Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
34. Cibiran dalam Hati


__ADS_3

Tidak ada yang mau mengalahkan ego di antara Dea dan Ben. Masing-masing merasa kesal dan marah. Tidak ada yang bersedia memulai obrolan sejak pertengkaran di pagi hari, hingga malam tiba.


Rencana untuk memamerkan kemesraan, terancam gagal. Namun, tampaknya tidak ada yang mau peduli.


Keduanya bersiap di waktu yang berbeda. Jika Dea berada di kamar, maka Ben akan keluar dari ruangan. Begitu pun sebaliknya, jika sang suami yang ada di kamar, maka Dea harus mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar.


Mereka saling membelakangi. Masing-masing duduk di pinggir tempat tidur, memainkan ponsel. Seolah sibuk dengan dunia sendiri.


Namun, tidak ada yang menyadari bahwa sesekali, Dea menoleh ke samping. Sekadar mengintip punggung Ben yang dibalut kaus hitam. Berpikir untuk memulai obrolan lebih dahulu. Namun, perempuan itu mengurungkan niat.


Sebab, Dea belum menemukan penyebab dari setiap kebetulan yang ada sekarang ini. Jadi, Dea segera mengarahkan pandangannya ke depan, membelakangi Ben lagi.


Dan di saat itu, Ben yang sensitif merasa dirinya diperhatikan. Ia menoleh dengan kerutan bingung di keningnya. Sempat berpikir untuk meminta maaf, karena terlalu kasar semalam. Namun, urung. Ben berpikir, bahwa Dea harus tahu bahwa berurusan dengan mantan pacar bukan hal sederhana. Terlalu banyak hal buruk yang bisa terjadi, dan didiamkan oleh Ben hanya salah satu saja.


Pria itu sangat berharap bahwa Dea akan sadar. Jadi, ia mengembalikan arah pandangnya pada ponsel di tangan.


Keduanya secara bersamaan memandang jam di dinding. Sudah saatnya makan malam. Keduanya berdiri secara bersamaan, sempat saling menoleh. Namun, ketika dua pandangan bertemu, Ben maupun Dea sama-sama memalingkan arah lirikan mereka ke depan.


Lalu keluar dari ruangan secara bergantian. Ben yang lebih dulu meninggalkan kamar, disusul oleh Dea.


Namun, baru saja menginjak lantai di luar kamar, perempuan itu tersentak kaget ketika tangannya ditarik lembut sampai menabrak dinding. Belum cukup mengejutkan, perempuan itu juga dikurung oleh sebuah tubuh tegap di depannya. Kanan-kiri telah diamankan oleh dua lengan kekar milik sang suami.


“Ben?” Dea tidak sempat ingat dengan egonya. Ia memanggil pria itu dengan suara dalam, syok dengan perbuatan Ben di lorong hotel.


Pria itu sempat menarik sudut bibirnya. Merasa menang. Entah karena berhasil membuat Dea tidak berkutik, atau kemenangan karena membuat perempuan keras kepala dengan gengsi tinggi ini memulai obrolan lebih dulu.


“Kenapa kita harus keluar makan malam sekarang?” tanya Ben, dengan suara rendah dan berat.


Dea meneguk ludah secara kasar, ketika ia memandang lurus pada Ben, dan sulit menghalau tatap dalam dari pria itu. Ben berhasil mengaktifkan ekstra kekuatan di jantung Dea untuk berdetak lebih keras dari biasanya.


“Ya.” Dea menjawab tersendat. “Karena aku lapar.”


“Aku juga lapar,” balas Ben, kemudian melanjutkan, “Tapi maunya makan kamu.”

__ADS_1


“Kanibal?”


Ben tersendat, terbahak kecil mendengarnya.


“Laparku ini beda, Sayang.”


Dea semakin tidak berkutik. Apa maksud pria ini sebenarnya?


Perempuan itu semakin melotot seiring mendekatnya Ben pada dirinya. Ia mencoba mundur, tetapi kepalanya susah mentok di dinding. Dea tidak punya pilihan lain ketika Ben mulai memiringkan kepalanya, berniat melakukan ....


“Dea?” Sebuah seruan terdengar.


Membuat Dea maupun Ben sama-sama menoleh ke sumber suara. Keduanya menemukan empat pria dalam setelan jas rapi. Dea mengenali salah satu dari mereka, dan secara spontan mendorong Ben dengan kasar sehingga mereka bisa berjarak..


“Y—ya, Pak.” Dea tersenyum kikuk, sembari merapikan rambutnya di belakang telinga.


Ben sama sekali tidak tersinggung dengan penolakan Dea. Malah, tersenyum tipis, seolah bangga pada diri sendiri.


“Ah, maaf mengganggu. Saya tadi niatnya mau memastikan. Silakan dilanjutkan.” Pria itu dengan segan meminta maaf.


“Nggak masalah, Pak.” Ben menjawab lugas, dengan senyum formal yang ramah. “Kami mau turun untuk makan malam, niatnya.”


“Ah iya?” Pria itu—Jian Li—balas tersenyum. “Anda ini suaminya Dea, ya?”


“Iya, Pak. Saya Adam Bentala.” Ben memperkenalkan diri sendiri, sembari mengulurkan tangan. Keduanya berjabat tangan.


“Ah iya. Saya agak lupa. Tapi saya datang ke pernikahan kalian. Dea susah saya anggak anak sendiri. Kalau begitu, mari turun bersama. Saya akan jamu kalian dengan baik.”


Dea belum sempat menjawab, tetapi Ben dengan cepat membalas tawaran tersebut.


“Tentu, Pak. Terima kasih atas tawarannya.” Ben mengambil tangan Dea untuk digenggam lembut. “Ayo, Sayang.”


Ketiganya berjalan bersisian menuju lift, sementara tiga pria lainnya berada di belakang.

__ADS_1


“Maaf, ya. Saya sebelumnya sempat bertemu kamu tadi, Adam, tapi saya tidak sapa, karena saya benar-benar lupa.” Jian Li mengajak Ben berbicara sembari menunggu lift terbuka.


“Panggil Ben saja, Pak.” Ben memberikan opsi yang lebih ringan mengenai namanya. “Saya tidak masalah, Pak.”


“Saya juga agak keliru. Maklum kemampuan ingatan saya sudah mulai berkurang. Saya ingatnya, Dea ini menikah sama Elvan, rekan kerja saya dulu,” timpal Jian Li.


Semuanya masuk lift ketika pintu baja sudah terbuka.


“Mereka memang mantan, Pak. Dea sendiri dan Elvan masih berteman dengan sangat baik. Sebagai suami yang akan selalu mendukung istri, saya tidak akan terlalu over posesif sampai membatasi gerak istri saya dan temannya,” kaya Ben menjelaskan, terdengar sangat rendah hati.


Dea menampilkan senyum takjub di bibirnya, hanya demi menyembunyikan cibiran dalam hati.


Mendukung katanya! Kalau keduanya bertemu, perang sumbu pendek dua pria pasti akan terjadi lagi.


“Oh ya?” Jian Li tampak sedikit terkejut. “Kalau tidak salah ingat, Elvan ada di sini juga ya? Siang tadi sempat saya sapa, dan saya undang khusus untuk ajak Dea makan siang bersama. Dia tidak mengatakan apa pun pas itu.”


“Ah iya? Maaf, Pak. Harap dimaklumi.” Sekali lagi, Ben menjawab. Membuat Dea semakin menumpuk cibiran lain atas sikap Ben ini. “Dia sepertinya sangat sibuk. Kami sempat bertemu kemarin malam di kolam renang. Dia bilangnya, banyak pekerjaan di sekitaran hotel. Andai bertemu lagi, saya mau ajak dia makan malam bersama juga.”


“Kamu sangat rendah hati, Ben. Sangat cocok untuk Dea.” Jian Li memberikan tepukan bangga di bahu Ben. “Saya akan selalu berdoa untuk kalian berdua supaya pernikahan kalian diberkati Tuhan.”


“Terima kasih, Pak.” Ben dan Dea menjawab hampir bersamaan.


Ketika Jian Li mulai sibuk dengan tiga rekannya yang lain, Dea menarik-narik ujung kaus Ben untuk membuat pria itu membungkuk padanya. Sehingga Dea bisa mengirimkan bisikan pada pria itu.


“Aku punya misi setelah makan malam, kalau Elvan belum pulang.”


Ben langsung menatap nyalang pada Dea. Mereka baru saja mengobrol kurang sepuluh menit, tetapi ... perempuan ini malah ....


“Aku punya rencana ke Elvan. Tapi aku selalu takut kalau gerak sendiri,” lanjut Dea sembari menunjukkan tatap sendunya. “Bantu aku selesaiin rencana ini, ya?”


Ben tetap memasang ekspresi dingin.


“Sayang?” lanjut Dea, dengan suara lirih.

__ADS_1


Ah sial. Ben mendesis dalam hati. Bagaimana ia bisa menolak jika dipanggil semanis itu?



__ADS_2