Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
71. Putus Asa


__ADS_3

Dea merelakan pertemuannya berubah jadwal sehingga ia bisa ke rumah sakit lebih awal. Semua hal itu diniatkan Dea hanya untuk satu hal, bahwa suaminya yang sedari pagi bersikap dingin, akan sedikit melunak. Tambahan lain yang Dea usahakan adalah permintaan maaf yang tidak terhitung jumlahnya.


“Lagian,” kata Dea setelah permintaan maafnya sama sekali tidak mendapatkan tanggapan. “Kamu sendiri yang bikin aku stres, Ben. Kamu ... setelah bikin aku nyaman, kamu seenaknya bicara yang bikin aku jadi ... nggak nyaman. Aku nggak tahu harus bilang sama siapa buat urusan pernikahan kita, sementara kepala aku beneran berasa penuh. Aku mau nyoba istirahatkan diri sendiri dengan lupa sebentar masalah kita, makanya ... aku larinya ke minum. Aku juga nggak sengaja lupa, kalau aku ternyata lagi hamil.” Dea semakin mengecilkan suaranya dia akhir kalimat.


Namun, Ben yang sedang berjalan di sampingnya sama sekali tidak menoleh. Pandangannya lurus ke depan, pada lorong yang akan mereka lalui menuju ruang pemeriksaan.


Dea akhirnya memilih untuk menyerah. Perempuan itu mengikuti ke mana suaminya berjalan. Ia juga memilih diam, di saat Ben hanya memberikan isyarat di beberapa kegiatan mereka: seperti menarik tangan Dea untuk duduk selama menunggu antrean, mengajak masuk dengan tarikan sama, lalu keduanya masuk ke dalam ruangan pemeriksaan tanpa saling bicara.


Bahkan, Ben hanya mau mendengarkan dan membalas ucapan dari dokter yang memeriksa kondisi Dea ketimbang memedulikan sang istri sendiri.


Hal itu langsung meningkatkan ekspresi kesal di wajah Dea. Ia melipat tangan di depan dada, sembari memalingkan pandangan ke arah lain.


“Secara keseluruhan, kondisi bayi dan istri Anda baik-baik saja. Tapi belum tentu keberuntungan masih berpihak pada Anda, jika hal ini terulang lagi. Jadi tolong, awasi istri Anda agar tidak minum-minuman keras lagi,” jelas si dokter sebagai penutup konsultasi hari ini. “Pak Ben juga harus memberikan perhatian dan kepedulian lebih pada istri Anda, karena perasaan seorang ibu sangat berpengaruh pada janinnya. Apalagi saat kondisi hamil, tingkat sensitivitas ibu hamil meningkat, bisa memperparah peluang ibu hamil melakukan hal-hal buruk.”


Dea diam-diam tersenyum mendengarnya. Ia seperti didukung oleh takdir agar tidak menjauh dari sang suami. Dea diam-diam mengusap lembut perut ratanya, sebagai bentuk terima kasih pada sang bayi.


“Baik, Dok,” kata Ben kemudian. “Terima kasih. Kami pamit kalau begitu.”


Ben berdiri, lalu berjabat tangan dengan sang dokter. Ia diam di tempat setelah melakukan itu, sebagai isyarat menunggu sang istri ikut berpamitan dengan dokter tersebut. Bahkan, Ben masih tetap diam tanpa bersuara jika itu berbicara dengan Dea.


Setelah berpamitan, Ben bahkan memberikan isyarat mempersilakan untuk Dea berjalan lebih dahulu. Sementara dirinya di belakang. Masih tanpa bersuara, atau ekspresi ramah. Belum lima menit, dan Ben sudah mengingkari janjinya pada si dokter untuk memedulikan sang istri.

__ADS_1


Ia kembali bersikap dingin.


Dea hendak membalas dengan sikap serupa, tetapi pada akhirnya, perempuan itu muak dengan suasana di antara mereka. Ia menyerah, dan menggebu-gebu saat masuk di mobil.


“Suka banget kalau aku ngemis minta maaf sama perhatian ke kamu, Ben? Seneng banget kamu bikin aku jadi perempuan murahan, gitu?” kata Dea, meledak-ledak. “Dari tadi pagi, aku sudah korbanin banyak hal cuman buat dapat maaf dari kamu, Ben. Aku tinggalin kerjaan penting aku cuman buat pemeriksaan ini, dan aku ... nggak kehitung berapa kali minta maaf sama kamu. Apa masih belum cukup? Kamu mau aku berlutut terus sujud sambil minta maaf di depan kaki kamu gitu?”


“Siapa yang minta kamu buat minta maaf?”


Dea langsung merapatkan bibir setelah mendengarkan balasan telak dari Ben. Ia sempat menjilati bibir sendiri yang kering, demi melancarkan ucapan selanjutnya.


“Karena aku sadar diri lah sama kesalahan aku,” jawab Dea masih dengan nada meninggi, berbanding terbalik dengan ketenangan berbicara Ben barusan. “Nggak kayak kamu, yang sama sekali nggak sadar diri sama kesalahan kamu itu.”


Ben tetap lurus pada jalanan ketika Dea meliriknya dengan lurus, sementara perempuan itu memberikan jeda sejenak untuk menunggu respons selanjutnya dari sang suami.


“Tapi aku nggak butuh sama sekali.”


Dea menarik napas pendek, kemudian mengembuskannya dengan kasar. Amarahnya terpancing sempurna, sehingga ia mengepalkan tangan di atas pangkuan secara maksimal.


“Aku tuh nggak mau hubungan kita dingin kayak gini! Ini tuh usaha aku, supaya ... pernikahan kita nggak hancur cuman gegara masalah ini. Aku bahkan ... bersikap kayak nggak punya harga diri di depan orang yang nggak bisa hargai aku, cuman supaya ... pernikahan ini bisa bertahan selamanya.”


Ben tidak menimpali, tetapi ia meneguk saliva secara kasar. Merasai sakit di tenggorokan yang berusaha ia sembunyikan.

__ADS_1


“Kamu masih muda, bebas nikah berapa kali nanti setelah nikah sama aku. Sementara aku? Kamu aja dipaksa nikah sama aku baru mau. Jadi, aku nggak mau ... pernikahan ini hancur gitu aja.” Dea menipiskan bibir ketika rasa panas mulai menjalar ke matanya. “Kamu sendiri juga nggak selingkuh, berarti nggak punya cinta di luar sana. Sikap posesif kamu sama aku dengan ngelarang Mas Dion deket-deket, menunjukkan kalau kamu masih ngehargai ikatan antara kita. Jadi ... aku mau berusaha, Ben. Aku mau bertahan, dengan membatalkan kontrak pra-nikah kita, Ben. Kamu ... nggak mau bantu aku juga mempertahankan pernikahan kita?”


Dea menunggu jawaban dengan pandangan penuh harap. Matanya hampir tidak berkedip selama memperhatikan setiap ekspresi yang ditunjukkan oleh Ben. Ia akhirnya menemukan, bahwa di antara mimik dingin yang suaminya tunjukkan, ada beberapa detik yang menyelingi ekspresi gelisah.


Dea berharap, bahwa nurani Ben berhasil ia panggil. Sehingga sedikit saja, Ben memberikan harapan untuk dirinya.


Namun ....


Ciiiiitttt ....


Mobil mendadak mengerem, menyebabkan tubuh keduanya terdorong ke depan. Dea yang lupa mengenakan sabuk pengaman terdorong ke depan. Ben yang masih bisa bertahan, secara spontan menahan dada dan kening istrinya agar tidak menabrak dasbor dengan kasar.


Berhasil, walau jemarinya harus menahan nyeri akibat impitan antara dashboard dan kepala istrinya. Namun, hal itu sama sekali tidak dipedulikan Ben. Wajahnya dengan jelas menunjukkan tanda cemas, sampai Dea meliriknya dengan senyum mengejek. Ben langsung memasang tampang marah.


“Barusan kamu minta maaf karena lakuin kesalahan: minum dalam kondisi hamil. Sekarang, kamu juga ceroboh nggak pakai sabuk pengaman. Kamu beneran mau bunuh anak itu apa gimana, De?”


Dea langsung memalingkan wajah ke arah lain selama beberapa detik, karena muak dengan sikap palsu Ben. Ia baru menghadap suaminya lagi setelah sabuk pengaman ditarik oleh Ben untuk perempuan itu.


Dea melipat bibir ke dalam, menahan senyumnya mengembang sempurna atas sikap manis yang suaminya ini tunjukkan. Namun, Ben langsung mendongak, melirik Dea. Ia membunyikan suara klik dari sabuk pengaman tersebut, tetapi belum langsung meninggalkan posisi condongnya ke sang istri.


“Nggak,” jawab Ben dengan dingin. “Aku nggak mau bertahan sama sekali di pernikahan ini.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2