
Awal mesra hari libur Ben dan Dea langsung berubah jadi canggung sesaat setelah sang istri sibuk dengan ponsel sendiri. Ben sempat melihat layar, dan menemukan bahwa nama ‘Mas Dion’ tercetak di sana. Membuat pria itu langsung merotasi bola mata malas, menarik napas, kemudian sibuk dengan minumannya sendiri ketika Dea masih fokus pada ponselnya.
Ben harus bersabar menunggu tanpa berbicara, sampai ponsel disembunyikan Dea di dalam tas tangannya..
“Kenapa masukkin hape kamu?” tanya Ben, sesaat setelah Dea kembali fokus padanya. “Lanjutin aja chat-nya.”
“Mau aku lanjutin sih,” kata Dea dengan santai, membuat ekspresi malas di wajah Ben semakin bertambah pesat. “Tapi di depan aku lebih penting buat aku hibur dulu.”
Dea mencondongkan tubuh ke depan, demi bisa mengulurkan tangan dan mencapai wajah Ben. Begitu gemas, ia langsung mencubit pipi suaminya sampai memerah, dan Ben mengadu kesakitan.
“Seriusan, Ben? Kamu cemburu sama Mas Dion?” tanya Dea, tidak percaya. “Mas Dion?” Dea tertawa kecil sembari kembali ke tempat duduknya.
“Kamu sendiri yang bilang, kalau spek laki-laki yang kamu sukai, ada semua di Dion. Gimana caranya coba, saku nggak ngerasa insecure, De?”
Ben meredupkan senyum, sampai hanya menyisakan sebuah tarikan di sudut bibirnya.
“Ya emang dulu gitu,” jawab Dea dengan jujur. Pandangannya menatap kosong ke depan, seolah memikirkan sesuatu yang berat. “Contoh Elvan, Ben. Sorry ya bahas ini, tapi Elvan kenapa aku terima jadi pacar aku? Ya karena dia punya sebagian dari karakter Mas Dion.”
Walau sudah meminta maaf, Ben nyatanya sulit untuk bersikap biasa saja. Pria itu semakin kasar mengaduk minumannya menggunakan sedotan, lalu meminumnya dengan rakus.
“Tapi akhir-akhir ini aku nyadar sesuatu deh, Ben,” kata Dea lagi. “Kamu nyebelin banget di awal emang, tapi nggak tau kenapa, entah karena udah terbiasa atau karena pengaruh hamil, aku jadi ... nyaman banget sama kamu. Kayak nggak ada satu pun tempat yang lebih nyaman daripada sama kamu.”
Ben terbatuk mendengar kalimat tersebut. Hanya butuh sepersekian detik, pipi pria itu langsung merona sempurna. Ben berusaha untuk menyamarkan kondisi tubuhnya itu dengan menggaruk pangkal hidung, tetapi sama sekali tidak membantu. Senyum manis Dea semakin membuatnya sulit mengendalikan diri sendiri.
“Atau mungkin ....” Dea menggantung sebentar kelanjutan kalimatnya, yang membuat Ben langsung memasang telinga karena penasaran. “Apa yang aku inginkan, belum tentu aku butuhkan. Aku pengen punya pacar spek Mas Dion, tapi aku sendiri nggak nyaman sama sikapnya yang posesif gila, pun sama kayak Elvan yang egois. Sementara kamu, awalnya nggak aku pengenin banget, tapi kamu kasih apa pun yang aku butuhkan: dukungan, perlindungan, dan kenyamanan. Nggak ada satu pun orang kecuali Papa yang bisa kasih tiga hal itu sesuai kebutuhan aku. Itu mungkin yang jadi alasan, aku sekarang lebih suka sama kamu daripada siapapun.”
Sialan. Kalimat manis Dea sangat sulit untuk ditangkis, membuat Ben langsung menunduk dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah sempurna. Pria itu juga kesulitan untuk mengerem senyum, membuat Dea ikut tertular dengan senyum sejenis.
“Jadi, jangan cemburu, ya? Aku ladenin Mas Dion, cuman sekadarnya aja. Aku nggak bakalan peduli tentang dia secara berlebihan—“
Ucapan Dea barusan seketika membuat Ben tergiur untuk memotongnya.
__ADS_1
“Termasuk setelah tahu kalau kalian bukan saudara kandung?” tanya Ben untuk memastikan.
Secara anggun, Dea memberikan anggukannya. “Bahkan walau aku tahu kami bukan saudara. Aku nggak bakalan pernah punya perasaan lebih dari saudara ke Mas Dion. Bahkan walaupun aku dikasih kesempatan, aku sekarang ngerasa ... nggak cukup sama Mas Dion, karena semua yang aku butuhkan sudah ada di sini. Di depan aku. Yaitu kamu.”
Dea masih tersenyum lembut ketika Ben memajukan tubuh dengan tangan terulur. Berbeda dengan Dea yang mencubit pipi, pria itu hanya sekadar menempelkan punggung tangannya di kening Dea, merasai suhu tubuh normal dari sang istri. Dea meliriknya kebingungan.
“Kamu nggak sakit, De? Atau jangan-jangan kesurupan? Kok bisa Radea Dasha bisa semanis ini?” Ben bertanya gemas, kemudian menarik hidung Dea sebelum duduk di tempatnya.
“Nggak tau.” Dea mengusap bekas tarikan pelan Ben dengan ekspresi manja. “Itu tuh supaya kamu nggak sembarangan berpikir negatif. Aku udah jadi istri kamu, jadi nggak perlu khawatirin Mas Dion lagi.”
Senyum Ben perlahan meredup setelah ucapan Dea barusan. Memicu ekspresi penasaran muncul di wajah Dea. Perempuan itu hendak bertanya alasan perubahan ekspresi tersebut, dan Ben mengatakannya lebih dahulu.
“Perjanjian pernikahan, gimana?” tanya Ben dengan ekspresi serius.
Ben sangat berharap bahwa perempuan itu akan sangat bersemangat mengatakan bahwa perjanjian omong kosong itu akan dibatalkan sekarang. Namun, tidak ada.
Dea berakhir bungkam dengan wajah kebingungan.
Ben segera memangkas habis harapan yang baru saja ia bangun tinggi-tinggi.
...*...
“Perempuan hamil biasanya sensitif sama bau, Ben. Saya, dari hamil Dea sama Dika, selalu sensitif sama bau. Bau pesing yang tipis ... banget, yang nggak dicium sama orang, itu bikin mual banget kalau sama saya. Palingan itu sih, yang paling umum yang dialami perempuan hamil. Ah, sama ngidam. Umumnya suka yang asem-asem, tapi nggak jarang ada yang ngidamnya aneh banget.”
Begitu deretan nasehat yang Diana berikan pada Ben ketika bertanya pagi tadi.
Berhubung dirinya sekarang kembali ke restoran sehingga bisa bertemu dan menjaga sang istri dengan baik, Ben berniat untuk memberikan semua hal terbaik untuk Dea.
Sebelumnya, Ben sudah menitip berbagai jenis buah pada rekan kerjanya, sehingga saat Dea keluar, pria itu masuk ke ruangan sang istri untuk meletakkannya di meja sebagai bentuk kejutan.
Ben juga memeriksa sekitar, dan tiba di kamar mandi. Tidak ada hal kotor di sana, tetapi mengingat ucapan sang mertua, jadi Ben berinisiatif untuk membersihkan toilet sampai kinclong. Karena kebetulan, kondisi restoran tidak terlalu ramai, bisa di-handle rekannya yang lain.
__ADS_1
Setelah selesai menyikat dan tinggal menyirami lantai saja, Ben mendengarkan suara obrolan di luar toilet. Ia yakin bahwa itu Dea yang sedang bicara. Namun dengan siapa, Ben tidak tahu jelas.
Maka dari itu, Ben berdiri, hendak keluar agar tidak mengganggu mereka. Namun, keinginannya dibatalkan telat setelah Ben menyentuh kenop pintu.
“Jangan-jangan, yang Dika bilang bener, De?”
Ben mengerutkan kening untuk menebak si lawan obrolan Dea. Bersuara bariton, agak datar tetapi tegas, mengingatkannya pada cara bicara ... Dion.
“Apa?” Dea segera membalas sewot. “Jangan bikin aku kesel sekarang, Mas. Udah cukup kepala aku sakit gara-gara rencana ini.”
Dion tertawa kecil yang terdengar dipaksakan. Sementara Dea tidak mengeluarkan suara apa pun selama beberapa saat.
“Ya gimana, De? Suami sok tahu kamu itu keras kepala banget. Nggak sadar diri kalau dibilangin nggak bakalan mampu urus perusahaan papa, tapi masih aja sok hebat.” Keluhan Dion terdengar jelas, sehingga Ben secara spontan menurunkan genggamannya. “Masih terusin perjanjian pernikahan, ‘kan?”
Dea tidak terdengar menjawab, tetapi Ben bisa menebak bahwa istrinya sedang mengangguk saat ini.
“Bagus deh, biar kamu cepetan lepas dari orang kayak dia. Terlalu ganggu banget jadi orang,” lanjut Dion.
Hening sejenak. Ben hanya mendengar suaranya sendiri ketika meneguk ludah secara kasar.
“Terus, kapan aku bisa gugurin bayi ini?” tanya Dea, dan hal itu membuat Ben berniat untuk keluar demi membatalkan keinginan sang istri.
Namun sekali lagi, terhenti.
“Gugurin apa, De? Kamu hamil aja enggak. Syukur deh kalau kamu nggak hamil, biar kalian pas udah pisah, beneran pisah tanpa ada alasan buat ketemu lagi karena anak.”
Ben menjatuhkan tangannya dengan lemas di samping tubuh mendengarnya. Ia bahkan mundur teratur, karena sempat blank atas informasi tersebut.
“Nanti, kalau udah sebulanan, kamu bisa pura-pura jatuh biar nanti dimunculin berita kamu keguguran. Gampang. Biar Mas yang urus.”
__ADS_1