Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
6. Pamer ke Mantan


__ADS_3

Ben benar-benar memenuhi janjinya: membuat Dea berteriak lebih nyaring dibandingkan pagi tadi. Perempuan itu bahkan bisa dikategorikan menjerit sangat kuat, hingga membuat telinga Ben mendengung.


Belum cukup dengan siksaan tersebut, rasa panas juga menjalar di pipinya usai telapak tangan lembut Dea mendarat keras di sana.


Memanfaatkan kesempatan saat kelengahan Ben, Dea buru-buru bangkit. Posisi kimono tidurnya ia perbaiki. Kedua kakinya yang sempat ditindih Ben, segera ditarik untuk ditekuk dan diduduki. Perempuan itu merasa belum aman dari ancaman predator berondong di depannya ini, sehingga mengambil bantal untuk mengambil ancang-ancang hendak menyerang.


“Berani kamu? Anak sekecil kamu berani mau lecehin saya, hah?!” Dea merasa tidak bisa hanya sekadar mengancam, karena tindakan Ben beberapa saat lalu benar-benar membuatnya syok.


Perempuan itu mendaratkan pukulannya hingga Ben tersudut ke pinggir tempat tidur.


“Dasar bocah! Seenaknya kurang ajar sama yang lebih tua! Nggak diajarin sopan santun kamu, hah?!”


“Saya yatim, De!” Ben mencoba mengelak dari serangan sang istri, tetapi tidak juga melawan padahal jelas ia memiliki kekuatan dua kali lipat di atas gadis itu.


“Aish, bodo amat!” Dea semakin kalap, karena setiap jawaban atau tindakan Ben, selalu mudah membuatnya terpancing emosi.


Hingga pada saat perempuan itu merasa mulai kehabisan tenaga, Dea hanya bisa menggeram dan menghadiahkan pukulan terakhir dengan segenap kekuatan pada Ben.


Dea terduduk lemah, disusul helaan napas kasarnya terembus melalui mulut. Rambut perempuan itu bahkan sampai berantakan menghalangi wajah, tetapi sama sekali tidak bisa menutupi tatap tajam yang Dea tampilkan.


Namun, perempuan itu berhadapan dengan Ben sekarang, yang sejak menikah menunjukkan karakter anti-takut—berbanding terbalik semasa pria ini masih jadi pekerja.


Pada akhirnya, Dea hanya bisa merasakan bahwa kemarahannya ini berakhir sia-sia, sehingga ia lebih memilih untuk turun dari tempat tidur. Memperbaiki tali kimononya, lalu masuk ke kamar mandi demi membasuh wajah agar bisa meredam sedikit emosinya.


Sementara Ben, ia secara hati-hati menggerakkan sebelah kakinya yang tidak diperban sebelum ini, di mana lebam keunguan tercetak jelas di sana. Meski kesakitan, ia malah tersenyum geli melihat tingkah laku Dea yang sangat mudah dimanipulasi.


Pada akhirnya, Ben hanya bisa memaklumi. Dea adalah perempuan, mudah marah, gampang menyakiti, tetapi sedikit ... lemot. Bagian kaki yang dia lukai pun, bisa dilupakan.


Ben melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat, seolah bisa menerawang masuk ke sana dan menebak kegiatan sang istri, sembari bergumam geli.


“Dasar cewek.”


...***...


Dea sudah berpakaian ketika Ben baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana selutut dan kaus hitam polos. Ia mendadak diam, memperhatikan bagaimana Dea sangat fokus menatap pantulan dirinya di cermin.

__ADS_1


Perempuan itu sudah sangat sempurna, sebenarnya, tetapi Ben tiba-tiba tergugah untuk maju mendekat. Hal itu memicu tatap jengkel penuh permusuhan dari Dea, tetapi Ben tidak terlalu peduli.


Dea baru saja ingin menyingkir untuk membiarkan Ben bercermin, tetapi tampaknya bukan itu tujuan Ben.


Pria itu menahan tangan kanan Dea semena-mena, dan mengarahkannya ke gagang pintu lemari perempuan itu untuk dibuka.


“Ngapain kamu?” tanya Dea dengan nada tinggi. Ia sudah berusaha mengelak dan menarik tangannya sendiri, tetapi Ben tampak tidak terpengaruh.


“Katanya saya nggak boleh nyentuh gagang pintu lemari Dea, tapi saya tetep dibolehin pegang Dea, ya kan?”


Dea tidak menyukai gagasan itu. Ia bersiap melayangkan protes, tetapi Ben sudah membawa keluar sebuah sweter hijau army dari dalam lemari, dan membawanya ke depan Dea untuk dinilai.


“Pakai ini aja, De, lebih cocok.”


“Kenapa saya harus pakai saran dari kamu, sementara selera saya jauh lebih baik daripada kamu?!” balas Dea sinis.


Ia mengentakkan tangannya sekali, dan dibebaskan oleh Ben. Ketika perempuan itu hendak memasukkan sweter tadi ke lemari, ucapan Ben menghentikan pergerakannya.


“Pakaian Dea lebih formal kali ini,” kata Ben menilai. “Bagus sih, elegan banget malah, cocok sama Dea. Tapi kita nggak bakalan cocok kalau jalan berdua. Dea bakalan kelihatan lebih dewasa dari saya, dan ya ... memang begitu sih kenyataannya.”


“Cuman saran aja, De,” jawab Ben. “Dea ini perawakannya masih kayak umur 20-an, tapi anggunnya Dea bisa bikin kelihatan lebih dewasa. Dea lebih cocok kelihatan imut dan muda pakai pakaian santai kayak tadi.”


Dea memelankan gerakan tangannya di lemari, dan itu diperhatikan dengan saksama oleh Ben. Pria itu menarik sudut bibirnya saat tahu betul bahwa Dea mendengarkan kalimatnya sekarang ini.


Hanya perlu mengalahkan gengsi perempuan yang setinggi langit.


“Tunggu saya sebentar ya, De. Saya mau ke kamar mandi dulu,” kata Ben.


Tanpa menunggu balasan, ia bergegas masuk ke kamar mandi. Hanya sekadar berdiri di balik pintu, dan mempertajam indra pendengarannya.


Namun, Ben sama sekali tidak mendengar apa pun yang penting. Ia hanya bisa menghabiskan waktu selama beberapa puluh menit, lalu keluar begitu saja.


Dan ya ... Dea sudah tidak ada di kamar.


Ini di luar ekspektasi Ben. Ia pikir bahwa Dea hanya butuh kesendirian untuk berganti pakaian tanpa dilihat siapapun, tetapi sialnya ... perempuan itu malah pergi meninggalkan Ben begitu saja.

__ADS_1


Gegas, pria itu segera menyusul. Tidak lupa mengunci pintu.


Namun, jejak Dea hampir tidak bisa ditemukan ketika Ben sudah masuk lift. Pria itu sempat berpikir Dea turun lewat tangga darurat, tetapi ia tidak bisa keluar karena pintu dengan cepat ditutup.


Ben mengusap wajah secara kasar demi mengurangi kadar kekesalannya pada diri sendiri yang gagal memahami perempuan. Ia bertekad, setelah keluar dari lift harus menemukan sang istri secepat mungkin.


Ben mencoba tenang. Ia bersandar di lift, dan menemukan ada sesuatu yang tidak asing di tempat ini.


Ada aroma parfum familier di ruangan baja ini. Ben segera menegakkan tubuh dan mencari-cari sosok Dea di antara empat perempuan dalam ruangan. Dua perempuan berpakaian santai, hendak lari. Satu perempuan berpakaian formal dengan masker di wajahnya. Namun Ben langsung tahu wanita itu bukan Dea dari matanya.


Berpindah ke perempuan di sudut lift yang juga mengenakan masker, sweter kebesaran berwarna navy, dan juga celana jeans. Dari rambut dan cara perempuan itu menghindar, Ben sudah bisa mengenalinya. Apalagi ketika ia mendekat, aroma manis itu semakin tercium kentara.


“Ya ... padahal bagusan yang hijau tadi, De.”


Beberapa pasang mata berbalik ke arah Ben setelah pria itu berbicara. Semuanya kembali ke posisi semua kecuali perempuan di sampingnya: Dea.


“Maskernya dibuka, biar nggak sesak napas.”


Ben memberikan perhatian lebih, dengan menahan wajah Dea agar fokus padanya saja. Ia secara hati-hati bantu melepaskan masker Dea, sampai wajah ovalnya yang mungil terpampang jelas.


“Cantik banget, De.” Ben memuji serius, bahkan sangat tulus.


Namun, Dea malah berniat menepis tangan pria itu bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Dea baru menyentuh tangan Ben, ketika pria itu berseru takjub.


“Elvan? Masih di sini?”


Dea turut melirik ke arah pintu lift, dan melotot. Mantannya ternyata masih di apartemen ini.


Sementara Ben malah memamerkan senyum penuh kemenangan untuk Elvan, sementara bagi Dea, senyum pria itu ditambahi bumbu berupa tatap sinis penuh kecurigaan.


“Kamu ini ... sewa apartemen juga di sini?” tanya Ben bertanya, sekaligus menebak pada Elvan.


“Ya,” jawab Elvan, datar. Ia melirik Dea sebentar, yang wajahnya masih dipegang oleh Ben. “Kerjaan.”


“Oh,” jawab Ben santai. Ia memindahkan tangannya dari wajah Dea, ke tangan perempuan itu untuk dituntun keluar dari lift. “Ayo kita cari makan, Sayang. Kamu juga harus perbanyak minum karena capek teriak semalam.”

__ADS_1



__ADS_2