Menikahi Bos Perawan Tua

Menikahi Bos Perawan Tua
22. Efek cemburu dan Kopi


__ADS_3

Kesepakatan malam itu membuat hubungan Ben dan Dea sedikit membaik. Hanya sedikit, karena dibanding terlihat sebagai suami-istri, keduanya malah lebih didominasi aura persahabatan biasa. Terlebih, hanya Ben yang memberikan kepedulian sementara Dea malah sebaliknya terhadap sang suami.


"Mau ke mana, De?" tanya Ben ketika ia baru saja masuk kamar dan menemukan istrinya dalam balutan gaun navy semata kaki dan make up tipis. "Pesta?"


Dea mengangguki jawaban itu, sembari menyempurnakan lipstiknya.


"Bisa minta tolong, Ben? Panggilin Dika buat tanya dia udah siap atau belum. Waktu makin mepet, bocah itu sering telat berangkatnya."


"Dia nganter Dea?"


Gadis itu mengangguk ringan, membenarkan. Ia melirik bayangan Ben melalui cermin.


"Kenapa bukan aku aja yang anterin Dea? Aku juga lagi nggak sibuk, ini malam sabtu," kata Ben menawarkan diri, dan itu tampak membuat Dea merasa tidak nyaman.


Bukannya apa, pesta ini diadakan oleh salah satu rekan bisnisnya di masa awal-awal perintisan usaha, dan di sana dipastikan ada Elvan karena mereka juga berteman. Des hanya takut jika pemuda ini membuat masalah saat melihat Elvan nantinya.


"Nggak perlu," kata Dea menolak. Ia sempat melihat gurat curiga di bayangan Ben, sehingga memutar otak cepat untuk menemukan ide menolak pria itu. "Hari ini hari libur kamu. Nikmatin aja. Dika nggak ada kerjaan tapi dikasih jajan mulu, sekali-kali harus dimanfaatkan keberadaan dia di rumah ini. Makanya, aku mau diantar sama dia."


"Kayak nyindir aku ya, De?"


"Nggak gitu, Ben." Dea sekarang pusing memikirkan jawaban tepat untuk menolak pria ini. "Acara ini cuman bisa dihadiri sama orang yang emang diundang. Kamu emang mau nunggu di mobil sampai selesai?"


"Nggak masalah. Saya bisa nunggu di mobil," kata Ben, segera menyetujui.


Dea bergeming lagi, berpikir bahwa selama ia tidak menunjukkan interaksi apa pun dengan Elvan di luar gedung, maka tidak akan ada masalah apa pun. Ben tidak akan bisa membuat keributan karena berada di tempat parkir.


Jadilah, Dea akhirnya menyetujui pria itu untuk pergi.


Ben hanya perlu menambahkan jaket kulit untuk menutupi kaus hitam yang ia kenakan. Celana training panjangnya sama sekali tidak diganti. Ia hanya menerima kunci mobil dari Dea, lalu berjalan bersama perempuan itu keluar dari kamar.


"Di sana, kamu jangan bikin masalah apa pun? Paham? Karena aku yang bakalan kena imbasnya kalau kamu bikin tindakan aneh-aneh di sana. Pokoknya, diem aja di mobil, dan jangan pernah sekalipun keluar dari mobil. Paham, Ben?!"


Dea sangat tegas mengutarakan peringatan itu, dan ditanggapi dengan anggukan ringan oleh sang suami.


"Iya, De." Pria itu turut menyamakan langkah, dan melingkarkan tangannya di pinggang Dea. "Aku bakalan ikutin semua arahannya Dea."


Meski demikian, Dea masih tampak belum lega mendengarnya. Entah mengapa, kecemasan ini muncul begitu saja hanya karena menyandingkan nama Elvan dan Ben di pikirannya saat ini.


Tiba di halaman rumah, Ben bergegas membukakan pintu untuk gadis itu. Bahkan menggenggam tangannya dengan lembut, memperlakukannya begitu istimewa. Bahkan bantu menutup pintu sebelum berpindah ke kursi kemudi.


Namun, tetap, Dea masih bersembunyi di balik ketakutannya.


Perjalanan yang seharusnya memakan waktu hingga dia puluh menit, kini terasa sangat singkat bagi Dea. Gadis itu merasa belum siap sama sekali, tetapi tetap memaksakan diri untuk turun.


Lagi pula, selama dirinya tidak berinteraksi dengan Elvan di parkiran, maka akan aman. Dea terus merapalkan kalimat itu dalam hati, sembari pamit dari Ben.


"Kamu di mobil aja, jangan ke mana-mana biar aku nggak bingung cariin, ya!" kata Dea, memberitahu dengan tegas.


Setelah disetujui, Dea langsung turun dari mobil. Berjalan agak cepat hendak memasuki gedung hotel bintang empat di mana acara diselenggarakan. Namun baru beberapa langkah, namanya dipanggil dari belakang. Gadis itu menegang di tempat, karena panggilan itu bukan dari suara Ben.

__ADS_1


Sial! Masalah baru bagi Dea!


Ketika Dea mulai menoleh, Elvan tampak berlari-lari ke arahnya. Memamerkan senyum manis, dan tanpa beban berhenti di samping Dea untuk menilai tampilan si mantan kekasih.


"Cantik," puji pria itu. "Nggak ajak suami kamu? Sama kayak saya kalau gitu, soalnya istri saya udah dipaksa mau ikutan ke sini, tapi nggak mau. Secara kebetulan, kayaknya kita emang saling melengkapi di sini." Elvan kembali berbicara, bahkan kini memeluk pinggang Dea dan mengajaknya setengah paksa berjalan memasuki pelataran gedung.


Sementara Dea melirik dengan wajah pucat ketakutan ke arah mobil yang didiami Ben. Yakin bahwa pria itu melihatnya.


...*...


Sejak kemarin, Ben tidak pernah membahas masalah kemunculan dadakan Elvan malam kemarin. Dea juga enggan mengonfirmasi apa pun, menunjukkan bahwa gadis itu malah bersyukur Ben tidak memberikan protes apa-apa.


Merasa bahwa Dea sama sekali tidak mengindahkan kesepakatan mereka setelah diajak bicara dengan baik, maka, Ben sepertinya harus menggunakan caranya sendiri untuk memisahkan sang istri secara penuh dari mantan kekasihnya itu.


Ben bersiap tidur—rencananya. Bahkan sudah mencuci kaki, sikat gigi, dan cuci wajah. Namun, ia tiba-tiba berhenti melangkah ketika melihat bahwa Dea ditemani oleh secangkir kopi di malam weekend ini.


Pria itu mendengkus geli, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya karena takjub. Dasar pekerja keras!


Arah tujuan Ben melangkah sedikit menyerong dari tujuan awal yang hendak menuju ke kasur empuk dan menyambut mimpi indahnya. Ben memilih mendekat ke kursi kerja Dea, dan berdiri tepat di belakang gadis itu.


"Masih lama kerjanya, De? Besok minggu loh, kok masih kerja?" tanya Ben ketika ia melihat tampilan laptop sama sekali tidak bisa dipahami olehnya.


"Nggak bisa tidur," jawab Des, yang secara spontan—tanpa mengalihkan pandangan dari monitor—mengambil cangkir kopi hendak ia minum lagi.


Namun, Ben buru-buru mencegah. Memegang tangan Dea yang mengangkat cangkir, lalu gunakan tangannya yang lain untuk mengambil pelan benda berisi cairan hitam berkafein itu.


"De, malam minggu loh, De. Istirahat." Ben benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran para orang sukses sejenis istrinya ini.


"Ntaran, Ben, mau habisin kopi sama efeknya sekalian. Karena besok weekend makanya aku selesaiin malam ini. Besok tinggal tidur seharian," kata Dea, sembari berniat mengambil gelasnya lagi, tetapi Ben lebih cepat merotasi kursi putar gadis itu sampai menghadap lurus padanya.


Pria itu meletakkan kedua tangannya di masing-masing penopang lengan. Ia menundukkan sedikit kepalanya seolah ingin mengintimidasi, tetapi Dea malah balas angkuh dengan mengangkat dagunya sedikit. Sampai Ben kalah dan akhirnya menghembuskan napas kasar.


Namun, bukan berarti menyerah begitu saja. Ben mengambil kopi Dea untuk diminum sendiri. Sontak saja hal itu membuat si pemilik kopi melotot lebar karena syok, tidak Terima. Dea merebut cangkirnya, tetapi Ben hanya menyisakan ampas kopi di sana.


"Aish, Ben!" keluh Dea kesal. Ia meletakkan cangkirnya di atas meja, dan menatap pria itu dengan malas. "Aku nggak mau tau, bikinin lagi yang baru! Kerjaan aku masih banyak, Ben! Aish!" Gadis itu terus menggerutu kesal, tetapi tidak dipedulikan sama sekali.


Ben menahan dagu Dea agar tetap mendongak, dan membiarkan gadis yang syok itu bersandar penuh pada kursinya ketika Ben memajukan wajah demi mengecup bibir Dea.


Seketika, pertahanan Dea hancur seketika. Gadis itu membatu, dengan tangan mengepal kaku di atas pahanya.


Awalnya hanya kecupan singkat yang lembut, meninggalkan debar kuat di dalam dada masing-masing saat Ben mengambil jarak sebentar hanya demi bisa menarik lebih banyak napas ke dalam paru-parunya.


Dea berniat melakukan protes seperti biasanya, tetapi Ben sudah memejam dan sekali lagi menciumnya. Ia turut melakukan hal sama, ketika Ben menahan wajah dan tengkuknya sebagai sinyal bahwa ini tidak akan selesai dalam waktu beberapa detik saja.


Bahkan bermenit-menit. Dea harus mencubit Ben berulang kali sampai pria itu mau memundurkan jaraknya. Napas mereka dengan cepat memburu hanya karena peraduan bibir. Ben tersenyum miring, ketika Dea menatapnya lelah.


"Mau ngabisin efek kopi, kan? Sini aku bantuin," kata Ben.


Dea tidak sempat bertanya maksudnya, karena Ben sudah lebih cepat membawa tangannya ke masing-masing bawah punggung dan bawah lutut Dea. Ia dengan sangat mudah mengangkat tubuh sang istri, lalu ditidurkan di tengah-tengah kasur.

__ADS_1


Hanya perlu menarik kedua tangan dari bawah tubuh Dea, Ben lalu melanjutkan kegiatan tadi. Mencium lebih dalam, dan secara bergantian ******* bibir atas dan bawah Dea dengan lembut, sampai ia merasakan bahwa jemari gadis itu mulai meremas lehernya dengan lembut.


Ben membawa tangannya turun ke bawah, menyentuh paha terbuka Dea dengan sangat hati-hati. Terlihat masih sangat segan, tetapi hal itu malah membuat Dea semakin gelisah. Apalagi ketika jemari Ben malah berjalan-jalan di kulitnya, dan semakin naik menjelajah area terlarang, sampai Dea menghentikan pergerakan tangannya.


Terlebih dahulu, Dea menggeser posisi kepalanya untuk menghindar dari Ben sebentar. Matanya melebar sempurna, ketika ia merasakan bahwa tangan pria itu mencoba lepas dari penahanannya.


"Kamu mau ngapain?" tanya Dea dengan suara syok penuh penekanan, agar tidak ada yang mendengarnya di luar kamar. Ia memukul tangan Ben di atas kulitnya, dan menyingkirkannya secara paksa. Napas perempuan itu masih memburu, tetapi tidak menghalanginya mengajukan protes lain. "Raba-raba sembarangan!"


"Mau bantu Dea kecapean, biar cepet tidur nyenyaknya. Plus, penuhi pesanan Papa, dan... kasih kamu temen yang lucu... banget, kayak bocah yang kita kasih uang seratus ribu kemarin."


Dea mengerutkan kening. Otaknya masih buntu setelah diporak-porandakan oleh Ben beberapa saat lalu melalui ciuman panjang dan sentuhan tadi.


"Bikin anak, Sayang. Bercinta."


Dea melotot lagi, dan entah mengapa Ben selalu menyukai ekspresi ini. Selalu berhasil membuatnya tergugah, dan sulit menahan diri untuk tidak mengecup bibir Dea karena gemas.


"Seriusan, kayak lagi hadepin remaja yang baru kenalan sama cinta-cintaan," kata Ben, yang entah mengapa terkesan mengejek oleh Dea.


Di telinga gadis itu, kalimat Ben diproses dengan artian 'kayak lagi hadepin perawan tua kaku yang nggak tau sama sekali masalah cinta-cintaan' sehingga Dea langsung menggeser posisi untuk menghindari Ben.


Namun, usaha gadis itu segera terblokir ketika Ben memosisikan tubuh tepat di atas Dea, melingkupi tubuh gadis itu di antara kedua kakinya, dan menggunakan kedua lengan yang tertekuk sebagai penopang tubuh.


"Dea bikin aku merasa spesial karena ini," ucap Ben, memperjelas ucapannya. Sembari mencium kening Dea dengan lembut, "Dea terlalu mahal sampai aku merasa takut banget buat lukai Dea sedikit aja. Itu alasan kenapa kemarin-kemarin aku nggak bisa lakuin ini."


Dea tertegun mendengar hal itu. Ia sibuk berpikir ketika Ben terus menciumi pipi, puncak hidup, dagu, bahkan lehernya. Perempuan itu mendongak dengan mata terpejam saat Ben memberikan isapan lembut di sana.


"Ben, kamu ngapain?" tanya Dea susah payah, karena menahan gejolak aneh yang mulai hadir dalam dirinya. Ia merasa geli, tetapi tergugah secara bersamaan sehingga bukannya merapatkan bahu dan leher, ia malah semakin membukanya untuk memberikan akses sebanyak mungkin untuk Ben.


"Kasih tanda kepemilikan biar nggak ada yang deketin apalagi sok akrab Dea lagi," jawab Ben lugas.


Atas sikap terbuka Dea, Ben seolah diberikan akses penuh sehingga ia semakin memperluas jajahannya pada tubuh Dea. Tangannya menyusuri pinggiran pembatas kimono tidur Dea sampai tiba di tali pengikatnya. Menarik dengan sangat pelan seolah takut jika pemiliknya sadar.


Sampai ikatan terlepas, tangan Ben mulai menyusup masuk, menemukan kulit lembut dan halus yang membuatnya betah berlama-lama di sana, tetapi pemiliknya segera sadar dan melakukan perlawanan lagi.


""Kamu mau ngapain! Kok raba-raba? Kamu ... buka baju?" Dea syok mengetahui fakta itu, dan berniat bangun, tetapi Ben dengan cepat menahannya.


"Kan kita mau bercinta, De. Ya iyalah buka baju. Ya kali buka mata batin."


Dea melotot lebar. Ia hendak memprotes, tetapi semuanya diredam oleh Ben.


"Dea bisa diem dan bungkam aja pas diseret mantan yang sok mesra. Kenapa sama suami sendiri banyak banget protesnya?" ucap Ben, dengan susah payah menjaga nada bicara agar tetap tenang, walau sulit. Ia menggigit lembut bibir bawah Dea, ********** sebentar, lalu ditarik sedikit sebelum dilepas. "Saya nggak mau terima penolakan jenis apa pun malam ini!"


Ben semakin memperjelas ucapannya dengan mengangkat salah satu paha Dea untuk terbuka, memberinya ruang untuk menyelipkan salah satu kaki di sana.


Pria itu bangkit sebentar, menarik ujung kausnya ke atas hingga terlepas. Lalu kembali merunduk ke arah Dea untuk melanjutkan ciuman dengan tangan yang mulai menyibak kimono satin sang istri.


...


__ADS_1


...


__ADS_2