
Hanya kekosongan yang Dea temukan saat terbangun di pagi harinya. Ia bahkan menemukan kondisi tempat tidur di sampingnya masih sangat rapi dan terasa dingin, menandakan tidak pernah ada seseorang yang berbaring di sana.
Dea menghela napas panjang, kemudian memaksakan dirinya untuk bangun walau merasa sangat berat. Ia menguap sekali, lalu menurunkan kedua kakinya menyentuh lantai dingin. Terasa sangat berat untuk meninggalkan tempat tidur dengan berbagai jenis pikiran di dalam kepala yang belum menemukan jawabannya.
Perempuan itu mengecek nakas, demi memeriksa ponselnya yang terisi daya sejak semalam. Ia berharap, ada sedikit kabar yang Ben kirimkan melalui pesan singkat. Namun, sama sekali tidak ada penambahan notifikasi selain dari grup kerja. Bahkan, pria itu tidak menelepon kembali.
Apa semarah itu? Dea bertanya dalam hati.
Hendak mencari jawaban, Dea kembali menelepon nomor Ben. Namun, sekali lagi, masih tidak aktif. Dea sekarang benar-benar putus asa.
Perempuan itu merasa sangat enggan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tetapi tuntutan pekerjaan tidak bisa ia abaikan. Diawali dengan helaan napas panjang, Dea mulai bergerak. Bersiap ke restoran, berharap suaminya akan berada di sana. Sepengetahuan Dea, semarah apa pun Ben, ia tidak akan pernah meninggalkan pekerjaannya.
Memikirkan hak itu, Dea lebih bersemangat mandi. Ia mengenakan pakaian formal, memakai make up sekadarnya, kemudian mengambil tas untuk berangkat.
Dea bahkan berniat mengabaikan sarapan, andai Kahar tidak menemukan dirinya yang hendak berjalan lurus keluar rumah.
“Sarapan dulu, De,” kata Kahar. “Supaya kandungan kamu sehat.”
Dan karena dirinya dihadapkan pada si calon anak, Dea akhirnya menuruti saran dari Kahar. Ia mengubah arah tujuan kakinya ke ruang makan. Di sana, sudah ada Dika dan Diana. Dea langsung duduk di tempatnya seperti biasa, lalu tanpa sengaja menoleh ke kursi kosong milik Ben. Ia menghela napas panjang, bahkan tanpa ia sendiri sadari.
“Ben nggak pulang semalaman?” Pertanyaan itu diajukan Dion yang baru saja masuk.
Membuat semua perhatian langsung mengarah padanya. Dea segera menggeleng, demi memperburuk kondisi sekarang ini dengan tuduhan—benar—terhadap Ben.
“Aku tadi nyuruh dia berangkat pagi-pagi, Mas.” Dea berusaha memberikan jawaban dengan benar, tetapi Dion malah mendengkus geli.
Si kakak menarik kursi dengan kasar tepat di depan Dea.
“Saya begadang di balkon semalam, dan nggak pernah lihat dia masuk rumah. Kecuali dia masuk ke rumah subuh, berarti dia beneran pulang. Lagian, dia kerja apa sampai segitunya? Kamu bahkan nggak pernah kayak gitu, De.” Dion menambahkan komentar lain yang semakin sulit dielak oleh Dea.
Perempuan itu menggerakkan bola matanya ke kanan-kiri mencari jawaban bohong, tetapi tidak ada. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan kuat, karena frustrasi. Sebab, ia sendiri kebingungan sekaligus penasaran dengan keberadaan Ben saat ini.
“Sudah, sudah.” Kahar segera menengahi obrolan Dion dan Dea. Ia terlihat sama penasarannya dengan yang lain, tetapi mencoba untuk tetap bijak. “Kamu sarapan aja dulu, De, baru ketemu Ben di restoran nanti.”
Dea mengangguk ragu, menyetujui usulan terbaik sang papa. Perempuan itu sebenarnya kehilangan nafsu makannya setelah apa yang Dion katakan, tetapi demi si bayi, Dea tetap memaksa mulutnya disumpal dengan makanan sampai benar-benar kenyang.
Setelahnya, Dea langsung bersemangat berangkat, demi mengecek keberadaan suaminya.
...*
...
Namun, Ben masih belum ada di restoran.
“Ben sama sekali nggak pernah datang setelah Ibu ke rumah sakit kemarin.” Begitu pengakuan karyawan yang ia tanyai.
Dea menggeram rendah sembari menyisiri rambut frustrasi. Ia mengangguk kecil, dan tidak bisa lagi membalas ucapan si karyawan karena langsung menuju ke ruangannya untuk menenangkan diri.
Ke mana Ben? Ke mana ....? Dea terus bertanya dalam hati, sembari bersandar di kursi putarnya untuk mencari-cari kemungkinan suaminya berada. Namun, benar-benar blank.
__ADS_1
Sesekali, Dea akan mencoba menelepon kontak sang suami, tetapi hasilnya tidak jauh berbeda dari percobaan tadi pagi dan kemarin.
Ben seperti hilang ditelan bumi.
Membuat Dea semakin lama semakin dikuasai oleh kebingungan. Ia menggeram keras, ketika tidak menemukan jawaban dari setiap pertanyaan dari kepalanya. Perempuan itu merasa sangat muak, sehingga tidak sadar membanting ponsel dengan kuat ke sudut dinding.
Bahkan, setelah menyadari perbuatannya, Dea sama sekali tidak menyesal. Ia bahkan sekadar melihat ponsel itu terpecah belah menjadi beberapa bagian, sementara dirinya sama sekali tidak memiliki niatan untuk memungut si benda pintar.
Dea hanya menyisiri rambutnya dengan tekanan kuat, lalu memejam dengan niatan meredam amarah dalam dirinya. Namun, selalu gagal. Gagal.
DI MANA BEN SEBENARNYA?! Pikiran Dea berteriak nyaring. Kali ini, matanya berubah nyalang memandang sekitar.
Semua barang-barang di atas mejanya terlihat sangat menjengkelkan. Ia bersiap mengusap mejanya dalam sekali gerakan untuk menghancurkannya, tetapi ketukan di daun pintu menghentikan pergerakan Dea sekaligus sedikit menyadarkan perempuan itu dari tindakannya barusan.
Dea langsung menenangkan diri, sembari mengatur napas agar sakit di kepalanya sedikit mereda. Ia bersandar malas di kursi, lalu menatap kosong ke meja.
“Masuk!” pinta Dea dengan suara malas.
Pintu perlahan terbuka, dan secara bertahap menampilkan sosok pria dalam seragam pelayan khas restoran tengah berdiri di sana. Dea mengalihkan pandangan pada sosok itu, dengan tatapan sendu.
“Ibu cari saya?” tanya Ben dengan nada formal, sembari masuk ke ruangan.
Ben sempat melihat pemandangan aneh di sudut ruangan, di mana ponsel Dea tergeletak rusak di sana. Ia beralih memandang istrinya dengan kening berkerut bingung.
“Kamu dari mana?” tanya Dea dengan nada dingin. Ia menatap tajam pria itu penuh intimidasi. “KAMU DARI MANA?” Hanya sedetik Ben belum menjawab pertanyaannya, Dea langsung meninggikan suara, sama sekali tidak memiliki kesabaran saat ini. Ketika Ben masih bingung dengan perubahan sikap Dea saat ini, istrinya sudah memukul meja dengan keras menuntut jawaban.
“BEN!” Dea semakin muak dengan sikap sarkasme Ben yang berlagak menjadi sosok pelayan daripada seorang suami. “Jelasin ke istri kamu sekarang, kamu dari mana!” Kali ini, Dea mulai memelankan suaranya, tanpa mengurangi aura intimidasi dari dirinya sama sekali.
Ben menarik napas panjang. Ia sudah mencoba memikirkan alasan ini semalaman penuh, sehingga siap untuk memberikan jawaban.
“Keluar, De. Ke acara pesta temen.”
“Tanpa kabar sama sekali? Aku telepon sampai aku muak sama suara operator, tapi hape kamu sama sekali nggak aktif. Kenapa bisa?” Dea semakin terlihat marah, terlihat jelas dari bagaimana ia berbicara penuh penekanan.
“Hape aku lowbat.”
“Temen kamu tinggal di hutan mana sampai nggak ada listrik buat charger hape?” Dea mengangkat dagunya, menantang.
“Lupa.” Jawaban simpel Ben sontak langsung membuat Dea memukul meja dengan keras sembari berdiri dari tempatnya duduk.
“Lupa kamu bilang?” Dea mengulang ucapan Ben dengan mata melotot sempurna. “Di saat aku bingung kamu di mana dan takut kamu kenapa-napa, kamu malah bilang, kamu lupa? Seriusan, Ben?”
Ben sejujurnya merasa tersanjung dengan kekhawatiran Dea, sehingga ia tidak sengaja menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Tetapi hal itu malah semakin membuat istrinya murka.
“Ben!” hardik Dea dengan suara nyaring.
Ben langsung meredupkan senyumnya dan kembali bersikap biasa. “Maaf, De.”
Hanya itu yang bisa Ben katakan sekarang, karena enggan mengutarakan kejujuran. Membebani orang lain adalah nomor list pertama dari daftar hal haram yang Ben bisa lakukan.
__ADS_1
Dea semakin murka. Ia mengambil beberapa mapnya di atas meja secara asal, lalu melempari Ben secara membabi-buta.
“Aku lagi khawatir kamu cuman bisa minta maaf?” Dea terus mengajukan protes dengan lemparannya yang tidak kenal barang.
Ben bukan sekadar merasakan bahaya sekarang. Ia juga khawatir jika istrinya merusak barang-barang penting, jadi segera mundur untuk menutup pintu ruangan. Tepat setelah Ben sudah dilindungi pintu, ia masih mendengar suara hantaman benda keras di daun pintu.
“Nanti aku temui lagi, De, kalau kamu udah tenang. Aku jelasin dengan baik-baik nanti.” Ben memberikan usul, yang sekali lagi mendapatkan balasan berupa lemparan barang dari dalam ruangan.
Ben menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya secara berat. Lalu meninggalkan depan ruangan demi melanjutkan pekerjaan.
Sementara Dea terduduk lemas di kursinya setelah membuang semua amukannya hingga kehabisan energi. Ia memejam erat, dengan perasaan semrawut yang masih mengganggu.
Diam-diam, Dea bertekad dalam dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan memberitahukan kehamilan aslinya ini pada Ben jika suaminya juga masih menyembunyikan sesuatu terhadap dirinya.
Dea menghela napas panjang, lalu mengembuskannya dengan perlahan sembari mengepalkan tangan dengan kuat di samping tubuh. Penuh optimisme.
Omong-omong masalah ‘menyembunyikan sesuatu’—Dea mendadak membuka mata sembari menegakkan punggung. Matanya menyipit tajam, dengan perasaan ganjal terhadap Ben akhir-akhir ini yang beberapa kali keluar tanpa memberitahu dirinya.
Pikiran buruk pun meracuni kepalanya. Apalagi saat bayangan kedekatan Ben dan Afifah kembali terulang. Tidak menutup kemungkinan bahwa suaminya sering keluar tanpa alasan bahkan sampai tidak pulang, dikarenakan ... ada sesuatu yang membuatnya enggan untuk kembali.
Sesuatu itu yang Dea tidak tahu, tetapi pikiran burunya menebak bahwa sesuatu itu adalah ... perempuan cantik, yang lebih muda darinya, dan juga manis.
Dea merasakan sakit di dada kirinya hanya karena tebakan tersebut. Ia merasa tidak nyaman jika belum menemukan sumber masalahnya.
Maka, Dea berniat menghubungi seseorang. Namun baru mengingat bahwa ponselnya sudah tidak bernyawa. Jadi, ia hanya bisa mengeluarkan laptop dari tas kerja. Mengirimkan pesan pada kakaknya—sebagai orang yang serba bisa dalam hal apa pun—untuk meminta bantuan.
^^^Mas, tahu kontak detektif terpercaya, nggak?
^^^
^^^Aku minta dong.
^^^
^^^Mau selidiki Ben yang beberapa kali nggak pulang ke rumah tanpa alasan jelas.
^^^
^^^Aku nggak tahu kenapa, merasa janggal sama kebiasaan dia yang aneh ini.
^^^
Tidak lama setelah pesan tersebut dikirim, balasan Dion segera muncul.
Dion :
Nggak usah sewa. Saya bisa sendiri selidiki suami kamu.
__ADS_1