
Nasi goreng dengan topping telur dadar disediakan Ben ke hadapan Dea yang sedang bersantai di ruang keluarga menonton televisi. Perempuan itu langsung bertepuk tangan penuh antusias saat makanan yang dia pesan melalui pelayan spesial rasa cintanya itu menyodorkan piring. Namun kemudian, keinginan Dea untuk mengambil makanan itu sirna karena ia langsung meletakkan tangan di atas pangkuan, yang membuat Ben mengerutkan kening kebingungan.
“Kenapa? Kelihatan nggak menarik? Kamu nggak nafsu makan?“ tanya Ben kebingungan. Iya melihat tampilan nasi gorengnya sendiri, dan menemukan tidak ada keanehan di sana. Ini masih sama dengan nasi goreng yang biasa dibuat di restoran milik Dea.
Dea memberikan galengan pelan dengan senyuman tipis yang masih tersisa di bibirnya. Ia mendongak penuh harap pada sang suami dengan mata yang memandang penuh harap.
“Suapin ....” Permohonan itu diajukan Dea dengan suara lirih penuh mengiba.
Sehingga Ben mengawali dengan dengkusan geli, sebelum akhirnya mengangguk untuk menuruti permintaan Dea. Ia duduk di samping perempuan itu, kemudian mulai memainkan sendok di atas piring menunggu makanan agak dingin.
Sembari itu, pandangan Ben juga berlari ke arah televisi yang menyala. Sebuah drama Korea terpampang di layar kaca. Ben sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada drama, tetapi melihat bagaimana seriusnya Dea terhadap tontonan tersebut membuat Ben penasaran dengan isi cerita dari drama tersebut.
Jadi, Ben melirik Dea dengan ekspresi penasaran. “Emang apa istimewanya drama ini?”
Dea langsung terdiam di tempat dengan mata yang bergerak ke kanan kiri yang menunjukkan kebingungan samar. Ia terlihat kebingungan dalam menjawab, membuat Ben semakin penasaran dengan sikap perempuan ini.
“Aku juga nggak paham sih isi drama ini apa. Aku cuman iseng nyari dan siaran di sini, jadi ya ... Aku nonton ini aja. Kayaknya kelihatan romantis, daripada nonton film azab atau istri yang tersakiti ya kan?“
Ben mendengkus geli kemudian menyendok makanan ke mulut Dea. Perempuan itu langsung memasang wajah berbinar dan membuka mulut selebar mungkin untuk menerima suapan. Sangat manis, sehingga hati Ben diam-diam terasa hangat.
“Kamu kayak anak kecil yang lagi disuapin papanya. Kamu umur berapa sih, De?“
Dea mendengkus kesal yang dibuat-buat mendengarnya sembari terus mengunyah makanan di mulut. Ia memasang ekspresi tajam ke arah sang suami sebagai bentuk protes atas ucapannya tersebut.
“Aku umur ... 13 tahun. Mas mau apa?” balas Dea dengan nada sinis.
Tawa Ben langsung lepas hanya karena lelucon sederhana tersebut. Ia harus mencubit tubuh sendiri untuk meredakannya, tetapi tawa sekilas itu berhasil membuat Dea ikut tertular oleh senyum Ben.
“Ya udah ini, De. Ayo lanjut makan lagi, supaya cepat gede.“
“Mas mau aku segede apa lagi? Kalau aku sendiri sudah bisa ngasih Mas anak kandung.”
__ADS_1
Ben sekali lagi mendengkus geli. Susah payah melipat bibir ke dalam demi mencegah senyumnya lepas.
Ia sendiri heran, padahal ucapan Dea sama sekali tidak ada yang terlalu lucu. Namun entah mengapa, Ben selalu lepas kendali dan tersenyum senang karenanya.
“Nggak usah ditahan kali, Ben,” komentar Dea. Ia mengambil sendok dari tangan Ben untuk mengambil makanan. Namun, bukannya diarahkan ke mulut sendiri, Dea malah memberikannya ke mulut Ben.
Awalnya, pria itu hendak menolak. Namun, ia akhirnya kalah oleh pelototan Dea. Ben membuka mulut dan Dea langsung menyumpalnya dengan satu sendok nasi goreng yang masih panas. Pria itu langsung bernapas dengan mulut penuh, dengan niatan agar makanan di mulutnya langsung adem.
Dea langsung terbahak melihat kondisi suaminya. Ini sebagai bentuk balas dendam karena Ben memberikannya makanan panas tanpa ditiup terlebih dahulu. Sehingga siksaannya kini adil untuk mereka berdua.
“Gimana? Itu yang aku rasain tadi. Enak nggak?”
Ben susah payah mengunyah makanan, lalu menelannya. Dibandingkan Perasaan marah karena sudah dipermainkan oleh Dea, Ben malah merasa bersalah karena sudah membuat perempuan ini merasakan panas akibat keteledorannya tadi.
“Sorry, aku beneran nggak sengaja tadi,” kata Ben dengan sungguh-sungguh.
Dea mengangguk, menerima permintaan maaf tersebut. Ia tanpa beban menyandarkan tubuh di dada sang suami, sementara Ben langsung menggunakan sebelah tangannya merengkuh sang istri.
“Walaupun cuman pasutri rasa temen,” bisik Dea dengan suara lirih. “Aku sama sekali nggak masalah asalkan kita selamanya kayak gini.”
Ben langsung menjatuhkan tangannya dari puncak kepala Dea. Sama seperti harapan Ben yang sempat ia munculkan lagi, lalu harus tumbang karena disadarkan oleh realita.
*
Sehari setelah Dion memutuskan untuk keluar dari rumah sakit, ia langsung ingin masuk ke perusahaan lagi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Di saat itulah, Kahar datang ke ruangannya tanpa memberikan kabar lebih dulu.
Hal itu tentu mengejutkan Dion yang jarang sekali dikunjungi oleh sang papa angkat. Dia langsung menyambut kedatangan Kahar yang sangat baik dan mengajak pria dewasa itu untuk duduk di sofa bersama dirinya. Sebuah kopi dengan rasa kesukaan Kahar juga dipesan.
“Papa jarang banget datang ke sini. Ada perlu apa? Apa yang bisa saya bantu buat papa?” tanya Dion menawarkan bantuan.
Kahar masih memasang ekspresi datar di wajahnya, sembari melirik pemandangan dalam ruangan luas ini. Yang menilai kinerja Dion dari kondisi ruangan ini.
__ADS_1
“Papa nggak pernah meragukan hasil kerja kamu, Dion. Selalu di atas ekspektasi saya terhadap kamu. Saya benar-benar bangga pernah memiliki pengurus perusahaan seperti kamu.”
Seketika, setelah mendengar penjelasan tersebut, Dion langsung meredupkan senyum. Kata ‘pernah’ yang Kahar ucapkan barusan menandakan adanya sinyal buruk dalam kelangsungan pekerjaan Dion di masa depan. Sehingga pria itu mulai waswas dengan takdirnya ke depan di perusahaan besar ini.
“Apa maksud Papa? Kenapa harus ada kata ’pernah’ di ini?“ tanya Dion meminta penjelasan lanjutan dari apa yang mengganjal di hatinya.
“Saya sudah bicara dengan rekan bisnis saya yang berada di Singapura. Dia membutuhkan tenaga pekerja seperti kamu untuk menjalankan bisnis besarnya karena berniat pensiun. Karena kamu tidak mau mengerjakan anak perusahaan yang sudah saya tunjuk, maka saya ingin membantu kamu untuk bekerja di perusahaan yang memang sudah berdiri dengan baik sejak lama. Saya yakin, kamu pasti suka dengan gagasan ini.“
Dia langsung memundurkan kepala dengan mata yang sedikit membesar karena terkejut. Pria itu sempat meneguk ludah secara kasar karena bingung sekaligus sulit untuk mengeluarkan suara demi membalas ucapan semena-mena dari Kahar.
“Tapi, saya lakukan kesalahan apa, Pa, sampai harus diusir dari perusahaan?” tanya Dion, menuntut. Sama sekali tidak suka dengan keinginan Kahar tersebut.
“Sama sekali nggak diusir, Dion.” Kahar berusaha untuk melembutkan pengusirannya. “Hanya mempromosikan kamu di perusahaan internasional. Kamu nggak mau mengembangkan kemampuan bisnis kamu, Dion?”
Si anak langsung menggeleng kecil dengan wajah masam. “Nggak. Saya cuman mau membesarkan bisnis ini sampai menguasai seluruh pasar dunia. Itu target saya, Pa.”
“Maka, langkah kamu bakalan semakin dipermudah dengan kamu berada di perusahaan internasional. Kenapa nggak mau?”
Dion membungkuk sembari mendekat ke arah Kahar demi menunjukkan isyarat permohonan yang mendalam.
“Pa, kesalahan apa yang saya lakukan sampai saya diusir dari sini? Saya nggak bisa tinggalin perusahaan ini apa pun penggantinya karena saya sudah mencintai perusahaan ini melebihi jiwa saya sendiri, Pa,” kata Dion memelas. Ia memejam kuat dengan penuh pengharapan. “Silakan kalau Papa mau usir anak angkat kayak saya demi mempekerjakan menantu Papa. Tapi, seenggaknya, tolong ... biarkan saya selesaikan target saya dulu, Pa. Saya kerja di bawah Ben juga nggak masalah Pa, asalkan target bisa saya penuhi. Saya beneran ... nggak mau tinggalin perusahaan ini di tengah jalan, Pa.”
Kahar semakin kebingungan untuk memberikan penolakan lagi. Ia sejujurnya merasa iba dengan putranya ini, tetapi mempertimbangkan tentang ancaman bahaya terhadap putri, putra, serta menantunya, Kahar tidak bisa mempertahankan perasaan kasihan itu.
“Saya sudah sepakat dengan rekan bisnis saya itu, Dion, jadi maaf, saya nggak bisa batalkan saat ini.” Kahar menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri selama memikirkan cara terbaik untuk mengusir Dion dari keluarganya. “Gaji di sana lebih tinggi dari sini, Dion, apalagi dengan bonus berupa saham. Saya yakin, anak kuat dan optimis seperti kamu bisa jauh lebih sukses dari saya.”
“Tapi saya cuman mau sukses bareng Papa. Apa itu ... nggak boleh? Kalau saya lakuin kesalahan, saya siap terima—“ Dion mendadak berhenti bicara saat ia mengjngat sesuatu. “Ben, cerita sesuatu yang buruk tentang saya?”
Kahar bergeming sejenak, yang sudah bisa diartikan iya dari Dion. Secea spontan, tangan Dion langsung mengepal kuat di samping tubuh.
“Oke,” ucap Dion pada akhirnya dengan nada lemah seolah pasrah. “Saya bakalan Turutin apa yang Papa saya ini inginkan.”
__ADS_1
*