Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
66. Sebelum Penyesalan Mendalam


__ADS_3

Semakin terpuruk dalam pikiran yang kian memburu menjadi alasan mengapa Dea berdiri di depan pintu kayu ganda saat ini. Berangkat terburu-buru di pagi hari, bahkan tanpa sempat mengenakan make up penutup aib wajah—Dea bahkan begitu percaya diri memamerkan kantung matanya yang menjadi bukti betapa kurang nyenyak tidurnya beberapa malam terakhir.


Perempuan itu mengangkat tangannya yang mengepal lemah, hendak mengetuk pintu dengan gerakan lembut. Namun mempertimbangkan beberapa hal, Dea membatalkan niat. Ia melebarkan tangannya, lalu memukul pintu secara membabi-buta.


Bagi Dea, persetan dengan sopan santun sekarang ini, karena wanita perebut suami orang sama sekali tidak berhak untuk dihargai.


Dea terus memukul daun pintu, sangat bersemangat, sampai sepasang kayu tinggi berwarna cokelat itu dibuka oleh seorang wanita.


Dea memintai tampilan sederhana dari si wanita—hanya sebuah daster melekat di tubuh serta rambut tercepol asal—tetapi tidak gagal menunjukkan aura anggun dalam dirinya.


Sekarang, Dea sedikit memahami mengapa Ben memilih perempuan ini. Namun meski demikian, dia tetap tidak bisa membiarkan si wanita memiliki suaminya secara utuh.


Dea maju selangkah, lalu tanpa aba-aba, segera menarik rambut si wanita tanpa perhitungan. Berhasil menciptakan ringis kesakitan, yang sama sekali tidak dapat memanggil jiwa simpati Dea.


Tambahan menyebalkan lainnya, saat Dea melirik ke bawah—pada tonjolan di perut si wanita—amarahnya kian membara. Terlihat jelas dari matanya saat ini.


"Dasar perempuan tidak tahu malu!" hardik Dea dengan kasar. "Berani-beraninya kamu goda suami saya, hah! Sampai ... bunting segala! Kamu nggak laku sama laki-laki lajang, hah? Sampai harus goda laki-laki beristri?! Adam Bentala sudah menikah! Kamu tidak lihat cincin di tangannya? Cincinnya sama kayak punya saya!" Dea menunjukkan jemari kurusnya pada si pemilik rumah dengan geram. "Yang berarti, dia suami saya! Kamu ... berani-beraninya goda suami saya!"


Dea menekan gigi-giginya dengan sangat kuat untuk melampiaskan kemarahan. Sementara si wanita hanya berusaha melepaskan tarikan Dea tanpa berniat membalas menyakiti si lawan sama sekali.


Ketika merasa tidak bisa berjuang sendiri lagi, perempuan itu terpaksa meminta bala bantuan.


"Mas ...." Wanita itu merintih sembari melirik ke dalam rumah.


Tidak lama setelah itu, dari arah tangga menuju lantai dua, seorang pria dalam balutan kemeja dan celana bahan formal datang dengan mata melotot. Di pertengahan tangga, ia tidak lagi berjalan santai setelah mengetahui kondisi terdesak istrinya, dan langsung maju untuk melepaskan tangan Dea secara paksa. Bahkan tanpa sengaja memberikan tekanan kuat yang menyiksa si tamu.


Dea mundur dengan rintihan lirih. Ia sempat memegangi pergelangan tangannya, lalu bersikap biasa saja—susah payah menahan agar dirinya tidak terlihat lemah.


"Kamu siapa? Kakaknya? Suaminya?" tanya Dea sembari beralih ke si pria tanpa membiarkan si pemilik rumah bicara lebih dahulu.


"Suaminya!" jawab si pria dengan nada tegas. "Kamu ini siapa? Datang-datang Jambak istri saya? Istri saya punya masalah apa sama kamu?"

__ADS_1


"Oh, suami." Dea mengangguk-angguk dengan kesan meremehkan. Perempuan itu mengangkat dagunya untuk memperkuat kesan angkuh. "Tolong ajari istrinya supaya jangan ganjen sama suami orang! Jangan ganggu suami saya, apalagi jam kerja! Suami saya orang sibuk!"


Dea melirik sinis ke arah perut si wanita, kemudian melipat tangan depan dada. "Coba tanya istrinya, itu anak kamu atau anak laki-laki lain?"


Pria itu langsung menatap istrinya dengan tatap ngeri terhadap tuduhan Dea. Ia mencoba menarik napas panjang demi menenangkan diri agar tidak dikendalikan oleh emosi lagi.


"Laki-laki lain itu siapa, Mbak?" tanya pria itu dengan nada tenang—yang terlihat jelas sangat butuh usaha untuk melakukannya.


"Ben. Adam Bentala."


Pria itu sempat memandang syok selama satu detik, lalu berikutnya, ekspresi jenaka ia tunjukkan saat melirik sang istri.


"Kamu selingkuh sama adik kamu, Sayang?"


Dea mengerutkan kening, tidak paham dengan pertanyaan si pria untuk istrinya itu.


"Nggak, Mas! Sama sekali nggak! Ben mau ke sini aja, kita harus ngadain syukuran plus pengajian," jawab perempuan itu.


"Dengar kan, Mbak? Jangankan buat selingkuh, Mbak, istri saya ketemu suami Mbak aja bisa terhitung jari. Gimana caranya selingkuh? Apalagi saya yang selalu awasi istri saya tiap ketemu adiknya."


Dea tidak paham dengan arah pembicaraan saat ini. "Adik? Ben?"


Pasangan itu saling memandang untuk berdiskusi melalui isyarat, yang ditutup dengan anggukan oleh mereka, sebelum beralih pada Dea kembali.


"Mari masuk," kata si wanita yang kini memiliki rambut berantakan, tetapi suaranya tetap sopan. "Saya jelaskan semuanya."


...*


...


Ben mendengarkan semua cerita tentang kedatangan Dea ke rumah Ridwan sembari menggosok pelipis yang mendadak berdenyut pening.

__ADS_1


"Jadi, dia bikin keributan gitu, Mbak?" tanya Ben penasaran.


"Iya, tapi nggak terlalu parah kok. Untungnya mau dengerin ucapan kami," jawab si lawan bicara melalui telepon. "Karena situasi mendesak, jadi ya ... saya cerita sama Dea."


Sekarang, Ben memejam frustrasi mendengar satu fakta ini. Ia tidak mau Dea mengetahui tentang kondisinya yang bisa menyebabkan sang istri bersikap seperti mantan kekasih atau ayahnya sendiri.


Ben tidak mau siapapun terganggu karena penyakitnya saat ini, apalagi orang itu adalah ....


"Jadi, dia sudah tahu semuanya, Mbak?" tanya Ben, mengonfirmasi untuk meyakinkan diri sendiri. Bahwa rahasianya sudah terkuak.


Hening sejenak. Ben bahkan sempat menjauhkan layar ponsel dari wajahnya karena berpikir sambungan sudah dimatikan, tetapi tidak.


"Ya, tentang kedekatan ayah kita, yang bikin saya punya adik ketemu gede," jawab perempuan itu. "Tapi untuk masalah penyakit, enggak. Itu biar kamu yang jelasin, biar istri kamu nggak tersinggung karena tahu hal sepenting ini dari orang lain."


Ben menghela napas lega.


"Kamu sudah mau cerita sejujurnya sama istri kamu kan, Ben?" tanya perempuan di seberang sambungan. Ben baru saja akan memberikan gelengan, tetapi sambungan kalimat si penelepon membuatnya membatalkan niat. "Ada banyak alasan kenapa kamu harus lawan ketakutan kamu, dan mulai bicara jujur sama istri kamu, Ben. Kalau kamu cuman nggak mau dapat belas kasihan, minimal kasih tahu istri kamu tentang penyakit kamu. Itu akan membuat dia merasa spesial kalau tahu langsung dari kamu. Dia bakalan merasa dirinya penting dalam hidup kamu, Ben. Kalau kamu tunda juga, bisa-bisa bakalan ada banyak perempuan lain yang senasib sama saya kalau istri kamu mendadak curiga sama perempuan lain. Kalau kamu jujur kan, istri kaki bakalan naruh kepercayaan besar ke kamu."


Ben hanya menunduk mendengarnya, sama sekali tidak memiliki niat untuk melakukan hal seperti yang disarankan.


"Ben, kamu selalu mikir kalau penyakit kamu nggak penting. Kalau alasan kamu nggak mau cerita karena merasa ... istri kamu nggak perlu tahu, karena kalian merasa asing dan nggak terlalu deket, percaya sama penglihatan saya, Ben, istri kamu ... menganggap kamu orang yang paling, sangat, dan amat penting dalam hidup dia."


Ben tersenyum tipis, merasa ragu pada fakta itu.


"Kalau kamu nggak cerita karena nggak mau dia berkorban banyak buat kamu, percaya, Ben ... dia bakalan jadi orang pertama paling terpuruk dan sengsara kalau tahu kamu kenapa-napa, sementara dia nggak bisa ngasih hal terbaik buat kamu."


Ben meredupkan senyumnya. Mendadak berubah ke mode serius dengan pandangan bertanya-tanya, apakah iya?


"Kamu nggak membebani siapapun sekarang, Ben. Kamu hanya perlu berusaha supaya tidak ada siapapun yang merasa kecewa pada diri sendiri, kalau kamu kenapa-napa. Jadi ... biarkan mereka melakukan apa pun yang terbaik untuk kamu," lanjut perempuan itu yang sekali lagi membuat Ben tertegun. "Karena banyak orang yang sayang sama kamu, dan kamu ... memang pantas buat dapat kasih sayang itu. Jangan ditolak, kalau kamu nggak mau siapapun terpuruk suatu hari nanti karena penyesalan yang nggak bisa ditebus. Konsekuensi masalah saat ini adalah kematian, dan nggak ada putar waktu untuk membatalkan atau lari dari hal itu, Ben."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2