Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
60. Suasana Dramatis


__ADS_3

Dion baru saja mematikan suara rekaman yang kayaknya baru diambil pagi tadi untuk diberitahukan pada Dea tentang perilaku Ben.


"Suami kamu berangkat pagi-pagi banget kan, tadi? Saya baru banget bangun pas dapat rekaman ini, De. Fresh! Suami kamu mampir ke rumah perempuan lain pas berangkat, De, makanya sering lupa pulang ke rumah."


Penjelasan Dion hanya mendapatkan pandangan merintis dari Dea. Perempuan itu menggaruk pelipis.


"Ben beneran menjijikkan, cocok sama selingkuhannya yang gatel. Kamu mendingan cerai dari laki-laki seperti dia, De!" kata Dion dengan suara tegas.


"Mas," ucap Dea dengan nada ragu bercampur kebingungan. "Mas ... nggak nyadar sesuatu yang lain dari sana?"


"Apa?" tanya Dion, penasaran.


"Suara perempuan itu, Mas nggak kenal?"


Dion kembali memutar rekaman tersebut untuk menemukan jawaban dari pertanyaan adiknya.


"Ah ... Ben ... Ben aku ... sampai ... ah ...."


Dea menggigit bibir bawahnya dengan kuat, sembari menunduk dalam demi menyembunyikan wajahnya dari sang kakak. Di saat itulah, Dion mulai melotot sempurna dengan mulut menganga karena syok.


"Ini ... kamu, De?" tanya Dion dengan nada memekik tinggi, tidak percaya terhadap pendengarannya sendiri. Namun, Dea malah mengangguk, membenarkan tebakan kakaknya. "Kamu? Seriusan kamu, De? Ini suara menjijikkan kamu, De? Bukannya kamu lagi marah sama suami kamu? Kenapa malah ...." Dion tidak dapat melanjutkan ucapannya karena frustrasi yang terlihat jelas dari caranya mengusap rambut dengan kasar.


Dea tidak mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaan Dion. Hanya bisa tersenyum nyengir malu-malu.


"Mas hapus rekaman itu, ya? Mas nggak usah lah, rekam-rekam segala. Aku maunya tuh, Ben diikuti aja, Mas, biar kalau dia singgah di suatu rumah atau tempat yang mencurigakan, aku jadi tahu. Kalau rekaman kayak gitu, Mas mana tau Ben tidur sama perempuan lain atau aku."


"De—Dea bentar." Dion mengangkat sebelah tangannya untuk memberi isyarat berhenti untuk adiknya. "Kamu berhubungan sama dia pas belum ada kejelasan sama rahasia dia di luar sana, De? Seriusan? Kamu bisa tidur dengan santai sama dia, sementara bisa aja dia punya selingkuhan lain di luaran sana? Kamu—"


Dion kehabisan kata-kata jadi hanya bisa mengerem kalimatnya dengan mengusap rambut secara kasar.


"Aku belum tahu masalah Ben di luaran sana, Mas, tapi sekarang, aku masih percaya sama dia," jawab Dea dengan mantap.


Membuat Dion benar-benar kesulitan untuk membalas. Dea sendiri jadi merasa tidak enak hati dengan kegagalan kakaknya yang ia sebab sendiri.

__ADS_1


"Mas nggak perlu repot-repot lagi deh selidiki Ben, biar aku yang urus," kata Dea lagi.


"Nggak." Dion menolak tegas. "Biar saya yang ikuti dia ke mana pun dia pergi!"


Setelah mengatakan itu, Dion langsung berdiri dan keluar dari ruangan. Bahkan tanpa berpamitan lagi. Ia berpapasan dengan Ben yang membawa makanan dan minuman di atas nampan, hendak masuk ke ruangan Dea.


"Asyik banget ngobrolnya," kata Ben saat baru masuk ke ruangan Dea. Ia menggunakan kakinya untuk menutup pintu, lalu gegas menghampiri sang istri.


"Ah, Ben." Dea sempat terkejut atas kedatangan mendadak suaminya. Sedikit khawatir jika pria ini mendengar apa yang ia obrolkan dengan sang kakak. "Kamu udah lama nunggu?"


"Nggak nunggu sama sekali, karena banyak pelanggan yang harus dianterin pesanannya," jawab Ben santai, lalu meletakkan makan siang istrinya di atas meja. "Cuman merhatiin aja, kalau Mas-mu itu lumayan lama di sini. Topik obrolan kalian kayaknya bagus banget." Ben secara sengaja memberikan penekanan khusus di kata 'mas' sebagai bentuk sindiran ke sang istri.


Namun, Dea malah tersenyum geli. Sedikit kecemburuan Ben saat ini, terasa manis untuknya. Sehingga Dea sama sekali tidak keberatan.


"Cuman bawa satu porsi aja, Mas?" tanya Dea sembari menarik makanan dan minuman yang Ben letakkan di atas meja.


Sementara suaminya langsung menghentikan pergerakan dengan alis berkerut mendengar panggilan Dea barusan.


"Apa, De?" Ben menuntut pengulangan, tetapi istrinya terlihat datar saat memandangnya.


"Kamu tahu maksud aku, De, jangan sok-sokan polos."


Dea gagal menahan tawa gelinya melihat ekspresi tegang Ben tadi. Ia menyembunyikan senyum dengan telapak tangannya.


"Kamu sih, cemburuan mulu sama Mas Dion. Jadi ya, sekalian aja. Biar kalau kamu nyindir 'Mas-ku' kamu juga bakalan ikutan kesindir. Iya, kan, Mas?" Dea menaik-naikkan alisnya dengan kesan menggoda.


Sementara Ben berusaha sekuat tenaga untuk menahan senyum, tetapi berakhir gagal. Bahkan meski ia sudah melipat bibir ke dalam, sangat kentara bahwa ia sangat senang dengan panggilan itu.


"Nggak usah ditahan kali, Mas." Dea menyindir. Ia tetap mempertahankan senyumnya melihat respons Ben. "Kalau mikirin umur, geli sih panggil kamu gitu. Tapi karena kamu sendiri manggilnya aku 'Dek', jadi ya ... aku panggil kamu juga 'Mas'. Impas, kan?"


"Nama kamu kan emang ada unsur 'De'-nya," balas Ben. Ia memutari meja Dea untuk mendekat ke sang istri. Ben mengusap lembut puncak kepala Dea, kemudian memberikan kecupan singkat di sana. "Jangan lupa makan siang, ya, Sayang."


Dea semakin melebarkan senyumnya, kali ini dengan tambahan pipi merona sempurna. Ben merasa puas dengan pembalasannya ini, kemudian kembali ke posisinya berdiri semula.

__ADS_1


"Aku mau lanjut kerja. Kamu habisin makan siang kamu, ya, Sayang?"


"Udah, Ben. Udah. Jantung aku nggak kuat!" pinta Dea, yang semakin menghangatkan perasaan Ben.


Pria itu berbalik, berjalan ke pintu ruangan hendak keluar. Ben memutar gagang pintu dengan mudah, menariknya, lalu mengambil sebuah langkah hampir keluar. Namun, seruan Dea berhasil menghentikan pergerakan kakinya.


"Mas, aku hamil," kata Dea dengan mantap.


Seketika meredupkan senyum Ben. Pria itu mau bersikap biasa saja, dan hendak mengambil langkah kedua.


"Beneran hamil, Ben."


Namun suaminya sama sekali tidak menoleh. Tetap mantap keluar dari ruangan, bahkan tidak sempat untuk menutup pintu lagi. Saking kerasnya pertahanan yang berusaha Ben bangun agar tidak menoleh pada Dea demi mencegah kecewa.


"Ben!" Dea merasa jengkel atas sikap suaminya, jadi segera menyusul keluar dari ruangan. "Aku beneran hamil anak kamu, Ben. Beneran hamil yang bener-beneran hamil! Nggak bohong lagi seriusan!"


Namun, suaminya tetap berbelok ke area dapur, mengabaikan Dea. Sementara perempuan itu semakin tertantang, tidak memedulikan beberapa pasang mata meliriknya dengan pelototan kaget.


Dea setengah berlari menghampiri suaminya. Tidak peduli jika efek dari buru-burunya membuat ia beberapa kali menabrak karyawan lain yang sedang sibuk dengan tugas masing-masing.


"Ben!" panggil Dea dengan tegas, setelah di dapur.


Namun, Ben tetap bersikap tidak acuh. Pria itu mengambil pesanan dan mendengarkan arahan dari rekannya tentang alamat meja pengantaran makanan tersebut.


Dea menunggu di ambang pintu dapur, sembari merogoh sebuah kertas dari saku blazer-nya. Tepat saat Ben hendak melewatinya, perempuan itu menunjukkan foto USG-nya kemarin.


"Usia satu bulan. Kemarin nggak terdeteksi test pack, makanya aku kira belum hamil. Tapi pas pemeriksaan setelah aku jatuh di kamar mandi, aku ternyata beneran hamil, dan ini buktinya, Ben," jelas Dea dengan rinci.


Ben membeku di tempat, hampir kehilangan kesadarannya untuk mempertahankan nampan di tangan.


Suasana dramatis itu segera dimengerti rekan kerja yang lain. Segera mengambil nampan yang dibawa Ben, sementara pria itu langsung memeluk Dea dengan sangat erat.


...*

__ADS_1


...


__ADS_2