
"Ben, ada apa?" tanya Dea kebingungan saat Ben menanggalkan sabuk pengamannya demi menyudutkan perempuan itu.
Sukses membuat Dea merasa terintimidasi. Perempuan itu beberapa kali meneguk ludah secara kasar, pertama kalinya menemukan sosok Ben yang seperti ini.
"Aku bakalan maklum kalau kamu nggak hargai aku sama sekali, tapi orang tua kamu, De? Kamu seriusan nggak punya hati?" Pertanyaan menohok yang diutarakan Ben dengan nada dingin itu berhasil menambah kebingungan Dea dua kali lipat. Saat sang istri hendak bertanya lebih lanjut mengenai maksud kalimat tersebut, Ben sudah lebih dahulu memberikan peringatan dengan penuh penekanan, "Jangan ... pernah ... bahas anak lagi!"
"B—Ben?" Dea memanggil dengan suara terbata. Wajahnya sedikit pucat, sesekali meneguk saliva secara kasar. "Apa maksud kamu?"
Ben menarik napas panjang, sempat menahannya beberapa detik sebelum diembuskan secara perlahan. Merasa bahwa gumpalan amarah yang ia tahan semalaman penuh sudah keluar melalui karbon dioksida, Ben sudah agak tenang. Ia kembali menyandarkan punggungnya tanpa lupa mengenakan sabuk pengaman lagi. Barulah, mobil kembali berjalan di jalurnya.
"Kamu mendingan buat kabar keguguran sekarang," ucap Ben.
Seketika, berhasil membuat Dea tidak berkutik. Perempuan itu melirik kanan-kiri, mempertimbangkan apa suaminya ini sudah tahu semuanya atau sekadar berbicara sembarangan?
"Aku kecewa, De, jujur aja. Tapi lebih daripada itu, aku lebih muak sama kamu yang nggak ada perasaan bersalahnya sama sekali sudah ngasih harapan kosong ke orang tua kamu," sambung Ben, sembari melirik Dea yang hanya bisa melotot ketakutan. "Bikin berita keguguran secepatnya, kalau bisa hari ini. Jangan bikin mereka makin sayang sama anak yang nggak ada itu. Kamu bisa aja langsung lupa, karena kamu emang nggak pernah peduli sama pernikahan. Tapi buat orang-orang yang terlalu peduli sama hal sekecil apa pun tentang kamu ... masalah ini termasuk serius karena menyangkut perasaan dan harapan, De."
Dea benar-benar kehabisan kata-kata, bahkan untuk memberikan tanggapan berupa gerakan tubuh pun, ia sangat kebingungan. Hanya sesekali membuka mulut hendak mengutarakan kalimat, tetapi kemudian kembali tertutup rapat saat keberaniannya menguap begitu saja.
"Ben ...." Pada akhirnya, Dea hanya bisa memanggil nama suaminya dengan sangat lemah.
"Keinginan kamu buat manfaatin kehamilan biar aku berhenti kerja di perusahaan papa kamu sudah sukses. Aku sudah berhenti, bahkan sebelum ngasih apa-apa, De. Jadi, sudah. Jangan bikin lebih besar kekecewaan keluarga kita," lanjut Ben. Ia tidak lagi menggebu-gebu atau penuh penekanan seperti sebelumnya. Agak tenang, tetapi tetap menyiratkan kekecewaan yang besar. "Bagi kamu, ini cuman masalah sepele. Anak doang. Kamu bahkan nggak peduli, karena punya anak segampang adopsi aja. Tapi, buat keluarga kamu ... buat aku ... kabar kehamilan kamu bukan cuman sekadar ada manusia baru di antara kita." Anak itu satu-satunya harapan Ben untuk melanjutkan hidup. Namun, karena anak itu sudah tiada, maka hal sama akan terjadi dengan dirinya.
"Aku ...." Dea kebingungan membalas. Ia hanya bisa menunduk maksimal, melihat jemarinya yang saling meremas di atas pangkuan. "Belum hamil itu bukan keinginan aku, Ben. Aku ... aku juga mau punya anak. Tapi gimana? Aku belum dikasih."
"Padahal, kamu bisa tinggal minta aku keluar, De, nggak perlu pake alesan ini," ucap Ben. Sekali lagi, ia menarik napas panjang saat sesaknya kembali berkumpul di dalam dada. "Aku terima tawaran Pak Kahar juga demi kamu. Jadi, kalau kamu mau aku mundur, aku bakalan nurut."
"Demi aku, gimana? Dari awal aku nggak pernah minta kamu terima tawaran papa, bahkan sama sekali nggak dukung kamu. Gimana ceritanya kamu bilang demi aku?" Kali ini, Dea sudah mulai menemukan alasannya untuk berbicara menanggapi ucapan suaminya.
"Sejak kamu bilang standar kriteria laki-laki yang kamu suka itu adalah Dion ... aku bingung harus gimana, De. Mau ngelarang, aku nggak bisa. Aku cuman bisa berusaha buat ... menyamakan nilai diri aku dengan standar tersebut. Tapi gimanapun aku berusaha, aku tetep cuman Ben, bukan Dion atau minimal Elvan. Aku nggak sama kayak mereka sama sekali."
"Ben ...." Dea memanggil dengan suara lirih. Ia menjeda sejenak ketika bingung merangkai kalimat yang tepat, agar pria di depannya tidak terluka lebih buruk lagi. "Aku ... memang bohong masalah kehamilan supaya kamu nggak kerja di perusahaan papa, tapi serius demi apa pun, aku nggak bohong sama sekali tentang apa yang aku bilang di kafe kemarin."
Ben tidak menimpali atau menanggapi sama sekali.
"Aku sekarang nggak terlalu peduli sama standar, karena apa yang kamu kasih, itu sudah lebih dari yang aku perluin," ucap Dea. Ia memberikan jeda setiap ucapannya, agar bisa lebih saksama memperhatikan perubahan ekspresi suaminya.
__ADS_1
Namun, Ben masih bergeming.
"Aku hampir nggak pernah naik motor, karena aku benci debu. Tapi karena sama kamu, aku malah nyaman. Aku sampai lupa prinsip itu," kata Dea, serius. "Standar yang aku tentuin dulu, itu pas aku masih nggak sadar mengenai kebutuhan pernikahan. Aku patokin standar pengusaha yang pekerja keras, karena aku lihatnya, bos-bos itu keren. Cuman sebatas keren aja, Ben. Padahal sekarang, setelah aku menikah, aku sadar kalau suami yang selalu ada di samping aku, jauh lebih hebat daripada kata 'keren' itu sendiri. Aku nggak bisa bayangin kalau turuti standar yang aku patok kemarin. Karena 'keren'nya bos kayak Dion atau Elvan, mereka punya kekurangan yang jujur aja bikin aku nggak nyaman: arogansi dan kelicikan mereka. Kamu yang bikin aku nyaman sama semua sifat kamu sekarang walau memang butuh adaptasi di awal pernikahan dulu."
Ben masih bungkam, tetapi ekspresinya lebih sendu kali ini. Diyakini Dea sebagai tanda bahwa pria itu mulai mempercayai kalimatnya.
Dea mengepalkan tangan dengan kuat pada celana kulot hitam yang ia kenakan, melampiaskan perasaan tidak nyaman dalam dirinya.
...*...
Ben hanya mematung di ambang pintu dapur ketika Dion melewatinya dengan membawa tubuh Dea di gendongan. Pria itu tampak tidak peduli sama sekali, sementara Dion begitu serius melakoni peran sebagai kakak yang amat takut jika terjadi sesuatu pada sang adik.
Padahal, ini skenario yang kakak-adik itu buat sendiri.
Ben hanya memandang kepergian mereka, lalu berbelok hendak kembali masuk ke dapur. Namun, bahunya dicegat kuat.
"Kamu mau ke mana?" tanya Afifah, yang kebetulan sedari tadi menonton adegan tersebut di belakang punggung Ben dengan cara berjinjit. "Istri kamu jatuh kepleset di kamar mandi, Ben! Astaga! Dia hamil! Bu Dea hamil, Ben! Kamu malah nyantui di sini! Susul, lemot! Anjir, gemes banget sama nih suami satu!"
Ben hendak menyela, tetapi ia sudah didorong oleh perempuan itu.
Sementara rekan kerjanya yang lain, memberikan arahan serupa.
"Kerjaan Lo bisa kita kerjain. Sana, susul Bu Dea!"
Mendapati bahwa dirinya tidak diberikan kesempatan untuk memasuki dapur, maka Ben hanya bisa menarik napas panjang. Lalu mengangguki saran mereka. Ia berpamitan, kemudian keluar dari area restoran.
Menggunakan ojek online, Ben menyusul kepergian Dea dengan rasa ragu di lubuk hatinya. Tidak tega jika harus melihat kekecewaan dari keluarga besar di rumah sakit nanti, tetapi sebagai seorang suami, Ben harus melakukan perannya ini. Sebab, akan sangat mencurigakan jika tidak dilakukan.
Pria itu sampai di rumah sakit yang sudah diberitahukan Dea sebelumnya. Ia mencari ruang rawat Dea, dan bergerak ke sana. Pria itu awalnya berniat lari, sekadar menunjukkan kekhawatirannya. Namun, keinginan tersebut batal untuk dipenuhi ketika di pertengahan jalan, Ben mengalami sakit kepala yang luar biasa.
Bahkan untuk berjalan normal saja, pria itu kesulitan. Ia memegangi kepala, dan mencoba memusatkan pandangan pada jalan yang akan ia lalui. Namun, semua objek di depannya seperti bergerak. Lantai seperti memiliki bayangannya sendiri. Suara-suara di sekitarnya berubah samar, menciptakan dengung panjang di telinganya. Memicu sakit seperti ditusuk berulang kali di kepala, sehingga membuat stok tenaga Ben berkurang drastis.
Pria itu terjatuh lemas di lantai. Menciptakan kerumunan manusia mengelilinginya yang sudah kehilangan kesadaran.
...*...
__ADS_1
"Dokter Vivin sedang keluar, Bu, Pak. Tapi tidak perlu khawatir. Ada Dokter Tia yang akan memeriksa ibu."
Kalimat yang dikeluarkan oleh suster tersebut, berhasil membuat Dea dan Dion saling memandang dengan mata melotot. Setelah kepergian si suster, Dea langsung menarik lengan kakaknya karena panik.
"Gimana sekarang? Yang mau bantu kita cuman Dokter Vivin. Gimana, Mas? Mas bisa bikin dokter lain itu mau bantu kita?" tanya Dea dengan suara berbisik rendah.
Dion baru saja akan menjawab, tetapi kedatangan dokter yang dimaksud membuatnya membatalkan niat. Apalagi ketika Dion diminta keluar, serta kemunculan Diana yang disusul oleh Kahar, langsung membuat keduanya tidak bisa bertindak apa-apa.
Tersisa Dea dalam ruangan bersama perawat dan dokter Tia. Sedikit ragu—demi menjaga rahasia kehamilan palsunya—Dea berniat melakukan kerja sama di sini.
"Dok," kata Dea sembari berusaha mencegah usaha si dokter untuk memeriksa perutnya. Namun gagal. Ia semakin gugup dan bingung ketika si dokter sudah mengarahkan pandangannya pada Dea sembari mendengarkan suara stetoskop. "Saya sebenarnya ... belum hamil, Dok. Saya terpaksa bohong karena ... suami saya mau banget punya anak. Saya jadi merencanakan ini semua, supaya seenggaknya suami saya berhenti sebentar nuntut anak ke saya. Dokter bisa bantu saya? Cuman bilang kalau saya keguguran aja, Dok, di depan keluarga saya. Plis, Dok, saya nggak mau kecewain mereka dengan kebohongan saya ini. Plis .... Tolong, Dok."
Wanita dengan blazer putih itu bergeming, sama sekali tidak menanggapi ucapan Dea, dan tetap fokus pada setiap pemeriksaan yang ada.
"Dok," panggil Dea dengan penuh harap. "Plis ...." Ia memelas lagi, tetapi tidak ada perubahan ekspresi di wajah si dokter. "Saya bakalan bayar berapa pun, Dok."
Barulah, si dokter wanita melirik dengan pandangan sinis. Membuat Dea seketika melipat bibir ke dalam.
Mampus. Hanya itu yang bisa Dea rapalkan dalam hati, ketika yakin usahanya berakhir sia-sia. Salahkan dirinya yang menuruti Ben, menyegerakan acara keguguran ini, sehingga kesepakatan dengan dokter Vivin jadi kacau.
Untuk mundur, sudah terlambat. Dea hanya bisa berbaring lemas dan pasrah ketika si dokter meneruskan segala jenis pemeriksaannya hingga beberapa menit kemudian.
Dea langsung bangun usai si dokter selesai dengan kegiatannya. Ia merapikan pakaian, sembari terus merangkai kalimat permohonan maaf untuk keluarga besarnya nanti.
Namun, bagaimanapun Dea memohon bahkan bersujud nanti, ia sangat yakin bahwa kemarahan mereka akan sama seperti Ben tadi pagi. Dea belum siap, sehingga tidak berani meninggalkan brankar ketika keluarganya diundang masuk untuk mendengarkan hasil pemeriksaan.
Sementara dua orang tuanya duduk menunggu jawaban, Dea dan Dion saling memandang. Menyalurkan kekhawatiran mereka tanpa saling bicara.
"Ibu dan Bapak tidak perlu khawatir," kata dokter Tia yang membuat Dea memejam kuat dan mencibir dalam hati.
Tidak perlu khawatir ndasmu! Dea akan diceramahi non-stop oleh masing-masing keluarganya, plus bonus didiamkan Ben entah berapa lama. Dea ... tidak siap.
"Kandungan Bu Radea Dasha, baik-baik saja," lanjut Dokter Tia.
__ADS_1