Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
49. Persiapan Dari Awal


__ADS_3

Mengabaikan peraturan bahwa Dion benci orang yang terlambat, Ben tetap mampir di restoran untuk menemui Dea. Ia sudah memprediksi bahwa dirinya akan terlambat bekerja, jadi, sekalian saja. Begitu yang ia pikirkan.


Penuh semangat, Ben melewati semua orang yang sedang sibuk bekerja atau para pelanggan lainnya. Ia begitu fokus mengarah ke pintu ruangan Dea. Hanya sesekali menoleh, ketika dirinya disapa oleh rekan kerjanya dulu dan tersenyum lebar ketika seruan selamat terus menghampirinya.


“Wuih, calon bapak Dateng. Selamat, Ben, bentar lagi jadi bapak-bapak.”


Rata-rata, semuanya menyambut seperti itu. Ben tidak tahu harus membalas apa, jadi hanya bisa tersenyum.


Tidak lagi mengetuk pintu seperti saat menjadi karyawan—serta didasari oleh rasa penuh semangat yang tinggi—Ben membuka pintu ruangan secara tiba-tiba. Membuat perempuan di dalam sana sempat terkejut, dan langsung mendongak ke arah Ben.


“Kenapa?” tanya Dea dengan wajah datar. Ia hanya memperbaiki letak kacamata ovalnya, kemudian lanjut mengobservasi data di laptopnya.


“Semua orang udah tahu, De?” Ben balas bertanya, kemudian menghampiri kursi di depan sang istri. Agar obrolan mereka semakin intens. “Kapan?”


“Kemarin,” jawab Dea. Masih tidak mengubah ekspresi sama sekali.


“Cuman aku doang ya, yang tahu tadi.”


Dea mengangkat dua bahunya tidak acuh. Sama sekali tidak peduli dengan secuil ekspresi kecewa yang suaminya tunjukkan.


“Siapa yang ngilang sehari-semalam kemarin secara penuh?”


Ben mengangguk kecil. Membenarkan, bahwa dirinya yang salah di sini.


“Kamu nggak ada tanda sama sekali, De. Aku masih ... kayak setengah percaya, aku bakalan jadi ayah.”


“Kamu mau bilang aku bohong gitu?” Sekarang, Dea mulai berubah serius. Ia bahkan sedikit menurunkan layar laptopnya, hanya agar bisa memandang lurus pada suaminya.

__ADS_1


Merasa terintimidasi, Ben menggeleng kasar. Ia baru saja akan menjelaskan maksudnya, ketika Dea sudah mendahuluinya.


“Masih untung aku nggak kayak kamu yang nggak pernah mau bicara jujur sama aku. Kalau kamu tahu masalah ini dari orang lain, gimana perasaan kamu, Ben?”


Pembahasan ini lagi. Ben kembali dihadapkan pada masalah rumit.


“Aku—“


Dea mengibaskan tangannya secara kasar. Ia kembali menegakkan laptopnya, dan terlihat begitu sibuk dengan kegiatan sekarang ini.


“Intinya, kalau kamu ngelakuin kesalahan fatal nantinya, demi apa pun, Ben. Aku nggak bakalan biarin kamu hidup tenang,” kata Dea penuh ancaman. “Udah dibilangin kamu nggak bakalan sanggup. Aku bahkan mau bantu dan dukung kamu kalau kamu mau bangun usaha dari nol, yang bisa juga kamu pakai belajar buat jatuh-bangun ngurus usaha sendiri. Tapi ....” Dea menatap tajam pada Ben, dengan segenap kemarahannya. “Udah bego, belum sadar diri, keras kepala, sok hebat juga!”


Ben hanya tersenyum tipis menimpalinya. Ia membawa tas laptopnya ke pangkuan, kemudian menarik retsletingnya.


“Ngapain kamu masih di sini? Sana berangkat! Jangan sembarangan nggak disiplin, karena tanggung jawab kamu besar sekarang! Hukuman kamu bukan cuman sekadar dipecat doang, tapi bisa bikin ribuan orang nggak makan gegara keteledoran kamu,” lanjut Dea.


“Katanya, pengaruh bayi bisa bikin si ibu mudah kangen sama suaminya. Aku nggak tahu jelas, tapi mana tau kan, kamu mendadak kangen. Kamu bisa mainin bonekanya sepuas kamu,” kata Ben, lalu mengembalikan posisi tas seperti semula.


Pria itu berdiri, sembari membawa tasnya. Berniat untuk meninggalkan tempatnya saat ini. Namun, pertanyaan Dea membuatnya menunda keinginan.


“Kamu dari mana semalem?” tanya Dea dengan tatap menuntut jawaban. “Mas Dion bilang, kamu pulang lebih cepet dari dia. Kamu ke mana?”


Mendengar kata ‘Dion’ yang selalu disebut oleh sang istri akhir-akhir ini, Ben merasa sedikit muak. Apalagi ketika mengetahui bahwa Dea sama sekali tidak mau membuat batasan bahkan setelah sang kakak menyukai dirinya. Hal ini sangat menjengkelkan, tetapi Ben tetap tenang dalam menjawab.


“Ada urusan, De. Di kontrakan lama,” jawab Ben, kemudian diam sejenak untuk merangkai kalimat bohong yang cocok. “Aku rencana mau nyewain kontrakan sampai pernikahan kita selesai. Soalnya mau pindah kontrakan kalau kontrakan lama dijual, rasanya berat banget.”


Dea mengerutkan kening, tampak tidak sepenuhnya percaya atas jawaban itu. Ben segera mendekat ke kursi istrinya, dan memberikan ciuman singkat di puncak kepala Dea.

__ADS_1


“Aku bakalan pulang agak telat malam ini, buat ketemu sama calon pemilik kontrakan baru,” kata Ben memberitahu. “Tapi pasti bakalan pulang. Aku janji.”


Dea mengangguk kecil, hanya sebagai pengiyaan formalitas. Sepenuhnya, perempuan itu terlihat tidak peduli sama sekali.


Ben juga tidak menuntut banyak. Ia meninggalkan ruangan setelah berpamitan pada sang istri.


...*...


“Selamat buat kehamilan istri kamu, Ben. Saya senang mendengarnya.” Ridwan mengatakan hal itu setelah sesi pemeriksaan selesai. Ia duduk di kursinya, sementara Ben menyusul duduk di kursi berseberangan dengannya. “Kita baru bahas kemarin. Saya pikir, ini isyarat Tuhan supaya kamu mau punya semangat buat sembuh.”


Ben mengangguk penuh antusias lebih dahulu, “Kayaknya, Dok.”


“Jadi, kamu harus lebih fokus buat kesehatan kamu sekarang ini.” Si dokter secara bertahap meredupkan senyum, yang secara spontan membuat suasana lebih serius dari sebelumnya. “Kondisi kesehatan kamu menurun. Kamu sering kambuh akhir-akhir ini?”


Ben mengangguk, tidak lagi menutupi kondisinya. “Beberapa kali. Bahkan kemarin malam, sebelum kecelakaan, kepala saya pusing, Dok.”


“Jangan terlalu capek, Ben,” ucap si dokter. “Istri kamu dari keluarga yang berkecukupan. Kamu nggak perlu paksa diri sendiri buat nafkahi. Seenggaknya, sampai kamu lumayan membaik, kamu sebaiknya kurangi pekerjaan yang bikin badan kamu jadi drop. Karena sekalinya udah parah, bakalan lebih sulit lagi pengobatannya, Ben.”


“Saya jadi harus suami beban dong, Dok.” Ben tertawa geli yang dipaksakan, dan Ridwan sama sekali tidak tersenyum menimpalinya.


“Bukan jadi beban, Ben. Kamu sama istri kamu harus saling mendukung. Untuk sekarang ini, kamu harus didukung sama istri kamu. Next time, kamu yang harus dukung istri kamu selama menjalani kehamilan dan setelah melahirkan. Kamu bakalan butuh banyak tenaga buat jaga ibu hamil dan bayi yang baru lahir.”


Ben tertegun mendengarnya. Seketika terhipnotis karena dua hal: kehamilan Dea yang membuatnya langsung membayangkan sang istri dalam kondisi perut membuncit, serta kelahiran bayi mungil di kehidupannya nanti. Ben menarik napas panjang, seolah nyawa baru sedang merasuki dirinya untuk kembali meneruskan hidup. Dalam pandangan kosong yang mengarah ke meja, senyum penuh harap Ben secara perlahan mulai terbit.


“Baik, Dok,” kata Ben memutuskan, sejujurnya memberikan jawaban setengah bohong. “Saya bakalan usaha ....”


Mempersiapkan kedatangan bayinya nanti.

__ADS_1



__ADS_2