
Rencana untuk selalu menampilkan kebersamaan tidak bisa dijaga dengan baik sampai meninggalkan hotel. Sebab, Dea terpaksa harus keluar dari kamar seorang diri hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kepalanya.
Mengapa selalu ada pertemuan kebetulan dengan Elvan?
Hal ini secara tidak langsung membuat Dea dalam masalah. Meski sudah tidak memiliki perasaan pada Elvan, Dea tetap masih harus memastikan tidak adanya keributan antara Ben dan sang mantan.
Hal itu jelas sulit, sebab Ben juga dimaklumi berpikir negatif ketika Dea bertemu dengan Elvan. Sehingga muncullah keributan antara dua pria bersumbu pendek.
Akan selalu ada masalah jika ketiganya dipertemukan di satu tempat seperti ini.
Hal itu dipikirkan Dea cukup lama di kamarnya, menghambat perempuan itu untuk tidur lebih cepat. Dan pada akhirnya, menyelinap keluar dari kamar.
Dea berjalan menyusuri lorong hotel sembari memainkan ponsel. Layarnya sedang menampilkan aplikasi perpesanan, antara dirinya dan sang mantan.
^^^Aku mau bicara langsung empat mata sama kamu.^^^
^^^Bisa ketemu di dekat kolam renang?^^^
Tidak lama setelah pesan mendapatkan centang dua, warnanya seketika berubah menjadi biru. Kurang satu menit, balasan sudah muncul.
Elvan :
Ayo
Dea langsung mematikan ponsel sembari terus berjalan menuju tempat tujuan. Perempuan itu mempertimbangkan keputusannya ini.
Jelas, ada sedikit ketakutan bahwa ajakan Dea ini akan memicu fitnahan baru. Namun, perempuan itu merasa tidak puas jika ia hanya berbicara melalui pesan teks dengan Elvan. Pria itu bisa saja mengambil kesempatan jeda di antara mereka untuk memikirkan kebohongan.
Jika bertemu langsung, Dea bisa meluapkan semua kekesalannya terhadap tuduhan ini kepada Elvan, sekaligus mendengarkan jawaban pria itu sembari menilai kebohongannya.
Dea yakin. Ia mengangguk mantap atas keputusan dan idenya tersebut.
Perempuan itu terus berjalan sampai akhirnya tiba di tempat yang dimaksud. Di sini, masih ada beberapa orang yang bisa saja menjadi saksi bahwa Dea dan Elvan tidak akan melakukan apa pun. Dan mereka tetap bisa merahasiakan obrolan mereka dari orang asing.
Saat baru tiba, pandangan Dea awalnya menyapu sekitar sekadar mencari posisi yang tepat untuk mengobrol. Tidak menyangka bahwa Elvan ternyata sudah duduk di salah satu kursi santai menunggu dirinya.
Sekarang, Dea memantapkan posisi langkahnya ke sana. Ia tidak berniat duduk sama sekali, karena kukuh pada tujuan awal: mencari tahu maksud dari kebetulan-kebetulan aneh ini.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Dea dengan tegas. Kedua tangannya saling terlipat di depan dada. Dengan ekspresi dingin tak tersentuh yang perempuan itu tampilkan, Dea berhasil memperkuat aura mengintimidasi dalam dirinya.
Ketika Elvan sudah bersiap membuka mulutnya untuk menjelaskan jawaban, Dea segera menginterupsi dengan aturan ketat.
__ADS_1
“Jangan bilang kalau kamu ada kerjaan di sekitaran sini, dan ... secara kebetulan kita ketemu lagi di hotel ini. Alasan kayak gitu, kedengaran basi tau nggak?!” Dea memperjelas keanehan dari setiap perempuan mereka.
Sehingga setelah mendengarkan itu, Elvan langsung menunduk dengan wajah tidak nyaman. Dea tidak mau peduli sama sekali. Perempuan itu sedikit pun tidak mengubah ekspresi dinginnya.
“Saya bisa jawab apalagi, De? Karena memang itu alasannya. Serius.” Elvan berbicara, sembari meluruskan pandangan pada Dea demi menunjukkan keseriusannya.
Dea mendengkus geli sembari memalingkan pandangan ke arah lain, sangat jelas tidak percaya atas jawaban barusan.
“Oke.” Dea menimpali tanpa ketertarikan sama sekali dengan jawaban sang mantan pujaan hati. “Jangan sampai kita berurusan lagi di tempat ini, selain saat ini. Ini harus jadi yang terakhir kalinya kita berurusan. Aku sudah menikah, dan kamu juga gitu. Walau nggak ada perasaan, seenggaknya, sebagai seorang pengusaha profesional, kita harus menghargai hubungan yang ada.”
Elvan mengangguk lemah.
Dea tidak lagi mengatakan apa pun setelah itu. Ia kembali ke kamarnya dengan tenang. Berharap bahwa semuanya sudah selesai. Tidak akan ada lagi bakal masalah antara dirinya, Elvan, dan Ben.
Itu harapannya.
...*...
Namun, Tuhan sepertinya berkehendak lain.
Dea baru saja terbangun ketika menemukan Ben duduk membelakanginya di pinggir tempat tidur sembari mengecek ponselnya. Perempuan itu merasa penasaran, karena jarang sekali si berondong satu ini terlihat serius.
Namun, belum juga Dea memperjelas apa yang ada di layar, matanya sudah melotot sempurna.
Bagaimana bisa ... dirinya terlihat di sebuah foto tengah berduaan dengan Elvan dengan posisi membungkuk seolah ... ingin mencium sang mantan? Jelas, Dea tidak melakukannya sama sekali!
“Ben ....” Dea memanggil dengan suara bergetar. Syok atas apa yang ia lihat saat ini. “Kamu ... dapat foto itu dari mana?”
Ben menoleh dengan gerakan lamban. Ia melirik pada Dea tanpa ekspresi, lalu mematikan ponsel.
“Dea malah tanya itu?” Ben balas bertanya. “Kenapa nggak tanya diri sendiri aja, De, ngapain Dea ketemu orang itu tengah malam, berduaan, dan ... kelihatan deket banget?!”
“Ben, aku nggak—“ Dea berusaha menjelaskan kesalahpahaman dan fitnah yang terjadi saat ini.
“Keluar dari kamar tanpa izin?” Ben memotong dan memojokkan Dea.
Sehingga perempuan itu merasa khawatir. Dea menggeleng khawatir.
“Aku ... keluar. Tapi nggak kayak di foto.”
“Jadi, kayak gimana, De?” Ben kini berdiri dengan tegas ketika mengajukan pertanyaan bernada tinggi itu. “Masuk sekalian ke kamar dia? Buat nyelesaiin urusan, kata kamu?”
__ADS_1
“Ben .... Itu fitnah. Fotonya .... Aku nggak gitu. Lagian—“ Dea langsung terdiam sejenak saat memikirkan sesuatu.
Siapa sebenarnya fotografer dari semua kejadian ini?
Ipar Elvan?
Namun, apa untungnya perempuan itu sampai menciptakan foto editan seburuk itu?
Dea tertegun. Tidak lagi memedulikan setiap ekspresi frustrasi dan marah dari Ben. Perempuan itu memikirkan semuanya dengan saksama.
Pertemuan Dea dan Elvan di apartemen, ditemukan ipar Elvan.
Pun di restoran.
Sekarang, Dea bertemu Elvan lagi di hotel. Dipotret lagi. Bahkan, sampai difitnah seburuk ini.
Dea mendesis sembari memaki dalam hati. Tangannya mengepal kuat di samping tubuh, dengan pandangan nyalang ke depan.
Sialan perempuan itu jika memang mau mencari masalah dengan Dea.
“Ben.” Dea memanggil pria yang sudah memunggunginya di depan cermin itu. “Kayaknya, untuk masalah ini, selain dapat kepercayaan dari orang yang sudah pandang buruk ke aku, aku juga harus ... mengurus akar dari masalah ini.”
Dea bertekad untuk memberi pelajaran untuk ipar Elvan itu, tetapi Ben mengartikan kalimat Dea dalam hal lain.
“Ya. Urus sikap Dea yang selalu mau bicara berdua sama mantan pacar Dea itu! Belain terus!” balas Ben malas.
Ben langsung menyingkir dari ruangan, masuk ke kamar mandi. Menyisakan Dea yang memukul kepala sendiri dengan sangat kuat. Sembari memaki.
“Sialan!”
Dea mengambil ponselnya. Ia mencari-cari sebuah kontak untuk dimintai tolong, dan sang kakak sulung menjadi tujuannya.
“Mas, bisa bantuin aku basmi sumber masalah, nggak?” tanya Dea dengan pandangan tajam.
“Ya, De. Siapa?” balas Dion. “Ben yang harus disingkirkan?”
Dea menggeleng tanpa si lawan bicara melihat, sehingga Dion tetap melanjutkan ucapannya.
“Karena banyak masalah muncul setelah pernikahan kalian.”
Dea tertegun. Diam-diam menyetujui ucapan sang kakak.
__ADS_1