
Ben baru saja mengembalikan kesadarannya. Ia hanya mengucek mata sebentar demi menjernihkan pandangan, melirik sekitar, dan tersenyum telat setelah menemukan sosok Dea di sampingnya. Meski kedua kaki perempuan itu menekan perutnya, Ben sama sekali tidak menganggapnya masalah besar. Bahkan menyukainya, dan ingin berlama-lama dalam posisi ini.
Sayangnya, tuntutan pekerjaan tidak mengizinkan pria itu menikmati kebahagiaan sederhana ini lebih lama. Ben harus bersiap untuk berangkat bekerja.
Pria itu memindahkan kaki Dea secara perlahan agar melepaskan dirinya, satu-persatu. Namun, itu hanya sekadar niat. Sebab, baru menyentuh kulit Dea, sang istri sudah menggeliat manja.
“De, aku mau siap-siap dulu,” kata Ben memberitahu.
Namun, bukannya mengindahkan ucapan sang suami, Dea hanya sekadar menurunkan dua kakinya menekan paha Ben, laku meringkuk hanya agar bisa memeluk erat pria itu.
“Lima menit lagi,” bisik Dea tanpa membuka mata sama sekali. Suaranya begitu rendah dan berat, membuat Ben sempat menenggak ludah secara kasar, lalu tersenyum tipis.
“Mas-mu bisa-bisa langsung marah kalau aku telat masuk, De.” Ben mencoba bernegosiasi, sembari mengelus lembut lengan istrinya. “Aku bakalan pulang cepet kok sore ini.”
“Hm ....” Dea bergumam berat, sama sekali tidak ingin melepaskan sang suami dari pelukannya. “Bentar. Aku masih pengen peluk.”
Ah sial ... Ben mendesis dalam hati, sebab suara manja Dea sangat langka. Sehingga mendengarnya secara langsung, terasa sangat menakjubkan. Entah kapan lagi ia bisa merasakan hal ini dari si istri tegas.
Namun di sisi lain, ada tuntutan pekerjaan yang tiba bisa diabaikan olehnya.
“Dea ....” Ben memanggil dengan suara yang teramat lembut. Ia mengubah posisi jadi menyamping, kemudian mencium kening perempuan itu sekali. “Nanti sore ya? Nanti Dea bebas mau apain aku aja.”
Ben mencoba bernegosiasi dengan menawarkan keuntungan lain untuk sang istri, tetapi Dea hanya mengibaskan pundaknya. Menunjukkan ketidaktertarikan atas tawaran tersebut.
“Jadi, maunya apa, De?” Ben hendak mencari penawaran lain, sebab memaksakan diri terlepas bukan hanya sekadar membuat Ben kehilangan kemanjaan sang istri, tetapi juga mendapatkan amukan Dea entah untuk berapa lama. Jadi, pria itu akan mencoba segenap cara lembut lainnya.
“Peluk.” Dea menjawab santai. Kemudian semakin merapatkan tubuhnya pada Ben. “Nggak tau kenapa, akhir-akhir ini pengen banget deket. Gampang kangen, padahal biasanya aku gampang muak sama kamu.”
Dea curhat dengan mata terpejam, dan setelah selesai, ia membukanya demi mempertemukan tatapnya dengan sang suami.
“Kayaknya pengaruh bayi, deh. Aku nggak pernah ngidam aneh-aneh, tapi nggak tau kenapa, berat aja gitu kalau kita harus pisah walau sehari aja.”
Ben mencebikkan bibir ke bawah dengan senyuman setengah percaya. “Jangan sembarangan fitnah anak kita ya, De. Kalau Dea yang mau, bilang aja.”
__ADS_1
“Emang kamu mau nurutin?” Dea bertanya, sembari memperbaiki posisi kepalanya agar bisa fokus pada sang suami saja.
Ben diam, tidak tahu harus menjawab apa.
“Aish, Ben ....” Dea mengeluh dengan suara manjanya. “Balik ke restoran lagi, ya? Aku mau lihat kamu 24 jam.”
“Tapi aku udah janji sama Pak Kahar, De.” Ben menjawab jujur.
“Kamu juga sebelumnya janji nggak bakalan terima tawaran papa, tapi malah ingkar tuh.”
“Aku nggak janji, perasaan.”
“Bodo amat!” Dea balas malas. Ia membawa pelukannya ke leher Ben, dan semakin erat mendekap ia bahkan membawa pinggangnya ke bawah, naik ke atas tubuh Ben untuk semakin menahan pria itu. “Plis, seenggaknya selama sembilan bulan aja, Ben, sampai bayi ini lahir. Dia yang nggak mau pisah sama kamu, Ben. Ini kayaknya yang aku idamin. Kamu mau anak kita ileran gegara nggak diturutin?”
“Ngidamnya unik ya, De? Kayaknya sesuaikan diri sama ibunya yang nggak peduli sama aku,” kata Ben, lalu mendengkus geli. Ia sejujurnya masih bingung harus mengambil keputusan apa.
“Ben ... jangan lanjutin ya?” ucap Dea memelas. “Aku nggak mau makin jarang ketemu kamu. Kalau lihat papa dan masa kecil aku, aku tahu gimana perasaan Mama sekarang kalau ditinggal papa kerja sampai lupa waktu. Bener-bener nggak nyaman. Kalau kamu kerja di restoran, aku bisa lihatin kamu terus sesuka aku, plus di rumah. Aku beneran cuman mau nempel sama kamu doang, Ben.”
Pria itu tersenyum geli mendengarnya. Dibujuk dengan begitu manis, Ben benar-benar sulit menolak. Sehingga ia mengawali jawabannya dengan anggukan kecil.
Dea membawa kedua tangannya menyentuh wajah Ben, dan memamerkan senyum untuk pria itu.
“Makasih, Sayang,” ucap Dea.
...*...
Kekecewaan Kahar menjadi hukuman tersendiri bagi perasaan Ben setelah mengutarakan niatannya. Ben tidak lagi mampu balas memandang sang mertua, sehingga memilih menunduk dalam penyesalannya.
“Maaf, Pak. Saya labil. Saya cuman mau menikmati masa-masa kehamilan istri saya, Pak.” Ben menambahkan penjelasan lain setelah ia mengutarakan niatannya untuk mundur.
“Kamu bisa belajar dari mana aja, Ben. Seenggaknya dari materi aja dulu,” kata Kahar memberikan opsi lain. “Nanti praktiknya setelah Dea—“
“Nggak!” Dea yang duduk di samping Ben langsung memeluk lengan suaminya begitu erat. Menunjukkan kepemilikan dan enggan diganggu-gugat. “Jangan ngasih kerjaan apa pun buat Ben! Aku mau miliki dia sepenuhnya,: jiwa, raga, bahkan pikiran dia! Aku nggak suka kalau pikiran dia kecampur sama kerjaan! Aku nggak mau!”
__ADS_1
“Dea, kamu kesurupan?” Kahar menatap ngeri cara bicara anaknya yang benar-benar manja, dan sulit lepas dari sang suami.
“Papa ....” Dea memanggil dengan suara memelas. “Ini bukan kemauan aku. Ini gara-gara cucu papa juga tau! Aku jadi gampang cemburuan sekarang, bahkan sama kerjaan sekalipun! Aku nggak mau diduakan walaupun itu sama pekerjaan!”
Kahar mengusap pelipisnya karena bingung. “Mama kamu perasaan nggak seekstrem ini pas hamil.”
“Bodo amat.” Dea mengalihkan bola matanya ke atas, enggan melirik sang ayah sebagai bentuk protes.
“Ya udah, ya.” Kahar memutuskan dengan berat. Ia bahkan menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya secara berat hanya karena keputusan ini. “Kamu ambil suami kamu, jiwa, raga, bahkan pikirannya. Ambil aja,” kata Kahar.
Dea langsung tersenyum cerah, bahkan bertepuk tangan. Si perempuan 31 tahun tersebut, lebih menyerupai anak usia tiga tahun sekarang.
“Ayo, Ben, kita jalan-jalan.” Dea seketika berdiri, dan menyeret lengan Ben agar mengikutinya.
“Nggak ke resto, De?” Ben mengikuti secara pasrah, dan berpamitan melalui isyarat pada sang mertua.
“Nggak perlu. Hari ini, bos kamu nggak masuk kerja, jadi kamu ikut bolos aja.”
Ben mendengkus geli mendengarnya. Ia sendiri sama sekali tidak keberatan dengan keinginan istrinya saat ini.
Namun, ketika Ben hendak meminta kunci mobil pada De, perempuan itu malah menggeleng.
“Naik motor aja, Ben,” ucap Dea.
“Tapi Dea nanti kecapean.”
“Nggak masalah. Aku nggak mau naik mobil, soalnya nanti kita bakalan berjarak.”
“Cuman beberapa senti doang, De.” Ben benar-benar tidak habis pikir dengan keinginan ajaib Dea saat ini.
“Mau sesenti atau lebih, aku tetep nggak suka!” Dea memutuskan dengan tegas. “Aku mau di deket kamu! Titik! Nggak mau ada jarak!”
Ben mendengkus, mendesis dalam hati. Sialan! Dea benar-benar manis kali ini.
__ADS_1
Membuat Ben ingin menghamili perempuan ini sesering mungkin nanti.