Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
17. Tawaran Mantan


__ADS_3

Dea meletakkan tas tangannya di sebuah meja, kemudian duduk di sebuah sofa panjang sembari memperhatikan tampilan di ruangan ini. Tidak ada satu hal pun yang berbeda di sini, kecuali satu hal: status mereka berdua.


“Istri kamu nggak marah kalau kamu sering nginep di sini?” tanya Dea penasaran, ketika si pemilik apartemen sedang berada di dapur dan muncul tidak lama kemudian dengan membawa beberapa kue—yang dipesan selama dalam perjalanan ke sini—dan minuman yang sudah ada di dalam gelas.


“Nggak,” jawab Elvan, tanpa minat. “Kami menikah cuman beneran supaya dapat anak. Selebihnya, kami bahkan nggak saling kenal, De. Boro-boro peduli atau perhatian ke saya, dia aja kayaknya cuman inget punya suami pas ada acara keluarga aja.”


Dea diam-diam menyayangkan hal itu. Merasa bahwa hubungan Elvan dan istrinya ternyata jauh lebih buruk dibandingkan Dea-Ben. Tapi jika mengingat sifat menyebalkan Ben, sepertinya lebih baik Elvan-istrinya yang saling tidak peduli dibanding memiliki pasangan cerewet.


“Minum?” Elvan menawarkan, sembari menunjuk gelas panjang tanpa kaki di depan Dea.


Gadis itu tanpa beban langsung mengulurkan tangan untuk mengambilnya.


“Selama bertahun-tahun, saya berusaha terima istri saya, De, berubah sesuai apa yang dia mau, tapi hasilnya tetap gini-gini aja. Saya merasa berantakan banget akhir-akhir ini, hidup saya kacau, dan saya nggak bisa berhenti menyesal kenapa nggak nungguin kamu siap aja dulu.”


Dea masih diam mendengarkan semuanya, sembari terus mencerna apa yang ingin disampaikan Elvan. Sesekali menyesap minuman ketika ia merasakan gugup akibat pandangan Elvan tanpa henti ke arahnya.


“Sebelum kamu menikah, saya sudah sering mikirin ini, De, tapi berhubung saya takut dikira memanfaatkan kamu aja, makanya sekarang saya pikir waktu yang tepat,” lanjut Elvan. Kali ini—karena ia duduk di seberang sofa Dea—turut mencondongkan tubuh ke depan agar pembicaraan mereka kian intens. “Saya juga melihat kamu nggak cinta dan tertekan sama suami kamu, kenapa kita nggak bisa sama-sama lagi, De?”


Perempuan itu jelas mengerutkan kening. Bukan karena tidak paham dengan arah tujuan ucapan Elvan, melainkan mempertanyakan keseriusan pria itu atas kalimatnya.


“Kita menikah cuman buat penuhi apa yang masing-masing keluarga kita inginkan, dan sudah dicapai, De. Memuaskan dan membahagiakan mereka, udah. Kenapa kita nggak kejar kebahagiaan kita juga, De?”


“Tapi ....” Dea mau membantah, sulit menerima ide yang pria itu utarakan. Namun, sebelum Dea sempat menemukan kalimat untuk melakukan balasan, Elvan sudah berpindah tempat duduk ke sampingnya.


“Dea, kamu bahagia sama suami kamu itu? Saya cuman ketemu dia beberapa kali, dan saya bisa langsung tahu kalau dia itu jauh banget dari kriteria kamu. Saya bisa bayangin gimana sengsaranya kamu hidup sama laki-laki kayak dia.”


Dea masih bergeming di tempat, sibuk memikirkan apa yang Elvan sampaikan. Ia tampak gelisah dan kebingungan, terlihat jelas dari caranya memainkan gelas.


“Dea?” Elvan memanggil dengan suara lirih. Ia bahkan meletakkan tangannya di salah satu sisi wajah Dea untuk membuat perempuan itu semakin merasakan keputusasaannya. “Kamu bisa pikirin ini nanti. Saya bakalan sabar nunggu jawaban kamu.”


Dea mengangguk cepat, bukan sekadar mengiyakan ucapan Elvan. Namun agar tangan pria itu bisa menyingkir dari kulitnya.

__ADS_1


“Oke, aku bakalan pikirin.” Dea melirik sekitar, dan menyadari sesuatu.


Bahwa ia sekarang berdua di sebuah ruangan temaram yang hanya ada satu lampu dinyalakan, dalam kondisi sunyi dan intens. Bahkan, perjanjian mereka adalah makan di restoran. Bukan ke tempat seperti ini.


Dea meletakkan gelasnya yang masih tersisa setengah, kemudian berdiri. Ia juga mengambil tasnya dari meja.


“Aku mau pulang.”


“Saya anter,” kata Elvan, cepat. Enggan menerima bantahan.


Dea tidak membalas. Hanya diam memperhatikan pria itu mengambil kunci mobilnya, lalu keluar bersama seperti saat masuk: bergandengan tangan.


Kenyamanan yang Dea rasakan dulu, masih tersisa sekarang. Bahkan disertai perasaan rindu, karena sudah cukup lama ia tidak mendapatkan perlakuan seperti ini dari pria yang ia sukai. Memiliki pasangan sepengertian Elvan adalah sesuatu yang sangat diidam-idamkan Dea sejak dulu, apalagi setelah menikah.


Jika saat putus, Dea mungkin biasa saja karena sibuk mengejar karier, setelah menikah dengan sosok berisik seperti Ben—Dea sekarang merasakan sulitnya move on dari sosok seperti Elvan.


Keduanya sedang ada di dalam lift, ketika Dea sedang memikirkan semua perasaannya selama ini. Hingga tidak peduli jika Elvan sekarang bukan hanya menggandeng tangannya, melainkan merangkul untuk merapatkan tubuh mereka.


“Kayak pas kita pacaran, De.”


Dea menggeleng. “Aku nggak mau kelewatan. Temen aja, udah.”


Elvan menarik napas panjang. Rangkulannya di pundak Dea semakin menguat. “Oke.”


*


Karena memilih untuk diantar pulang sampai melupakan mobil sendiri di parkiran restoran, Dea harus meminta Elvan untuk menghentikan kendaraan di depan perumahan. Sisanya, ia akan berjalan kaki untuk sampai di rumah.


Dea pikir, dengan menggunakan ide itu ia akan selamat dari berbagai pertanyaan dari orang rumah. Semuanya berjalan biasa saja pada awalnya: masuk rumah tanpa siapapun melihatnya, dan tiba di kamar untuk meletakkan semua barang di tempatnya sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh sebelum turun makan malam.


Namun, setelah ia keluar dari kamar mandi, ia langsung disambut dengan keberadaan Ben yang duduk di pinggir tempat tidur menghadap pintu kamar mandi. Dea hanya terkejut sebentar, lalu mengabaikan pria itu.

__ADS_1


“Rumah temen atau apartemen mantan, De?”


Dea yang baru saja menutup pintu kamar mandi, langsung menoleh dengan tatap melotot ke arah Ben.


“Dea buru-buru amat ngasih kabar kalau mau ke rumah temen. Saya belum terlalu jauh pas baca itu, De. Jadi, saya bisa lihat ke mana aja Dea pergi sama orang itu.”


Dea mematung di tempat. Masih kesulitan mencari ide untuk melawan pria itu untuk saat ini. Hanya jari-jari Dea yang bisa bergerak sekarang ini, untuk memilih ujung kimono mandinya demi mengurangi gugup ketika Ben mulai meninggalkan tempat duduknya.


Pria itu berjalan hampir tanpa menimbulkan suara, membuat Dea merasakan aura intimidasi yang terlalu kuat sehingga kakinya secara spontan bergerak mundur demi menghindar.


“Saya cuman mau tekanin satu hal di sini, De, kalau Dea lupa. Saya ... masih ... suami Dea. Walau cuman selama satu tahun, tolong hargai hubungan kita, De. Saya bahkan nggak nidurin Dea kalau kamu nggak izinin—sebagai cara saya buat hargai Dea.”


Dea seketika menemukan balasan yang tepat untuk suaminya.


“Cih, padahal kamu sendiri yang nggak berani pegang perempuan! Sok-sok an bilang menghargai.” Dea mencibir geli. Ia menepis Ben dari depannya sehingga Dea bisa melewatinya dan menyingkir dari intimidasi pria itu. “Saya sama Elvan cuman ngobrol biasa—“


“Harus di apartemen? Berdua?”


“Biar nggak diganggu sama orang kayak kamu!”


“Tapi saya nggak ganggu sama sekali, De, padahal bisa aja saya langsung grebek kalian berdua tadi.”


Dea terdiam.


“Saya harapnya Dea punya perasaan bersalah tadi makanya saya nahan diri buat nggak masuk, tapi ternyata enggak,” ucap Ben. “Jadi, mulai sekarang, saya putuskan buat posesif sama Dea entah Dea suka atau enggak! Seenggaknya selama setahun, Dea harus patuh sama aturan pernikahan kita—nggak boleh deket sama lawan jenis tanpa ada alasan penting.”


Dea mencibir dengan dengkusan geli, lalu berbalik ke arah Ben. “Jadi kelihatan sekarang, kalau kamu ini mau banget manfaatin satu tahun pernikahan kita?”


“Jelas,” jawab Ben. Ia sekali melangkah ke arah Dea. Kali ini bukan sekadar mengintimidasi perempuan itu, tetapi juga menjebaknya dalam rangkulan di pinggang yang sangat erat. “Saya mau manfaatin kesempatan dengan baik, apalagi kepemilikan saya ke tubuh Dea. Saya mau manfaatin sebaik mungkin, selama setahun ke depan.”


__ADS_1


__ADS_2