penuh pemenangan saat melirik si mantan kekasih sang istri. Sekaligus memberikan isyarat dengan gerakan kepala untuk mengusir pria itu.
Elvan balas menatap dingin. Ia mengembuskan napas kasar, kemudian berlalu dari samping meja mereka. Melihat bagaimana tatap tajam Elvan saat duduk di salah satu meja terdekat, Ben sadar bahwa pria itu tidak mau berhenti sekarang ini.
Namun, Ben tidak mau peduli. Ia lanjut menyuapi istrinya dengan sangat fokus. Sementara Dea juga balas perlakuan Ben dengan senyum tipisnya. Seolah sangat menikmati masa-masa romantis ini.
...*...
“Cuman ginian doang, Ben? Gimana yakinin orang-orang yang udah lihat foto-foto dan video itu kalau aku nggak selingkuh?” tanya Dea, yang tampak tidak puas dengan perkembangan usaha mereka.
“Nanti seiring waktu juga bakalan makin nyebar cerita keharmonisan pernikahan kita, De. Tinggal sabar aja.”
__ADS_1
“Aku nggak bisa sabar kalau bawa-bawa nama baik kayak gini,” balas Dea. “Menurut kamu, kenapa aku cepetan nikah padahal aku bahkan nggak butuh laki-laki sama sekali?”
“Hm ....” Ben seolah berpikir berat, tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan sebab masih menyetir. “Karena ... mau dihamilin?”
Dea memukul lengan Ben dengan keras.
“Ya ... kenapa lagi, De? Beneran kan? Yang nggak bisa Dea lakuin sendiri, ya hamil sendiri.”
“Ngelantur kamu!” Dea balas sengit. “Ada ide nggak kamu?”
Ben menggeleng pelan, membuat Dea menghela napas kasar.
“Nanti diskusi sama Pak Kahar. Aku punya ide, tapi itu kalau di-approved sama beliau.”
“Apa?” tanya Dea, penasaran.
“Kalau aku bilang sekarang, Dea nggak bakalan mau. Mesti Pak Kahar doang yang paksa Dea.”
“Aish!” Dea mengancam, menunjukkan kepalan tangannya pada sang suami. “Cerita, nggak?! Aku penasaran!”
Dea semakin ... kebingungan.
...*
...
Usai makan malam, Dea tidak diizinkan untuk kembali ke kamar. Dirinya ditarik lembut melalui genggaman tangan oleh Ben ke sebuah ruangan yang bahkan jarang dimasuki oleh Dea sendiri: ruang kerja sang ayah.
“Kamu udah cerita sana Papa?” tanya Dea penasaran, dan Ben memberikan anggukan sebagai jawaban.
Mereka masuk, dan disambut oleh Kahar yang sibuk memandangi selembaran kertas besar hampir memenuhi setengah meja kerjanya. Pria itu tampak sangat berwibawa dan dingin di saat yang bersamaan ketika melirik kedatangan putri serta menantunya.
“Duduk.” Kahar memberikan perintah bernada dingin, tanpa mengubah sikap sama sekali. Ia memperhatikan pergerakan pasangan itu, dan memastikan mereka memenuhi arahannya barusan, barulah Kahar memutar kertas pada mereka. “Sesuai saran dari Ben, cara menghapus image perselingkuhan Dea dan mantannya dari para rekan bisnis Papa adalah dengan menunjukkan secara langsung kedekatan kalian. Di sini, Papa sudah jelaskan mengenai setiap rekan kerja Papa yang kebetulan ada di meeting hari itu saat foto dan video diberikan oleh perempuan gila asing tersebut. Di sini juga dijelaskan pekerjaan dan alamat mereka. Jadi, kalian bisa langsung menunjukkan kemesraan kalian.”
Ben mengangguk-angguk kecil, sementara Dea sulit menerima saran ini.
__ADS_1
“Harus kayak gini amat, ya?” tanya Dea, heran. “Kan repot harus ngasih tahu satu-satu.”
“Kalau dikumpulin sekaligus terus pamer kedeketan kita, De, ya mereka jelas curiga ini cuman gimmick doang,” balas Ben menjelaskan. “Sama kayak Dea, aku juga kepikiran ini berlebihan. Tapi karena Dea terlalu takut nama baik rusak cuman gegara ini, jadi ya, kita harus usaha buat perbaiki nama baik. Jangan sampai mereka cerita dari mulut ke mulut tentang karakter Dea, dan makin membuat mereka ragu buat bekerja sama dengan Papa.”
Dea tampak merenungi ucapan suaminya. Masih sulit menerima, tetapi di sisi lain, ia sudah memaksa otaknya mencari jalan keluar. Namun, tidak ada. Dea benar-benar buntu untuk urusan ini.
“Karena Dea udah setuju,” kata Ben yang langsung membuat Dea menoleh tajam pada pria itu, “Jadi, kayaknya kita mulai di ... hotelnya Pak Jian Li.”
Dea tertegun ke arah yang ditunjuk oleh Dea, di mana sebuah foto tercetak di sana menunjukkan sosok pria bermata sipit berusia setengah abad. Ia menghela napas, lalu mencubit kecil pinggiran punggung tangan Ben.
“Pinter banget nyari tempat dan manfaatin situasi,” bisik Dea ketika Kahar mulai membuka laptopnya. Ia menggeser sedikit posisi, untuk bisa membawa bibirnya ke samping telinga sang suami, “Dasar mesum.”
“Karena Dea lumayan gugup, gimana kalau pemanasan sebelum ke hotel sekarang. Ayo, ayo!” ajak Ben, sembari berdiri dan menarik lengan Dea.
Ucapan dan tindakan pria itu jelas memancing perhatian dari Kahar. Tidak mengatakan apa pun, Kahar hanya memperhatikan keduanya melalui lensa kacamata.
Dea terpaksa mengikuti kepergian Ben. Tidak lupa menutup pintu untuk memberikan privasi untuk sang ayah.
Saat itulah, Kahar segera melepaskan pertahanannya dan menampilkan senyum geli di bibirnya. Ia melepas kacamata, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Takjub melihat perubahan sikap Dea sejak diasuh oleh suami yang lebih muda.
Ia diam-diam bersyukur, pilihannya tepat. Sehingga sekarang, Kahar mengambil ponselnya untuk mengetikkan pesan pada si sulung.
^^^Kahar :
^^^
^^^Papa sudah siap pensiun sekarang.
^^^
^^^Persiapkan Ben untuk ikut ambil bagian di perusahaan.
^^^
__ADS_1