Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
12. Dua Amarah Berbeda


__ADS_3

Sejak masuk dalam mobil, Dea terus menyilangkan tangan depan dada. Selain agar handuknya tidak melorot jatuh, juga demi menjelaskan kekesalannya pada sang kakak yang secara asal menarik pergi tanpa mau membiarkan Dea berpakaian.


“Turunin AC-nya!” ucap Dea tegas.


Instruksi itu segera diikuti oleh Dion. Hanya mereka berdua di mobil, sementara Ben mungkin ikut di mobil Dika. Kakak-adik ini saling adu dingin dalam mobil pada menit-menit awal.


“Kamu nggak pakai sistem kontrak kayak yang saya arahin, De?” tanya Dion, setelah berhasil mengendalikan amarahnya.


“Pake,” jawab Dea dengan suara kecil tapi tetap tegas.


“Jadi? Ngapain kamu malah tidur sama orang kayak dia, De? Astaga ... dari dulu saya bilang ke kamu, jangan sampai punya anak dari orang miskin kayak dia! Dia bisa manfaatin kamu nanti buat dapat banyak uang dari kamu, De!”


“Nggak tidur yang kayak gitu, Mas!” Dea mengelak dari tuduhan sang kakak. “Itu beneran ... kecelakaan.”


“Kecelakaan apa? Kamu ditabrak mobil terus tau-tau udah tinggal di kontrakannya dia? Kamu kepleset terus jatuh dan bikin kasurnya jatuh? Kamu kepentok tangga terus leher kamu lebam gitu? Kamu luka terus tau-tau mandi di ... kamar mandi yang saya pastikan jorok banget itu?”


“Ya ... enggak gitu juga, Mas. Itu ... kebetulan aja. Kamar mandinya juga nggak jorok-jorok amat, jadi ya aku nggak papa mandi di situ.” Dea kebingungan menjawab, tetapi harus tetap memutar otak menemukan kalimat yang bisa meyakinkan sang kakak. “Aku tinggal di kontrakannya karena dia itu berisik banget. Soalnya Elvan juga tinggal di apartemen yang sama, jadi dia ketakutan gitu aku sama Elvan ketemuan diem-diem.”


“Nah! Dia makin nggak bener! Sok-sokan posesif sama kamu padahal nggak kenal-kenal amat! Cih! Dasar orang miskin! Dia kayak gitu supaya kamu nggak jatuh cinta sama laki-laki lain, dan dia bebas buat manfaatin kamu.”


“Mas juga posesif sama aku tuh.”


“Buat jaga kamu, De. Kalau dia jelas, biar bisa kurung dan batasi kamu. Kalau saya murni buat jaga kamu. Saya paham banget isi kepala laki-laki, dan ... mustahil, De, mustahil banget dua manusia beda gender—apalagi sudah menikah—tinggal di satu tempat yang sama tapi nggak tidur bareng. Mustahil! Saya nggak bisa percaya, De.”


“Mas, sama adik sendiri masa nggak percaya?”


“Bukan sama kamu, sama si Ben saya nggak percaya! Dia ... bisa aja apa-apain kamu pas kamu lagi tidur, kan? Siapa yang tahu? Kamu kalau tidur, digotong orang pun nggak bakalan kebangun.”


“Ya ... en—enggak mungkin lah, Mas.” Dea mengelak susah payah, padahal ia sudah meneguk ludah secara kasar karena ragu dengan jawaban sendiri.


Mendadak saja, Dea mengusap bekas merah di lehernya. Pikiran perempuan itu mulai menerawang jauh.

__ADS_1


Bisa saja ... Ben benar-benar melakukannya ketika Dea sedang tidak sadar. Dea bahkan sudah tidur ketika pria itu memberikan jejak ini.


“Abis ini, minum pil anti hamil. Nanti kalau ditanya kenapa nggak hamil-hamil, bilang aja kalau Ben mandul karena nggak bisa jaga kesehatan sendiri! Kamu kalau mau punya anak, adopsi aja.”


“Harus minum pil, Mas?” Dea tercengang. “Nggak mungkin lah, Mas. Aku sama Ben beneran ... nggak ngapa-ngapain kok.”


Dea menaikkan kaki kiri di atas paha kanan sebentar, lalu sebaliknya secara bergantian hanya untuk tahu satu hal.


Bahwa tidak ada nyeri apa pun di inti tubuhnya—yang mata orang selalu dirasakan oleh seorang wanita setelah lepas keperawanan pertama kali.


Jadi, Dea diam-diam menyimpulkan bahwa dirinya sungguhan tidak melakukan apa pun bersama Ben.


“Kamu mana tau, Dea .... Saya nggak mau tau! Habis ini saya belikan obat yang bisa cegah kamu hamil. Setelah ini, kamu jangan sampai deket apalagi tidur bareng sama Ben! Jangan! Sampai satu tahun pernikahan, nanti saya yang cari cara supaya kalian bisa pisah! Kalau kamu butuh pasangan, nanti saya carikan yang sepadan sama kamu.”


Dea tidak membalas setiap titah bernada dingin dari sang kakak. Ia memalingkan wajah ke jendela, memasang wajah malas.


Sisa perjalanan mereka habiskan dengan ceramah tak berujung dari Dion tentang larangannya dekat dengan Ben, dan peluang-peluang buruk yang bisa saja diciptakan oleh suami Dea itu. Hampir semuanya tidak masuk di telinga Dea, karena ia benar-benar malas dengan pikiran yang menerawang jauh.


“Pakai jaket, De.”


Walau terkesan lambat, tetapi Dea tetap mengikuti arahan Ben. Mengenakan jaket pria itu. Lalu masuk ke rumah bersama Dion. Ben menghampiri Dika lagi untuk membawa semua barang-barang masuk rumah.


Kedatangan mereka disambut oleh Diana yang syok melihat tampilan putri satu-satunya. Ia datang dan mengecek kondisi fisik dan tampilan Dea.


“Kok Dea kayak gini, Dion?” tanya Diana menuntut. “Astaga ... cuman pake handuk sama jaket ....”


“Tadi nggak pake jaket malahan, Ma.” Dea melapor, sembari melirik pada Dion yang tampak tidak merasa bersalah. Pria itu tetap berdiri geming dengan ekspresi angkuh.


Dika dan Ben sempatkan berhenti sejenak di ruang tengah demi menyimak obrolan.


“Maaf, Tante, tadi ada masalah dikit.” Saat Ben mulai bersuara dengan ramah, Dion segera memalingkan wajah sembari merotasi bola mata. “Dea bisa ke kamar dulu pakai baju, terus jelasin semuanya, Tante?”

__ADS_1


Diana segera mengangguk khawatir. “Sana, sana! Pakai baju dulu sana. Astaga ... keluar nggak pake apa-apa. Malu ... kalian udah pada dewasa. Astaga ... Mama nggak bisa bayangin.”


Di saat Diana masih meracau, Ben sudah mengajak Dea untuk naik ke kamar. Ben dibantu Dika membawa semua barang-barang ke kamar, sementara Dea mendahului.


Setelah semuanya tiba di kamar, Dika buru-buru pergi dari sana. Namun di ambang pintu, sembari ia memegang gagangnya, Dika sempat berbicara dengan nada menggoda.


“Manusia di bawah nggak usah peduliin, Ben. Lanjutin aja. Kalian ini harus trial berulang kali, biar cepet ketahuan berhasil, atau mesin produksinya Mbak Dea udah berkara—“


Tanpa mengatakan apa pun, sandal yang Dea lemparkan pada Dika sudah berhasil memotong kalimat sang adik. Meski gagal mengenai wajah Dika, setidaknya pintu sudah ditutup rapat, dan wajah menyebalkan adiknya sudah tidak terlihat.


Ben sibuk membuka koper miliknya sendiri ketika Dea mondar-mandir frustrasi. Perempuan itu melepaskan jaket, dan melempar ke pemiliknya.


“Semua ini gara-gara kamu, Ben! Kalau kamu nggak cerewet masalah Elvan, saya nggak bakalan dimarahin Dion sampai segininya! Kamu maksa buat pindah ke kontrakan, bikin kasur rusak, dan sembarangan ngasih tanda! Puas kamu bikin saya dipermalukan sama Dion? Puas?!”


Ben sama sekali tidak merasa tersinggung atas perlakuan itu. Malah berdiri tenang usai menurunkan jaketnya ke atas koper, kemudian mendekati Dea untuk merengkuh perempuan itu dalam pelukan. Mengabaikan pemberontakan yang sang istri lakukan.


“Kamu ngapain lagi? Ngapain? Lepasin! Nggak usah sok manis kampret! Saya nggak suka! Lepasin!”


“Nggak papa,” bisik Ben dengan lembut, berbanding terbalik dengan usaha kerasnya agar kucing mengamuk di pelukannya bisa berubah jinak. “Nanti saya yang bilang ke Dion kalau saya ini suaminya Dea. Barangkali dia lupa kalau adiknya ini sudah menikah, dan adiknya ini sudah jadi hak milik saya sepenuhnya.”


Dea sudah berhenti meronta karena tertegun dengan suara dalam Ben yang terdengar begitu serius. Meski demikian, pelukan Ben sama sekali tidak mengendur, bahkan semakin bertambah kuat hingga membuat Dea sedikit sesak.


Susah payah, Dea sedikit mendongak. Walau ia hanya bisa melihat rahang tegas Ben, tetapi entah mengapa, Dea bisa merasakan kemarahan yang pria ini tunjukkan.


Namun tunggu, Dea bingung. Pria ini marah karena hal apa? Padahal saat kedatangan Dion, dia masih sangat santai.


Atau karena masalah penyeretan Dea secara paksa?


Apa itu bentuk kekhawatiran Ben pada Dea, tapi tidak bisa melakukan apa pun saat itu?


Dea bertanya-tanya dalam hati, dan benar-benar melunak dalam pelukan Ben.

__ADS_1



__ADS_2