
Sesuai kesepakatan di rumah sakit, Ben dan Dea memutuskan untuk bersahabat. Dengan hal ini, Ben berharap bahwa Dea tidak akan mengembangkan perasaan untuknya, sementara Ben sendiri akan berusaha menjaga Dea dari segala ancaman dari Dion.
Namun, tidak serta-merta menerima kesepakatan tersebut, Dea tetap ingin meneruskan rencananya. Meski sudah disampaikan bahwa Ben sama sekali tidak akan pernah menaruh perasaan padanya, Dea masih kurang yakin atas pernyataan tersebut.
Mungkin saja Dea terlalu GeEr, tetapi setiap kepedulian yang Ben tunjukkan, semua mengisyaratkan perasaan yang sama. Bahwa Ben juga merasakan hal yang sama, bahkan lebih dalam daripada Dea.
Namun entah mengapa, pria itu terus mengelak dari fakta tersebut. Dea semakin yakin pada opininya tentang dinding batasan tak kasat mata yang Ben coba untuk jauhi.
Tujuan utama Dea sekarang adalah, menemukan dinding tak kasat mata itu. Mencari tahu alasan Ben harus menahan diri untuk tidak mencintai Dea.
Hal pertama yang harus Dea ketahui adalah latar belakang Ben, secara sempurna. Bukan hanya dari katanya saja.
Maka untuk hal ini, Dea akan memberikan tugas kepada orang yang sudah menyelidiki Ben sebelum pernikahan berlangsung: Dika.
Di saat Dea sedang mengambil ponselnya untuk menghubungi sang adik, pintu ruangan diketuk. Dea memberikan arahan untuk masuk, dan menemukan bahwa si tamu adalah Ben yang membawakan sebuah nampan berisi makanan dan minuman serta beberapa buah yang sudah terpotong rapi.
“Makan siang kamu,” kata Ben kemudian meletakkan nampan tersebut di atas meja.
“Oke.” Dea membalas datar. Ia mengangguk saat menemukan menu yang Ben siapkan untuknya. “Terima kasih.”
Ben hanya memberikan anggukan formal, lalu pamit undur diri.
Setelah itu, Dea langsung mengambil makanan tersebut. Ia melupakan ponselnya sebentar, karena sibuk mencicipi makanan yang Ben bawa. Diam-diam, Dea tersenyum.
“Cuman temen spesial yang bisa punya kepedulian sebesar ini.”
Dea tersenyum senang, dan langsung menyantap makanan yang tersedia dengan begitu lahap. Sampai, ponsel yang Dea lupakan berdering nyaring. Nama ‘papa’ tercetak di layar, membuat Dea langsung menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan.
“Halo, Pa.” Dea menyapa dengan sangat antusias, menunggu informasi yang akan disampaikan oleh sang ayah.
“Dion sudah sadar, De.”
*
Setelah mendapatkan informasi tersebut dari Kahar, Dea bergegas ke rumah sakit. Ia sempat berpikir untuk tidak mengajak Ben yang sedang sibuk bekerja, tetapi suaminya tegas meminta untuk ikut bersama.
Demi memenuhi janji pada Kahar.
“Nanti karyawan lain iri kalau kamu ikut bos kamu di jam kerja,” protes Dea saat mobil sudah mulai berjalan dikendalikan oleh Ben.
“Nanti potong gaji,” balas Ben dengan santai.
__ADS_1
“Kamu mau ikutan juga buat apa? Mau jenguk Mas Dion? Atau mau lanjutin gelut kalian?” tanya Dea, dengan nada bercanda yang datar.
“Nggak ada salah satunya.”
Dea memicingkan mata ke arah sang suami. “Bilang aja kalau kamu kecanduan deket sama temen spesial kamu ini.”
Dea mencibir geli. Ia menyelingi obrolan mereka dengan makan buah yang sudah dipotong oleh Ben tadi. Hanya itu yang bisa Dea tarik pergi bersamanya untuk mengisi perut.
“Makanan tadi, kamu belum makan banyak?” tanya Ben, hendak mematikan.
Dea terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Iya. Masih laper banget.”
Dea tersenyum, saat ia menemukan sebuah kesempatan yang bisa dimanfaatkan demi menjalin kedekatan dengan suaminya.
“Mau mampir bentar beli makanan atau camilan?” tanya Ben. “Buah mangga, mau?”
Dea menggeleng kecil. “Nanti, habis dari rumah sakit, kita pulang ke rumah. Aku mau istirahat. Nanti, kamu masakin makanan, ya? Sekalian aja bolosnya sehari.”
“Aku nggak bisa masak.”
“Potongin buah aja kalau gitu.” Dea memberikan saran lain. “Jangan banyak protes. Yang mau makanan dari tangan kamu langsung itu anak kamu yang kesasar di perut aku ini. Jadi, tanggung jawab.”
Ben menipiskan bibir, dan dengan ekspresi malas, ia memberikan anggukan pasrah.
“Aku ikut!” kata Ben dengan tegas. Bahkan walau Dion baru sadar dari koma, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa bahayanya juga tidak ada. Maka, Ben harus berada di sekitar istrinya.
“Ben ....” Dea memelas, sebab yakin bahwa keberadaan sang suami sama sekali tidak memperbaiki suasana di rumah sakit nanti. Malah memperburuk kondisi. “Nggak usah masuk.”
“Aku mau masuk!” Ben mempertegas ucapannya.
“Kamu nggak punya urusan.”
“Ada. Kamu pukul dia gara-gara dia pukulin aku. Jadi ya, aku punya urusan sama Dion.”
“Urusannya nggak baik, Ben. Kamu plis ngerti. Kondisi mas Dion masih lemah banget. Kalau keganggu dikit sama kehadiran kamu, Mas Dion bisa stres. Aku nggak mau dia tambah kenapa-napa, karena sampai sekarang aku belum bisa hilangin rasa bersalah karena perlakuan aku kemarin.”
“Urusan aku baik, kok.” Ben memberikan alternatif jawaban lain, yang membuat Dea mengangkat sebelah tangan menunjukkan keraguan. “Aku ....” Ben menghela napas panjang lebih dahulu. “.... Mau minta maaf.”
“Hah?”
*
__ADS_1
Dea menjadi sangat penasaran dengan permintaan maaf Ben nanti, maka dari itu ia membiarkan sang suami masuk ke ruang rawat Dion.
Kebahagiaan Dion saat melihat Dea datang, langsung pudar setelah melihat bahwa Ben ikut datang di belakang. Semakin jengkel saat Ben mempercepat langkah demi mendahului Dea, dan berdiri di antara Dion dan sang adik angkat.
“Mas, aku—“ Dea hendak bicara, dan berusaha agar keluar dari halangan Ben.
Namun, Ben tidak mau kalah. Ia terus menghalangi pertemuan langsung antara Dion dan Dea.
“Saya ke sini mau minta maaf,” kata Ben, yang langsung membuat dua bersaudara beda darah itu terkejut dan penasaran.
Lebih dahulu, Ben melirik Dea untuk meyakinkan perempuan itu bahwa tidak akan ada masalah yang terjadi sekarang ini.
“Maaf, karena istri saya sudah buat kondisi kamu kayak gini. Maaf juga, karena saya malah seneng sama tindakan istri saya ke kamu. Maaf, karena saya nggak bisa seneng kamu sadar lebih cepet, dan maaf kalau saya nggak bisa biarin istri saya bicara banyak sama kamu.”
Dea masih belum paham apa yang terjadi sekarang ini, dan ia langsung menarik Dea keluar dari ruangan. Meski memberikan pemberontakan kecil, Dea tetap didominasi kepasrahan meninggalkan ruangan tersebut.
“Eh, lah, kok? Ben?” Dea menuntut jawaban atas tindakan sang suami.
“Udah selesai. Kamu sudah lihat kondisi dia yang sudah membaik, dan aku juga udah minta maaf. Jadi, ayo pulang.”
“Tapi, Ben! Aku belum bicara sama Mas Dion.”
“Udah,” kata Ben semena-mena sembari menyatukan jemarinya dengan Dea untuk digenggam lembut meninggalkan tempat tersebut.
“Kapan?”
“Tadi, dua kata. Sebelum aku potong.”
“Aish, Ben!” Dea mendesis kesal. Namun, tidak juga menolak ajakan Ben untuk pergi.
Dea berjalan di belakang Ben, dengan sangat bebas memandangi tautan jemari mereka. Diam-diam tersenyum, karena rasa hangat yang menjalari hatinya. Merasakan kenyamanan dan perlindungan serta keamanan yang Ben berikan padanya saat ini. Entah mengapa, walau terkesan kurang ajar, Dea merasa bahwa tindakan Ben tadi hanya agar Dea tidak terlalu merasa bersalah pada Dion.
Dea menyukai setiap kepedulian spesial yang temannya ini berikan.
“Ben,” panggil Dea setelah mereka melewati pintu rumah sakit. “Kita kayak ... pasutri rasa temen ya? Tapi temen spesial.”
Ben hanya menipiskan bibir mendengar itu, tampak tidak tertarik.
“Temen spesial,” lanjut Dea, “Dengan topping cinta.” Perempuan itu terkikik geli.
Sementara Ben yang membelakanginya, ikut tersenyum geli mendengarnya.
__ADS_1
*