Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
15. Pemuda Random


__ADS_3

Segelas cairan putih mendarat di atas meja samping laptop Dea ketika perempuan itu sibuk dengan pekerjaannya.


Ben sedang duduk di pinggir tempat tidur ketika Dea meliriknya. Perempuan itu memicingkan mata, merasa curiga dengan perhatian mendadak ini.


"Buat apa?" tanya Dea sembari melirik susu kebingungan.


"Buat Dea. Jangan konsumsi kafein pas malem hari, apalagi tiap hari. Banyakin makanan yang sehat, biar Dea awet muda dan panjang umur."


"Nggak perlu arahin. Saya tahu lebih baik daripada kamu," balas Dea dengan nada dingin. Namun, ia tetap menerima susu tersebut untuk mengisi kekosongan perutnya sehingga bisa kenyang demi menyelesaikan pekerjaan yang hampir tidak ada habisnya ini.


"Dea bisa lihat sendiri kan, gimana mantan kamu itu." Ben secara tiba-tiba membahas kejadian tadi siang, hampir membuat Dea tersedak minuman.


Dea buru-buru mengusap bibir sendiri, lalu meletakkan susu di sudut dekat dinding agar tidak terkena senggolan, menutupnya, kemudian melirik pada Ben.


"Maksud kamu?"


"Dea nggak ngerasa kalau mantan Dea itu nyebelin?"


"Nggak tuh," balas Dea setengah berbohong. Tajam dan tegas adalah karakter Elvan, dan itu yang dilihat Dea tadi. Namun menghina bukan salah satu sifat Elvan yang Dea kenal. "Kenapa? Kesindir?"


"Saya kaget Dea nggak ngerasa nggak nyaman sama sekali sama laki-laki kayak dia. Padahal, dia kalau ngomong nggak ada enaknya loh, De!"


"Lebih nggak enak kecerewetan kamu, Ben," ucap Dea jenuh. "Kadang saya ngerasa kamu itu laki-laki dewasa di tempat kerja. Tapi di rumah, kamu ngalahin cewek keribetannya."


"Saya lakuin ini demi Dea juga," kata Ben.


Namun, Dea tidak mau peduli sama sekali. Seperti tindakannya saat menghitung tadi siang. Perempuan ini sama sekali tidak mau ambil pusing dengan perdebatan Ben dan Elvan sedikit pun. Sehingga setelah Dea menghitung skor, perdebatan berhenti.


"Saya nggak butuh." Dea membalas dingin tidak acuh. Ia kembali fokus pada laptopnya.


Sementara Ben juga tidak berniat lagi membalas. Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi untuk sikat gigi, membasuh wajah dan kaki, lalu kembali duduk di tempat tidur.


"Dea tahu kenapa saya nggak mau naik jabatan?" tanya Ben sembari memperbaiki posisinya di atas ranjang. Menarik selimut, untuk menutupi separuh tubuhnya yang sudah berbaring sempurna di sana.


"Nggak. Nggak mau tau," jawab Dea tidak acuh, sembari terus menyesal susu buatan Ben secara perlahan.


"Biar nggak tambah beban kerjaan kayak Dea. Enak banget abis pulang terus langsung tidur. Sementara Dea? Cuman pindah tempat kerja doang."


Ben semakin menambahkan provokasinya dengan telentang, kedua kaki terbuka lebar di bawah selimut seolah menguasai tempat tidur.


"Tapi bebas beli apa pun, wle!" Dea menjulurkan lidah, mengejek.


"Cih, kesantaian nggak bisa dibeli pakai uang, De."


"Siapa bilang? Liburan ke luar negeri buat nyantai, itu enak tau, Ben!"


"Sama aja kalau di saya mah, sama-sama bumi."


"Beda! Pemandangannya beda tau!"

__ADS_1


"Kalau cuman masalah puasin mata doang, kan udah ada Dea."


Perempuan itu memicingkan mata setelah mendengar hal itu. Ia menatap geli pada Ben, bercampur nyalang.


"Santui everyday jauh lebih enak daripada kumpulin beban selama berbulan-bulan, terus cuman dibayar selama liburan beberapa hari. Nggak sama banget, De. Yang sistem kayak saya ini, bisa bikin awet muda. Sementara sistemnya Dea cuman numpuk stres terus obati stres doang." Ben semakin menguatkan argumennya sembari melirik menantang pada Dea.


Perempuan itu biasanya sulit diprovokasi, tetapi jika Ben yang mengatakannya, Dea mudah terpancing.


"Siapa bilang? Yang owner kayak saya ini lebih santui. Bebas liburan dan nyantai kapan aja, bahkan pas kamu sibuk-sibuknya kerja!" balas Dea.


Ben tidak mengatakan apa pun, hanya mengangkat sebelah alisnya menantang. Dea semakin terpancing, sehingga ia menutup semua lembar kerjanya sebelum melipat laptop.


Perempuan itu hendak membuktikan ucapannya, jadi dengan santai membanting tubuh sendiri di atas kasur telat di samping Ben.


"Lihat, saya bisa tinggalin kerja kapan aja yang saya mau," kata Dea penuh kebanggaan sembari menaik-turunkan alis.


Ben tersenyum misterius, lalu sekali gerak ia menghadap Dea dengan membawa selimut untuk membekap hampir seluruh tubuh perempuan itu dalam gulungan selimut dan belitan kaki serta tangannya.


"Ben, kamu ngapain?!" protes Dea sembari mencoba berontak. "Lepasin!" Namun, ia hanya bisa mengeluarkan wajahnya dari selimut.


"Lah katanya tadi bebas tidur kapan aja, jadi tidur sekarang aja, De. Saya butuh guling biar bisa tidur nyenyak."


"Bukan saya juga, Ben ...."


"Ssst." Ben mendesis kecil sembari memejamkan mata. "Tidur, De," bisik Ben dengan nada yang sangat lembut, berhasil meluluhkan tatap permusuhan Dea. "Kamu jarang gerak emang, tapi saya yakin kamu sama capeknya kayak saya."


"Capek hadepin orang kayak kamu," balas Dea dengan suara sama liriknya.


Dea menipiskan bibir, berpikir. Merasa bahwa ide Ben tidak ada salahnya juga. Apalagi sekarang sudah hampir setengah sebelas malam.


"Lampu?" tanya Dea.


Ben membuka matanya sebentar, kemudian melirik ke belakangnya.


"Jangan gerak!" pinta Ben, lalu melepaskan pelukan untuk mematikan lampu.


Hanya menyisakan cahaya di lampu meja, Ben segera melompat ke tempat tidur dan mendapati bahwa Dea benar-benar mengikuti instruksinya.


"Anak pintar!" puji Ben, kemudian mengecup bibir Dea secara cepat. Sebelum protes dilayangkan oleh Dea, Ben cepat-cepat memindahkan bibirnya ke kening Dea. "Selamat tidur, De."


Dea diam saja, bahkan hanya merapatkan bibir usai mendapatkan kecupan tadi. Ia seharusnya tidak suka dengan perlakuan Ben, tetapi ... ada perasaan nyaman di sudut hatinya.


Plus, ada kehangatan yang ia rasakan, entah hawa selimut, pelukan, atau memang karena perlakuan Ben ini.


Terlalu hangat, nyaman, hingga perempuan itu bisa terpejam dan terlelap tidak lama kemudian.


...*


...

__ADS_1


Kondisi restoran sedang ramai-ramainya siang ini, membuat hampir semua meja penuh tanpa sisa. Manusia di mana-mana, pelayan sibuk mondar-mandir, dan anak kecil bebas berkeliaran. Sampai salah satu anak perempuan berusia dua tahunan tiba di kawasan dapur.


Awalnya anak itu didatangi oleh pelayan perempuan bernama Riska, tetapi setelah mendapat tatapan tajam dari Dea yang mendadak muncul untuk melihat kinerja para pekerjanya, perempuan itu langsung menyingkir dan lanjut bekerja.


Dea awalnya enggan para pekerjanya terganggu dengan kehadiran anak itu, jadi berniat membawanya menyingkir. Namun, baru saja diseret agak menjauh, anak itu sudah menangis menjerit.


Dea yang tidak pernah berurusan dengan anak kecil sontak kebingungan. Ia melirik ke sekitar untuk mencari orang tua si anak, tetapi tidak ada yang muncul. Dea semakin bingung sekarang.


Ia berniat menyeret anak itu agar semakin ke tengah-tengah restoran, dan orang tuanya akan muncul sendiri, tetapi si anak sudah berjongkok karena sibuk menangis.


"Kamu apain, De?" Pertanyaan bernada syok itu diucapkan oleh Ben yang kebetulan lewat setelah mengantar makanan.


"Nggak tau." Merasa tertuduh, Dea segera melepaskan tangannya.


"Sesama anak kecil harusnya nggak boleh berantem. Coba tanyain temennya itu kenapa."


Dea memasang wajah jenuh, lalu menendang kecil tulang kering Ben sampai pria itu mengaduh kesakitan sembari tersenyum.


"Coba gendong, De," ucap Ben, sembari menyerahkan nampannya pada Riska yang kebetulan lewat agar diisi lagi.


"Makin nangis ntar." Dea membalas ragu, kemudian mulai berjongkok untuk mencoba saran Ben.


Benar saja, semakin nyaring tangisannya.


"Ada permen nggak?"


"Ya kali saya nyetok permen, Ben!"


"Atau apa gitu di kantongnya Dea?" Ben semakin menuntut, karena keributan di restoran semakin bertambah karena anak kecil ini.


Dea buru-buru merogoh sakunya dan hanya menemukan beberapa lembar uang seratus ribu dan lima puluhan. Ben tanpa izin langsung menarik selembar si kertas meja, kemudian berjongkok di depan gadis itu.


"Ini, Dek. Beli permen sama Mama, ya? Beli lima, oke?" Ben menunjukkan kelima jarinya setelah menyerahkan uang begitu saja.


Sementara Dea melotot.


"Ben, uang—"


Dea berniat mengejar anak yang sudah berlari itu, tetapi tangannya dicekal oleh Ben.


"Orang tuanya aja belum tentu beli makanan seharga seratus ribu, Ben! Kamu bisa-bisanya ngasih cashback sebanyak itu!"


Ben hanya tersenyum, lalu mengambil sodoran nampan dan mendengarkan dengan baik arahan Riska mengenai meja tujuan.


"Halah, sama temen aja nggak mau ngalah," balas Ben. Sebelum melangkah pergi, Ben lebih dahulu berbisik. "Nanti saya ganti lebih di rumah."


Dea bergidik geli, menatap Ben dengan jijik.


Pria random sialan ini sedang bahas apalagi?

__ADS_1



__ADS_2