Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
32. Kebetulan yang Mencurigakan


__ADS_3

“Kamu pinter banget pilih lokasi pertama,” kata Dea sembari memandangi bangunan tinggi yang kini berdiri menjulang belasan lantai di hadapannya.


“Iya, dong. Demi mesra sama Dea, kapan sih otak aku nggak lancar?” balas Ben yang saat itu sedang mengeluarkan tas dari dalam bagasi mobil.


Dea segera mengalihkan pandangannya dari gedung tinggi pencakar langit itu ke arah Ben. Matanya memandang malas, tetapi Ben tidak menyadari. Dea juga merasa bahwa hal ini tidak cukup untuk memberikan pelajaran untuk pria satu ini.


Maka, Dea melayangkan kakinya yang dialasi high heels dengan ujung lancip ke tulang kering Ben. Alhasil, perempuan itu sangat sukses menyiksa suaminya. Ben melompat-lompat kesakitan dengan satu kaki, sembari terus meringis kesakitan akibat perbuatan sang istri.


“Ben, jangan main-main. Inget sama misi.” Dea memperingatkan dengan tegas, bahkan mengacungkan ujung telunjuknya secara lurus pada sang suami.


Ben mulai mendaratkan kembali kakinya di aspal, mencoba untuk tenang.


“Iya, De. Aku nggak bakalan lupa sama misi lah: pamer kemesraan sama Dea.”


Dea menatap malas. Sejujurnya tidak suka dengan sikap Ben satu ini, tetapi ia tidak lagi bisa menyerang seperti sebelumnya. Hanya mengambil ancang-ancang hendak menyikut pria itu, lalu meninggalkan Ben seorang diri di sana.


Ben segera menyusul sembari membawa semua barang-barang yang akan mereka perlukan di sana. Dea mengurus keperluan mereka di resepsionis, dan saat itulah Ben berhasil menyusul sang istri.


“Jangan terlalu jauh, De. Kita nggak pernah tahu Pak Jet Li kapan munculnya.”


“Jien Li, Ben!” Dea mengoreksi dengan suara rendah, agar si resepsionis tidak mendengar topik obrolannya dengan Ben adalah atasan mereka.


“Terserah lah sama namanya.” Ben menanggapi dengan santai. Ia mengumpulkan satu beban tas di salah satu tangannya, sementara tangan yang lain merangkul mesra sang istri.


Ben sempat mendapatkan pelototan tidak suka dari Dea, tetapi setelah pria itu tersenyum lembut, perempuan itu akhirnya mengembuskan napas secara kasar demi menenangkan diri sendiri. Ia terpaksa harus mengikuti semua kemauan Ben walau tidak suka.


Ben menuntun Dea agar melingkarkan tangannya di lengan pria itu ketika mereka sudah mendapatkan kunci kamar dan mulai berjalan. Dea sangat tidak nyaman dengan berbagai macam jenis pandangan ke arah mereka atas sikap berlebihan menurutnya ini. Namun, bagi Dea, tidak ada pilihan lain.

__ADS_1


Ketika keduanya bersiap memasuki lift, Ben tiba-tiba mengajak Dea untuk melirik ke sebuah titik di mana beberapa pria sedang berjalan tegap dalam setelan jas lengkap. Ben tidak mengenali mereka, tetapi Dea tahu dengan baik siapa mereka.


Seketika, Dea langsung menempelkan kepalanya di lengan Ben dengan senyum manis di bibirnya sembari menunggu lift terbuka. Meski tampak sangat romantis, kaki Dea malah bertindak dari suasana yang seharusnya. Ia menginjak kaki Ben, sampai pria itu tersentak kaget dan menjatuhkan barang bawaan.


“Ben, kenapa?” tanya Dea dengan cemas. Ia segera membungkuk untuk membantu mengambil tas pria itu. “Kan tadi aku bilangin, aku bawa sebagian tasnya. Kamu jadi capek, ‘kan?” Dea memberikan kepedulian ekstra sembari memeriksa wajah penuh amarah yang Ben tampilkan.


Rencana Dea berhasil membuat pandangan target mengarah pada mereka: pemilik hotel ini. Namun, dia hanya melirik sekilas. Seolah tidak peduli dengan keberadaan Dea, padahal perempuan itu yakin, si pria berwajah oriental itu mengenal Dea dengan baik.


Ting!


Pintu lift terbuka. Dea buru-buru masuk ke sana, setelah menyerahkan kembali tas yang ia ambil pada Ben. Pria itu menyaksikan semuanya dengan decak takjub sekaligus ngeri.


“Kok gitu doang ya, Ben? Nggak ada respons kayak yang aku perkirakan.” Dea mengeluh setelah pintu lift tertutup.


“Emang, Dea perkirakan apa?” Ben balas bertanya kebingungan.


“Nggak papa. Emang dia nggak bisa langsung bereaksi karena kayaknya lagi sibuk. Nanti saya cari jam-jam santai.” Ben memberitahu dengan suara tenangnya. Ia juga mengusap punggung Dea sembari menenangkan sang istri. Sambil sesekali mencuri kesempatan dengan menarik lembut tubuh Dea agar kembali bersandar padanya.


Dan berhasil. Dea kembali menempelkan kepalanya di lengan Ben, sampai pintu lift terbuka. Mereka sudah tiba di lantai di mana kamar mereka berada. Namun, keinginan Ben untuk melangkah keluar diurungkan. Pria itu mengembalikan kakinya ke tempat semula ia berdiri, begitu pun Dea saat menemukan seseorang tepat di depan pintu lift.


Di saat Dea melotot terkejut bercampur syok, Ben malah membuang muka ke arah lain sebelum mengeluarkan dengkusan geli ketika memandang pria di luar lift.


“Seriusan?” Ben bertanya geli pada Dea dan sosok pria itu: Elvan. “Ketemu, lagi?”


Ben langsung membawa semua tas di pundaknya, dan merebut kunci dari Dea. Ia berjalan mendahului sang istri, bahkan tidak segan menabrak sosok Elvan yang ada di depannya.


Dea sendiri hampir lupa caranya beranjak dari tempat duduk saat ini. Tubuhnya kaku, sementara kepalanya hanya bisa menoleh ke arah kepergian Ben dan juga posisi keberadaan Elvan saat ini.

__ADS_1


Ada banyak pertanyaan bergelayut di kepala Dea, tetapi perempuan itu berniat menunda untuk mengajukannya. Kondisi saat ini terlalu kritis untuk melakukan tindakan salah. Hal yang dilakukan Dea adalah mengejar Ben.


Namun, baru saja selangkah meninggalkan lift, salah satu lengan Dea sudah dicekal oleh Elvan.


“Kenapa kebetulan lagi kita ketemu di sini?” tanya Elvan, yang sebenarnya dipertanyakan oleh Dea juga. Sehingga keduanya tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. “Seriusan, ini bukan karena saya ngejar atau ikutin kalian. Saya duluan sampai di sini daripada kalian. Saya cuman nggak paham, kenapa kita selalu dipertemukan kayak gini, De? Kayak ... Tuhan sebenarnya nggak mau kita pisah.”


Dea berusaha mengelak dari cekalan tangan Elvan, dan berhasil. “Sayangnya, takdir yang pisahin kita, Van. Dan takdir berlaku karena kehendak Tuhan.”


Setelah mengatakan itu, Dea segera berlari menyusul kepergian Ben. Beruntung, ia tidak dikunci dari dalam, sehingga mudah bagi Dea untuk masuk.


Perempuan itu dipenuhi rasa bersalah ketika mulai berjalan mendekati sosok Ben yang duduk di salah satu sofa panjang.


“Aku seriusan nggak tahu kenapa Elvan ada di sini, Ben. Sumpah.” Dea bersungguh-sungguh saat mengatakan itu. “Aku jelas nggak bakalan ngerusak rencana kita dengan undang Elvan ke sini.”


Namun, Ben tidak menimpali sama sekali. Pria itu benar-benar marah. Ia langsung beranjak setelah melepaskan sepatu dan kausnya. Bergegas ke kamar mandi tanpa mengatakan apa pun.


Dea mendesis pelan. Ia memukul sofa dengan keras, sementara pikirannya berkelana jauh.


Bagaimana mungkin secara kebetulan .... Terlalu banyak kebetulan antara Dea dan Elvan setelah pernikahan ini.


Hanya setelah pernikahan, karena kebetulan sejenis ini tidak pernah terjadi semasa Dea lajang.


Perempuan itu langsung memicingkan mata tajam.


Apa patut Dea curiga?


__ADS_1


__ADS_2