Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
29. Tentang Dipermalukan


__ADS_3

“Sekarang, saya mau kejar kebahagiaan saya sendiri. Yaitu kamu.”


Bukan hanya Dea yang terkejut mendengar hal itu, Ben juga—walau dari jarak agak jauh—langsung menghentikan pergerakannya bekerja karena kalimat Elvan barusan. Dea merasakan cemas dari ekspresi permusuhan yang Ben tunjukkan, sementara Elvan tampak tidak terlalu banyak peduli dengan kondisi sekitar.


Ben datang mendekat. Menenteng seember air kotor dan juga alat pelnya. Pria itu tampak sangat dingin ketika ia berhenti di meja Dea dan Elvan.


“Ngomong apa tadi?” tanya Ben, dengan wajah serius menghadap Elvan. “Apa? Kebahagiaan dalam bentuk istri orang?”


Dea segera berdiri, mencegah timbulnya keributan di sini. Ia hendak mengajak Ben pergi, tetapi ketenangan Elvan membuat Ben dengan sangat mudah terprovokasi.


“Ben, udah! Jangan bikin malu!” kata Dea. Memaksa menarik lengan Ben agar ikut dengannya.


Namun, pria itu benar-benar tidak puas melihat sikap si lawan bicara: Elvan. Ben memukul meja dengan sangat keras, memicu berbagai jenis tatap mata mengarah pada mereka.


“Ngomong apa barusan? Kamu mau cerai buat kejar istri saya? Kamu punya otak?” hardik Ben lagi.


“Ben.” Dea tidak henti-hentinya menenangkan, apalagi ketika mereka benar-benar menjadi pusat perhatian sekarang ini akibat keributan yang terjadi. “Ben, udah!”


“Kenapa susah lepasin Dea?” balas Elvan dengan tegas dan penuh keberanian. Ia balas berdiri, dan maju mendekat untuk menantang Ben. “Keenakan hidup dijamin sama istri kaya? Seenggak becusnya sampai harus dihidupi sama istri? Cih, samp—“


Bugh!


Ben tidak tahan. Punggung tangannya yang terkepal bergerak secara spontan melayang ke wajah Elvan. Membuat si lawan langsung menabrak kursi sebelum jatuh ke lantai.


“BEN!” Dea memekik keras, syok atas tindakan spontan tersebut.


“Kenapa Dea nggak protes sama sekali ke semua ucapan nggak berbobotnya dia, dan malah protes ke semua usaha aku buat jaga Dea, hm?” tanya Ben dengan nada menantang pada istrinya. “Kalau Dea nggak bisa, aku bisa urus orang ini. Asalkan Dea nggak belain dia.”


“Ben, kamu cuman bikin malu doang di sini, Ben! Balik ke dapur, nggak?!” pinta Dea dengan suara tegas nan lantang.


“De ....”


“Balik!” Dea menekan gigi-giginya ketika mengatakan satu kata perintah ini, sehingga Ben hanya bisa mengembuskan napas kasar.


Pria itu kembali membawa peralatan pelnya, setelah mengusap wajah secara kasar seolah menyadarkan diri sendiri. Dea sendiri gegas meminta maaf atas gangguan makan yang dialami oleh setiap pengunjung, lalu membantu Elvan untuk segera berdiri.


“Kita bicara di luar!” kata Dea dengan tegas, lalu bantu memapah pria itu keluar dari area restoran. “Kamu ada saran tempat ke mana kita pergi?”


Elvan mengangguk. “Ke kafe saya ya, De?”

__ADS_1


Dea menyanggupinya dengan anggukan kecil, dengan niatan, mau mengakhiri sebersih-bersihnya semua hubungan yang ada antara dirinya dan Elvan. Ia juga berniat memperjelas putusnya mereka, dan akan menutup serta menjadikan hari ini adalah terakhir kalinya mereka bertemu.


Rencana Dea seperti itu.


...*...


Sejak kepulangan Dea siang tadi ke restoran, ia dan suaminya hampir tidak pernah saling mengobrol. Pun ketika berada di mobil dalam perjalanan pulang.


Sampai di rumah, Dea masuk lebih dahulu disusul oleh Ben. Saat itulah, mereka berpapasan dengan Dika yang segera menghampiri Ben.


“Mau main lagi nggak?” tanya Dika, dan Dea yang langsung menarik sang adik agar tidak terlalu dekat dengan suaminya.


“Nggak usah ajak-ajakin Ben buat main apalah sejenisnya itu!” tolak Dea. “Kamu fokusin belajar—“


Namun, Dea tidak dibiarkan menyelesaikan ucapannya. Dika mengelak secara paksa dengan wajah datar penuh permusuhan, dan pergi dari tempat itu tanpa berbicara dengan kakaknya sedikit pun.


“Ya! Makin berani ya kamu, Dik! Dika! Awas kamu, Dika!” Dea berteriak lantang, benar-benar tersinggung atas tindakan Dika barusan.


“Kamu ngeracunin adik aku sampai dia benci aku, Ben?” Sekarang, Dea beralih pada Ben yang hanya diam saja menyaksikan kejadian tadi.


“Nggak tau, De. Aku nggak pernah bahas tentang kamu ke keluarga kamu,” jawab Ben mengelak.


Namun, Dea menatapnya sinis, tampak tidak percaya. Walau agak ragu, Dea tetap meneruskan perjalanannya menuju kamar. Ia membersihkan tubuh lebih dahulu, lalu bergantian dengan Ben. Ia juga bersiap lebih cepat, dan turun ke ruang makan lebih awal.


“Dika makin kurang ajar sama aku, tau, Ma! Abis aku nikah, dia kayak nggak ada sopan-sopannya sama aku! Kayak ngerasa karena dia berteman sama Ben, jadi bisa seenaknya sama aku.”


Keanehan di sini, jangankan menjawab ucapan Dea, wanita itu bahkan tidak menoleh sedikit pun seolah tidak mengetahui keberadaan putrinya saat ini.


“Ma?” Dea memanggil bingung. “Mama juga kayak Dika? Ngambek gini? Kenapa sih?” Dea mengguncang lengan sang mama, mengharapkan jawaban, tetapi yang ia terima adalah tatap tajam dari wanita itu.


Dea seketika menciut. Ia menurunkan tangannya dari lengan mamanya, menyadari bahwa ada sesuatu hal yang salah di sini. Perempuan itu sangat yakin.


Di ruang makan, Dion sudah tiba. Dea berniat menuntut jawaban dari si sulung, tetapi sebelum mengatakan apa pun, sang kakak sudah menjatuhkan beberapa lembar kertas persegi di atas meja.


“Kamu seriusan balik lagi sama mantan kamu sementara kamu dalam status istri orang, De?” tanya Dion dengan suara tegas. Ia menopang tubuhnya dengan meletakkan telapak tangan di pinggir meja, menatap intimidasi pada sang adik.


Dea hanya melirik sekilas pada foto, yang berisi dirinya tengah berdua dengan Elvan sembari ia mengobati pria itu.


“Mas, itu cuman ngobatin biasa, Mas. Seriusan? Kalian marah cuman gegara foto provokasi biasa kayak gini?” tanya Dea, menyepelekan.

__ADS_1


Ketika Ben mulai masuk, disusul oleh Dika, Dea langsung menunjukkan salah satu foto pada suaminya.


“Kamu yang bikin drama kayak gini, Ben? Nggak puas kamu pukulin Elvan?” tanya Dea, menuntut.


“Drama apa, De? Aku nggak pernah ninggalin restoran seharian. Bisa tanya yang lain sama cek CCTV.”


Jawaban Ben terlalu meyakinkan, dan Dea tiba-tiba tidak nyaman mendengarkan hal ini. Ia merasa ... ada yang mencoba bermain dengannya.


“Kamu, Dik?” Dea beralih melimpahkan tuduhan pada si bungsu, tetapi jangankan menjawab, pria itu bahkan tidak peduli dengan keberadaan Dea.


“Seriusan? Kalian semua diemin aku cuman gegara foto biasa gini? Plis ... ini bukan sinetron. Mas Dion yang paling logis, seriusan marah cuman gegara foto biasa gini?” Dea menuntut terus, agar namanya bisa kembali membaik.


“Coba pertanyaannya dibalik, De.” Dion menambahkan kesan dominannya ketika melipat tangan depan dada, dan maju selangkah para sang adik. “Seriusan, kamu nggak merasa bersalah keluar, berduaan sama mantan kamu, di tempat yang nggak bisa dijangkau suami kamu?”


Dea mendengkus geli. “Wuih, Mas sejak kapan ada di pihak Ben?”


“Jawab pertanyaan tadi, baru saya jawab pertanyaan kamu,” balas Dion.


“Aku itu, tadi clear-in hubungan sama Elvan—“


“Setelah bertahun-tahun putus, dan kalian berdua masing-masing sudah nikah, status putus kalian belu. Juga jelas?” Dion memotong semena-mena, semakin menyudutkan posisi Dea.


“Aku nggak tau kalau Mas sekritis ini sama urusan kayak ginian.” Dea terkekeh garing. “Dia ngajakin aku lanjut hubungan, dan dia mau ceraikan istrinya. Makanya aku mau perjelas status kami masing-masing. Aku nggak bahas ini di restoran, karena Ben nggak bisa nahan emosi, dan terancam bikin nama baik perusahaan jadi buruk.”


Sekarang, Dea beralih menatap tajam suaminya.


Dion mengangguk-angguk kecil mendengar itu, terdengar terpaksa menerima jawaban Dea.


“Kamu berusaha jaga nama baik kamu dengan berduaan bersama mantan kamu di tempat lain, berulang kali—tapi kamu tahu, Dea? Gara-gara masalah ini, nama baik papa jadi tercemar!”


Dea menelengkan sedikit kepalanya mendengarkan hal itu. Ia semakin tidak paham. “Nama baik papa? Urusannya?”


“Iparnya Elvan, datang ke kantor tadi siang. Ngasih foto-foto kalian, bahkan video kalian ke apartemen berdua sambil mesra-mesraan. Di depan banyak orang penting, De, papa dipermaluin gara-gara kegoblokan kamu ini!”


Dion menekan suaranya di akhir kalimat, kemudian mendorong kening bagian kanan adiknya dengan satu jari telunjuk dengan kasar.


Dea tidak lagi menjawab. Diam-diam menghela napas kasar, dengan tangan yang mulai mengepal kuat. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia meninggalkan ruang makan dengan berlari.


Mengundang pandangan tidak acuh dari keluarganya.

__ADS_1


Kecuali Ben, yang menyusul kepergian perempuan itu.



__ADS_2