Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
27. Dalam Lilitan Selimut


__ADS_3

Dea sama sekali tidak pernah memudarkan senyum manisnya Ben mulai merangkak naik ke atas tempat tidur. Ia menyambut kedatangan Ben dengan rangkulan mesra, meraba dada Ben dengan kedua tangan, lalu bantu pria itu melepaskan jaketnya dalam satu gerakan.


Ketika Ben berniat maju untuk menekan tubuh Dea ke kasur, perempuan itu lebih dahulu menahan wajahnya. Ia mempertahankan senyum sensualnya, dengan pandangan mengarah luruh pada Ben.


Dari pundak lelaki itu, Dea menurunkan telapak tangannya meraba permukaan kulit lengan Ben, terus turun dengan gerakan yang teramat lembut dan hati-hati, memancing bulu kuduk pria itu untuk berdiri.


"Dea...." Ben memanggil dengan nada rendah frustrasi. Ia suka dengan cara Dea menyentuhnya, jadi, ia tetap diam menerima apa pun yang perempuan itu lakukan pada tubuhnya.


Dea mendorong tubuh Ben cukup kuat, membuat posisi lelaki itu terbaring di atas tempat tidur. Ia membawa kedua pergelangan tangannya naik ke atas, ditumpuk membentuk silang. Tubuh Dea yang tepat di atasnya, dengan sedikit condong ke depan karena berusaha mengikat pergelangan tangan Ben menggunakan kimono satinnya dengan kuat.


"De, kamu mau ngapain aku, De? Astaga, De, sadar, De. Kamu mau ngapain ini? Jangan... De... jangan berhenti ... please, De."


Dea berhenti mengikat sebentar, demi menatap tajam pada suaminya. Sementara yang dipandang hanya cengengesan tanpa merasa bersalah.


Tangan Ben yang sudah terikat, dibawa maju ke depan sampai mencapai pinggang. Lalu mengatur selimut sedemikian rupa agar tubuh Ben berada di ujungnya, kemudian memutar pria itu berguling hingga membentuk kepompong dari ujung kaki sampai leher.


"De, kamu ini sebenernya ngapain aku, sih?" tanya Ben, menuntut. Ia mencoba mengelak, persis seperti ulat bulu yang menggeliat.


Dea mengambil jaket pria itu untuk dipakai mengikat tubuh Ben, sehingga selimut tidak mudah melorot.


"De... ayolah, De. Aku mau diapa-apain Dea." Ben memelas. Ia semakin syok ketika menemukan bahwa perempuan itu kini mengambil ponselnya yang diletakkan di atas nakas. "De, kamu mau ngapain?"


Dea masih enggan menjawab. Ia mengecek cara kunci layar ponsel tersebut, lalu naik ke tubuh Ben, sekali lagi menunggangi pria itu, dengan mengarahkan layar ke wajah sang suami.


"Kamu ngapain sih?" tanya Ben. Ia mencoba mengelak ketika Dea terus berusaha mengarahkan layar padanya. "Jawab dulu, De!"


"Ben!" Dea juga geram karena pria itu terus menoleh ke kanan-kiri untuk menghindar. Ia mencengkeram dagu pria itu sembari menunjukkan pelototan mata sebagai bentuk ancaman.

__ADS_1


Namun, Ben malah menjulurkan lidah, mengangkat bibir atas, serta menyipitkan sebelah mata. Hasil dari tindakannya, sebuah tamparan kecil diberikan Dea padanya.


"Jangan jadi jelek, atau aku beneran bikin kamu jelek!" ancam Dea, tegas. "Diem, nggak?! Diem!"


Ben enggan menuruti, semakin memperburuk ekspresi wajahnya sampai Dea hanya bisa menggeram keras. Lalu membuang ponsel Ben sembarangan di sampingnya. Ia membungkuk, menahan dagu pria itu agar tidak bergerak, lalu mencium bibirnya kilat.


"Diem!" gertak Dea lebih tegas lagi, penuh penekanan.


Sempat membuat Ben menciut, jadi ia mencoba lagi membuka lagi membuka kunci layar pria itu. Namun, Ben sekali lagi bergerak ke kanan-kiri.


"Ben...." Dea mulai muak, sangat. Ia bahkan menyisir rambut terurainya ke belakang, menunjukkan betapa pengap kepala perempuan itu saat ini sementara kondisi AC tidak pernah berhenti menyala.


"Aku bakalan diem sesuai lamanya Dea cium aku. Gimana?" tawar Ben. Alisnya naik-turun mengundang.


Dea mendesis panjang. Ia menepikan rambutnya ke sisi bahu yang lain agar tidak mengganggu ketika Dea membungkuk. Membungkam bibir pria itu dengan tekanan tanpa pergerakan.


Ben yang berinisiatif mengangkat wajahnya untuk memperdalam ciuman, sekaligus memberikan beberapa ******* kecil. Ia terlalu menikmati, sampai berat berpisah tetapi Dea sudah menjauhkan dirinya.


"Umur kamu berapa sih?" tanya Dea ketika ponsel Ben sudah terbuka. Ia bahkan tidak mau izin sama sekali dengan pemilik ponsel.


"Dua-dua."


"Kayak bocah umur dua tahun. Iyuw!"


"Iyuw-iyuw gitu, Dea juga hampir lupa lepas tadi," balas Ben mengejek. "Emang ngecek apaan sih, De, sampe segininya? Astaga, De." Ben berusaha untuk bangun, tetapi keberadaan Dea di atas tubuhnya—walau tidak meletakkan 100% bobot tubuh, Dea tetap mudah mendorong Ben agar kembali berbaring telentang.


Semua isi perpesanan Ben dicek oleh Dea. Tidak ada yang mencurigakan. Bahkan, tidak ada sejenis japrian antara Ben dan salah seorang karyawati bahkan perempuan asing. Hanya ada grup kerja, yang Dea pun hanya sekadar masuk di sana.

__ADS_1


Pesan pribadi pria itu hanya datang dari Kahar, salah satu rekan pria terdekat Ben di restoran, Dika, dan Dea sendiri.


"Kok bisa nggak ada chat-chat apa pun sama cewek lain?" tanya Dea menuntut, ketika ia menemukan semua sosial media Ben hampir bernasib sama, bahkan lebih buruk lagi: tidak terurus sama sekali.


"Pasti ada aplikasi rahasia di sini," tebak Dea. Ia mengguncang tubuh Ben. "Aplikasi apa?"


"Ada yang kelihatan aneh nggak di situ?" Ben balas bertanya dengan santai, membuat setengah harapan Dea sirna. Pria ini tidak akan bisa tenang jika memang menyembunyikan sesuatu.


"Tapi aku yakin kamu itu nyembunyiin sesuatu!" kata Dea dengan tegas. Ia melempar ponsel Ben ke tengah-tengah tempat tidur. "Kok bisa?"


"Ya bisa. Karena saya emang nggak ngapa-ngapain."


Dea terus melakukan pencarian secara teliti, ketika Ben di dalam selimut berusaha melepaskan tangannya agar bisa bebas dari belitan kain tebal ini. Namun, tidak bisa. Ikatan yang dibuat Dea terlalu kuat. Ia harus berusaha secara paksa.


Ben mempertimbangkan posisi jarak antara dirinya yang di pinggir kasur, dan memperhitungkan ruang kosong di sampingnya saat ini. Setelah yakin bahwa semua akan aman, ia bangun secara paksa dan tiba-tiba, merotasi tubuh, lalu dengan mudahnya mengubah posisi mereka.


Dea sekarang di bawah. Sialnya, karena Ben tidak bisa menopang tubuh sama sekali, semua beratnya bertumpu pada Dea. Membuat perempuan itu sesak napas, berusaha untuk terlepas, dan ... berhasil.


Ia mendorong Ben sampai jatuh ke lantai. Dea ikut memekik kaget, mendengar kerasnya suara benturan antara Ben dan lantai. Ia buru-buru mengecek, dan melihat pria itu masih lincah meliuk. Dea bisa bernapas lega ketika turun untuk bantu melepas ikatan di selimut, lalu mendorong tubuh Ben agar terlepas dari lilitan. Terakhir, melepas kimono tidurnya dari pergelangan tangan pria itu.


"Makanya, jangan terlalu mencurigakan!" keluh Dea dengan ekspresi sedikit bersalah.


"Hm." Ben bergumam malas. "Ini, nggak jadi, ya? Ah Dea ... bikin mandi lagi."


Dea hanya menggerakkan bibirnya seolah mengejek Ben. Ia mengambil kembali ponsel Ben, dengan niat untuk dimatikan lalu dikembalikan ke tempat semula.


Namun, ekor matanya tidak sengaja menemukan ada sesuatu yang aneh dari pria itu.

__ADS_1


"Ben?" Dea memanggil syok, bahkan berlari turun dari tempat tidur untuk mengejar suaminya ke kamar mandi. Namun, terlambat. Pria itu sudah menutupnya lebih dulu. "Hidung kamu berdarah, Ben? Ben!"



__ADS_2